Jumat, 03 Maret 2017

Hujan Januari



HUJAN JANUARI
Aku suka hujan. Tapi benci dingin. Namun bersamamu, aku merasakan kehangatan.

Musim dingin awal Januari. Seperti ucapan selamat datang untuk tahun yang baru. Januari 2017. Meski cuaca tak lagi bisa diprediksi, namun Januari masih setia dengan musim dinginnya. Sisa musim dingin Desember. Hembusan angin yang kadang disertai dengan rintik hujan, semakin memperjelas jika Januari telah tiba.
Aku suka hujan. Tapi aku benci dingin. Aku suka merdunya suara air langit ketika turun membasahi bumi. Bagiku suara itu bak nyanyian dari surga yang menenangkan jiwa. Namun, aku benci dengan udara dingin yang menusuk ke tulangku, meski aku sudah mengenakan jaket tebal. Dan dingin, membuatku semakin lemah.
Aku semakin mengeratkan jaket, dan mempercepat langkahku. Pagi ini, aku harus menerobos udara dingin, demi mengikuti kuliah perdana di tahun 2017. Dan sialnya, kelas pagi. Sejauh pandanganku beredar, semua sama. Manusia dengan jaket tebal. Aku sedikit mengerutuki kebijakan kampus yang mengadakan kelas pagi. Aku semakin mempercepat langkahku. Mungkin segera duduk di kelas adalah pilihan yang tepat. Daripada terus bergelut dengan hembusan angin yang tanpa belas kasihan.
Alsena Frenda. Al, biasa aku dipanggil. Cerewet, tak bisa diam, hyperactive adalah nama tengahku. Bulan ini bulan kelimaku menjadi mahasiswa di salah satu Universitas ternama di kotaku. Meninggalkan masa putih abu-abu dan berada di masa transisi dari remaja menuju dewasa, membuatku menemukan hal-hal baru. Dari suasana, lingkungan, bahkan orang-orang yang bisa disebut teman. Dan, di sini juga aku menemukan atau lebih tepatnya bertemu dengannya.
Joshua Arlandi. The introvert boy. Jo. Aku biasa memanggilnya. Aku mengenalnya sejak bulan pertama sebagai mahasiswa. Dia berbeda 180o denganku. Dia sangat pendiam untuk ukuran seorang cowok. Aku yang tak bisa diam, harus menyesuaikan ketika berbicara dengannya. Awalnya dia hanya menanggapi dengan satu dua kata. Tapi, semakin kesini dia sudah bisa sedikit lebih terbuka. Jujur, sebelumnya aku tak pernah betah ketika harus berinteraksi dengan orang yang tergolong pendiam. Tapi, berbeda dengan Jo. Entah kenapa, aku masih bertahan dengannya. Kadang aku tak paham dengan diriku sendiri. Hati dan logikaku tak pernah sejalan jika menyangkut seorang Joshua.
Aku menghentikan langkahku ketika mataku menangkap sosok yang tak asing berjalan beberapa langkah di depanku. Hoody hitamnya, headphone terpasang di telinga, dan kedua tangan yang dimasukan ke saku hoody. Aku sangat mengenali sosok itu, meski dari belakang. Dialah orangnya. Makhluk yang baru saja ku bicarakan. Joshua. Aku tersenyum. Hawa dingin sedikit tergeser. Aku mencoba menjajari langkahnya.
“Jo!” Sapaku sambil menepuk lengannya. Dia menoleh dan melepaskan headphone-nya.
“Oh. Hai.” Ucapnya singkat membalas sapaanku.
“Selamat tahun baru.” Suaraku ringan seperti biasanya.
“Selamat tahun baru juga, Al.” Balasnya pelan.
“Tak bawa motor?” Aku memancing pembicaraan.
“Lebih suka jalan kaki.” Jawabnya singkat.
“Padahal lebih enak naik motor. Cepet sampai jadi nggak harus berperang dengan dingin.” Ucapku sambil mengeratkan jaketku.
“Pagi hari itu terlalu indah untuk dilewatkan, Al. Apalagi di awal tahun seperti ini.” Jawabnya sambil terus menatap ke depan. Meskipun dari samping, aku masih bisa melihat tatapan memujanya pada sausana fajar.
“Menurutku senja lebih cantik dari pada fajar.” Ya, jika Jo pecinta fajar, aku penggila senja.
Jo hanya menghela nafas menanggapi ucapanku. Selalu seperti itu. Dia selalu diam ketika aku mulai berargument. Seperti dia memilih mengalah. Ku sembunyikan senyum kemenanganku. Seperti inilah aku dan Jo. Kami tak akan pernah bosan membandingkan mana yang lebih indah antara fajar dan senja. Atau antara sunrise dan sunset. Tapi, Jo tak pernah menjelaskan kenapa dia menyukai pagi. Sedangkan aku sudah menceritakan panjang lebar kenapa aku menggilai ketika kanvas Tuhan berwarna jingga itu.
Dan sisa perjalan menuju kelas, aku tak lagi merutuki kenapa harus ada kuliah pagi hari ini. Aku justru berterimakasih. Tidak konsistenkah aku? Ya, karena makhluk yang sekarang berjalan beriringan dengan ku inilah yang membuatku menjadi tidak konsisten.
“Pagi. Pagi. Pagi!!” Teriakku menyapa beberapa temanku yang sudah duduk manis di kelas. Mereka hanya melambaikan tangan membalas ucapan selamat pagiku.
“Aku udah teriak semangat dan kalian hanya melambaikan tangan? Ck. Gak kangen apa kalian? Kita udah setahun lho nggak ketemu.” Aku berdecak sebal.
Over.” Ucap Bara sarkastik tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal di hadapannya.
Tanpa ada niat membalas ucapan Bara, aku langsung duduk di samping Sindy. Berbeda denganku, Jo lebih memilih langsung duduk di tempat favoritnya. Dia tak pernah menyapa lebih dulu. Pandanganku masih tertuju padanya. Jo langsung menyibukkan diri dengan catatannya. Entah apa yang ia pelajari.
“Nggak bosen apa?” Sebuah suara mengintrupsiku.
“Hah?” Tanyaku menoleh pada Sindy. Tak paham ucapannya.
“Cuma ngelihatin dia sampai kayak gitu, nggak bosen? Mending langsung samperin, bilang suka sama dia gitu.” Jelas Sindy dengan santainya.
“Kalau cuma teori itu mudah, Sin. Tapi prakteknya itu lho.” Ucapku sambil menenggelamkan kepalaku pada lipatan kedua tanganku di atas meja. Sindy satu-satunya orang yang tahu bagaimana perasaanku pada Jo.
“Dia nggak bakal peka kalau kamu nggak ngomong. Dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri, tanpa sadar ada yang sedang menaruh perasaan padanya.” Sindy masih dengan argumentnya.
“Tapikan aku cewek, Sin.” Balasku pelan sambil mengangkat kembali kepalaku dan menoleh pada Sindy.
“Gender banget sih, Bu. Kamu masih Alsena kan?” Tanya Sindy memicingkan matanya.
“Ya iyalah aku Alsena. Siapa lagi? Aku belum ada niatan ganti akte.” Jawabku datar.
“Setahu ku Al yang aku kenal nggak kayak gini. Al, kalau kamu cukup puas dengan hanya ngelihat dia dari jauh ataupun dengan status ‘teman’, jangan pernah nyesel kalau dia taken dengan orang lain.” Sindy semakin mengomporiku.
“Tauklah, Sin. Stuck aku kalau bahas dia.” Aku menyerah. Ku ambil buku catatanku. Menyibukkan diri. Mengalihkan pikiranku dari Jo barang sejenak.
***
Januari terus berjalan. Dan udara semakin dingin saja. Hujan semakin sering, bahkan hingga sore hari. Dan itu membuatku tak bisa lagi menikmati senja. Dan ceritaku dengan Jo masih terus berlanjut beriringan dengan Januari.
Bicara tentang Jo, tak banyak berubah antara aku dengannya. Kami masih sama. Dia masih menjadi makhluk pendiam di kelas, dan aku masih saja setia hanya memandangnya dari jauh. Kami masih dekat. Masih mengobrol seperti sebelumnya. Namun, ada yang berbeda. Ternyata bukan hanya aku pemeran wanita dalam cerita ini.
“Joshua?!” Sebuah suara membuatku menoleh ke pintu kelas. Di sana, berdiri cewek yang melambaikan tangannya ke arah Jo. Dan tak lama, Jo menghampirinya dengan wajah datarnya. Mereka berdua kemudian berbicara sambil tersenyum. Bukan. Lebih tepatnya cewek itu yang tersenyum. Sedangkan Jo, tetap memasang muka datarnya. Ya, meski menanggapi sesekali. Aku mengamati pemandangan itu dengan perasaan tak menentu.
Dia, pemeran wanita lainnya. Twinsa Rosiana atau biasa dipanggil Rose. Teman SMA-nya Jo. Itu yang aku tahu. Dia anak prodi sebelah. Ada rasa tak suka ketika melihat mereka berdua bersama. Mereka yang asyik mengobrol, ataupun dia yang bisa membuat Jo tertawa.
“Nah, ku bilang juga apa.” Suara Sindy mengalihkan pandanganku dari dua makhluk yang sedang berbicara di depan pintu.
“Apa?” Tanyaku.
“Nggak usah sok lupa. Kan aku pernah bilang, kalau kamu nggak cepet bertindak, jangan nyesel kalau kamu bakal keduluan. Dan tuh, keduluan kan?” Jawab Sindy ikut mengamati Jo dan Rose yang masih mengobrol.
“Mereka cuma temen, Sin.” Alibiku.
“Temen? Bullshit temen antara cewek dan cowok. Pasti ada salah satu yang punya rasa. Dalam ceritamu dan Joshua itu kamu, Alsena. Mungkin dalam cerita mereka si Rose, atau justru Joshua?” Dalam hati aku membenarkan ucapan Sindy. Aku tak menjawab. Tiba-tiba pandanganku dan Jo bertemu, ketika dia hendak kembali ke tempat duduknya. Aku melihat keterkejutan di matanya, namun hanya sebentar. Ia memasang wajah datar lagi. Aku masih mengamatinya sampai dia kembali sibuk dengan bukunya.
“ALSENA?!” Sebuah teriakan mengganggu pendengaranku. Atau mungkin pendengaran semua penghuni kelas.
“Ngapain sih teriak-teriak? Aku gak budeg, Bara!” Protesku. Ya, teriakan yang hampir memecahkan gendang telinga itu berasal dari Bara. Orang yang biasanya juga irit bicara, tapi sekali bicara pedesnya minta ampun.
“Gak budeg dari mana? Udah ku panggil berulang kali, dan nggak ada respon. Itu yang namanya gak budeg?” Ucapnya sinis. Dan itu membuatku langsung menoleh pada Sindy. Sindy mengangguk, membenarkan ucapan Bara.
“Oh. Sorry. Gak fokus. Ada apa?” Alasanku.
“Tugasmu mana?” Tangan Bara sudah terulur, meminta tugasku. Aku langsung menyerahkan makalahku.
“Fokus. Biar gak jomblo terus.” Sindir Bara.
“Sial.” Ucapku sambil mencoba menendang kakinya. Namun Bara berhasil mengelak. Sepeninggalan Bara, aku kembali menenggelamkan kepalaku di anatara lipatan tanganku. Aku ingin menenangkan pikiranku.
Aku memejamkan mataku. Mencoba mencari ketenangan. Aku mempunyai cara tersendiri untuk mencari duniaku yang lain. Perlahan, aku menemukannya. Aku merasakan tak lagi berada di kelas yang gaduh. Aku seperti berada di tempat lain yang benar-benar tenang. Aku semakin terhanyut. Namun itu tak berlangsung lama, aku harus dipaksa kembali ke dunia nyata ketika punggungku merasakan hawa yang paling aku benci. Hawa dingin yang seakan menyerangku. Di tambah aku mendengar suara hujan yang sangat lebat, di sertai angin. Ini benar-benar menggangguku.
“Hujan, Al.” Bisik Sindy. Aku tetap pada posisiku. Mengabaikan suara-suara keluhan dari beberapa temanku, tanganku mencoba mencari jaket atau cardiganku di dalam tas yang ku letakkan di samping meja. Namun tak juga ku temukan.
Akhirnya aku mengangkat kepalaku. Dan mencarinya lagi. Mungkin terselip atau tertumpuk buku-buku. Tak ada. Shit! Aku tak membawanya. Aku mendengus, mengrutuki kebodohanku. Jaket atau cardigan adalah benda yang wajib ku bawa. Aku tak tahan dengan udara dingin dan mudah terkena Hypotermia, kalau mau tahu. Aku hanya bisa memeluk tubuhku sendiri. Mencoba mencari kehangatan dari kedua lenganku. Aku menoleh keluar, hujan masih setia dengan pertunjukannya tanpa ada tanda-tanda akan berhenti secepatnya. Aku semakin mempererat dekpanku.
“Nih, pakai!” Sebuah cardigan muncul di hadapanku bersamaan dengan suara itu. Aku mendongak. Bara, yang ku temukan di sana dengan wajah tak sabarannya.
“Buatku?” Tanyaku memastikan kalau dia tak sedang mengerjaiku.
“Kamu kelihatan kedinginan banget.” Jawabnya.
“Perhatian banget sih. Terharu aku.” Ucapku sambil pura-pura mengusap air mata yang sebenarnya tak ada. Kemudian aku mengambil alih cardigan itu. Bara langsung kembali ke tempat duduknya.
“Thank’s, Bara.” Teriakku sambil mengenakan cardigan milik Bara. Bara hanya mengangkat tangannya. Aku merapikan cardigan itu agar nyaman ku pakai. Namun, pandanganku tak sengaja bertemu dengan pandangan Jo. Dia mengamatiku dengan pandangan yang tak bisa ku jelaskan. Dan ku lihat hoody hitamnya dalam genggamannya. Keadaan itu berlangsung beberapa detik, sebelum dia mengalihkan pandangannya.
“Al? Alsena?” Sebuah suara mengintrupsiku. Aku hanya menoleh malas pada Sindy.
“Kamu kenapa?” Tanyanya khawatir ketika tak ada suara yang keluar dari mulutku.
“Sa..kit.” Ucaku pelan. Hampir tak terdengar.
“Sakit? Dimana yang sakit? Kamu masih kedinginan?” Rentetan pertanyaan Sindy khawatir. Ya, hampir seluruh makhluk yang ada di kelas ini tahu tentang kelemahanku. Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Lha terus?” Aku mengangkat tanganku dan meletakkan di dada kiriku.
“Ini. Di sini yang sakit ketika dia menatapku dengan dingin. Sakit, Sin.” Ucapku mendramatisir. Setelah mendengar jawabanku, Sindy melengos.
“Alay.” Ucapnya sarkastik. Kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke Jo. Berharap dapat segaris senyum di wajahnya. Namun, yang ku dapat surai hitamnya. Karena ia menoleh ke luar jendela yang tepat di sampingnya.
“Eh, Al. Kayaknya Bara suka sama kamu deh.” Ucap Sindy tiba-tiba.
“Kok?” Aku sedikit meninggikan suaraku.
“Denger-denger sih.” Jawab Sindy tak lupa cengiran polosnya.
“Sok tahu. Tahu sendiri kan aku dan dia itu nggak pernah akur.” Sanggahku.
“Tapi, cardigan itu buktinya.” Sindy masih kekeuh dengan pendapatnya.
“Please Sindy sayang, jangan ngaco. Dia lagi baik hati aja.” Ucapku tetap menyangkal apa yang dikatakan Sindy. Bara suka sama aku? Dapet pikiran dari mana lagi kayak gitu?
“Sama Bara aja lah, Al. Daripada nunggu yang nggak peka.” Usul Sindy dengan tak bersalahnya.
“Perasaan nggak bisa dipaksa, Sin.” Jawabku. Benarkan kalau perasaan nggak bisa dipaksa harus kemana dia berlabuh?
Dan pembicaraanku dengan Sindy harus berhenti ketika dosen berkacamata dengan high heels tinggi malangkahkan kakinya melewati ambang pintu kelas.
Hujan masih setia ketika jam kuliah hari ini selesai. Dan di sinilah aku. Masih duduk di kelas. Menikmati rintikan hujan dari balik jendela. Sudah tak banyak yang ada di kelas. Mereka memilih menerobos hujan sampai parkiran atau menikmati hujan di luar kelas. Ku letakkan kepalaku di meja sambil mengeratkan cardigan Bara.
“Belum pulang?” Sebuah suara mengintrupsiku. Aku mendongak dan mendapatkan dia sudah duduk di kursi depanku.
“Hujan.” Jawabku singkat tanpa menatapnya. Hening menyelimuti. Hanya suara hujan yang terdengar.
“Statusmu kemarin untuk siapa?” Tiba-tiba suara Jo memecah keheningan. Aku hanya menolehnya dengan wajah bertanya. Status mana yang ia maksud.
“Seperti hujan Januari. Dingin. Kamu.” Jawabnya membaca statusku. Aku hanya mengangguk paham.
 Someone.” Jawabku singkat. Tak mungkin jika aku menjawab bahwa status itu untuknya.
“Bara?” Tanyanya.
“Bukan.” Jawabku sambil memainkan ponselku. Aku tak berani menatapnya. Entah bagaimana ekspresinya sekarang.
“So? Who is he?” Ada nada penasaran ketika dia bertanya lagi.
“Just someone. Dia seperti hujan. Aku tak bisa menyentuhnya, meskipun dia berada di dekatku. Dan dia mungkin tak mengetahuiku. Because, he so famous. Dia dikelilingi banyak orang. Meskipun dia tak menyadari itu. Shit. Forgot it!” Aku menutupnya dengan sedikit umpatan. Ketika aku menyadari aku terlalu panjang menggambarkan dirinya. Entah dia sadar atau tidak.
“Oh.” Hanya itu. Ya, hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku sedikit meliriknya.
“Josh?!” Sebuah suara membuatku dan Joshua menoleh bersamaan. Setelah melihat pemilik suara, aku segera mengalihkan pandanganku. Siapa lagi kalau bukan Rose.
“Hai, Alsena.” Sapanya padaku. Dia langsung duduk begitu saja di samping Joshua. Aku hanya membalas sapaannya dengan senyuman yang kupaksakan.
“Nggak ada kuliah lagi kan?” Tanyanya pada Jo.
“Nggak.” Jawab Jo singkat.
“Mau temani aku ke toko buku di bawah? Ayolah. Please.” Aku sudah mencoba tak menghiaukannya. Namun, mendengar suarnya yang mremohon, sangat menganggu pendengaranku. Ya, di lantai satu ada toko buku kecil untuk mahasiswa.
“Baiklah. Aku juga mau beli beberapa buku.” Ucap Jo beranjak dari duduknya. Entah sengaja atau tidak, ku lihat Rose tersenyum penuh kemenangan ke arahku. Entah apa maksudnya.
“Mau ikut, Al?” Tawar Jo padaku. Aku menggeleng pelan.
“Nggak. Males.” Jawabku. Jo hanya mengangguk.
“Kita duluan ya, Al?” Ucap Rose sambil melambaikan tangannya padaku. Ku paksakan untuk tersenyum. Kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan ruangan ini.
Kosong. Seperti ada yang hilang bersama kepergian Jo dan Rose. Ku arahkan pandanganku pada pintu masuk. Berharap Jo kembali. Namun sepertinya itu harapan yang sia-sia. Aku menghembuskan nafas kecewa. Mungkin apa yang dikatakan Sindy benar. Kalau aku tak segera bertindak, orang lain yang akan bertindak. Dan kesempatan bersama dengannya, tertutup rapat untukku.
Sampai saat ini, aku seperti kehilangan diriku yang sebenarnya di depan Jo. Tak ada lagi Alsena si cerewet. Tak ada lagi Alsena yang berani menyuarakan apapun yang ada dipikirannya. Mungkin Alsena yang seperti itu sudah mati. Dan sekarang, tinggal Alsena si pengecut. Ah..perasaan ini semakin lama semakin membunuhku.
Ting. Sebuah notifikasi menyadarkanku. Aku segera mengeceknya. Sebuah pesan masuk dari Jo.
‘Just wait.’
Hanya dua kata yang tetulis di sana.
‘What do you mean?’ Balasku.
5 menit. 10 menit. Tak ada balasan darinya. Apa maksud dari pesannya? Kenapa dia mengirim pesan seperti itu? Dia memintaku untuk menunggu? Apa dia tahu? Ah. Mana mungkin.
Hujan semakin deras saja. Seperti tak ada tanda-tanda akan segera berhenti. Langit juga menggelap. Angin dan kilatan petir seperti memperkuat hujan ini. Meskipun sedikit takut, ku putuskan untuk keluar kelas. Mungkin di luar lebih aman, daripada duduk sendiri di kelas. Ku peluk tubuhku semakin erat.
“Al?” Sebuah suara membuatku mendongak. Bukan Jo melainkan Bara.
“Belum pulang?” Tanyaku. Biasanya Bara langsung pulang setelah kuliah selesai. Meskipun hujan sekalipun.
“Masih ada urusan tadi. Lha kamu?” Bara mengambil duduk di sampingku.
“Hujan.” Satu kata itu sudah menjawab pertanyaannya.
“Thank’s sekali lagi buat cardigannya.” Ucapku mengangkat sedikit cardigan yang ku pakai.
“Aku cuma nggak mau kamu kenapa-napa.” Jawabnya pelan samar-samar ku dengar.
“Hah?” Tanyaku memastikan.
“Oh. No problem. Pakai aja kamu lebih butuh daripada aku.” Jawabnya sedikit tergagap. Aku hanya menganggu-angguk paham.
Tiba-tiba perkataan Sindy terlintas dipikiranku. Bahwa Bara menyukaiku. Memangsih aku merasakan ada yang berubah darinya. Entah itu sejak kapan. Meskipun kita masih saja bertengkar dengan hal sepele, namun di sisi lain dia juga yang paling mengkhawatirkan ku meskipun secara tidak langsung. Aku menoleh pada Bara. Dia sedang menikmati air langit yang melakukan pertunjukan.
“Em..Bar?” Panggilku pelan. Dia langsung menoleh.
“Kita…teman kan?” Tanyaku hati-hati.
“Ya iyalah kita teman, Al. Meski kita sering nggak sependapat, aku belum ada niatan mengubah statusmu menjadi musuh kok.” Jawabnya santai.
“Apapun yang terjadi. Kamu akan tetep jadi Bara yang aku kenal kan? Tetep di sampingku dan nggak akan berharap lebih dari temen kan?” Aku mengucapkan kata demi kata dengan hati-hati. Aku berusaha menjaga agar dia tidak tersinggung dengan apa yang ku katakan. Dan di satu sisi, aku ingin memperjelas bahwa aku tak mau memberinya harapan. Dia sedikit tersentak. Namun itu hanya sebentar. Sekarang dia memasang senyumannya yang jarang dia pasang di wajah dinginnya.
“Aku paham dan aku tahu posisiku dimana. Nggak usah denger apa yang dibilang temen-temen. Aku, Bara Praditya, sudah mengikrarkan kalau aku temen kamu. Nggak kurang dan nggak lebih. Jadi, aku harap kita tetep seperti biasanya aja.” Ucap Bara seperti tak ada beban apa-apa.
“Thank’s, Bar.” Ucapku pelan. Aku kembali melihat ponselku. Pesan Jo masih tertampil di sana. Dan tanpa sadar, aku mendengus.
“Joshua?” Lagi-lagi suara Bara mengalihkan atensiku.
“Hah?” Aku tersentak ketika dia menyebut nama Jo.
“Sebenarnya kau tidak hanya menunggu hujan reda kan, Al? Tapi kau juga menunggu Joshua kan?” Tebak Bara.
“Ng..nggak.” Elakku.
“Udahlah nggak usah bohong. Itu buktinya.” Ucap Bara menunjuk ponselku dengan dagunya.
“Aku nggak bohong. Ini cuma…cuma..” Aku mencoba mencari kata yang pas. Tapi sudah dipotong Bara.
“Dia orangnnya nggak peka, Al. Tahu sendiri kan? Jadi jangan cuma nunggu.”
“Apaan sih, Bar. Aku nggak ada apa-apa sama Jo.”
“Udahlah. Nggak bakal mempan kamu bohongin aku. Buktinya, kamu masih menunggunya gara-gara sms itu. Dan kalaupun kamu bantah kamu sekarang nunggu hujan reda, kamu bisa nunggu di dalam atau di tempat lain yang lebih hangat. Nggak kayak gini. Kamu tetep nekat nunggu di sini meski kamu udah bener-bener kedinginan.” Bara berkata panjang lebar. Aku mencerna tiap katanya. Dan semua yang dikatakan Bara benar.
“Oke. Percuma aku bohong sama kamu. Buktinya kamu udah bisa baca semuanya. Nggak ada jalan lain selain nunggu, Bar. Sekarang yang di samping dia bukan cuma aku. Ada cewek lain, yang kenal dia lebih lama daripada aku. Aku nggak mau ngejar dia seperti cewek itu. Ya, cuma ini yang aku mampu. Ngelihat dia dari jauh, merhatiin dia, nunggu dia, sampai dia bener-bener noleh dan sadar dengan keberadaanku. Dan dengan pesan ini, mungkin aku harus sedikit lebih sabar lagi.” Jawabku tak bisa menyembunyikan apa-apa lagi. Aku semakin mengeratkan dekapanku karena perlahan kurasakan tulang-tulangku mulai kaku.
“Kita pulang sekarang.” Ajak Bara seperti mengetahui kalau aku sedang menahan sakit di tulangku. Aku menggeleng.
“Mau sampai kapan? Kamu udah kesakitan seperti itu.” Bara sedikit menaikkan suaranya.
“Dia memintaku untuk menunggu.” Jawabku pelan.
“Pesan itu tak berarti apa-apa. Buktinya tak ada pesan setelahnya dari dia. Dan sampai saat ini dia entah dimana, Al. Please, jangan nyiksa dirimu sendiri.” Sangat terlihat jelas Bara menahan emosinya. Dan jujur, ini pertama kalinya aku melihat Bara seperti itu.
“Bar, kalau kamu temenku, tolong biarkan aku di sini. Aku mau membuktikan apa yang ada ditulis Jo itu benar. Dan dia bakal ke sini lagi nanti.” Ucapku memohon. Bara mengacak rambutnya frustasi. Dia mendengus kesal.
“Oke kalau itu mau kamu. Kamu tetep di sini dan janji sama aku, kalau kamu akan baik-baik saja sampai Joshua ke sini. Aku akan coba cari dia. Paham?” Ada nada perintah di setiap katanya. Bara tak menerima penolakan. Jadi aku hanya mengangguk pelan.
Bara segera beranjak dari duduknya. Ia mengeratkan cardigan yang ku pakai. Setelah mengacak rambutku pelan, Bara melangkah menjauh dariku. Seperti yang dia ucapkan, mencari Jo.
“Bara?!” Panggilku ketika Bara sudah beberapa langkah dari tempat dudukku. Dia menoleh.
“Thank’s.” Ucapku. Bara hanya tersenyum. Bara kemudian lari menyusuri koridor.
Bersamaan dengan tak terlihatnya Bara di ujung koridor, rasa sakit di tulang-tulangku terlebih kakiku semakin terasa. Ku pijit perlahan. Seperti tak mau tahu dengan kesakitanku, hujan masih saja tak mau berhenti. Dan anginpun masih setia menemani sang hujan.
Waktu berlalu. Belum ada kehadiran Jo maupun Bara. Kakiku sekarang sudah ku angkat ke kursi dan ku peluk. Karena rasa kaku itu sudah semakin menyerang ke seluruh tubuhku. Cardigan Bara sudah tak mampu menghalau angin yang membabi buta. Ku tenggelamkan wajahku di antara lututku, untuk menyembunyikan air mataku.
“Maaf, sudah membuatmu menunggu.” Sebuah suara yang sangat ku kenal. Segera ku dongakkan wajahku. Memastikan kalau suara itu bukan halusinasiku. Dan benar, dia sudah berada di depanku. Berdiri dengan kedua lututnya agar sejajar denganku.
“Jo?” Ku pastikan kalau yang berada di depanku benar-benar Jo.
“Ya, ini aku. Maaf.” Ucapnya pelan. Perlahan ku turunkan kakiku. Aku tertunduk dan air mataku kembali menetes. Entah apa yang dipikirkan Jo, dia langsung merengkuhku dan membiarkan aku menangis di bahunya.
“Maaf. Aku menjadi orang bodoh yang tak segera menyadari keberadaanmu. Aku menjadi orang yang tak mempunyai banyak keberanian. Aku membutmu menunggu terlalu lama. Dan aku yang membuatmu harus berperang dengan dingin seperti ini. Maaf, Al. Maaf.” Ucapnya terus meminta maaf. Jo adalah orang yang dingin. Namun, entah kenapa berada di dekapannya seperti ini yang ku rasakan kehangatan dan kenyamanan.
Setelah beberapa saat posisi kami tak berubah, Jo melepas pelukannya. Namun tangannya masih memegang wajahku. Dan dengan lembut, dia menghapus jejak air mata di pipiku.
“Al, aku tahu aku orang yang sangat bodoh. Aku orang yang menyia-nyiakan banyak kesempatan. Aku orang yang sebenarnya tak pantas denganmu. Tapi, mulai sekarang ijinkan aku menjadi penghangatmu untuk melawan dingin. Al, biarkan aku berada di sisimu.” Jo berkata dengan tenang. Aku tak mampu menjawab apa-apa. Aku hanya menatapnya. Dan ku lihat keseriusan di matanya.
“Rose?” Tanyaku pelan. Karena aku ingat ada orang lain yang juga menyukainya.
“Tidak ada Rose, tidak ada Bara, aku ingin hanya ada aku dan kamu di cerita ini. Hanya Joshua dan Alsena.” Ucapnya tenang. Aku tak pernah menyangka Jo akan berkata seperti itu. Jo yang biasanya sangat irit bersuara, sekarang sedang menjelaskan semua perasaannya.
“Di bawah hujan di Januari sore ini, maukah kau memberi ijin untukku?” Tanya Jo menuntut jawaban dariku mengenai ungkapan perasaannya.
Aku masih menatapnya. Kemudian aku hanya mengangguk. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutku untuk menjawab semua ungkapannya. Dan tanpa aba-aba, Jo kembali merengkuhku. Air mata kembali lolos dari mataku. Namun kali ini air mata bahagia.
“Makasih, Al. Makasih. Love you.” Bisiknya.
“Love you too.” Balasku tak kalah pelan.
Hujan di penghujung Januari ini, tak akan pernah terlupakan. Mereka menjadi saksi bagaiamana seorang Alsena bertahan dengan semua harapan dan ketakutan menjadi satu. Dan itu menjadi kekuatan tersendiri untukku tetap di sini meski harus berperang dengan dingin yang menyerang tulangku. Jika orang lain berpikiran karena aku sudah terlalu cinta dengan Jo, aku tak peduli. Yang jelas, sekarang dia sudah benar-benar di sampingku. Ketika Januari sudah akan usai, ceritaku dan Jo baru dimulai. 
~~Febria~~




Tidak ada komentar:

Posting Komentar