HUJAN JANUARI
![]() |
| Aku suka hujan. Tapi benci dingin. Namun bersamamu, aku merasakan kehangatan. |
Musim dingin awal
Januari. Seperti ucapan selamat datang untuk tahun yang baru. Januari 2017.
Meski cuaca tak lagi bisa diprediksi, namun Januari masih setia dengan musim
dinginnya. Sisa musim dingin Desember. Hembusan angin yang kadang disertai
dengan rintik hujan, semakin memperjelas jika Januari telah tiba.
Aku suka hujan. Tapi
aku benci dingin. Aku suka merdunya suara air langit ketika turun membasahi
bumi. Bagiku suara itu bak nyanyian dari surga yang menenangkan jiwa. Namun,
aku benci dengan udara dingin yang menusuk ke tulangku, meski aku sudah
mengenakan jaket tebal. Dan dingin, membuatku semakin lemah.
Aku semakin mengeratkan
jaket, dan mempercepat langkahku. Pagi ini, aku harus menerobos udara dingin, demi
mengikuti kuliah perdana di tahun 2017. Dan sialnya, kelas pagi. Sejauh
pandanganku beredar, semua sama. Manusia dengan jaket tebal. Aku sedikit
mengerutuki kebijakan kampus yang mengadakan kelas pagi. Aku semakin
mempercepat langkahku. Mungkin segera duduk di kelas adalah pilihan yang tepat.
Daripada terus bergelut dengan hembusan angin yang tanpa belas kasihan.
Alsena Frenda. Al,
biasa aku dipanggil. Cerewet, tak bisa diam, hyperactive adalah nama tengahku. Bulan
ini bulan kelimaku menjadi mahasiswa di salah satu Universitas ternama di
kotaku. Meninggalkan masa putih abu-abu dan berada di masa transisi dari remaja
menuju dewasa, membuatku menemukan hal-hal baru. Dari suasana, lingkungan,
bahkan orang-orang yang bisa disebut teman. Dan, di sini juga aku menemukan
atau lebih tepatnya bertemu dengannya.
Joshua Arlandi. The
introvert boy. Jo. Aku biasa memanggilnya. Aku mengenalnya sejak bulan pertama
sebagai mahasiswa. Dia berbeda 180o denganku. Dia sangat pendiam
untuk ukuran seorang cowok. Aku yang tak bisa diam, harus menyesuaikan ketika
berbicara dengannya. Awalnya dia hanya menanggapi dengan satu dua kata. Tapi,
semakin kesini dia sudah bisa sedikit lebih terbuka. Jujur, sebelumnya aku tak
pernah betah ketika harus berinteraksi dengan orang yang tergolong pendiam. Tapi,
berbeda dengan Jo. Entah kenapa, aku masih bertahan dengannya. Kadang aku tak
paham dengan diriku sendiri. Hati dan logikaku tak pernah sejalan jika
menyangkut seorang Joshua.
Aku menghentikan
langkahku ketika mataku menangkap sosok yang tak asing berjalan beberapa
langkah di depanku. Hoody hitamnya, headphone terpasang di telinga, dan kedua
tangan yang dimasukan ke saku hoody. Aku sangat mengenali sosok itu, meski dari
belakang. Dialah orangnya. Makhluk yang baru saja ku bicarakan. Joshua. Aku
tersenyum. Hawa dingin sedikit tergeser. Aku mencoba menjajari langkahnya.
“Jo!” Sapaku sambil
menepuk lengannya. Dia menoleh dan melepaskan headphone-nya.
“Oh. Hai.” Ucapnya
singkat membalas sapaanku.
“Selamat tahun baru.” Suaraku
ringan seperti biasanya.
“Selamat tahun baru
juga, Al.” Balasnya pelan.
“Tak bawa motor?” Aku
memancing pembicaraan.
“Lebih suka jalan
kaki.” Jawabnya singkat.
“Padahal lebih enak
naik motor. Cepet sampai jadi nggak harus berperang dengan dingin.” Ucapku
sambil mengeratkan jaketku.
“Pagi hari itu terlalu
indah untuk dilewatkan, Al. Apalagi di awal tahun seperti ini.” Jawabnya sambil
terus menatap ke depan. Meskipun dari samping, aku masih bisa melihat tatapan memujanya
pada sausana fajar.
“Menurutku senja lebih
cantik dari pada fajar.” Ya, jika Jo pecinta fajar, aku penggila senja.
Jo hanya menghela nafas
menanggapi ucapanku. Selalu seperti itu. Dia selalu diam ketika aku mulai
berargument. Seperti dia memilih mengalah. Ku sembunyikan senyum kemenanganku.
Seperti inilah aku dan Jo. Kami tak akan pernah bosan membandingkan mana yang
lebih indah antara fajar dan senja. Atau antara sunrise dan sunset. Tapi, Jo
tak pernah menjelaskan kenapa dia menyukai pagi. Sedangkan aku sudah
menceritakan panjang lebar kenapa aku menggilai ketika kanvas Tuhan berwarna
jingga itu.
Dan sisa perjalan
menuju kelas, aku tak lagi merutuki kenapa harus ada kuliah pagi hari ini. Aku
justru berterimakasih. Tidak konsistenkah aku? Ya, karena makhluk yang sekarang
berjalan beriringan dengan ku inilah yang membuatku menjadi tidak konsisten.
“Pagi. Pagi. Pagi!!”
Teriakku menyapa beberapa temanku yang sudah duduk manis di kelas. Mereka hanya
melambaikan tangan membalas ucapan selamat pagiku.
“Aku udah teriak
semangat dan kalian hanya melambaikan tangan? Ck. Gak kangen apa kalian? Kita
udah setahun lho nggak ketemu.” Aku berdecak sebal.
“Over.” Ucap Bara sarkastik tanpa mengalihkan pandangannya dari buku
tebal di hadapannya.
Tanpa ada niat membalas
ucapan Bara, aku langsung duduk di samping Sindy. Berbeda denganku, Jo lebih
memilih langsung duduk di tempat favoritnya. Dia tak pernah menyapa lebih dulu.
Pandanganku masih tertuju padanya. Jo langsung menyibukkan diri dengan
catatannya. Entah apa yang ia pelajari.
“Nggak bosen apa?”
Sebuah suara mengintrupsiku.
“Hah?” Tanyaku menoleh
pada Sindy. Tak paham ucapannya.
“Cuma ngelihatin dia
sampai kayak gitu, nggak bosen? Mending langsung samperin, bilang suka sama dia
gitu.” Jelas Sindy dengan santainya.
“Kalau cuma teori itu
mudah, Sin. Tapi prakteknya itu lho.” Ucapku sambil menenggelamkan kepalaku
pada lipatan kedua tanganku di atas meja. Sindy satu-satunya orang yang tahu
bagaimana perasaanku pada Jo.
“Dia nggak bakal peka
kalau kamu nggak ngomong. Dia terlalu asyik dengan dunianya sendiri, tanpa
sadar ada yang sedang menaruh perasaan padanya.” Sindy masih dengan
argumentnya.
“Tapikan aku cewek,
Sin.” Balasku pelan sambil mengangkat kembali kepalaku dan menoleh pada Sindy.
“Gender banget sih, Bu.
Kamu masih Alsena kan?” Tanya Sindy memicingkan matanya.
“Ya iyalah aku Alsena. Siapa
lagi? Aku belum ada niatan ganti akte.” Jawabku datar.
“Setahu ku Al yang aku
kenal nggak kayak gini. Al, kalau kamu cukup puas dengan hanya ngelihat dia
dari jauh ataupun dengan status ‘teman’, jangan pernah nyesel kalau dia taken dengan orang lain.” Sindy semakin
mengomporiku.
“Tauklah, Sin. Stuck aku kalau bahas dia.” Aku
menyerah. Ku ambil buku catatanku. Menyibukkan diri. Mengalihkan pikiranku dari
Jo barang sejenak.
***
Januari terus berjalan.
Dan udara semakin dingin saja. Hujan semakin sering, bahkan hingga sore hari.
Dan itu membuatku tak bisa lagi menikmati senja. Dan ceritaku dengan Jo masih
terus berlanjut beriringan dengan Januari.
Bicara tentang Jo, tak
banyak berubah antara aku dengannya. Kami masih sama. Dia masih menjadi makhluk
pendiam di kelas, dan aku masih saja setia hanya memandangnya dari jauh. Kami
masih dekat. Masih mengobrol seperti sebelumnya. Namun, ada yang berbeda.
Ternyata bukan hanya aku pemeran wanita dalam cerita ini.
“Joshua?!” Sebuah suara
membuatku menoleh ke pintu kelas. Di sana, berdiri cewek yang melambaikan
tangannya ke arah Jo. Dan tak lama, Jo menghampirinya dengan wajah datarnya.
Mereka berdua kemudian berbicara sambil tersenyum. Bukan. Lebih tepatnya cewek
itu yang tersenyum. Sedangkan Jo, tetap memasang muka datarnya. Ya, meski
menanggapi sesekali. Aku mengamati pemandangan itu dengan perasaan tak menentu.
Dia, pemeran wanita
lainnya. Twinsa Rosiana atau biasa dipanggil Rose. Teman SMA-nya Jo. Itu yang
aku tahu. Dia anak prodi sebelah. Ada rasa tak suka ketika melihat mereka
berdua bersama. Mereka yang asyik mengobrol, ataupun dia yang bisa membuat Jo
tertawa.
“Nah, ku bilang juga
apa.” Suara Sindy mengalihkan pandanganku dari dua makhluk yang sedang
berbicara di depan pintu.
“Apa?” Tanyaku.
“Nggak usah sok lupa.
Kan aku pernah bilang, kalau kamu nggak cepet bertindak, jangan nyesel kalau
kamu bakal keduluan. Dan tuh, keduluan kan?” Jawab Sindy ikut mengamati Jo dan
Rose yang masih mengobrol.
“Mereka cuma temen,
Sin.” Alibiku.
“Temen? Bullshit temen
antara cewek dan cowok. Pasti ada salah satu yang punya rasa. Dalam ceritamu
dan Joshua itu kamu, Alsena. Mungkin dalam cerita mereka si Rose, atau justru
Joshua?” Dalam hati aku membenarkan ucapan Sindy. Aku tak menjawab. Tiba-tiba
pandanganku dan Jo bertemu, ketika dia hendak kembali ke tempat duduknya. Aku
melihat keterkejutan di matanya, namun hanya sebentar. Ia memasang wajah datar
lagi. Aku masih mengamatinya sampai dia kembali sibuk dengan bukunya.
“ALSENA?!” Sebuah
teriakan mengganggu pendengaranku. Atau mungkin pendengaran semua penghuni
kelas.
“Ngapain sih
teriak-teriak? Aku gak budeg, Bara!” Protesku. Ya, teriakan yang hampir
memecahkan gendang telinga itu berasal dari Bara. Orang yang biasanya juga irit
bicara, tapi sekali bicara pedesnya minta ampun.
“Gak budeg dari mana?
Udah ku panggil berulang kali, dan nggak ada respon. Itu yang namanya gak
budeg?” Ucapnya sinis. Dan itu membuatku langsung menoleh pada Sindy. Sindy
mengangguk, membenarkan ucapan Bara.
“Oh. Sorry. Gak fokus.
Ada apa?” Alasanku.
“Tugasmu mana?” Tangan
Bara sudah terulur, meminta tugasku. Aku langsung menyerahkan makalahku.
“Fokus. Biar gak jomblo
terus.” Sindir Bara.
“Sial.” Ucapku sambil
mencoba menendang kakinya. Namun Bara berhasil mengelak. Sepeninggalan Bara,
aku kembali menenggelamkan kepalaku di anatara lipatan tanganku. Aku ingin
menenangkan pikiranku.
Aku memejamkan mataku.
Mencoba mencari ketenangan. Aku mempunyai cara tersendiri untuk mencari duniaku
yang lain. Perlahan, aku menemukannya. Aku merasakan tak lagi berada di kelas
yang gaduh. Aku seperti berada di tempat lain yang benar-benar tenang. Aku
semakin terhanyut. Namun itu tak berlangsung lama, aku harus dipaksa kembali ke
dunia nyata ketika punggungku merasakan hawa yang paling aku benci. Hawa dingin
yang seakan menyerangku. Di tambah aku mendengar suara hujan yang sangat lebat,
di sertai angin. Ini benar-benar menggangguku.
“Hujan, Al.” Bisik
Sindy. Aku tetap pada posisiku. Mengabaikan suara-suara keluhan dari beberapa
temanku, tanganku mencoba mencari jaket atau cardiganku di dalam tas yang ku
letakkan di samping meja. Namun tak juga ku temukan.
Akhirnya aku mengangkat
kepalaku. Dan mencarinya lagi. Mungkin terselip atau tertumpuk buku-buku. Tak
ada. Shit! Aku tak membawanya. Aku mendengus, mengrutuki kebodohanku. Jaket
atau cardigan adalah benda yang wajib ku bawa. Aku tak tahan dengan udara
dingin dan mudah terkena Hypotermia, kalau mau tahu. Aku hanya bisa memeluk
tubuhku sendiri. Mencoba mencari kehangatan dari kedua lenganku. Aku menoleh
keluar, hujan masih setia dengan pertunjukannya tanpa ada tanda-tanda akan
berhenti secepatnya. Aku semakin mempererat dekpanku.
“Nih, pakai!” Sebuah
cardigan muncul di hadapanku bersamaan dengan suara itu. Aku mendongak. Bara,
yang ku temukan di sana dengan wajah tak sabarannya.
“Buatku?” Tanyaku
memastikan kalau dia tak sedang mengerjaiku.
“Kamu kelihatan
kedinginan banget.” Jawabnya.
“Perhatian banget sih.
Terharu aku.” Ucapku sambil pura-pura mengusap air mata yang sebenarnya tak
ada. Kemudian aku mengambil alih cardigan itu. Bara langsung kembali ke tempat
duduknya.
“Thank’s, Bara.”
Teriakku sambil mengenakan cardigan milik Bara. Bara hanya mengangkat
tangannya. Aku merapikan cardigan itu agar nyaman ku pakai. Namun, pandanganku
tak sengaja bertemu dengan pandangan Jo. Dia mengamatiku dengan pandangan yang
tak bisa ku jelaskan. Dan ku lihat hoody hitamnya dalam genggamannya. Keadaan
itu berlangsung beberapa detik, sebelum dia mengalihkan pandangannya.
“Al? Alsena?” Sebuah
suara mengintrupsiku. Aku hanya menoleh malas pada Sindy.
“Kamu kenapa?” Tanyanya
khawatir ketika tak ada suara yang keluar dari mulutku.
“Sa..kit.” Ucaku pelan.
Hampir tak terdengar.
“Sakit? Dimana yang
sakit? Kamu masih kedinginan?” Rentetan pertanyaan Sindy khawatir. Ya, hampir
seluruh makhluk yang ada di kelas ini tahu tentang kelemahanku. Aku menggeleng.
“Bukan.”
“Lha terus?” Aku
mengangkat tanganku dan meletakkan di dada kiriku.
“Ini. Di sini yang
sakit ketika dia menatapku dengan dingin. Sakit, Sin.” Ucapku mendramatisir.
Setelah mendengar jawabanku, Sindy melengos.
“Alay.” Ucapnya
sarkastik. Kemudian kembali sibuk dengan ponselnya. Aku kembali mengarahkan
pandanganku ke Jo. Berharap dapat segaris senyum di wajahnya. Namun, yang ku
dapat surai hitamnya. Karena ia menoleh ke luar jendela yang tepat di
sampingnya.
“Eh, Al. Kayaknya Bara
suka sama kamu deh.” Ucap Sindy tiba-tiba.
“Kok?” Aku sedikit
meninggikan suaraku.
“Denger-denger sih.”
Jawab Sindy tak lupa cengiran polosnya.
“Sok tahu. Tahu sendiri
kan aku dan dia itu nggak pernah akur.” Sanggahku.
“Tapi, cardigan itu
buktinya.” Sindy masih kekeuh dengan pendapatnya.
“Please Sindy sayang,
jangan ngaco. Dia lagi baik hati aja.” Ucapku tetap menyangkal apa yang
dikatakan Sindy. Bara suka sama aku? Dapet pikiran dari mana lagi kayak gitu?
“Sama Bara aja lah, Al.
Daripada nunggu yang nggak peka.” Usul Sindy dengan tak bersalahnya.
“Perasaan nggak bisa
dipaksa, Sin.” Jawabku. Benarkan kalau perasaan nggak bisa dipaksa harus kemana
dia berlabuh?
Dan pembicaraanku
dengan Sindy harus berhenti ketika dosen berkacamata dengan high heels tinggi
malangkahkan kakinya melewati ambang pintu kelas.
Hujan masih setia
ketika jam kuliah hari ini selesai. Dan di sinilah aku. Masih duduk di kelas.
Menikmati rintikan hujan dari balik jendela. Sudah tak banyak yang ada di
kelas. Mereka memilih menerobos hujan sampai parkiran atau menikmati hujan di
luar kelas. Ku letakkan kepalaku di meja sambil mengeratkan cardigan Bara.
“Belum pulang?” Sebuah
suara mengintrupsiku. Aku mendongak dan mendapatkan dia sudah duduk di kursi
depanku.
“Hujan.” Jawabku
singkat tanpa menatapnya. Hening menyelimuti. Hanya suara hujan yang terdengar.
“Statusmu kemarin untuk
siapa?” Tiba-tiba suara Jo memecah keheningan. Aku hanya menolehnya dengan
wajah bertanya. Status mana yang ia maksud.
“Seperti hujan Januari.
Dingin. Kamu.” Jawabnya membaca statusku. Aku hanya mengangguk paham.
“Someone.”
Jawabku singkat. Tak mungkin jika aku menjawab bahwa status itu untuknya.
“Bara?” Tanyanya.
“Bukan.” Jawabku sambil
memainkan ponselku. Aku tak berani menatapnya. Entah bagaimana ekspresinya
sekarang.
“So? Who is he?” Ada
nada penasaran ketika dia bertanya lagi.
“Just someone. Dia
seperti hujan. Aku tak bisa menyentuhnya, meskipun dia berada di dekatku. Dan
dia mungkin tak mengetahuiku. Because, he so famous. Dia dikelilingi banyak
orang. Meskipun dia tak menyadari itu. Shit. Forgot it!” Aku menutupnya dengan
sedikit umpatan. Ketika aku menyadari aku terlalu panjang menggambarkan
dirinya. Entah dia sadar atau tidak.
“Oh.” Hanya itu. Ya,
hanya itu yang keluar dari mulutnya. Aku sedikit meliriknya.
“Josh?!” Sebuah suara
membuatku dan Joshua menoleh bersamaan. Setelah melihat pemilik suara, aku
segera mengalihkan pandanganku. Siapa lagi kalau bukan Rose.
“Hai, Alsena.” Sapanya
padaku. Dia langsung duduk begitu saja di samping Joshua. Aku hanya membalas
sapaannya dengan senyuman yang kupaksakan.
“Nggak ada kuliah lagi
kan?” Tanyanya pada Jo.
“Nggak.” Jawab Jo
singkat.
“Mau temani aku ke toko
buku di bawah? Ayolah. Please.” Aku sudah mencoba tak menghiaukannya. Namun,
mendengar suarnya yang mremohon, sangat menganggu pendengaranku. Ya, di lantai
satu ada toko buku kecil untuk mahasiswa.
“Baiklah. Aku juga mau
beli beberapa buku.” Ucap Jo beranjak dari duduknya. Entah sengaja atau tidak,
ku lihat Rose tersenyum penuh kemenangan ke arahku. Entah apa maksudnya.
“Mau ikut, Al?” Tawar
Jo padaku. Aku menggeleng pelan.
“Nggak. Males.”
Jawabku. Jo hanya mengangguk.
“Kita duluan ya, Al?”
Ucap Rose sambil melambaikan tangannya padaku. Ku paksakan untuk tersenyum.
Kemudian mereka berdua berlalu meninggalkan ruangan ini.
Kosong. Seperti ada
yang hilang bersama kepergian Jo dan Rose. Ku arahkan pandanganku pada pintu
masuk. Berharap Jo kembali. Namun sepertinya itu harapan yang sia-sia. Aku
menghembuskan nafas kecewa. Mungkin apa yang dikatakan Sindy benar. Kalau aku
tak segera bertindak, orang lain yang akan bertindak. Dan kesempatan bersama
dengannya, tertutup rapat untukku.
Sampai saat ini, aku
seperti kehilangan diriku yang sebenarnya di depan Jo. Tak ada lagi Alsena si cerewet.
Tak ada lagi Alsena yang berani menyuarakan apapun yang ada dipikirannya.
Mungkin Alsena yang seperti itu sudah mati. Dan sekarang, tinggal Alsena si
pengecut. Ah..perasaan ini semakin lama semakin membunuhku.
Ting. Sebuah notifikasi
menyadarkanku. Aku segera mengeceknya. Sebuah pesan masuk dari Jo.
‘Just wait.’
Hanya dua kata yang
tetulis di sana.
‘What do you mean?’
Balasku.
5 menit. 10 menit. Tak
ada balasan darinya. Apa maksud dari pesannya? Kenapa dia mengirim pesan
seperti itu? Dia memintaku untuk menunggu? Apa dia tahu? Ah. Mana mungkin.
Hujan semakin deras
saja. Seperti tak ada tanda-tanda akan segera berhenti. Langit juga menggelap.
Angin dan kilatan petir seperti memperkuat hujan ini. Meskipun sedikit takut,
ku putuskan untuk keluar kelas. Mungkin di luar lebih aman, daripada duduk
sendiri di kelas. Ku peluk tubuhku semakin erat.
“Al?” Sebuah suara
membuatku mendongak. Bukan Jo melainkan Bara.
“Belum pulang?”
Tanyaku. Biasanya Bara langsung pulang setelah kuliah selesai. Meskipun hujan sekalipun.
“Masih ada urusan tadi.
Lha kamu?” Bara mengambil duduk di sampingku.
“Hujan.” Satu kata itu
sudah menjawab pertanyaannya.
“Thank’s sekali lagi
buat cardigannya.” Ucapku mengangkat sedikit cardigan yang ku pakai.
“Aku cuma nggak mau
kamu kenapa-napa.” Jawabnya pelan samar-samar ku dengar.
“Hah?” Tanyaku
memastikan.
“Oh. No problem. Pakai
aja kamu lebih butuh daripada aku.” Jawabnya sedikit tergagap. Aku hanya
menganggu-angguk paham.
Tiba-tiba perkataan
Sindy terlintas dipikiranku. Bahwa Bara menyukaiku. Memangsih aku merasakan ada
yang berubah darinya. Entah itu sejak kapan. Meskipun kita masih saja
bertengkar dengan hal sepele, namun di sisi lain dia juga yang paling
mengkhawatirkan ku meskipun secara tidak langsung. Aku menoleh pada Bara. Dia sedang
menikmati air langit yang melakukan pertunjukan.
“Em..Bar?” Panggilku
pelan. Dia langsung menoleh.
“Kita…teman kan?”
Tanyaku hati-hati.
“Ya iyalah kita teman,
Al. Meski kita sering nggak sependapat, aku belum ada niatan mengubah statusmu
menjadi musuh kok.” Jawabnya santai.
“Apapun yang terjadi.
Kamu akan tetep jadi Bara yang aku kenal kan? Tetep di sampingku dan nggak akan
berharap lebih dari temen kan?” Aku mengucapkan kata demi kata dengan
hati-hati. Aku berusaha menjaga agar dia tidak tersinggung dengan apa yang ku
katakan. Dan di satu sisi, aku ingin memperjelas bahwa aku tak mau memberinya
harapan. Dia sedikit tersentak. Namun itu hanya sebentar. Sekarang dia memasang
senyumannya yang jarang dia pasang di wajah dinginnya.
“Aku paham dan aku tahu
posisiku dimana. Nggak usah denger apa yang dibilang temen-temen. Aku, Bara
Praditya, sudah mengikrarkan kalau aku temen kamu. Nggak kurang dan nggak
lebih. Jadi, aku harap kita tetep seperti biasanya aja.” Ucap Bara seperti tak
ada beban apa-apa.
“Thank’s, Bar.” Ucapku
pelan. Aku kembali melihat ponselku. Pesan Jo masih tertampil di sana. Dan
tanpa sadar, aku mendengus.
“Joshua?” Lagi-lagi
suara Bara mengalihkan atensiku.
“Hah?” Aku tersentak
ketika dia menyebut nama Jo.
“Sebenarnya kau tidak
hanya menunggu hujan reda kan, Al? Tapi kau juga menunggu Joshua kan?” Tebak
Bara.
“Ng..nggak.” Elakku.
“Udahlah nggak usah
bohong. Itu buktinya.” Ucap Bara menunjuk ponselku dengan dagunya.
“Aku nggak bohong. Ini
cuma…cuma..” Aku mencoba mencari kata yang pas. Tapi sudah dipotong Bara.
“Dia orangnnya nggak
peka, Al. Tahu sendiri kan? Jadi jangan cuma nunggu.”
“Apaan sih, Bar. Aku
nggak ada apa-apa sama Jo.”
“Udahlah. Nggak bakal
mempan kamu bohongin aku. Buktinya, kamu masih menunggunya gara-gara sms itu.
Dan kalaupun kamu bantah kamu sekarang nunggu hujan reda, kamu bisa nunggu di
dalam atau di tempat lain yang lebih hangat. Nggak kayak gini. Kamu tetep nekat
nunggu di sini meski kamu udah bener-bener kedinginan.” Bara berkata panjang
lebar. Aku mencerna tiap katanya. Dan semua yang dikatakan Bara benar.
“Oke. Percuma aku
bohong sama kamu. Buktinya kamu udah bisa baca semuanya. Nggak ada jalan lain
selain nunggu, Bar. Sekarang yang di samping dia bukan cuma aku. Ada cewek
lain, yang kenal dia lebih lama daripada aku. Aku nggak mau ngejar dia seperti
cewek itu. Ya, cuma ini yang aku mampu. Ngelihat dia dari jauh, merhatiin dia,
nunggu dia, sampai dia bener-bener noleh dan sadar dengan keberadaanku. Dan
dengan pesan ini, mungkin aku harus sedikit lebih sabar lagi.” Jawabku tak bisa
menyembunyikan apa-apa lagi. Aku semakin mengeratkan dekapanku karena perlahan
kurasakan tulang-tulangku mulai kaku.
“Kita pulang sekarang.”
Ajak Bara seperti mengetahui kalau aku sedang menahan sakit di tulangku. Aku
menggeleng.
“Mau sampai kapan? Kamu
udah kesakitan seperti itu.” Bara sedikit menaikkan suaranya.
“Dia memintaku untuk
menunggu.” Jawabku pelan.
“Pesan itu tak berarti
apa-apa. Buktinya tak ada pesan setelahnya dari dia. Dan sampai saat ini dia
entah dimana, Al. Please, jangan nyiksa dirimu sendiri.” Sangat terlihat jelas
Bara menahan emosinya. Dan jujur, ini pertama kalinya aku melihat Bara seperti
itu.
“Bar, kalau kamu
temenku, tolong biarkan aku di sini. Aku mau membuktikan apa yang ada ditulis
Jo itu benar. Dan dia bakal ke sini lagi nanti.” Ucapku memohon. Bara mengacak
rambutnya frustasi. Dia mendengus kesal.
“Oke kalau itu mau
kamu. Kamu tetep di sini dan janji sama aku, kalau kamu akan baik-baik saja
sampai Joshua ke sini. Aku akan coba cari dia. Paham?” Ada nada perintah di
setiap katanya. Bara tak menerima penolakan. Jadi aku hanya mengangguk pelan.
Bara segera beranjak
dari duduknya. Ia mengeratkan cardigan yang ku pakai. Setelah mengacak rambutku
pelan, Bara melangkah menjauh dariku. Seperti yang dia ucapkan, mencari Jo.
“Bara?!” Panggilku
ketika Bara sudah beberapa langkah dari tempat dudukku. Dia menoleh.
“Thank’s.” Ucapku. Bara
hanya tersenyum. Bara kemudian lari menyusuri koridor.
Bersamaan dengan tak
terlihatnya Bara di ujung koridor, rasa sakit di tulang-tulangku terlebih
kakiku semakin terasa. Ku pijit perlahan. Seperti tak mau tahu dengan
kesakitanku, hujan masih saja tak mau berhenti. Dan anginpun masih setia
menemani sang hujan.
Waktu berlalu. Belum
ada kehadiran Jo maupun Bara. Kakiku sekarang sudah ku angkat ke kursi dan ku
peluk. Karena rasa kaku itu sudah semakin menyerang ke seluruh tubuhku.
Cardigan Bara sudah tak mampu menghalau angin yang membabi buta. Ku
tenggelamkan wajahku di antara lututku, untuk menyembunyikan air mataku.
“Maaf, sudah membuatmu menunggu.”
Sebuah suara yang sangat ku kenal. Segera ku dongakkan wajahku. Memastikan
kalau suara itu bukan halusinasiku. Dan benar, dia sudah berada di depanku.
Berdiri dengan kedua lututnya agar sejajar denganku.
“Jo?” Ku pastikan kalau
yang berada di depanku benar-benar Jo.
“Ya, ini aku. Maaf.”
Ucapnya pelan. Perlahan ku turunkan kakiku. Aku tertunduk dan air mataku
kembali menetes. Entah apa yang dipikirkan Jo, dia langsung merengkuhku dan
membiarkan aku menangis di bahunya.
“Maaf. Aku menjadi
orang bodoh yang tak segera menyadari keberadaanmu. Aku menjadi orang yang tak
mempunyai banyak keberanian. Aku membutmu menunggu terlalu lama. Dan aku yang
membuatmu harus berperang dengan dingin seperti ini. Maaf, Al. Maaf.” Ucapnya
terus meminta maaf. Jo adalah orang yang dingin. Namun, entah kenapa berada di
dekapannya seperti ini yang ku rasakan kehangatan dan kenyamanan.
Setelah beberapa saat
posisi kami tak berubah, Jo melepas pelukannya. Namun tangannya masih memegang
wajahku. Dan dengan lembut, dia menghapus jejak air mata di pipiku.
“Al, aku tahu aku orang
yang sangat bodoh. Aku orang yang menyia-nyiakan banyak kesempatan. Aku orang
yang sebenarnya tak pantas denganmu. Tapi, mulai sekarang ijinkan aku menjadi
penghangatmu untuk melawan dingin. Al, biarkan aku berada di sisimu.” Jo
berkata dengan tenang. Aku tak mampu menjawab apa-apa. Aku hanya menatapnya.
Dan ku lihat keseriusan di matanya.
“Rose?” Tanyaku pelan.
Karena aku ingat ada orang lain yang juga menyukainya.
“Tidak ada Rose, tidak
ada Bara, aku ingin hanya ada aku dan kamu di cerita ini. Hanya Joshua dan
Alsena.” Ucapnya tenang. Aku tak pernah menyangka Jo akan berkata seperti itu.
Jo yang biasanya sangat irit bersuara, sekarang sedang menjelaskan semua
perasaannya.
“Di bawah hujan di
Januari sore ini, maukah kau memberi ijin untukku?” Tanya Jo menuntut jawaban
dariku mengenai ungkapan perasaannya.
Aku masih menatapnya.
Kemudian aku hanya mengangguk. Tak ada kata yang bisa keluar dari mulutku untuk
menjawab semua ungkapannya. Dan tanpa aba-aba, Jo kembali merengkuhku. Air mata
kembali lolos dari mataku. Namun kali ini air mata bahagia.
“Makasih, Al. Makasih.
Love you.” Bisiknya.
“Love you too.” Balasku
tak kalah pelan.
Hujan di penghujung
Januari ini, tak akan pernah terlupakan. Mereka menjadi saksi bagaiamana
seorang Alsena bertahan dengan semua harapan dan ketakutan menjadi satu. Dan
itu menjadi kekuatan tersendiri untukku tetap di sini meski harus berperang
dengan dingin yang menyerang tulangku. Jika orang lain berpikiran karena aku
sudah terlalu cinta dengan Jo, aku tak peduli. Yang jelas, sekarang dia sudah
benar-benar di sampingku. Ketika Januari sudah akan usai, ceritaku dan Jo baru
dimulai.
~~Febria~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar