Jumat, 03 Maret 2017

KLISE



KLISE

“Kadang tak perlu alasan yang jelas untuk mengambarkan persoalan hati.”
***

“Kiara...Gue ketemu sama Mr. Ice Cream!” Teriak seorang gadis ketika baru saja mendaratkan kaki dikelasnya. Dan teriakan itu berhasil membuat sang punya nama mendelik malu. Bagimana tidak, jika temannya itu langsung saja berteriak tanpa memperdulikan situasi kelas yang sedang serius mempersiapkan untuk ulangan sosiologi dijam pertama.
Shannon, gadis yang tidak hanya berhasil membuat Kiara terpaksa menutup muka karena teriakannya, tapi juga berhasil membuat semua pasang mata teman sekelasnya tertuju tajam padanya, namun dia masih bisa melangkah santai menuju tempat duduknya disebelah Kiara. Seperti tak punya salah atau tanpa rasa bersalah, ia masih menunujukkan cengiran lebarnya. Kiara tetap menyembunyikan mukanya.
“Kiara! Lo kenapa sih? Lo nggak penasaran sama cerita gue?” Celoteh Shannon. Kiara langsung membungkam mulut sahabatnya itu.
“Nggak usah keras-keras bisa kan, Sha? Lo nggak nyadar lo udah ganggu belajar mereka?” Ucap Kiara sambil menunjukkan situasi kelas pada Shannon dengan dagunya. Shannon langsung melepas bungkaman Kiara dan memperhatikan keseluruh penjuru kelasnya. Dan benar saja pemandangan yang dilihatnya hanya kepala-kepala yang menunduk sambil mulut yang komat-kamit.
“Emang pada belajar buat apaan sih?” Tanya Shannon polos.
“Udah gue tebak lo pasti lupa. Jam pertama ulangan sosiologi.” Jawab Kiara. Shannon terdiam. Kiara menunggu bagaimana reaksi sahabatnya yang paling cerewet itu.
“Ya ampun Kia! Gue lupa. Mana gue belum belajar lagi.” Lagi-lagi Shannon berteriak. Kali ini teriakan panik.
“Shannon diem!” Tegur hampir seluruh penghuni kelas itu. Shannon langsung terbungkam. Sedangkan Kiara terkikik pelan.
Ketika Shannon masih sibuk mencari buku sosiologinya, tak sengaja mata Kiara menangkap sosok yang melintas di depan kelasnya. Sosok yang baru saja menjadi objek teriakan Shannon. Ravano. Nama yang baru diketahuinya belakangan ini. Dia seperti penghipnotis untuk Kiara. Sang kakak kelas yang mampu membuat mata, hati bahkan pikiran Kiara hanya terfokus pada sosok itu. Makhluk yang terciptakan dengan sangat sempurna.
“Udah sampai kelas tuh orangnya. Dilihatin terus.” Goda Shannon menyadarkan Kiara.
“Sok tahu.” Jawab Kiara kemudian mencoba kembali berkonsentrasi pada bukunya. Tapi, terlambat. Bel masuk terdengar memenuhi seluruh penjuru sekolah.
***
Siang ini matahari tengah bersinar bersahabat. Tak terlalu terik juga tak terlalu redup. Bisa dibilang cerah. Seorang pemuda baru saja mengganti seragam putih abu-abunya dengan seragam bertuliskan ‘L-IC’ dibagian dada sebelah kiri. ‘L-IC’ adalah nama cafe ice cream terkenal di kota itu, tempat kerja part timenya. Di dada kirinya terpasang nametag dan tertulis ‘Ravano’ disana. Ya, dia Ravano yang sama dengan sosok dingin penghipnotis Kiara. Tapi kali ini bukan wajah dingin yang ia tunjukkan. Melainkan senyuman ramah melayani pelanggan-pelanggannya.
Ravano melirik sekilas pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sebentar lagi, batinnya. Ting! Pertanda pintu dibuka. Dia datang. Ravano langsung menoleh ke pintu masuk. Memastikan tebakannya tidak salah. Dan benar saja, seorang gadis yang masih mengenakan seragam sekolah yang tak beda dengan seragam sekolahnya, baru saja datang. Dia langsung duduk di meja dekat jendela. Meja favorit gadis itu.
Gadis itu tak lain adalah Kiara. Kenapa dia ada disini? Ada dua alasan kenapa dia bisa berada di cafe ice cream ini. Pertama, karena dia gadis penggila ice cream. Baginya obat penghilang stress karena berbagai pelajaran di sekolah adalah ice cream. Kedua, apalagi kalau bukan karena satu nama yang selalu menjadi objek favoritnya. Ravano. Sebenarnya, Kiara mengetahui Ravano pertama kali bukan di sekolah, bukan sebagai kakak kelasnya. L-IC. Ya, di tempat ini dia melihat Ravano pertama kali. Dengan senyum ramahnya, dengan tangan cekatannya membuat ice cream, dengan tawa renyahnya saat bercanda dengan rekan kerjanya, itu yang membuat Kiara jatuh hati pada seorang Ravano. Memang terlalu klise dengan semua alasan itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini masalah hati. Dan kadang tak perlu alasan yang jelas untuk menggambarkan bagaimana persoalan hati.
Kiara tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya ketika mengetahui Ravano juga kakak kelasnya. Dia seperti tak pernah bosan untuk selalu memperhatikan seorang Ravano meskipun dari jauh. Bahkan Kiara sampai hafal jam berapa Ravano datang, kegiatan yang dilakukannya saat jam istirahat, dan semua hal yang berhubungan dengan Ravano. Tapi, satu hal yang membuat Kiara sedikit kecewa. Dia menemukan Ravano yang berbeda saat berada di sekolah dan saat di L-IC. Ravano kakak kelas yang dingin dan Ravano pelayan yang ramah.
“Kiara, seperti biasa.” Ucap seorang pelayan sambil menempatkan se-cup ice cream favorit Kiara. Ya, Kiara sudah menjadi pelanggan tetap di L-IC. Jadi tak heran jika pelayan disini mengenalnya dan hafal betul kesukaannya.
“Terima kasih, Kak Resti.” Ucap Kiara sambil tersenyum. Resti hanya tersenyum kemudian meninggalkan meja Kiara.
Sepeninggalan Resti, Kiara langsung menyantap ice cream favoritnya itu. ‘Rai-choco atau Rainbow Chocolate’ itu nama yang disematkan pada ice cream yang memang terdiri dari banyak warna dengan lelehan chocolate diatasnya. Seperti biasanya, Kiara selalu menikmati setiap sendok ice cream yang berhasil masuk ke mulutnya.
Tanpa sepengetahuan Kiara yang sedang menikmati ice creamnya, ada sepasang mata yang mengamatinya dari balik etalase. Ya, sepasang mata itu milik Ravano. Dia mengamati Kiara sambil tersenyum. Entah kenapa ia sangat suka mengamati adik kelasnya itu diam-diam.
Perlu diketahui, mereka berdua sebenarnya mirip. Ya, Ravano dan Kiara. Mereka sama-sama menjadi pengagum diam-diam atau secret admirer satu sama lain. Hanya bedanya, Ravano mengetahui semua kelakuan Kiara yang memperhatikannya di sekolah maupun di L-IC. Sedangkan Kiara tidak mengetahui kalau orang yang selalu diperhatikannya itu juga memperhatikannya.
“Samperin dong! Cowok macam apaan sih lo beraninya cuma ngelihat dari jauh.” Goda Resti yang sudah berdiri di samping Ravano. Ya, bisa dibilang Resti satu-satu orang yang mengetahui jalan cerita yang sedang berjalan ini.
“Apaan sih. Yang lo omongin itu siapa?” Elak Ravano menyembunyikan kenyataan.
“Ah, tauklah! Gue terlalu nggak paham dan selamanya nggak bakal paham sama cerita cinta anak SMA.” Ucap Resti sambil berlalu pergi, entah kemana.
Ketika sedang menikmati sendokan terakhir ice creamnya, tiba-tiba hp Kiara menampilkan sebuah panggilan masuk. Dan nama Shannon yang tertera disana.
“Iya, Sha. Ada apa?” Tanya Kiara langusng.
“…”
“Apa? Lo nggak bisa kesini? Trus gue ngerjain tugasnya sama siapa dong?”
“…”
“Sendiri? Tugasnya banyak lho, Sha. Lo pikir gue bakal sanggup ngerjain itu sendiri?”
“…”
“Ah, ya sudahlah. Kalau itu alasan lo, gue bisa apa?”
“…”
“Iya..iya gue maafin. Udah ya, gue mau mulai ngerjain nih. Bye, Sha.” Itu kalimat terakhir sebelum Kiara mulai menenggelamkan dirinya diantara buku-bukunya.
Tugasnya kali ini memaksanya harus berhadapan dengan beberapa buku tebal yang berhasil ia peroleh dari perpustakaan sekolahnya. Sebenarnya ini tugas kelompok, tapi karena Shannon tidak bisa datang karena alasan keluarga, terpaksa Kiara harus mengerjakannya sendiri. Serajin apapun seseorang, kalau dipaksa harus berhadapan dengan berjuta tulisan dengan istilah-istilah asing, pasti juga bakal pusing tuh kepala. Begitu juga dengan Kiara. Sampai detik saat ini, dia sudah mulai tak fokus. Matanya sudah mulai berat. Dan akhirnya dia terjatuh diantara buku-bukunya. Tanpa mengeluarkan suara, seseorang meletakkan ice cream chocolate di depan Kiara.
“Kak, ini siapa yang meletakkannya di sini?” Tanya Kiara pada Resti saat terbangun dan mendapati ice cream chocolate yang sudah mulai mencair.
“Sorry, Kia. Tadi café ramai banget, jadi gue nggak sempet merhatiin siapa yang naruh itu di tempat lo.” Jawab Resti. Sebenarnya Resti tahu itu pekerjaan siapa.
Tak disia-siakan Kiara ice cream chocolate itu. Segera dilahapnya karena dia sudah kehilangan banyak energi. Kiara segera membereskan buku-bukunya setelah mendapati waktu sudah cukup malam.
***
“Kiara?!” Lengkingan suara Shannon berhasil menyadarkan Kiara dari lamunannya.
“Lo ngelamunin apaan sih? Ah, iya. Objek lamunan lo kan selalu sama ya? Pasti juga si Mr. Ice Cream.” Celoteh Shannon. Kiara hanya menanggapinya dengan senyum.
“Kia? Sebenarnya gue udah penasaran lama. Kenapa lo bisa suka sama Kak Ravano?” Tanya Shannon tiba-tiba.
“Entahlah.” Jawab Kiara menerawang.
“Dan lo bakal selamanya seperti ini? Mengagumi dari jauh? Memperhatikannya diam-diam?” Tanya Shannon lagi.
“Mungkin.” Jawab Kiara lagi masih menerawang. Karena dia tahu, seorang Kiara tak punya keberanian untuk melakukan lebih dari itu.
“Sha, kenapa lo tiba-tiba mengintrogasi gue seperti ini?” Kini giliran Kiara yang tanya.
“Tapi janji ya, lo nggak bakal sedih?”
“Apaan sih.”
“Kemarin gue lihat dia sama cewek.” Ucap Shannon hati-hati. Kiara tahu siapa yang dimaksud Shannon.
“Cewek? Ah, mungkin itu temen kerjanya.” Jawab Kiara.
“Tapi mereka terlalu akrab sebagai teman kerja, Kia.” Imbuh Shannon lagi.
“Mungkin mereka sudah sahabatan?” Kiara mengemukakan kemungkinan.
“Kiara, please dengerin gue. Mustahil ada yang namanya sahabat antara cewek dan cowok, terlebih lagi itu seumuran kita. So, sebelum terlanjur, lebih baik berhenti aja ya?” Jelas Shannon serius. Jujur baru kali ini Kiara mendapati sahabatnya itu berbicara serius seperti ini.
“Tenang aja, Sha. Gue cuma fansnya kok. Nggak lebih.” Ucap Kiara sambil memaksakan senyum. Mencoba meyakinkan Shannon.
Sebenarnya Kiara sendiri tak yakin dengan jawabannya. Karena dia sadar, perasaannya pada Ravano bukan lagi fans semata. Dan ketika mendengar penjelasan Shannon tadi, ada rasa sakit dari hati Kiara.
***
Pemandangan yang dilihat Kiara siang ini semakin membuat sakit hatinya. Seperti yang dikatakan Shannon tadi, Ravano bersama seorang cewek. Dan yang paling menyakitkan, cewek itu adalah Resti. Orang yang Kiara kenal. Mereka berdua sedang bercengkarama dengan asyiknya. Sperti yang biasa Kiara lakukan. Mengamati dalam diam. Ya, itu yang ia lakukan sekarang. Seperti orang bodoh, berdiri di depan café. Tak mau menjadi pusat perhatian, Kiara memutuskan untuk melangkah meninggalkan L-IC dan menenangkan dirinya di sebuah taman tak jauh dari café itu.
Kenapa ia tak sadar? Kenapa ia tak tahu? Ataukah ia tak mau tahu? Seharusnya ia tahu. Kenyataan bahwa Ravano dan Resti bukan hanya sebatas teman kerja, ia seharusnya sadar itu dari awal. Seharusnya Kiara tetap pada posisinya seperti awal. Hanya sebagai pengagum Ravano. Tapi, sepertinya hatinya tak bisa lagi diajak kompromi. Dan beginilah akhirnya. Sakit mengetahui kenyataan itu.  Kiara menunduk. Menyembunyikan airmatanya dari orang-orang yang berada di taman itu. Tapi tiba-tiba dilihatnya sepasang sepatu berada di sampingnya. Sepertinya sang pemilik duduk disamping Kiara. Setelah mengusap airmatanya, Kiara mengangkat wajahnya. Kemudian menoleh untuk melihat siapa yang telah berani duduk di sampingnya. Dan wajah dan senyum tak asing, Kiara temukan disana. Ravano.
“Setelah beberapa menit yang lalu gue perhatiin café, ada yang hilang. Ternyata itu pelanggan setia gue. Dan sekarang dia justru memilih duduk disini daripada duduk ditempat favorinya.” Ucap Ravano. Kiara hanya dibuat diam. Jujur, ini pertama kalinya dia bisa mendengar suara Ravano dengan sedekat ini. Sepertinya Ravano tak peduli dengan tak adanya respon dari lawan bicaranya.
“Kenapa lo panggil gue Mr. Ice Cream? Apa karena gue bekerja di café ice cream?” Tanya Ravano membuat Kiara terkejut. Tapi, secepat kilat Kiara kembali menguasai dirinya.
“Bukan. Karena Kak Ravano dingin seperti ice cream yang baru saja dibuat ketika berada disekolah. Tapi, setelah di L-IC, Kak Ravano seperti ice cream yang sudah lama dibiarkan diudara terbuka.” Itu penjelasan yang keluar begitu saja dari mulut Kiara.
“Dan lo lebih suka ice cream yang mana?” Tanya Ravano kali ini sambil memandang Kiara.
“Ice cream yang sudah mulai meleleh. Itu lebih terasa lembut dan manis.” Jawab Kiara sepontan meski ia belum bisa mencerna tentang apa obrolannya ini.
“Lo tahu apa yang bisa ngebuat ice cream itu meleleh?” Lagi-lagi pertanyaan Ravano seperti teka-teki.
“Udara terbuka? Sinar matahari?”
“Kalau lo anggap gue Mr. Ice Cream, menurut lo siapa yang bisa bikin gue meleleh?”
“Kak Resti?” Entah kenapa nama itu yang terlintas dipikiran Kiara.
“Kenapa Resti kebawa-bawa sih? Bukan dia. Bukan Resti, tapi lo. Kiara.” Ucap Ravano tersenyum.
“Hah? Apa?” Tanya Kiara memastikan. Kiara benar-benar belum sepenuhnya paham. Tatapannya tertuju pada Ravano yang tersenyum manis padanya. Ini dia tidak bermimpikan? Ini yang didepannya benar-benar Ravano Mr. Ice Creamnya kan?
“Lo mau nggak makan ice cream bareng?”
##FEBRIAZ##

Tidak ada komentar:

Posting Komentar