KLISE
“Kadang tak perlu alasan yang jelas untuk mengambarkan
persoalan hati.”
***
“Kiara...Gue
ketemu sama Mr. Ice Cream!” Teriak seorang gadis ketika baru saja mendaratkan
kaki dikelasnya. Dan teriakan itu berhasil membuat sang punya nama mendelik
malu. Bagimana tidak, jika temannya itu langsung saja berteriak tanpa
memperdulikan situasi kelas yang sedang serius mempersiapkan untuk ulangan sosiologi
dijam pertama.
Shannon, gadis
yang tidak hanya berhasil membuat Kiara terpaksa menutup muka karena teriakannya,
tapi juga berhasil membuat semua pasang mata teman sekelasnya tertuju tajam
padanya, namun dia masih bisa melangkah santai menuju tempat duduknya disebelah
Kiara. Seperti tak punya salah atau tanpa rasa bersalah, ia masih menunujukkan
cengiran lebarnya. Kiara tetap menyembunyikan mukanya.
“Kiara! Lo
kenapa sih? Lo nggak penasaran sama cerita gue?” Celoteh Shannon. Kiara
langsung membungkam mulut sahabatnya itu.
“Nggak usah
keras-keras bisa kan, Sha? Lo nggak nyadar lo udah ganggu belajar mereka?” Ucap
Kiara sambil menunjukkan situasi kelas pada Shannon dengan dagunya. Shannon
langsung melepas bungkaman Kiara dan memperhatikan keseluruh penjuru kelasnya.
Dan benar saja pemandangan yang dilihatnya hanya kepala-kepala yang menunduk
sambil mulut yang komat-kamit.
“Emang pada
belajar buat apaan sih?” Tanya Shannon polos.
“Udah gue tebak
lo pasti lupa. Jam pertama ulangan sosiologi.” Jawab Kiara. Shannon terdiam.
Kiara menunggu bagaimana reaksi sahabatnya yang paling cerewet itu.
“Ya ampun Kia! Gue
lupa. Mana gue belum belajar lagi.” Lagi-lagi Shannon berteriak. Kali ini
teriakan panik.
“Shannon diem!”
Tegur hampir seluruh penghuni kelas itu. Shannon langsung terbungkam. Sedangkan
Kiara terkikik pelan.
Ketika Shannon
masih sibuk mencari buku sosiologinya, tak sengaja mata Kiara menangkap sosok
yang melintas di depan kelasnya. Sosok yang baru saja menjadi objek teriakan Shannon.
Ravano. Nama yang baru diketahuinya belakangan ini. Dia seperti penghipnotis
untuk Kiara. Sang kakak kelas yang mampu membuat mata, hati bahkan pikiran Kiara
hanya terfokus pada sosok itu. Makhluk yang terciptakan dengan sangat sempurna.
“Udah sampai
kelas tuh orangnya. Dilihatin terus.” Goda Shannon menyadarkan Kiara.
“Sok tahu.”
Jawab Kiara kemudian mencoba kembali berkonsentrasi pada bukunya. Tapi,
terlambat. Bel masuk terdengar memenuhi seluruh penjuru sekolah.
***
Siang ini
matahari tengah bersinar bersahabat. Tak terlalu terik juga tak terlalu redup.
Bisa dibilang cerah. Seorang pemuda baru saja mengganti seragam putih
abu-abunya dengan seragam bertuliskan ‘L-IC’ dibagian dada sebelah kiri. ‘L-IC’
adalah nama cafe ice cream terkenal di kota itu, tempat kerja part timenya. Di
dada kirinya terpasang nametag dan tertulis ‘Ravano’ disana. Ya, dia Ravano
yang sama dengan sosok dingin penghipnotis Kiara. Tapi kali ini bukan wajah
dingin yang ia tunjukkan. Melainkan senyuman ramah melayani
pelanggan-pelanggannya.
Ravano melirik
sekilas pada jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Sebentar lagi,
batinnya. Ting! Pertanda pintu dibuka. Dia datang. Ravano langsung menoleh ke
pintu masuk. Memastikan tebakannya tidak salah. Dan benar saja, seorang gadis
yang masih mengenakan seragam sekolah yang tak beda dengan seragam sekolahnya,
baru saja datang. Dia langsung duduk di meja dekat jendela. Meja favorit gadis
itu.
Gadis itu tak
lain adalah Kiara. Kenapa dia ada disini? Ada dua alasan kenapa dia bisa berada
di cafe ice cream ini. Pertama, karena dia gadis penggila ice cream. Baginya
obat penghilang stress karena berbagai pelajaran di sekolah adalah ice cream.
Kedua, apalagi kalau bukan karena satu nama yang selalu menjadi objek
favoritnya. Ravano. Sebenarnya, Kiara mengetahui Ravano pertama kali bukan di
sekolah, bukan sebagai kakak kelasnya. L-IC. Ya, di tempat ini dia melihat Ravano
pertama kali. Dengan senyum ramahnya, dengan tangan cekatannya membuat ice
cream, dengan tawa renyahnya saat bercanda dengan rekan kerjanya, itu yang
membuat Kiara jatuh hati pada seorang Ravano. Memang terlalu klise dengan semua
alasan itu. Tapi, mau bagaimana lagi. Ini masalah hati. Dan kadang tak perlu
alasan yang jelas untuk menggambarkan bagaimana persoalan hati.
Kiara tak bisa
menyembunyikan kebahagiaannya ketika mengetahui Ravano juga kakak kelasnya. Dia
seperti tak pernah bosan untuk selalu memperhatikan seorang Ravano meskipun
dari jauh. Bahkan Kiara sampai hafal jam berapa Ravano datang, kegiatan yang
dilakukannya saat jam istirahat, dan semua hal yang berhubungan dengan Ravano.
Tapi, satu hal yang membuat Kiara sedikit kecewa. Dia menemukan Ravano yang
berbeda saat berada di sekolah dan saat di L-IC. Ravano kakak kelas yang dingin
dan Ravano pelayan yang ramah.
“Kiara, seperti
biasa.” Ucap seorang pelayan sambil menempatkan se-cup ice cream favorit Kiara.
Ya, Kiara sudah menjadi pelanggan tetap di L-IC. Jadi tak heran jika pelayan
disini mengenalnya dan hafal betul kesukaannya.
“Terima kasih,
Kak Resti.” Ucap Kiara sambil tersenyum. Resti hanya tersenyum kemudian
meninggalkan meja Kiara.
Sepeninggalan
Resti, Kiara langsung menyantap ice cream favoritnya itu. ‘Rai-choco atau
Rainbow Chocolate’ itu nama yang disematkan pada ice cream yang memang terdiri
dari banyak warna dengan lelehan chocolate diatasnya. Seperti biasanya, Kiara
selalu menikmati setiap sendok ice cream yang berhasil masuk ke mulutnya.
Tanpa sepengetahuan
Kiara yang sedang menikmati ice creamnya, ada sepasang mata yang mengamatinya
dari balik etalase. Ya, sepasang mata itu milik Ravano. Dia mengamati Kiara
sambil tersenyum. Entah kenapa ia sangat suka mengamati adik kelasnya itu
diam-diam.
Perlu diketahui,
mereka berdua sebenarnya mirip. Ya, Ravano dan Kiara. Mereka sama-sama menjadi pengagum
diam-diam atau secret admirer satu sama lain. Hanya bedanya, Ravano mengetahui
semua kelakuan Kiara yang memperhatikannya di sekolah maupun di L-IC. Sedangkan
Kiara tidak mengetahui kalau orang yang selalu diperhatikannya itu juga
memperhatikannya.
“Samperin dong!
Cowok macam apaan sih lo beraninya cuma ngelihat dari jauh.” Goda Resti yang
sudah berdiri di samping Ravano. Ya, bisa dibilang Resti satu-satu orang yang
mengetahui jalan cerita yang sedang berjalan ini.
“Apaan sih. Yang
lo omongin itu siapa?” Elak Ravano menyembunyikan kenyataan.
“Ah, tauklah!
Gue terlalu nggak paham dan selamanya nggak bakal paham sama cerita cinta anak
SMA.” Ucap Resti sambil berlalu pergi, entah kemana.
Ketika sedang
menikmati sendokan terakhir ice creamnya, tiba-tiba hp Kiara menampilkan sebuah
panggilan masuk. Dan nama Shannon yang tertera disana.
“Iya, Sha. Ada
apa?” Tanya Kiara langusng.
“…”
“Apa? Lo nggak
bisa kesini? Trus gue ngerjain tugasnya sama siapa dong?”
“…”
“Sendiri? Tugasnya
banyak lho, Sha. Lo pikir gue bakal sanggup ngerjain itu sendiri?”
“…”
“Ah, ya
sudahlah. Kalau itu alasan lo, gue bisa apa?”
“…”
“Iya..iya gue
maafin. Udah ya, gue mau mulai ngerjain nih. Bye, Sha.” Itu kalimat terakhir
sebelum Kiara mulai menenggelamkan dirinya diantara buku-bukunya.
Tugasnya kali
ini memaksanya harus berhadapan dengan beberapa buku tebal yang berhasil ia
peroleh dari perpustakaan sekolahnya. Sebenarnya ini tugas kelompok, tapi
karena Shannon tidak bisa datang karena alasan keluarga, terpaksa Kiara harus
mengerjakannya sendiri. Serajin apapun seseorang, kalau dipaksa harus
berhadapan dengan berjuta tulisan dengan istilah-istilah asing, pasti juga
bakal pusing tuh kepala. Begitu juga dengan Kiara. Sampai detik saat ini, dia
sudah mulai tak fokus. Matanya sudah mulai berat. Dan akhirnya dia terjatuh
diantara buku-bukunya. Tanpa mengeluarkan suara, seseorang meletakkan ice cream
chocolate di depan Kiara.
“Kak, ini siapa
yang meletakkannya di sini?” Tanya Kiara pada Resti saat terbangun dan
mendapati ice cream chocolate yang sudah mulai mencair.
“Sorry, Kia.
Tadi café ramai banget, jadi gue nggak sempet merhatiin siapa yang naruh itu di
tempat lo.” Jawab Resti. Sebenarnya Resti tahu itu pekerjaan siapa.
Tak disia-siakan
Kiara ice cream chocolate itu. Segera dilahapnya karena dia sudah kehilangan
banyak energi. Kiara segera membereskan buku-bukunya setelah mendapati waktu
sudah cukup malam.
***
“Kiara?!” Lengkingan
suara Shannon berhasil menyadarkan Kiara dari lamunannya.
“Lo ngelamunin
apaan sih? Ah, iya. Objek lamunan lo kan selalu sama ya? Pasti juga si Mr. Ice
Cream.” Celoteh Shannon. Kiara hanya menanggapinya dengan senyum.
“Kia? Sebenarnya
gue udah penasaran lama. Kenapa lo bisa suka sama Kak Ravano?” Tanya Shannon
tiba-tiba.
“Entahlah.”
Jawab Kiara menerawang.
“Dan lo bakal
selamanya seperti ini? Mengagumi dari jauh? Memperhatikannya diam-diam?” Tanya
Shannon lagi.
“Mungkin.” Jawab
Kiara lagi masih menerawang. Karena dia tahu, seorang Kiara tak punya
keberanian untuk melakukan lebih dari itu.
“Sha, kenapa lo
tiba-tiba mengintrogasi gue seperti ini?” Kini giliran Kiara yang tanya.
“Tapi janji ya,
lo nggak bakal sedih?”
“Apaan sih.”
“Kemarin gue
lihat dia sama cewek.” Ucap Shannon hati-hati. Kiara tahu siapa yang dimaksud
Shannon.
“Cewek? Ah,
mungkin itu temen kerjanya.” Jawab Kiara.
“Tapi mereka
terlalu akrab sebagai teman kerja, Kia.” Imbuh Shannon lagi.
“Mungkin mereka
sudah sahabatan?” Kiara mengemukakan kemungkinan.
“Kiara, please
dengerin gue. Mustahil ada yang namanya sahabat antara cewek dan cowok,
terlebih lagi itu seumuran kita. So, sebelum terlanjur, lebih baik berhenti aja
ya?” Jelas Shannon serius. Jujur baru kali ini Kiara mendapati sahabatnya itu
berbicara serius seperti ini.
“Tenang aja,
Sha. Gue cuma fansnya kok. Nggak lebih.” Ucap Kiara sambil memaksakan senyum.
Mencoba meyakinkan Shannon.
Sebenarnya Kiara
sendiri tak yakin dengan jawabannya. Karena dia sadar, perasaannya pada Ravano
bukan lagi fans semata. Dan ketika mendengar penjelasan Shannon tadi, ada rasa
sakit dari hati Kiara.
***
Pemandangan yang
dilihat Kiara siang ini semakin membuat sakit hatinya. Seperti yang dikatakan
Shannon tadi, Ravano bersama seorang cewek. Dan yang paling menyakitkan, cewek
itu adalah Resti. Orang yang Kiara kenal. Mereka berdua sedang bercengkarama
dengan asyiknya. Sperti yang biasa Kiara lakukan. Mengamati dalam diam. Ya, itu
yang ia lakukan sekarang. Seperti orang bodoh, berdiri di depan café. Tak mau
menjadi pusat perhatian, Kiara memutuskan untuk melangkah meninggalkan L-IC dan
menenangkan dirinya di sebuah taman tak jauh dari café itu.
Kenapa ia tak
sadar? Kenapa ia tak tahu? Ataukah ia tak mau tahu? Seharusnya ia tahu.
Kenyataan bahwa Ravano dan Resti bukan hanya sebatas teman kerja, ia seharusnya
sadar itu dari awal. Seharusnya Kiara tetap pada posisinya seperti awal. Hanya
sebagai pengagum Ravano. Tapi, sepertinya hatinya tak bisa lagi diajak
kompromi. Dan beginilah akhirnya. Sakit mengetahui kenyataan itu. Kiara menunduk. Menyembunyikan airmatanya
dari orang-orang yang berada di taman itu. Tapi tiba-tiba dilihatnya sepasang
sepatu berada di sampingnya. Sepertinya sang pemilik duduk disamping Kiara.
Setelah mengusap airmatanya, Kiara mengangkat wajahnya. Kemudian menoleh untuk
melihat siapa yang telah berani duduk di sampingnya. Dan wajah dan senyum tak
asing, Kiara temukan disana. Ravano.
“Setelah
beberapa menit yang lalu gue perhatiin café, ada yang hilang. Ternyata itu
pelanggan setia gue. Dan sekarang dia justru memilih duduk disini daripada
duduk ditempat favorinya.” Ucap Ravano. Kiara hanya dibuat diam. Jujur, ini
pertama kalinya dia bisa mendengar suara Ravano dengan sedekat ini. Sepertinya Ravano
tak peduli dengan tak adanya respon dari lawan bicaranya.
“Kenapa lo panggil
gue Mr. Ice Cream? Apa karena gue bekerja di café ice cream?” Tanya Ravano
membuat Kiara terkejut. Tapi, secepat kilat Kiara kembali menguasai dirinya.
“Bukan. Karena
Kak Ravano dingin seperti ice cream yang baru saja dibuat ketika berada
disekolah. Tapi, setelah di L-IC, Kak Ravano seperti ice cream yang sudah lama
dibiarkan diudara terbuka.” Itu penjelasan yang keluar begitu saja dari mulut
Kiara.
“Dan lo lebih
suka ice cream yang mana?” Tanya Ravano kali ini sambil memandang Kiara.
“Ice cream yang
sudah mulai meleleh. Itu lebih terasa lembut dan manis.” Jawab Kiara sepontan
meski ia belum bisa mencerna tentang apa obrolannya ini.
“Lo tahu apa
yang bisa ngebuat ice cream itu meleleh?” Lagi-lagi pertanyaan Ravano seperti
teka-teki.
“Udara terbuka?
Sinar matahari?”
“Kalau lo anggap
gue Mr. Ice Cream, menurut lo siapa yang bisa bikin gue meleleh?”
“Kak Resti?”
Entah kenapa nama itu yang terlintas dipikiran Kiara.
“Kenapa Resti
kebawa-bawa sih? Bukan dia. Bukan Resti, tapi lo. Kiara.” Ucap Ravano
tersenyum.
“Hah? Apa?”
Tanya Kiara memastikan. Kiara benar-benar belum sepenuhnya paham. Tatapannya
tertuju pada Ravano yang tersenyum manis padanya. Ini dia tidak bermimpikan?
Ini yang didepannya benar-benar Ravano Mr. Ice Creamnya kan?
“Lo mau nggak
makan ice cream bareng?”
##FEBRIAZ##

Tidak ada komentar:
Posting Komentar