Senin, 06 Maret 2017

[CERPEN] ORION



ORION
Bagaimana kau mengartikan sendiri? Bagaimana kau mengartikan sepi? Apa hanya ketika kau berada di tempat tak berpenghuni? Apa hanya ketika tak ada orang yang menemanimu? Atau hanya ketika orang-orang disekitarmu tak bersuara? Itukah arti sendiri dan sepi menurutmu? Ah, ternyata kita berbeda.

Aku masih merasa sendiri, meski banyak orang disekitarku. Aku masih merasa sepi meski mereka bersuara tanpa henti. Asal kalian tahu, mereka menganggapku nyata tapi tak terlihat. Ada tapi tak pernah dianggap. Ibarat kata, aku hanya batu kerikil diantara batu berlian. Kita sama, tapi berbeda status. Itu yang dipikiran mereka.
Kenapa dia masih disini?” “Dasar nggak punya malu.” “Dia itu buta atau bagaimana? Sudah jelas-jelas dia sudah tak cocok disini, masih aja nggak mau pergi.” “Aku heran, kenapa sekolah ini menerima murid sepertinya. Bikin jelek saja.” “Oh, liatlah muka sok polosnya..” Ucapan-ucapan seperti itu sudah makanan sehari-hariku. Sampai-sampai telingaku sudah terbiasa menerimanya. Karena tak ada yang bisa kulakukan untuk membungkam mulut-mulut itu. Aku sadar, siapa aku dan siapa mereka.
Lelah, sakit hati atau marah? Ya, aku merasakan itu. Aku mencoba menahannya. Setidaknya sampai aku bisa mendapatkan apa yang kucari di sekolah ini. Aku bukan termasuk murid peringkat terakhir. Justru kalau boleh sombong, aku yang menduduki peringkat pertama sampai saat ini. Namun, mereka tak peduli bagaimana prestasiku. Yang mereka pedulikan darimana aku. Seorang gadis yang harus merelakan waktu bermainnya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pernahkah kalian mendengar, jika sabar itu ada batasnya? Aku bukan manusia super yang mempunyai kesabaran yang berlipat ganda. Aku manusia biasa yang kesabaranku bisa habis kapan saja. Dan saat inilah, aku berada di batas ke sabaranku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi. Aku diam, tapi mereka semakin menikmati permainan. Aku mengalah, tapi mereka seperti tak mempunyai batas lelah.
Aku semakin menjulurkan pandanganku melampaui pagar pembatas atap sekolah. Ku lihat mereka berlalu lalang untuk pulang. Angin sore menerbangkan rambutku, seperti bersorak untuk keputus asaanku. Dua tahun di sekolah ini, aku mengerti dua hal. Bertahan atau meninggalkan. Aku sudah mencoba bertahan, tapi yang kudapat semakin menyakitkan. Dan mungkin ini saatnya aku untuk meninggalkan. Aku tahu, aku akan menjadi seorang pengecut yang akan membuat mereka tertawa penuh kemenangan. Namun,  tak ada lagi tempat untukku bertahan.
“Kau terlalu baik, membuat mereka bahagia.” Sebuah suara mengentikan kakiku untuk memijak pagar pembatas. Ku tolehkan wajahku, ku temukan dia sudah berdiri di sampingku. Tubuh tegap, rahang yang tegas dan wajah datar, cukup untuk menggambarkan sosok di sampingku, Orion.
“Untuk apa kau ke sini?” Tanyaku. Setahuku dia bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Apalagi urusan orang sepertiku. Bukannya menjawab, dia justru mengeluarkan ponsel dan segera menyambungkan pada earphone. Aku semakin tak paham, ketika dia memaksa memasang earphone-nya di salah satu telingaku dan satunya di telinganya.  Dan kemudian, suara Adam Levine mengalunkan bait-bait Lost Star.
“Hidup itu seperti musik. Apa yang kau rasakan, tergantung bagaimana kau menikmatinya.” Ucapnya pelan.
“Apa sih yang kau maksud? Langsung saja, jika kau ingin mengatakan apa yang mereka katakan padaku. Jadi, semakin kuat alasanku untuk pergi.” Ucapku sambil melepas earphone di telingaku. Dia tak ada bedanya dengan mereka. Tak pernah peduli dengan orang-orang sepertiku. Dan keberadaannya di sini mungkin juga akan mencaciku seperti yang lain.
“Siapa yang bilang aku akan mengatakan apa yang mereka katakan? Jangan pernah menyamakan aku dengan mereka. Memang aku bagian dari mereka, tapi aku berbeda. Dan kau, apa yang kau lakukan di sini sendirian? Kau ingin bunuh diri?” Ucapnya penuh penekanan.
“Ya. Aku ingin bunuh diri. Kenapa? Apa pedulimu? Ada tidaknya aku tak ada hubungannya denganmu kan?” Kataku sarkastik. Aku semakin lelah.
“Kau sudah bertahan lama, tapi akhirnya kau memutuskan untuk pergi? Bukankah kau meyia-nyiakan semua pengorbananmu?”
“Aku sudah tak sanggup lagi bertahan. Tak ada alasan lagi untukku berada di sini. Dan ku harap kepergianku bisa membungkam mulut besar mereka.” Tak sadar, airmataku ikut luruh membasahi pipiku.
“Anggap saja semua yang keluar dari mulut mereka sebuah lagu yang bisa membuatmu semangat. Membungkam mulut mereka bukan dengan kepergianmu tapi dengan kesuksesanmu berdiri diatas cacian mereka. Jika kau tak mempunyai alasan untuk bertahan, kali ini tolong bertahan untukku.” Ungkapnya penuh keseriusan.
Langit senja, angin sore dan Call You Mine-nya Jeff Bernat menjadi saksi apa yang terjadi antara aku dan Orion.
~~Febriaz~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar