ORION
Bagaimana kau
mengartikan sendiri? Bagaimana kau mengartikan sepi? Apa hanya ketika kau
berada di tempat tak berpenghuni? Apa hanya ketika tak ada orang yang
menemanimu? Atau hanya ketika orang-orang disekitarmu tak bersuara? Itukah arti
sendiri dan sepi menurutmu? Ah, ternyata kita berbeda.
Aku masih merasa
sendiri, meski banyak orang disekitarku. Aku masih merasa sepi meski mereka
bersuara tanpa henti. Asal kalian tahu, mereka menganggapku nyata tapi tak
terlihat. Ada tapi tak pernah dianggap. Ibarat kata, aku hanya batu kerikil
diantara batu berlian. Kita sama, tapi berbeda status. Itu yang dipikiran
mereka.
“Kenapa dia masih disini?” “Dasar
nggak punya malu.” “Dia itu buta atau
bagaimana? Sudah jelas-jelas dia sudah tak cocok disini, masih aja nggak mau
pergi.” “Aku heran, kenapa sekolah
ini menerima murid sepertinya. Bikin jelek saja.” “Oh, liatlah muka sok polosnya..” Ucapan-ucapan seperti itu sudah
makanan sehari-hariku. Sampai-sampai telingaku sudah terbiasa menerimanya.
Karena tak ada yang bisa kulakukan untuk membungkam mulut-mulut itu. Aku sadar,
siapa aku dan siapa mereka.
Lelah, sakit hati atau
marah? Ya, aku merasakan itu. Aku mencoba menahannya. Setidaknya sampai aku
bisa mendapatkan apa yang kucari di sekolah ini. Aku bukan termasuk murid
peringkat terakhir. Justru kalau boleh sombong, aku yang menduduki peringkat
pertama sampai saat ini. Namun, mereka tak peduli bagaimana prestasiku. Yang
mereka pedulikan darimana aku. Seorang gadis yang harus merelakan waktu
bermainnya untuk bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pernahkah kalian
mendengar, jika sabar itu ada batasnya? Aku bukan manusia super yang mempunyai
kesabaran yang berlipat ganda. Aku manusia biasa yang kesabaranku bisa habis
kapan saja. Dan saat inilah, aku berada di batas ke sabaranku. Aku tak tahu apa
yang harus aku lakukan lagi. Aku diam, tapi mereka semakin menikmati permainan.
Aku mengalah, tapi mereka seperti tak mempunyai batas lelah.
Aku semakin menjulurkan
pandanganku melampaui pagar pembatas atap sekolah. Ku lihat mereka berlalu
lalang untuk pulang. Angin sore menerbangkan rambutku, seperti bersorak untuk
keputus asaanku. Dua tahun di sekolah ini, aku mengerti dua hal. Bertahan atau
meninggalkan. Aku sudah mencoba bertahan, tapi yang kudapat semakin menyakitkan.
Dan mungkin ini saatnya aku untuk meninggalkan. Aku tahu, aku akan menjadi
seorang pengecut yang akan membuat mereka tertawa penuh kemenangan. Namun, tak ada lagi tempat untukku bertahan.
“Kau terlalu baik,
membuat mereka bahagia.” Sebuah suara mengentikan kakiku untuk memijak pagar
pembatas. Ku tolehkan wajahku, ku temukan dia sudah berdiri di sampingku. Tubuh
tegap, rahang yang tegas dan wajah datar, cukup untuk menggambarkan sosok di
sampingku, Orion.
“Untuk apa kau ke
sini?” Tanyaku. Setahuku dia bukan tipe orang yang suka ikut campur urusan
orang lain. Apalagi urusan orang sepertiku. Bukannya menjawab, dia justru
mengeluarkan ponsel dan segera menyambungkan pada earphone. Aku semakin tak
paham, ketika dia memaksa memasang earphone-nya di salah satu telingaku dan
satunya di telinganya. Dan kemudian,
suara Adam Levine mengalunkan bait-bait Lost Star.
“Hidup itu seperti
musik. Apa yang kau rasakan, tergantung bagaimana kau menikmatinya.” Ucapnya
pelan.
“Apa sih yang kau
maksud? Langsung saja, jika kau ingin mengatakan apa yang mereka katakan
padaku. Jadi, semakin kuat alasanku untuk pergi.” Ucapku sambil melepas
earphone di telingaku. Dia tak ada bedanya dengan mereka. Tak pernah peduli
dengan orang-orang sepertiku. Dan keberadaannya di sini mungkin juga akan
mencaciku seperti yang lain.
“Siapa yang bilang aku
akan mengatakan apa yang mereka katakan? Jangan pernah menyamakan aku dengan
mereka. Memang aku bagian dari mereka, tapi aku berbeda. Dan kau, apa yang kau
lakukan di sini sendirian? Kau ingin bunuh diri?” Ucapnya penuh penekanan.
“Ya. Aku ingin bunuh
diri. Kenapa? Apa pedulimu? Ada tidaknya aku tak ada hubungannya denganmu kan?”
Kataku sarkastik. Aku semakin lelah.
“Kau sudah bertahan
lama, tapi akhirnya kau memutuskan untuk pergi? Bukankah kau meyia-nyiakan
semua pengorbananmu?”
“Aku sudah tak sanggup
lagi bertahan. Tak ada alasan lagi untukku berada di sini. Dan ku harap
kepergianku bisa membungkam mulut besar mereka.” Tak sadar, airmataku ikut
luruh membasahi pipiku.
“Anggap saja semua yang
keluar dari mulut mereka sebuah lagu yang bisa membuatmu semangat. Membungkam
mulut mereka bukan dengan kepergianmu tapi dengan kesuksesanmu berdiri diatas
cacian mereka. Jika kau tak mempunyai alasan untuk bertahan, kali ini tolong bertahan
untukku.” Ungkapnya penuh keseriusan.
Langit senja, angin
sore dan Call You Mine-nya Jeff Bernat menjadi saksi apa yang terjadi antara
aku dan Orion.
~~Febriaz~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar