TERLALU BERHARGA
“I would hold you, so you won’t be
apart from me for even a moment. I would give you my everything.” – Day6
***
Seseorang pernah berkata,
‘jangan pernah sia-siain orang-orang yang udah mau relain waktunya buat lo’,
gue mengamini itu. Karena tanpa orang-orang itu, lo bukan apa-apa. Lo dihargai,
omongan lo didengerin, lo punya nama, ya karena pengakuan dari orang-orang itu.
Bayangin aja kalau keberadaan lo nggak pernah diakui, lo nggak bakal bisa
apa-apa.
Dan seperti itulah
kehidupan gue, kehidupan seorang Jevian saat ini. Gue nggak bakal jadi seorang
Jevian yang seperti ini tanpa orang-orang yang udah ngrelain waktunya buat
mengenal seorang Jevian. Orang-orang itu adalah keluarga gue, dosen gue,
temen-temen gue, dan juga seseorang yang sudah menempati tempat khusus dihidup
gue.
Menurut gue teori
timbal-balik itu ada. Apa yang lo lakuin ke orang lain, lo juga bakal dapetin
itu. Ketika gue dengan tanpa terimakasihnya berbuat ke orang-orang yang
menerima kehadiran gue, mungkin tidak akan lagi ada seorang Jevian. Misal saja,
ketika perlakuan gue ke adik tingkat atau temen gue dengan semena-mena, pasti
tidak akan ada sapaan lagi setiap gue jalan atau bahkan mereka tidak mau lagi
mengenal seorang Jevian.
Mungkin gue dikenal
sebagai orang yang sok asik, tukang tebar pesona, gebetannya banyak, suka
ngebaperin adik tingkat, ngeselin, atau apapun itu. Ya, gue orangnya seperti
itu. Dan menurut gue, itu cara gue merespon pengakuan mereka terhadap gue. Gue
nggak ada niat ngebaperin adik tingkat atau siapapun itu, gue cuma pengen care aja sama siapapun. Tapi kalau
kelakuan gue disalah artikan, ya gue minta maaf. Kalau kata Bas, gebetan gue
banyak, jangan percaya. Gebetan gue cuma satu. Dan dia cewek yang sekarang
sedang duduk sendiri fokus dengan bukunya.
“Eh, si cantik duduk
sendirian. Tiati ntar diculik lho.” Sapa gue dan langsung duduk di sebelahnya
tanpa menunggu persetujuannya.
“Apaan sih, nggak lucu.”
Jawabnya dingin. “Darimana aja sih, Kak?” Tanyanya dengan buku yang sudah
sepenuhnya ditutup.
“Ya, dari kelaslah.
Kenapa? Kangen?” Goda gue. Godain dia itu selalu menyenangkan. Dan dia hanya
merespon dengan menggeleng pelan sambil memainkan bukunya. Tanda-tanda kalau
ada yang mengganggu pikirannya.
“Kenapa?” Tanya gue lagi.
Kali ini dengan nada yang tidak menyebalkan.
“Kenapa apanya?” Jawabnya
lirih dengan pandangan yang masih ke lembaran-lembaran bukunya yang ia buka random.
“Hei, Ca, lihat gue.”
Ucap gue yang langsung memaksanya menfokuskan pandangan ke gue. “Lo tau kan, lo
itu nggak pinter bohong. Percuma.” Lanjut gue. Dia masih diam dengan fokus yang
tetap gue. Seperti mempersilakan gue membaca pikirannya dari sorot matanya.
Nggak, gue nggak punya kemampuan membaca pikiran. Tapi gue berhasil menemukan
luka dari sorot matanya.
Cewek dengan kombinasi
aura dingin, galak, judes tapi mempunyai hati yang rapuh, yang sekarang duduk
di depan gue ini namanya Oceana Putri. Atau gue biasanya memanggilnya Oca.
Seperti namanya yang berarti lautan, dia juga seperti laut. Dilihat dingin,
tapi kalau lo udah mengenalnya, lo bakal tenggelam. Gue korbannya.
Pertama gue kenal dia,
waktu makrab prodi. Dia adik tingkat gue. Kesan pertama yang gue tangkep, dia
dingin, judes dan menyebalkan. Tapi, ketika suatu tugas yang mengharuskan gue
mentorin dia, akhirnya gue kenal seperti apa dia sebenarnya. Dan itu berhasil
membuat gue dengan suka rela tenggelam dalam hidupnya.
“Cerita aja, kalau mau
cerita. Gue punya banyak waktu luang buat dengerin kok.” Gue nggak bisa maksa
dia buat langsung cerita. Hening memperlihatkan eksistensinya beberapa menit.
“Kak, apa yang akan lo
lakuin ketika nggak ada orang yang mau percaya sama lo? Semua yang lo bilang
itu mereka anggap sampah.” Tanya Oca dengan pandangan yang nggak bisa gue
artikan lagi. Dia tahu, kepercayaan itu sangat penting bagi gue.
“Gue akan inget-inget apa
yang sudah gue lakuin sampai nggak ada yang mau percaya. Jika emang kesalahan
gue fatal, gue akan terima itu.” Jawab gue tenang.
“Tapi, ketika lo nggak ada
salah apa-apa?” Tanya dia lagi. Ada apa ini sebenarnya?
“Ya, gue akan cari tahu
kenapa mereka seperti itu. Kalau emang nggak ada jawaban, ya mungkin mereka
sudah bosen sama gue.” Gue realistis.
“Lo pernah bilang,
pengakuan dari orang lain itu penting. Berarti kalau udah nggak ada yang
percaya sama lo, itu artinya nggak ada lagi pengakuan buat lo. Dan ketika tanpa
adanya pengakuan, sama aja lo bukan siapa-siapa lagi. Gimana tuh, Kak?” Dia
sepertinya masih belum puas dengan jawaban gue.
“Ya, biarkan gue menjadi
Jevian yang hanya gue dan Tuhan yang tahu.” Ujar gue.
“Teori gampang banget ya,
Kak?” Ucapnya. Gue semakin yakin kalau dia sedang kenapa-napa.
“Ya, emang gitu teori. Ada
apa sih?” Tanya gue masih menjada kesabaran.
“Gue capek, Kak.” Dia
menghela nafasnya berat. Seperti ada beban yang menyumbat pernafasannya. “Semua
orang nuntut gue selalu sempurna, nggak pernah peduli gue nya gimana. Yang ada
dipikiran mereka itu apa yang gue lakuin nggak boleh ada cacatnya. Dan
puncaknya, ketika gue nggak sengaja nglakuin kesalahan meskipun itu kecil,
mereka kecewa dengan begitu berlebihan. Sampai bagiamana pejuangan gue
sebelumnya nggak terlihat lagi di mata mereka. Gue juga manusia, Kak, apa iya
gue harus nyenengin mereka terus tapi menyakiti diri gue sendiri?” Dia
keluarkan semua bebannya. Gue nggak peduli siapa yang dia sebut ‘mereka’. Gue
biarkan dulu dia meredakan emosinya. Dia nggak butuh argument gue yang
mendukungnya. Dia hanya butuh tempat untuk meluapkan emosinya. Menceritakan
bebannya. Dan gue adalah tempat sampahnya.
Gue sama Oca itu sama,
sama-sama tidak bisa memendam masalah sendirian. Karena menurut kita berdua,
semakin lo pendem masalah itu sendiri, masalah itu akan semakin membunuh lo.
Jika dia hanya membutuhkan telinga yang siap mendengar keluh kesahnya, maka gue
hanya butuh genggamannya dan ucapan seperti mantra yang entah kenapa membuat
gue menjadi tenang, ‘Gue yang bakal kenal Jevian sampai kapanpun’ cukup itu
saja.
“Ca, main yuk?” Ajak gue
spontan, Tanpa menunggu jawabannya, langsung gue tarik tangannya. Dan mau tak
mau dia mengikuti gue. Yang gue pikirkan kalau dia butuh pengalihan.
Dan berakhirlah kita
berdua di sini, festival akhir tahun yang rutin di gelar di tengah kota. Ini
salah satu tempat favorit Oca. Katanya, di tempat ini semua orang bakal jadi
dirinya sendiri. Meleburkan masalah di tengah keramaian.
“Kok gue nggak tau kalau
festivalnya udah mulai sih, Kak?” Ucapnya dengan pandangan yang berbinar-binar.
Melenyapkan luka yang tadi sempet gue lihat.
“Lha iya, makanya ini gue
ajak ke sini.” Jawab gue langsung meraih tangannya. Hari sudah menggelap, jadi
festival ini semakin ramai.
“Nggak usah gandengan
juga bisa kan, Kak.” Protesnya, tapi tak mecoba melepaskan tangannya dari
tangan gue.
“Jangan, nanti lo bisa
ilang. Susah nanti nyari yang kayak lo.” Ucap gue yang kemudian dihadiahi
cubitan di lengan gue. Dia kemudian mengedarkan pandangannya. Dan gue masih
menikmati potret dia dari samping.
“Bianglala yuk, Kak?”
Ajaknya. Gue tidak bisa tidak mengangguk. Dia sangat menyukai bianglala,
tepatnya dia sangat menyukai ketinggian.
“Kenapa sebagus ini sih?
Kan gue jadi pengen di atas terus. Gue rela nukerin apapun, asalkan gue bisa
ngerasain seperti ini terus. Lo ngerasain juga nggak sih, Kak, setiap nyampe
atas, bebas gitu rasanya? Kayak semua masalah itu hilang kebawa angin.”
Ceritanya seperti anak kecil yang baru dibelikan permen kapas. Memang seperti
ini Oca seharusnya. Gue rela nglakuin apa aja untuk terus melihatnya seperti
ini.
“Ca, lo tahu kan, kalau
gue selalu ada di sini? Seperti lo yang selalu ngomong bakal tetep percaya sama
gue, gue juga begitu. Ketika nanti, udah nggak ada yang ngehargain usaha lo,
gue orang pertama yang akan tetep bangga untuk semua yang lo lakuin, apapun
itu. Kalau lo capek ya istirahat, kalau jenuh ya cari pengalihan, kalau lo
butuh cerita ya lo tau kan kalau gue siap kapanpun. Inget, semuanya nggak ada
yang sempurna, yang ada hanya berusaha sempurna. So, buat ngadepin orang-orang yang bisanya nuntut tanpa mau
mengerti, kasih senyum aja.” Begitu saja kalimat itu keluar dari mulut gue. Seakan
semuanya berhenti pada detik ini, ketika pandangan dia terkunci pada gue.
“Makasih ya, Kak Jev.”
Ucapnya lirih dengan senyuman yang nggak akan gue tukar dengan apapun. Langsung
gue rengkuh dia ke dekapan.
“Seharusnya gue yang
berterimakasih, Ca. Makasih sudah mau nemenin Jevian sampai detik ini.” Bisik
gue. Bianglala masih terus berputar, entah untuk putaran keberapa.
Seperti bianglala, kehidupan
juga terus berputar sesuai dinamikanya. Ada saatnya di atas, penuh keindahan,
pujian, sanjungan, penghargaan, dan apapun itu yang ngebuat lo seperti orang
yang paling beruntung sedunia. Tapi jangan lupakan, lo bakal ngrasain di bawah,
yang ada hanya kesedihan, cacian, kebencian, kekecewaan, dan sampai perasaan
ditinggalkan. Semua itu dinamika kehidupan. Semua itu bisa dilaluin jika lo
yakin. Yakin sama diri lo sendiri, yakin sama orang-orang yang masih mau
menemani lo. Seperti saat lo di bianglala, nggak bakal ada yang jatuh selama
saling menjaga bukan menjatuhkan.
Dan seperti itulah gue
menjalani malam ini dan hari-hari selanjutnya. Saling menjaga dan menguatkan
dengan sosok yang masih nyaman dalam rengkuhan gue. Oca terlalu berharga buat
gue sia-siakan.
Sekian, selamat menikmati
kehidupan.
-Triana Febri-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar