Minggu, 03 Desember 2017

[CERPEN] SEBUAH RASA



SEBUAH RASA
 "Kadang sebuah rasa saja tidak cukup. Dan kamu terlalu berharga hanya karena rasa suka."
***

Hal yang paling gue suka adalah euphoria panggung. Gue bisa melihat bagaimana penonton mengikuti alunan musik yang gue bawakan, mendengar suara mereka yang ikut menyanyi meskipun samar-samar, terlebih lagi melihat seseorang yang tak pernah absen dari daftar penonton tetap gue.
Kenalin, gue Sandhi Pradana. Bukan, gue bukan penyanyi terkenal kok. Hanya mahasiswa semester lima yang diberi kepercayaan buat ngisi hiburan dibeberapa acara kampus. Dan hari ini, gue diminta buat ngisi opening acara bazaarnya anak Fisika. Gue cuma ditemenin si Atom, gitar akustik gue.
“Woo..mana nih tepuk tangannya buat Kak Sandhi..” Suara heboh Nabila—MC acara ini—mengambil alih panggung setelah lagu terakhir selesai gue bawain. Dan sesuai komando, gemuruh tepuk tangan terdengar dari segala penjuru tempat bazaar ini. Gue hanya bisa memasang senyum sebagai ucapan terimakasih.
“Oke, thank’s ya Kak Sandhi sudah mau ngehibur kita. Main-main aja ke stand bazaar ya?” Imbuhnya.
“Siap.” Jawab gue, kemudian melangkah turun dari panggung diiringi tepuk tangan.
Setelah memasukan kembali si Atom ke tempatnya, gue langsung menuju samping panggung menghampiri seseorang. Dia sedang menikmati jus jeruknya.
“Vio?!” Panggil gue. Dia menoleh kemudian melambaikan tangannya. Gue mempercepat langkah gue.
“Sorry, lama ya?” Ucap gue minta maaf. Bukannya menjawab, justru tawanya pecah begitu saja.
“Apaan sih. Gue itu fans berat lo. Jadi, nggak ada yang lama menurut gue ketika lo manggung.” Jawabnya dengan nada santai seperti biasanya.
Thank’s ya, Vi.” Perlulah gue mengucapkan terimakasih ke sosok yang tak pernah absen dimanapun gue manggung. Dia hanya memasang senyum manisnya.
Namanya Viola Anjani. Gue sering manggilnya Vio. Kita sekelas dari semester satu. Bukan, Vio bukan pacar gue. Ya, hubungan kita seperti ini. Terserah kalian mau bilang friendzone-lah, HTSan-lah, intinya gue nyaman seperti ini. Kalau kalian tanya, gue ada rasa nggak sama Vio? Bohong kalau gue jawab nggak ada. Dan memang kenyataannya begitu, gue suka Vio.
“Masih ada urusan di sini?” Tanyanya setelah keheningan beberapa detik diantara kami.
“Nggak ada sih. Kenapa? Mau makan?” Tebak gue. Dia hanya mengangguk. Dan itu cukup buat kita melangkah meninggalkan kawasan bazaar.
 “Sandhi?!” Panggil seseorang ketika kita berdua sedang berada di parkiran. Gue spontan mencari sumber suara. Dan terlihatlah dua manusia yang sedang bergandengan melangkah menghampiri gue.
“Liam? Ngapain lo disini?” Dia William, tersangka yang berteriak di tempat parkir fakultas orang.
“Lah, ini kan fakultasnya Citra, jadi wajarlah gue di sini.” Jawabnya enteng. Gue mengangguk paham sekaligus baru ingat.
“Kalian mau kemana?” Tanya Citra mengamati gue yang udah duduk di atas motor gue.
“Mau makan. Kalian mau gabung?” Sebelum gue jawab, Vio sudah mengambil alih.
“Ya kalau boleh sih.” Ucap Liam sambil melirik gue.
“Siapa yang ngelarang? Ya nggak, San?” Tanya Vio dengan polosnya.
“Ya, asal bayar sendiri sih.” Ucap gue sambil mengeluarkan motor dari tempat parkir.
Ya, akhirnya kita makan berempat. Dan di sinilah gue sekarang, jalan berdua bersama Liam. Vio? Dia sudah asik dengan Citra berjalan di depan. Emang ya kalau cewek udah ketemu, lupa sama sekelilingnya.
“Kalian gimana?” Tanya Liam tiba-tiba.
“Gimana apanya?” Gue balik tanya. Pura-pura nggak paham arah pertanyaannya Liam kemana.
“Itu hati lho, San, jangan digantungin terus. Kasihan anak orang.” Ucap Liam santai.
“Lo ngomong apa sih?” Gue masih menajalankan peran gue. Ya, menjadi orang bodoh.
“Udahlah gue tahu, bahkan semua orang tahu. Lo suka sama Vio dan Vio juga suka sama lo. Tapi sayangnya kalian berdua nggak ada yang mau memulai. Nunggu apa lagi sih?” Skak. Gue nggak bisa pura-pura bodoh lagi.
“Gak semudah itu, Li. Lo seharusnya tau, kalau hati nggak cukup hanya sebatas suka. Bukan masalah ada rasa atau tidak, tapi masalahnya gue bisa menjaga rasa itu apa nggak.” Ucap gue akhirnya membenarkan presepsi Liam.
“Kalau lo nggak nyoba, gimana lo mau tahu hasilnya? Lo udah takut bisa jaga hubungan kalian apa nggak, bahkan disaat lo belum mulai, San. Mulai dulu, San, entah apa yang terjadi nantinya, ikuti aja bagaimana alurnya.” Ucap Liam sambil menepuk pundak gue. Gue hanya diam. Entahlah, masalah hati masih terlalu berat buat gue.
“Cepetan. L! Aku ada kelas lagi jam 3.” Teriakan Citra menghentikan obrolanku dengan Liam.
“Inget omongan gue, San.” Ucap Liam sebelum menghampiri pacarnya. Dan gue pun segera mempercepat langkah, menghampiri tempat Vio yang sedang melambaikan tangan pada Citra yang berlalu pergi.
Couple goals banget sih mereka.” Itu bukan pertanyaan. Tapi pernyataan.
“Yuk gue anterin pulang?” Ajak gue tanpa menanggapi pernyataannya.
Tanpa suara, Vio mengikuti langkah gue ke tempat dimana sepeda motor gue terparkir. Tanpa obrolan seperti biasanya. Hening yang mengambil alih semuanya. Gue sibuk dengan omongan Liam. Sedangkan dia, entah sibuk dengan pikiran apa. Tapi yang gue tahu, dari omonganya tentang Liam dan Citra, Vio sama seperti cewek lainnya. Dia punya hati yang bisa tersakiti. Punya rasa yang ingin selalu bahagia. Sedangkan gue, masih saja takut untuk mencoba mewujudkan bahagia yang diinginkan Vio. Dan omongan Liam lagi-lagi menjadi tamparan buat gue. Ketika gue nggak berani memulai, bagaimana gue bisa tahu apa yang terjadi nantinya.
“Vi?” Panggil gue ketika dia ingin mengenakan helmnya.
“Ya?” Jawabnya dengan atensi penuh ke gue. Sedangkan gue masih bingung darimana seharusnya gue memulai.
“Vi, kalau kita seperti ini dulu lo nggak pa-pa kan?” Tanya gue akhirnya dengan hati-hati. Goblok lo San, mana ada cewek yang mau nggak dikasih kepastian sih?
“Maksud lo apa sih, San?” Gue maklumin kalau dia nggak paham. Karena gue sendiri juga nggak paham apa yang gue omongin. Tapi gimana, gue nggak bisa seperti ini selamanya.
“Vi, aku suka sama kamu. Entah sejak kapan, dimana dan karena apa. Yang aku tahu, ada rasa menghangat ketika bersamamu. Sampai aku serakah untuk selalu bersamamu lagi, lagi dan lagi.” Ucap gue begitu saja. Gue hanya mengatakan apa yang gue pendam selama ini.
“San..” Gue hentikan ucapannya.
“Tapi aku sadar, memulai hubungan tak semudah itu. Karena kamu terlalu berharga buat sebuah hubungan hanya atas dasar suka. Rasa suka itu bisa saja berubah jenuh suatu hari nanti, dan aku nggak mau itu terjadi. Sampai saat ini aku masih mencari apa itu yang pantas buatmu melebihi kata suka. Jadi, nggak pa-pa kan kita seperti ini dulu, sampai aku menemukan yang ku cari?” Ungkap gue. Kali ini dengan menatapnya. Gue bisa menangkap kaget, bahagia dan bingung di matanya.
“Tapi kamu juga harus tahu, San, menunggu terlalu lama juga sangat melelahkan.” Ucapnya membuat gue seperti ditampar lagi. Kenapa gue bisa lupa satu fakta itu?
“Tolong beri aku waktu sebentar lagi, Vi. Aku harap, kamu mau membuang lelahmu dan aku akan menepati janjiku.” Pinta gue dengan begitu memohon.
Sejujurnya, gue nggak bisa berharap lebih lagi. Ketika Vio menolak permintaan gue, gue terima. Ketika Vio memilih tidak mengenal Sandi untuk selamanya, gue nggak bisa mencegah. Karena gue sadar, gue sudah membuatnya menunggu terlalu lama.
“San, sebenarnya tanpa kamu minta, aku sudah membuang lelahku. Itulah kenapa aku masih di sini sampai saat ini.” Jawabnya dengan tenang. Dan entah kenapa, membuat gue semakin bersalah untuk kesekian kalinya.
“Terimakasih, Vi. Dan maaf aku memaksamu harus menunggu.” Jika ada kata melebihi terimakasih dan maaf, gue bakal mengucapkannya untuk sosok yang berdiri di depan gue sekarang. Vio hanya tersenyum, kemudian mengusap lengan gue pelan.
Dan sore ini, kami habiskan seperti biasanya. Gue anterin dulu dia ke kosnya, sebelum gue pulang ke kos. Tapi ada yang beda hari ini, sudah ada perasaan yang diungkapkan meski belum ada yang berubah pada status hubungan. Gue juga baru sadar, rasa ini bukan sekedar suka, tapi gue sudah jatuh hati sepenuhnya dengan seseorang bernama Viola.
                                                         -Triana Febri-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar