SEBUAH RASA
"Kadang sebuah rasa saja tidak cukup. Dan kamu terlalu berharga hanya karena rasa suka."
***
Hal yang paling gue
suka adalah euphoria panggung. Gue
bisa melihat bagaimana penonton mengikuti alunan musik yang gue bawakan,
mendengar suara mereka yang ikut menyanyi meskipun samar-samar, terlebih lagi
melihat seseorang yang tak pernah absen dari daftar penonton tetap gue.
Kenalin, gue Sandhi Pradana.
Bukan, gue bukan penyanyi terkenal kok. Hanya mahasiswa semester lima yang
diberi kepercayaan buat ngisi hiburan dibeberapa acara kampus. Dan hari ini,
gue diminta buat ngisi opening acara
bazaarnya anak Fisika. Gue cuma ditemenin si Atom, gitar akustik gue.
“Woo..mana nih tepuk
tangannya buat Kak Sandhi..” Suara heboh Nabila—MC acara ini—mengambil alih
panggung setelah lagu terakhir selesai gue bawain. Dan sesuai komando, gemuruh
tepuk tangan terdengar dari segala penjuru tempat bazaar ini. Gue hanya bisa
memasang senyum sebagai ucapan terimakasih.
“Oke, thank’s ya Kak Sandhi sudah mau ngehibur
kita. Main-main aja ke stand bazaar ya?” Imbuhnya.
“Siap.” Jawab gue,
kemudian melangkah turun dari panggung diiringi tepuk tangan.
Setelah memasukan
kembali si Atom ke tempatnya, gue langsung menuju samping panggung menghampiri
seseorang. Dia sedang menikmati jus jeruknya.
“Vio?!” Panggil gue.
Dia menoleh kemudian melambaikan tangannya. Gue mempercepat langkah gue.
“Sorry, lama ya?” Ucap
gue minta maaf. Bukannya menjawab, justru tawanya pecah begitu saja.
“Apaan sih. Gue itu fans berat lo. Jadi, nggak ada yang lama
menurut gue ketika lo manggung.” Jawabnya dengan nada santai seperti biasanya.
“Thank’s ya, Vi.” Perlulah gue mengucapkan terimakasih ke sosok yang
tak pernah absen dimanapun gue manggung. Dia hanya memasang senyum manisnya.
Namanya Viola Anjani.
Gue sering manggilnya Vio. Kita sekelas dari semester satu. Bukan, Vio bukan
pacar gue. Ya, hubungan kita seperti ini. Terserah kalian mau bilang
friendzone-lah, HTSan-lah, intinya gue nyaman seperti ini. Kalau kalian tanya,
gue ada rasa nggak sama Vio? Bohong kalau gue jawab nggak ada. Dan memang
kenyataannya begitu, gue suka Vio.
“Masih ada urusan di
sini?” Tanyanya setelah keheningan beberapa detik diantara kami.
“Nggak ada sih. Kenapa?
Mau makan?” Tebak gue. Dia hanya mengangguk. Dan itu cukup buat kita melangkah
meninggalkan kawasan bazaar.
“Sandhi?!” Panggil seseorang ketika kita
berdua sedang berada di parkiran. Gue spontan mencari sumber suara. Dan
terlihatlah dua manusia yang sedang bergandengan melangkah menghampiri gue.
“Liam? Ngapain lo
disini?” Dia William, tersangka yang berteriak di tempat parkir fakultas orang.
“Lah, ini kan
fakultasnya Citra, jadi wajarlah gue di sini.” Jawabnya enteng. Gue mengangguk
paham sekaligus baru ingat.
“Kalian mau kemana?”
Tanya Citra mengamati gue yang udah duduk di atas motor gue.
“Mau makan. Kalian mau
gabung?” Sebelum gue jawab, Vio sudah mengambil alih.
“Ya kalau boleh sih.”
Ucap Liam sambil melirik gue.
“Siapa yang ngelarang?
Ya nggak, San?” Tanya Vio dengan polosnya.
“Ya, asal bayar sendiri
sih.” Ucap gue sambil mengeluarkan motor dari tempat parkir.
Ya, akhirnya kita makan
berempat. Dan di sinilah gue sekarang, jalan berdua bersama Liam. Vio? Dia
sudah asik dengan Citra berjalan di depan. Emang ya kalau cewek udah ketemu,
lupa sama sekelilingnya.
“Kalian gimana?” Tanya
Liam tiba-tiba.
“Gimana apanya?” Gue
balik tanya. Pura-pura nggak paham arah pertanyaannya Liam kemana.
“Itu hati lho, San,
jangan digantungin terus. Kasihan anak orang.” Ucap Liam santai.
“Lo ngomong apa sih?”
Gue masih menajalankan peran gue. Ya, menjadi orang bodoh.
“Udahlah gue tahu,
bahkan semua orang tahu. Lo suka sama Vio dan Vio juga suka sama lo. Tapi
sayangnya kalian berdua nggak ada yang mau memulai. Nunggu apa lagi sih?” Skak.
Gue nggak bisa pura-pura bodoh lagi.
“Gak semudah itu, Li.
Lo seharusnya tau, kalau hati nggak cukup hanya sebatas suka. Bukan masalah ada
rasa atau tidak, tapi masalahnya gue bisa menjaga rasa itu apa nggak.” Ucap gue
akhirnya membenarkan presepsi Liam.
“Kalau lo nggak nyoba,
gimana lo mau tahu hasilnya? Lo udah takut bisa jaga hubungan kalian apa nggak,
bahkan disaat lo belum mulai, San. Mulai dulu, San, entah apa yang terjadi
nantinya, ikuti aja bagaimana alurnya.” Ucap Liam sambil menepuk pundak gue.
Gue hanya diam. Entahlah, masalah hati masih terlalu berat buat gue.
“Cepetan. L! Aku ada
kelas lagi jam 3.” Teriakan Citra menghentikan obrolanku dengan Liam.
“Inget omongan gue,
San.” Ucap Liam sebelum menghampiri pacarnya. Dan gue pun segera mempercepat
langkah, menghampiri tempat Vio yang sedang melambaikan tangan pada Citra yang
berlalu pergi.
“Couple goals banget sih mereka.” Itu bukan pertanyaan. Tapi
pernyataan.
“Yuk gue anterin
pulang?” Ajak gue tanpa menanggapi pernyataannya.
Tanpa suara, Vio
mengikuti langkah gue ke tempat dimana sepeda motor gue terparkir. Tanpa
obrolan seperti biasanya. Hening yang mengambil alih semuanya. Gue sibuk dengan
omongan Liam. Sedangkan dia, entah sibuk dengan pikiran apa. Tapi yang gue
tahu, dari omonganya tentang Liam dan Citra, Vio sama seperti cewek lainnya.
Dia punya hati yang bisa tersakiti. Punya rasa yang ingin selalu bahagia.
Sedangkan gue, masih saja takut untuk mencoba mewujudkan bahagia yang
diinginkan Vio. Dan omongan Liam lagi-lagi menjadi tamparan buat gue. Ketika
gue nggak berani memulai, bagaimana gue bisa tahu apa yang terjadi nantinya.
“Vi?” Panggil gue
ketika dia ingin mengenakan helmnya.
“Ya?” Jawabnya dengan
atensi penuh ke gue. Sedangkan gue masih bingung darimana seharusnya gue
memulai.
“Vi, kalau kita seperti
ini dulu lo nggak pa-pa kan?” Tanya gue akhirnya dengan hati-hati. Goblok lo
San, mana ada cewek yang mau nggak dikasih kepastian sih?
“Maksud lo apa sih,
San?” Gue maklumin kalau dia nggak paham. Karena gue sendiri juga nggak paham
apa yang gue omongin. Tapi gimana, gue nggak bisa seperti ini selamanya.
“Vi, aku suka sama
kamu. Entah sejak kapan, dimana dan karena apa. Yang aku tahu, ada rasa
menghangat ketika bersamamu. Sampai aku serakah untuk selalu bersamamu lagi,
lagi dan lagi.” Ucap gue begitu saja. Gue hanya mengatakan apa yang gue pendam
selama ini.
“San..” Gue hentikan
ucapannya.
“Tapi aku sadar,
memulai hubungan tak semudah itu. Karena kamu terlalu berharga buat sebuah
hubungan hanya atas dasar suka. Rasa suka itu bisa saja berubah jenuh suatu
hari nanti, dan aku nggak mau itu terjadi. Sampai saat ini aku masih mencari
apa itu yang pantas buatmu melebihi kata suka. Jadi, nggak pa-pa kan kita
seperti ini dulu, sampai aku menemukan yang ku cari?” Ungkap gue. Kali ini
dengan menatapnya. Gue bisa menangkap kaget, bahagia dan bingung di matanya.
“Tapi kamu juga harus
tahu, San, menunggu terlalu lama juga sangat melelahkan.” Ucapnya membuat gue
seperti ditampar lagi. Kenapa gue bisa lupa satu fakta itu?
“Tolong beri aku waktu
sebentar lagi, Vi. Aku harap, kamu mau membuang lelahmu dan aku akan menepati
janjiku.” Pinta gue dengan begitu memohon.
Sejujurnya, gue nggak
bisa berharap lebih lagi. Ketika Vio menolak permintaan gue, gue terima. Ketika
Vio memilih tidak mengenal Sandi untuk selamanya, gue nggak bisa mencegah. Karena
gue sadar, gue sudah membuatnya menunggu terlalu lama.
“San, sebenarnya tanpa
kamu minta, aku sudah membuang lelahku. Itulah kenapa aku masih di sini sampai
saat ini.” Jawabnya dengan tenang. Dan entah kenapa, membuat gue semakin
bersalah untuk kesekian kalinya.
“Terimakasih, Vi. Dan
maaf aku memaksamu harus menunggu.” Jika ada kata melebihi terimakasih dan
maaf, gue bakal mengucapkannya untuk sosok yang berdiri di depan gue sekarang.
Vio hanya tersenyum, kemudian mengusap lengan gue pelan.
Dan sore ini, kami
habiskan seperti biasanya. Gue anterin dulu dia ke kosnya, sebelum gue pulang
ke kos. Tapi ada yang beda hari ini, sudah ada perasaan yang diungkapkan meski
belum ada yang berubah pada status hubungan. Gue juga baru sadar, rasa ini
bukan sekedar suka, tapi gue sudah jatuh hati sepenuhnya dengan seseorang
bernama Viola.
-Triana Febri-
-Triana Febri-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar