SEHARUSNYA
"Mungkin seharusnya tak pernah ada pertemuan, jika berakhir menyakitkan"
***
Seharusnya Desember tidak
sepanas ini. Ditambah hujan sudah dua hari ini tidak menunjukkan eksistensinya.
Dan seharusnya pertemuanku dengannya tak seperti ini.
Seharunya mata coklat itu
tetap cerah seperti biasanya. Bukan justru genangan air yang terlihat di
kelopak matanya. Seharusnya tetap ada senyum manis dibibirnya. Bukan bibir yang
terkatup rapat karena menahan isak tangisnya.
Dan seharusnya tidak
pernah ada Davin di hidupnya.
“Kenapa, Dav?” Entah
pertanyaan itu sudah terlontar berapa kali setelah kedatanganku menemuinya hari
ini.
“Ada yang harus kita
luruskan, Re.” Ucapku setenang mungkin.
“Maksud kamu, apa yang
perlu diluruskan? Kita baik-baik saja, Dav.” Ada emosi yang dia tahan.
“Kita pura-pura baik-baik
saja, Re, itu lebih tepatnya.” Sangkalku sambil membuang pandanganku ke luar
jendela. Mencoba memanggil kembali cerita antara aku dan gadis yang duduk di
depanku sekarang.
Sosok yang kupanggil Re
tadi adalah Reina Aryani. Gadis yang sudah mau menemani seorang Davin selama 1
tahun ini. Perkenalanku dengannya karena Bang Bastian. Re adalah adiknya Bang
Bas yang lebih memilih kuliah di tempat kelahirannya, Jogja, daripada ikut sang
kakak merantau ke Jakarta.
Pertemuanku dengannya
pertama kali ketika ikut berlibur Bang Bas ke Jogja awal semester satu. Bang
Bas sendiri yang mengenalkanku padanya.
‘Nih Dav, kenalin adik
gue, Reina. Lagi jomblo dia. Mungkin lo pengen jadi adik ipar gue gitu.” Ucap
Bang Bas saat itu dengan gaya salesnya, yang setelahnya dapat cubitan dari sang
adik.
Aku hanya tertawa
menanggapinya saat itu. Menanggapi kekonyolan Bang Bas seperti biasanya. Tapi
aku tak mengacuhkan Re begitu saja. Karena dari pertama aku ngobrol dengannya,
dia orangnya asik. Dia menjadi orang yang dominan ketika bercerita, sedangkan
aku memilih sebagai pendengar saja.
Puncaknya, pada hari
terakhir aku di Jogja, kita memutuskan untuk memangkas jarak Jakarta-Jogja
dengan sebuah status. Saat itu yang ada dipikiranku hanya, ‘Apa sih yang
dikhawatirkan lagi ketika sudah nyaman? Toh, sekarang sudah ada teknologi yang
mampu mendekatkan yang jauh’. Ya, sedangkal itu pikiran seorang Davin. Dan
akhirnya, ‘Ya udah, kita jalanin aja’ sebagai jawaban dari Reina.
Ternyata setelah 1 tahun
kita lalui bersama sebagai sepasang kekasih, 521 kilometer itu bukan jarak yang
cukup diatasi dengan komunikasi. Nyaman-pun juga belum cukup untuk benar-benar
memangkas jarak itu. Jika dulu, saling menguatkan yang aku harapkan, tapi
ternyata ketakutan yang aku dapatkan dari jarak itu.
Seharusnya aku tak
segampang itu mengambil keputusan menyangkut perasaan. Seharusnya aku sadar,
jawaban Reina saat itu hanya terbawa keadaan. Atau mungkin seharusnya, antara
aku dan Reina memang tak ada pertemuan.
Pandanganku kembali
terfokus padanya. Reina masih dengan keadaan yang bisa pecah kapan saja, jika
aku salah mengucapkan kata. ‘Sampai buat Reina nangis, awas lo, Dav!’ Ucapan
Bang Bas ketika sebelum aku berangkat ke Jogja kembali mengusik pikiranku.
‘Maaf Bang, gue nggak bisa menuhi permintaan lo. Karena sekarang adek lo udah
nangis gara-gara gue’.
“Dav, tolong bilang apa
yang kamu ucapkan tadi semua bohong. Kamu ke Jogja karena kamu kangen sama aku
kan?”Suara Reina semakin menyadarkanku bagaimana aku bisa menyakiti gadis
sebaik dia.
“Re, kamu tahu kan aku
nggak pernah bercanda sama omonganku?” Aku masih sebisa mungkin menjaga
emosiku.
“Aku salah apa, Dav? Kenapa
dengan begitu mudahnya kamu meminta kita untuk berakhir?” Tanyanya. Ingin
sekali aku merengkuhnya dalam dekapan.
“Tidak, kamu tidak salah
apa-apa, Re. Di sini aku yang salah. Dari awal memang aku yang salah.” Ku raih
tangannya, mungkin bisa menyalurkan bagaimana penyesalanku sekarang.
“Aku masih tak paham.” Dia
mengusap air matanya yang lolos di pipinya.
“Re, kita atau aku lebih
tepatnya sudah kalah. Aku sudah kalah dengan jarak. Memang, aku dulu yang
dengan gampangnya mengajakmu untuk memangkas jarak. Memintamu masuk dalam
hubungan yang mencoba tak memperdulikan seberapa jauh jarak kita. Tapi,
nyatanya aku sendiri yang kalah, Re. Aku sendiri yang tak bisa tak
memperdulikan jarak yang sangat jauh di antara kita. Seberapapun aku meyakinkan
diriku sendiri bahwa kita masih bisa lanjut, tapi aku selalu berujung pada
ketakutan-ketakutan, Re.” Jelasku sambil mengusap punggung tangannya perlahan.
“Kamu tidak memikirkan
bagaimana aku, Dav? Aku tidak mendapatkan dimana kamu kalah, Dav. Menurutku
sekarang kita baik-baik saja seperti ini.” Dia sudah terisak. Tak memperdulikan
lagi air mata yang membentuk lukisan halus di pipinya.
“Mungkin menurutmu
baik-baik saja, tapi menurutku kita dipaksakan baik-baik saja. Jika kamu pikir
aku tidak memikirkan perasaanmu, kamu salah, Re. Justru keputusanku ini karena
aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu. Kamu tahu kan, kalau dalam sebuah
hubungan harus dua-duanya jalan seimbang, bukan salah satu ataupun hanya satu
yang jalan yang berjuan. Dalam kasus ini pun begitu. Aku tak mau jika kita
tetap lanjutkan, kamu yang harus berjuang sendiri.” Aku yang harus menjaga
emosi di sini.
“Itu semua hanya alasan
kamu kan, Dav? Alasan kamu buat mutusin aku karena nyatanya kamu sudah bosen
sama aku dan punya pacar baru di belakangku, iya kan? Atau mungkin dari awal
aku memang hanya mainanmu? Basi, Dav.” Dia menepis gengamanku. Yang saat itu
juga aku merasakan ada sesuatu yang hilang begitu saja.
“Terserah kamu mau
percaya sama aku apa nggak. Aku cuma mau negasin, aku masih sayang sama kamu
bahkan sampai saat ini. Aku nyaman sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Aku
nggak pernah main-main sama ucapanku. Hanya saja, saat ini aku sudah kalah
dengan apa yang aku janjikan dulu. Jarak ini terlalu jauh, Re. Dan aku tak
sanggup. Aku terima jika kamu mau sebut aku pecundang, lemah, atau apapun itu.”
Ucapku pelan. Aku paham seberapa sakit hati dia.
Reina semakin menunduk.
Airmata tak lagi bisa disembunyikannya. Dan itu membuatku merasa menjadi orang
paling pecundang. ‘Lo, cowok lemah Dav, hanya karena jarak aja lo nyerah’. Tak
ada lagi suara yang keluar dari bibirnya, kecuali isakan yang akan semakin
mengahancurkanku perlahan.
Di luar, biru gelap sudah
mengambil alih jingga dari singgasananya. Garis kemerahan sudah tak terlihat
lagi. Lampu kota sudah mengambil alih pencahayaan. Adzan maghrib sudah
berkumandang bersahutan. Dan, kami masih saling diam penuh keheningan.
“Re, kita dulu mulai
baik-baik, sekarang kita selesaiin juga baik-baik ya? Kamu boleh sakit hati,
tapi jangan lama-lama, aku juga nggak minta kamu cepet maafin aku. Sekarang
kita lebih baik jalan sendiri-sendiri. Tapi aku tetap Davin temennya Bang
Bastian, nggak akan berubah. Aku yakin kamu akan dapat yang lebih baik daripada
aku, Re.” Ucapku sambil mengusap airmatanya.
“Aku nggak mau kenal kamu
lagi, Dav.” Ketusnya sambil membuang pandangnya ke luar jendela.
“Terserah kalau itu
keputusanmu. Tapi sekarang, aku anterin pulang ya?” Pintaku untuk
mengantarkannya pulang, mungkin untuk terakhir kalinya.
“Nggak. Aku bisa pulang
sendiri. Kamu balik aja ke Jakarta sana.” Tolaknya sambil beranjak dari tempat
duduknya.
“Aku anterin, Re. Aku
udah buat kamu nangis, jadi aku nggak mau dimarahin lagi sama Bang Bas karena
ngebiarin kamu pulang sendiri dan kenapa-napa di jalan.” Bujukku, karena aku tahu
bagaimna seorang Bastian bisa berubah jadi monster jika ada apa-apa sama adik
tersayangnya ini.
“Aku bisa pulang sendiri,
Dav.” Dia masih tetap menolak tawaranku.
“Anggep aja ini yang
nganter Davin temennya kakakmu, bukan Davin mantan kamu.” Aku juga tak menyrah
begitu saja.
“Tauklah, terserah.”
Jawabnya akhirnya. Aku segera mengarahkannya ke tempat dimana mobilku
terparkir. Membukakan pintu penumpang depan. Dia masuk ke mobil dengan
pandangan yang menghindari tatapanku. Aku hanya tersenyum getir. Segera ku bawa
mobilku menyusuri jalan ke rumahnya.
Petang ini untuk terakhir
kalinya, dengan disaksikan malam Jogja yang selalu indah, aku mengantarnya
pulang dengan mata sembabnya. Ada kekesalan yang tak bisa dia utarakan, ada kekecewaan
yang hanya bisa dia pendam, aku paham itu. Karena memang seharusnya yang aku
terima adalah cacian atau bahkan tamparan. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia
hanya diam, bahkan sampai halaman depan rumahnya.
“Hati-hati di jalan.”
Ucapnya singkat kemudian segera turun dari mobil dan melangkah ke rumahnya
tanpa menoleh lagi. Itu lebih dari cukup sebagai kata perpisahan untuk
seseorang yang sudah menyakitinya.
Aku belum beranjak
beberapa menit setelahnya. Aku masih enggan meninggakan Jogja dengan segala
kenangannya. Aku perlu meyakinkan diri kalau keputusan ini yang memang
seharusnya aku ambil. Dan seharusnya, dia mendapatkan seseorang yang lebih baik
dariku dari segala hal. Ya, seharusnya begitu.
Ah, aku harus kembali ke
Jakarta. Selamat malam, Reina. Selamat tinggal, Jogja.
-Triana Febri-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar