Kamis, 28 Desember 2017

[CERPEN] SEHARUSNYA

SEHARUSNYA

"Mungkin seharusnya tak pernah ada pertemuan, jika berakhir menyakitkan"
***

Seharusnya Desember tidak sepanas ini. Ditambah hujan sudah dua hari ini tidak menunjukkan eksistensinya. Dan seharusnya pertemuanku dengannya tak seperti ini.
Seharunya mata coklat itu tetap cerah seperti biasanya. Bukan justru genangan air yang terlihat di kelopak matanya. Seharusnya tetap ada senyum manis dibibirnya. Bukan bibir yang terkatup rapat karena menahan isak tangisnya.
Dan seharusnya tidak pernah ada Davin di hidupnya.
“Kenapa, Dav?” Entah pertanyaan itu sudah terlontar berapa kali setelah kedatanganku menemuinya hari ini.
“Ada yang harus kita luruskan, Re.” Ucapku setenang mungkin.
“Maksud kamu, apa yang perlu diluruskan? Kita baik-baik saja, Dav.” Ada emosi yang dia tahan.
“Kita pura-pura baik-baik saja, Re, itu lebih tepatnya.” Sangkalku sambil membuang pandanganku ke luar jendela. Mencoba memanggil kembali cerita antara aku dan gadis yang duduk di depanku sekarang.
Sosok yang kupanggil Re tadi adalah Reina Aryani. Gadis yang sudah mau menemani seorang Davin selama 1 tahun ini. Perkenalanku dengannya karena Bang Bastian. Re adalah adiknya Bang Bas yang lebih memilih kuliah di tempat kelahirannya, Jogja, daripada ikut sang kakak merantau ke Jakarta.
Pertemuanku dengannya pertama kali ketika ikut berlibur Bang Bas ke Jogja awal semester satu. Bang Bas sendiri yang mengenalkanku padanya.
‘Nih Dav, kenalin adik gue, Reina. Lagi jomblo dia. Mungkin lo pengen jadi adik ipar gue gitu.” Ucap Bang Bas saat itu dengan gaya salesnya, yang setelahnya dapat cubitan dari sang adik.
Aku hanya tertawa menanggapinya saat itu. Menanggapi kekonyolan Bang Bas seperti biasanya. Tapi aku tak mengacuhkan Re begitu saja. Karena dari pertama aku ngobrol dengannya, dia orangnya asik. Dia menjadi orang yang dominan ketika bercerita, sedangkan aku memilih sebagai pendengar saja.
Puncaknya, pada hari terakhir aku di Jogja, kita memutuskan untuk memangkas jarak Jakarta-Jogja dengan sebuah status. Saat itu yang ada dipikiranku hanya, ‘Apa sih yang dikhawatirkan lagi ketika sudah nyaman? Toh, sekarang sudah ada teknologi yang mampu mendekatkan yang jauh’. Ya, sedangkal itu pikiran seorang Davin. Dan akhirnya, ‘Ya udah, kita jalanin aja’ sebagai jawaban dari Reina.
Ternyata setelah 1 tahun kita lalui bersama sebagai sepasang kekasih, 521 kilometer itu bukan jarak yang cukup diatasi dengan komunikasi. Nyaman-pun juga belum cukup untuk benar-benar memangkas jarak itu. Jika dulu, saling menguatkan yang aku harapkan, tapi ternyata ketakutan yang aku dapatkan dari jarak itu.
Seharusnya aku tak segampang itu mengambil keputusan menyangkut perasaan. Seharusnya aku sadar, jawaban Reina saat itu hanya terbawa keadaan. Atau mungkin seharusnya, antara aku dan Reina memang tak ada pertemuan.
Pandanganku kembali terfokus padanya. Reina masih dengan keadaan yang bisa pecah kapan saja, jika aku salah mengucapkan kata. ‘Sampai buat Reina nangis, awas lo, Dav!’ Ucapan Bang Bas ketika sebelum aku berangkat ke Jogja kembali mengusik pikiranku. ‘Maaf Bang, gue nggak bisa menuhi permintaan lo. Karena sekarang adek lo udah nangis gara-gara gue’.
“Dav, tolong bilang apa yang kamu ucapkan tadi semua bohong. Kamu ke Jogja karena kamu kangen sama aku kan?”Suara Reina semakin menyadarkanku bagaimana aku bisa menyakiti gadis sebaik dia.
“Re, kamu tahu kan aku nggak pernah bercanda sama omonganku?” Aku masih sebisa mungkin menjaga emosiku.
“Aku salah apa, Dav? Kenapa dengan begitu mudahnya kamu meminta kita untuk berakhir?” Tanyanya. Ingin sekali aku merengkuhnya dalam dekapan.
“Tidak, kamu tidak salah apa-apa, Re. Di sini aku yang salah. Dari awal memang aku yang salah.” Ku raih tangannya, mungkin bisa menyalurkan bagaimana penyesalanku sekarang.
“Aku masih tak paham.” Dia mengusap air matanya yang lolos di pipinya.
“Re, kita atau aku lebih tepatnya sudah kalah. Aku sudah kalah dengan jarak. Memang, aku dulu yang dengan gampangnya mengajakmu untuk memangkas jarak. Memintamu masuk dalam hubungan yang mencoba tak memperdulikan seberapa jauh jarak kita. Tapi, nyatanya aku sendiri yang kalah, Re. Aku sendiri yang tak bisa tak memperdulikan jarak yang sangat jauh di antara kita. Seberapapun aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kita masih bisa lanjut, tapi aku selalu berujung pada ketakutan-ketakutan, Re.” Jelasku sambil mengusap punggung tangannya perlahan.
“Kamu tidak memikirkan bagaimana aku, Dav? Aku tidak mendapatkan dimana kamu kalah, Dav. Menurutku sekarang kita baik-baik saja seperti ini.” Dia sudah terisak. Tak memperdulikan lagi air mata yang membentuk lukisan halus di pipinya.
“Mungkin menurutmu baik-baik saja, tapi menurutku kita dipaksakan baik-baik saja. Jika kamu pikir aku tidak memikirkan perasaanmu, kamu salah, Re. Justru keputusanku ini karena aku juga memikirkan bagaimana perasaanmu. Kamu tahu kan, kalau dalam sebuah hubungan harus dua-duanya jalan seimbang, bukan salah satu ataupun hanya satu yang jalan yang berjuan. Dalam kasus ini pun begitu. Aku tak mau jika kita tetap lanjutkan, kamu yang harus berjuang sendiri.” Aku yang harus menjaga emosi di sini.
“Itu semua hanya alasan kamu kan, Dav? Alasan kamu buat mutusin aku karena nyatanya kamu sudah bosen sama aku dan punya pacar baru di belakangku, iya kan? Atau mungkin dari awal aku memang hanya mainanmu? Basi, Dav.” Dia menepis gengamanku. Yang saat itu juga aku merasakan ada sesuatu yang hilang begitu saja.
“Terserah kamu mau percaya sama aku apa nggak. Aku cuma mau negasin, aku masih sayang sama kamu bahkan sampai saat ini. Aku nyaman sama kamu dari pertama kali kita ketemu. Aku nggak pernah main-main sama ucapanku. Hanya saja, saat ini aku sudah kalah dengan apa yang aku janjikan dulu. Jarak ini terlalu jauh, Re. Dan aku tak sanggup. Aku terima jika kamu mau sebut aku pecundang, lemah, atau apapun itu.” Ucapku pelan. Aku paham seberapa sakit hati dia.
Reina semakin menunduk. Airmata tak lagi bisa disembunyikannya. Dan itu membuatku merasa menjadi orang paling pecundang. ‘Lo, cowok lemah Dav, hanya karena jarak aja lo nyerah’. Tak ada lagi suara yang keluar dari bibirnya, kecuali isakan yang akan semakin mengahancurkanku perlahan.
Di luar, biru gelap sudah mengambil alih jingga dari singgasananya. Garis kemerahan sudah tak terlihat lagi. Lampu kota sudah mengambil alih pencahayaan. Adzan maghrib sudah berkumandang bersahutan. Dan, kami masih saling diam penuh keheningan.
“Re, kita dulu mulai baik-baik, sekarang kita selesaiin juga baik-baik ya? Kamu boleh sakit hati, tapi jangan lama-lama, aku juga nggak minta kamu cepet maafin aku. Sekarang kita lebih baik jalan sendiri-sendiri. Tapi aku tetap Davin temennya Bang Bastian, nggak akan berubah. Aku yakin kamu akan dapat yang lebih baik daripada aku, Re.” Ucapku sambil mengusap airmatanya.
“Aku nggak mau kenal kamu lagi, Dav.” Ketusnya sambil membuang pandangnya ke luar jendela.
“Terserah kalau itu keputusanmu. Tapi sekarang, aku anterin pulang ya?” Pintaku untuk mengantarkannya pulang, mungkin untuk terakhir kalinya.
“Nggak. Aku bisa pulang sendiri. Kamu balik aja ke Jakarta sana.” Tolaknya sambil beranjak dari tempat duduknya.
“Aku anterin, Re. Aku udah buat kamu nangis, jadi aku nggak mau dimarahin lagi sama Bang Bas karena ngebiarin kamu pulang sendiri dan kenapa-napa di jalan.” Bujukku, karena aku tahu bagaimna seorang Bastian bisa berubah jadi monster jika ada apa-apa sama adik tersayangnya ini.
“Aku bisa pulang sendiri, Dav.” Dia masih tetap menolak tawaranku.
“Anggep aja ini yang nganter Davin temennya kakakmu, bukan Davin mantan kamu.” Aku juga tak menyrah begitu saja.
“Tauklah, terserah.” Jawabnya akhirnya. Aku segera mengarahkannya ke tempat dimana mobilku terparkir. Membukakan pintu penumpang depan. Dia masuk ke mobil dengan pandangan yang menghindari tatapanku. Aku hanya tersenyum getir. Segera ku bawa mobilku menyusuri jalan ke rumahnya.
Petang ini untuk terakhir kalinya, dengan disaksikan malam Jogja yang selalu indah, aku mengantarnya pulang dengan mata sembabnya. Ada kekesalan yang tak bisa dia utarakan, ada kekecewaan yang hanya bisa dia pendam, aku paham itu. Karena memang seharusnya yang aku terima adalah cacian atau bahkan tamparan. Tapi dia tidak melakukan itu. Dia hanya diam, bahkan sampai halaman depan rumahnya.
“Hati-hati di jalan.” Ucapnya singkat kemudian segera turun dari mobil dan melangkah ke rumahnya tanpa menoleh lagi. Itu lebih dari cukup sebagai kata perpisahan untuk seseorang yang sudah menyakitinya.
Aku belum beranjak beberapa menit setelahnya. Aku masih enggan meninggakan Jogja dengan segala kenangannya. Aku perlu meyakinkan diri kalau keputusan ini yang memang seharusnya aku ambil. Dan seharusnya, dia mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku dari segala hal. Ya, seharusnya begitu.
Ah, aku harus kembali ke Jakarta. Selamat malam, Reina. Selamat tinggal, Jogja.

-Triana Febri-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar