YANG
MENEMANI
“Jangan di depan, aku tak mampu
mengejarmu. Jangan di belakang, aku tak bisa menunggumu. Tetaplah di sampingku,
menemaniku.”
***
Arabella
Bastian itu orang yang
nggak pernah bisa ditebak. Seperti salah satu hobinya. Siapa juga yang bisa nebak
kalau seorang Bastian—fotographer yang jeperetannya selalu terpampang di mading
fakultas—menjadi paparazzi seseorang yang ternyata teman sekelas sohibnya. Dan,
orang itu aku.
Kenalkan, namaku
Arabella. Jangan manggil Ara kalau nggak mau dimarahin Bas. Jadi, panggil aja
Bella. Sebenarnya, aku sudah sering lihat Bas dengan kamera kesayangannya itu
diberbagai tempat. Tapi aku nggak pernah tahu, kalau objeknya itu aku. Dan
setelah perkenalanku—secara resmi—dengannya di shelter waktu itu, status kita
sudah berubah. Dia memintaku untuk menemaninya, menjadi objek tetap setiap
jepretannya. Dan aku menerimanya.
Aku selalu suka ketika
berjalan beriringan dengan Bas. Dengan tanganku yang berada di genggamannya.
Dengan tangan lainnya memegang kamera. Mengikuti setiap langkahnya. Menikmati
profilnya dari samping, tapi senyum lebarnya masih terlihat jelas di wajahnya.
Setelah aku benar-benar
mengenal dia, melihatnya bahagia itu mudah. Cukup jangan pisahkan dia dengan
kameranya. Sebegitu cintanya dengan dunia fotografi. Dan aku tahu itu. Karena
Bas yang berada di balik kamera adalah seni. Seni yang membuatku rela jatuh
hati untuk ke sekian kali.
----
Citra
Sampai saat ini, gue
belum bisa menemukan hal yang tepat untuk menggambarkan seseorang yang sedang
tenggelam dalam tugasnya dan mengabaikan gue beberapa menit terakhir ini.
Seseorang yang akan lupa dengan sekelilingnya ketika dia sudah berhadapan
dengan kertas putih beserta perlengkapannya. Dirinya seketika akan melebur
bersama garis-garis dengan segala perhitungannya itu.
Orang itu adalah William,
atau gue nyaman memanggilnya L. Sama seperti ketika dia akan membiarkan gue
menikmati hujan, gue tak bisa mengganggunya ketika dia sudah menjadi William
mahasiswa Arsitektur. Gue sering menemaninya menyelesaikan tugas rancangannya.
Gue tak akan protes ketika atensinya akan ia berikan penuh ke tugasnya, karena
dengan itu gue bisa leluasa memandanginya tanpa interupsinya.
Hanya ketika dia
mengerjakan tugaslah, gue bisa melihat seorang William. William yang tumbuh
dengan segala kesopanannya. William yang memang dilahirkan untuk menjadi
seorang perancang bangunan. William yang sangat mencintai garis-garis yang
saling berhubungan. Dan William yang berhasil membuat gue jatuh hati dengan
bahasa kakunya ketika pertama kali gue bertemu
dengannya.
Gue pikir, tak ada
kalimat yang tepat untuk mendiskripsikan dirinya. Dia terlalu tenang. Dia
terlalu luas untuk gue diskripsikan. Jadi, biar gue saja yang menyelami
ketenangannya, menemani kesibukannya dan menjadi tempat bersandarnya.
---
Viola
People
look their best when they’re doing something they love.
Gue mengamini pernyataan
itu. Seperti yang gue lihat sekarang. Seseorang yang sedang berdiri di atas
panggung sana. Sandhi dengan dunia musiknya.
Sandhi dengan si
Atom—gitar kesayangannya—adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Nyanyian,
musik, sorakan, dan tepuk tangan adalah komposisi yang pas untuk kehidupan
seorang Sandhi. Dan gue rela melakukan apapun untuk menikmati komposisi itu.
Dia masih di sana, di
atas panggung dengan lagunya. Senyum manisnya tak pernah hilang sedetikpun. Seperti
dia menikmati semua pengakuan atas penampilannya. Dan gue tak bisa mengalihkan
pandangan barang semenitpun.
Seperti sebuah
konspirasi, pandangan kita bertemu. Gue nggak paham, cara apa yang ia gunakan
sampai bisa menemukan gue di antara penonton yang bisa dibilang tidak sedikit.
Dia tersenyum semakin lebar sampai ke matanya. Ada perasaan yang menghangat
seperti saat kemarin ketika dia mengungkapkan perasaannya. Dan tak ada yang
bisa gue lakukan, selain jatuh hati lagi untuk kesekian kalinya dengan dia.
Karena memang Sandhi semenarik itu.
---
Reina
Ada hal yang akan ikut
hilang bersama perginya seseorang. Hubungan, kebiasaan, juga perasaan. Seperti
malam itu ketika aku harus mengucapkan selamat tinggal untuk tiga hal itu.
Bersama dengan deru mobilnya meninggalkan halaman, aku mengucapkan selamat
tinggal untuk seseorang yang menyudahi perjalanan pada sebuah hubungan, Davin.
Kecewa, sakit hati,
marah, bercampur jadi satu. Sampai air mata tak pantas untuk keluar. Dia pergi
karena keputusannya. Dia sudah kalah dalam hal menempuh jarak. Ya, dia
mengkambing hitamkan jarak untuk keputusannya ini. Dan aku tak bisa berbuat
banyak. Karena percuma mempertahankan, di saat dia sudah jelas-jelas ingin
melepaskan. Berjuang sendiri itu sia-sia bukan?
Aku tak pernah menyangka
keputusan itu akan keluar dari mulutnya. Masih jelas teringat ketika dia yang
mengajakku memangkas jarak dengan sebuah status. Kemudian aku mempercayakan
hatiku begitu saja padanya. Dan sekarang dia yang mengeluh dan mengaku kalah
dengan apa yang dia janjikan.
Sekali lagi, aku tak bisa
berbuat banyak, selain mencoba menguatkan hati yang sudah dipora-porandakan.
Aku tak ingin sakit hati berkepanjangan, tak ingin ada dendam yang menyakitkan.
Karena aku tahu, bahagia dan sakit hati itu satu paket dalam sebuah hubungan.
Biarlah jika hubunganku dengan Davin terpatahkan karena jarak, mungkin memang
aku cukup menjadi temannya yang akan dia temui ketika dia main ke Jogja nanti.
---
Oceanna
Gue selalu percaya, bahwa
Tuhan sedang tersenyum ketika menciptakan makhluk bernama Jevian. Dia seperti
punya magnet yang membuat siapapun menoleh dua kali padanya. Dimanapun,
kapanpun, dalam situasi apapun, seorang Jevian selalu punya panggunggnya
sendiri. Dia selalu tahu bagaimana dia harus bersikap. Dan itu yang membuat dia
mudah diterima oleh siapa saja.
Jika dibandingkan dengan
Jevian, gue tidak ada apa-apanya. Tapi, dia sendiri yang meminta gue untuk
menemani menikmati dunianya. Dan seperti inilah gue akhirnya, menjadi sosok
yang beruntung untuk mengenal seorang Jevian lebih dari siapapun.
Jevian itu selalu banyak
tingkah di depan teman-temannya. Selalu perhatian dengan siapapun. Selalu bisa
menciptakan sebuah obrolan, bahkan dengan orang yang baru di kenalnya. Intinya
dia selalu punya cara untuk semua orang nyaman dengannya. Jevian memang se-care itu.
Dan daripada menyebutnya
sebagai pacar, gue lebih suka menyebut seorang Jevian adalah patner. Karena dia
memberi gue lebih daripada hati. Dan tugas gue sekarang, memastikan dia akan
tetap menjadi seorang Jevian dengan segala sifat dan tingkah lakunya. Yang
hidup dengan caranya sendiri, dan bahagia dengan cara yang sederhana.
Jevian - Oceanna [TERLALU BERHARGA]
-Triana Febri-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar