PULANG
“Ketika
kamu pergi, tetap ingat kemana kamu harus kembali.”
***
Datang ke kota ini,
tidak pernah ada di bayangan saya sebelumnya. Saat itu, saya hanya mengikuti
permintaan Papa yang meminta saya untuk mengambil arsitektur di salah satu
kampus di kota ini. Dan saat ini, saya ingin mengucapkan beribu terimakasih
kepada Papa yang memaksa saya untuk melanjutkan pendidikan di kota ini. Karena
di kota inilah, saya bertemu dia.
Saya kenalkan, namanya
Citra. Sosok yang sudah mau merelakan hari-harinya untuk menemani seorang
William. Sosok yang satu tahun lalu mengangguk dengan malu-malu ketika saya
memintanya untuk menempati tempat yang paling special di hati saya. Dia saat ini sedang duduk di depan saya,
menunggu hujan di kedai kopi dekat kampus.
Memasuki November,
hujan sedang rajin-rajinnya menyapa bumi. Sampai sapaan sang surya saja
tertutupi awan gelapnya. Setiap saat yang ada hanya desiran angin dingin yang
kemudian disusul rintik hujan. Saya tak pernah mempermasalahkan kalau hujan
turun setiap hari. Saya justru senang, kenapa? Karena saya akan sering duduk
berdua dengannya seperti ini. Menunggu hujan, menikmati dua cangkir cappuccino, bercerita tentang semua hal,
atau bahkan hanya melihatnya ketika dia sedang bercerita dengan hujan. Seperti
sekarang, dia sedang memandang rintikan hujan dari balik jendela, sampai
mengabaikan saya yang duduk di depannya. Salahkah kalau saya cemburu dengan
hujan?
“Apa hujan di luar
lebih menarik daripada orang yang duduk di depanmu, Cit?” Seloroh saya sambil
menyesap cappuccino yang dari 20
menit yang lalu belum tersentuh. Dia menoleh sambil tersenyum. Senyum yang
berhasil membuat saya jatuh cinta lagi kesekian kalinya pada gadis penyuka
hujan ini.
“Sama hujan aja kamu
cemburu, L? Haha..” Tawanya pecah begitu saja, yang entah bagaimana membuat
saya ikut tertawa. L. Ya, alih-alih memanggil saya dengan ‘Liam’—panggilan dari
teman-teman saya—dia justru memilih memanggil saya dengan satu huruf itu, L.
“L, hujan itu apa nggak
cape’ ya? Dia harus jatuh menyapa bumi, kemudian harus kembali menyapa langit. Selalu
seperti itu.” Tanya dia sambil melihat hujan yang belum juga reda. Saya
mengikuti padangannya. Mencoba mencari jawaban diantara titik-titik hujan.
“Nggak. Hujan nggak
cape’. Justru dia bahagia.” Jawab saya, membuat dia langsung menoleh detik
berikutnya.
“Kok bisa? Tahu darimana?”
Tanyanya membuat tangan saya tidak bisa ditahan untuk mengacak rambutnya.
“Cit, hujan itu bahagia
ketika dia harus menyapa bumi meskipun nanti dia juga harus kembali ke langit.
Seperti sekarang, hujan sedang menyapa bumi. Dia sedang bertukar sapa dengan
tanaman, mengobrol dengan tanah, dan membaur dengan laut. Hujan menikmati
perjalanannya. Tapi, ia tetap tahu, kemana dia harus pulang. Langit.” Jelas
saya membuatnya mengangguk-angguk paham.
“Em..kenapa langit baik
sekali? Kenapa dia membiarkan hujan meninggalkannya? Apa langit tidak takut
kalau hujan bisa saja tidak akan pernah kembali setelah kepergiannya untuk
menyapa bumi?” Rupanya dia belum puas dengan pertanyaanya tentang hujan sore
ini.
“Langit tidak pernah
takut, Cit. Karena dia tahu, hujan akan tetap kembali sejauh apapun dia pergi.
Langit adalah rumah bagi hujan.” Saya tak pernah lelah meladeni
pertanyaan-pertanyaan random-nya.
Kemudian hening hadir diantara kami. Suara hujan mengambil alih percakapan. Dia
menyesap cappuccino-nya, sedangkan
saya tak pernah bosan memandanginya.
“Kalau kamu, kamu akan
jadi seperti langit, L? Ketika seumpama nanti aku pergi melakukan perjalananku
seperti perjalanan hujan menyapa bumi, kamu akan membiarkanku pergi seperti
yang dilakukan langit kepada hujan?” Dia tidak lagi membahas hujan, tapi
tentang hubungan kami. Saya menatap tepat dimatanya. Ada kekhawatiran yang
mengambil alih sorot mata yang biasanya cerah. Saya rangkum tangannya dalam
genggaman saya. Saya coba salurkan keyakinan yang saya punya. Seperti yakinnya
langit pada hujan.
“Cit, dengar. Aku akan
menjadi langit untuk hujanmu. Aku tidak akan pernah melarang ketika kamu akan
melakukan perjalanan seperti perjalanan hujan. Karena aku tahu, dunia ini bukan
hanya tentang aku dan kamu, sama halnya semesta tidak hanya tentang langit dan
hujan. Aku tidak akan mengurungmu dalam duniaku, kamu bebas sebebas-bebasnya.
Tapi, kamu harus tahu kemana harus pulang. Ada rumah yang terus menunggu
kepulanganmu, dan itu aku.” Ujar saya membuatnya tersenyum sampai ke matanya. Dia
sudah kembali menjadi Citra saya yang biasanya.
“Memangnya, kamu mau
pergi, Cit? Kemana?” Tanya saya. Dia tersenyum diikuti gelengan pelan.
“Kenapa aku harus
pergi? Ketika disini saja aku nyaman.” Jawabnya membuat tawa pecah diantara kami.
“Sumpah, kayaknya kamu
pindah aja dari arsi deh, L.” Ucap Citra sambil tertawa.
“Lah, kenapa?” Tanya
saya.
“Semakin kesini,
semakin nggak cocok kamu jadi anak arsi. Biasanya anak arsi tuh nggak bakal
kepikiran teori-teori seperti tadi. Nemu darimana itu tadi?” Jawabnya di sela
tawanya.
“Nggak tahu. Kayaknya
virusnya Bas udah nular ke aku deh.” Jawab saya sekenanya.
“O iya, katanya Bas
udah taken ya?” Seperti yang saya bilang, dia mudah mengalihkan pembicaraan.
Dan kali ini sepertinya Bas—salah satu teman saya yang dia juga sudah
kenal—menjadi objek perbincangan.
“Iya. Minggu lalu
kayaknya. Kamu tahu darimana?” Soalnya seinget saya, saya belum cerita mengenai
jadiannya Bas.
“Ya, siapa lagi kalau
bukan dari Bang Jev.” Jawabnya menyebut nama sepupunya yang juga kebetulan
teman saya. “Kata Bang Jev juga, ceweknya Bas itu ternyata temen sekelasnya
Bang Jev. Kok bisa Bas nggak tahu?” Saya hanya mengangkat bahu. Karena saya
juga nggak begitu tahu bagaimana cerita Bas, Bella—ceweknya Bas—dan Jev.
Dan sore ini kami
habiskan dengan membicarakan tentang teman-teman saya. Setelah
pertanyaan-pertanyaan dia tentang hujan tadi, hujan mempunyai arti lebih buat
saya, tapi tidak sampai menggeser posisinya. Memang teori tentang hujan dan
langit muncul begitu saja, tapi saya tidak pernah bercanda dengan ucapan saya
pada Citra. Saya akan menjadi langit untuk hujannya, rumah untuk kepulangannya,
dan tetap menjadi L-nya.
-Triana
Febri-
Note: Maaf. Hanya coretan ketika terjebak hujan.

ALAMAK MANIS AMAT WILL. :(
BalasHapus