Minggu, 05 November 2017

[CERPEN] PULANG



PULANG
“Ketika kamu pergi, tetap ingat kemana kamu harus kembali.”
***

Datang ke kota ini, tidak pernah ada di bayangan saya sebelumnya. Saat itu, saya hanya mengikuti permintaan Papa yang meminta saya untuk mengambil arsitektur di salah satu kampus di kota ini. Dan saat ini, saya ingin mengucapkan beribu terimakasih kepada Papa yang memaksa saya untuk melanjutkan pendidikan di kota ini. Karena di kota inilah, saya bertemu dia.
Saya kenalkan, namanya Citra. Sosok yang sudah mau merelakan hari-harinya untuk menemani seorang William. Sosok yang satu tahun lalu mengangguk dengan malu-malu ketika saya memintanya untuk menempati tempat yang paling special di hati saya. Dia saat ini sedang duduk di depan saya, menunggu hujan di kedai kopi dekat kampus.
Memasuki November, hujan sedang rajin-rajinnya menyapa bumi. Sampai sapaan sang surya saja tertutupi awan gelapnya. Setiap saat yang ada hanya desiran angin dingin yang kemudian disusul rintik hujan. Saya tak pernah mempermasalahkan kalau hujan turun setiap hari. Saya justru senang, kenapa? Karena saya akan sering duduk berdua dengannya seperti ini. Menunggu hujan, menikmati dua cangkir cappuccino, bercerita tentang semua hal, atau bahkan hanya melihatnya ketika dia sedang bercerita dengan hujan. Seperti sekarang, dia sedang memandang rintikan hujan dari balik jendela, sampai mengabaikan saya yang duduk di depannya. Salahkah kalau saya cemburu dengan hujan?
“Apa hujan di luar lebih menarik daripada orang yang duduk di depanmu, Cit?” Seloroh saya sambil menyesap cappuccino yang dari 20 menit yang lalu belum tersentuh. Dia menoleh sambil tersenyum. Senyum yang berhasil membuat saya jatuh cinta lagi kesekian kalinya pada gadis penyuka hujan ini.
“Sama hujan aja kamu cemburu, L? Haha..” Tawanya pecah begitu saja, yang entah bagaimana membuat saya ikut tertawa. L. Ya, alih-alih memanggil saya dengan ‘Liam’—panggilan dari teman-teman saya—dia justru memilih memanggil saya dengan satu huruf itu, L.
“L, hujan itu apa nggak cape’ ya? Dia harus jatuh menyapa bumi, kemudian harus kembali menyapa langit. Selalu seperti itu.” Tanya dia sambil melihat hujan yang belum juga reda. Saya mengikuti padangannya. Mencoba mencari jawaban diantara titik-titik hujan.
“Nggak. Hujan nggak cape’. Justru dia bahagia.” Jawab saya, membuat dia langsung menoleh detik berikutnya.
“Kok bisa? Tahu darimana?” Tanyanya membuat tangan saya tidak bisa ditahan untuk mengacak rambutnya.
“Cit, hujan itu bahagia ketika dia harus menyapa bumi meskipun nanti dia juga harus kembali ke langit. Seperti sekarang, hujan sedang menyapa bumi. Dia sedang bertukar sapa dengan tanaman, mengobrol dengan tanah, dan membaur dengan laut. Hujan menikmati perjalanannya. Tapi, ia tetap tahu, kemana dia harus pulang. Langit.” Jelas saya membuatnya mengangguk-angguk paham.
“Em..kenapa langit baik sekali? Kenapa dia membiarkan hujan meninggalkannya? Apa langit tidak takut kalau hujan bisa saja tidak akan pernah kembali setelah kepergiannya untuk menyapa bumi?” Rupanya dia belum puas dengan pertanyaanya tentang hujan sore ini.
“Langit tidak pernah takut, Cit. Karena dia tahu, hujan akan tetap kembali sejauh apapun dia pergi. Langit adalah rumah bagi hujan.” Saya tak pernah lelah meladeni pertanyaan-pertanyaan random-nya. Kemudian hening hadir diantara kami. Suara hujan mengambil alih percakapan. Dia menyesap cappuccino-nya, sedangkan saya tak pernah bosan memandanginya.
“Kalau kamu, kamu akan jadi seperti langit, L? Ketika seumpama nanti aku pergi melakukan perjalananku seperti perjalanan hujan menyapa bumi, kamu akan membiarkanku pergi seperti yang dilakukan langit kepada hujan?” Dia tidak lagi membahas hujan, tapi tentang hubungan kami. Saya menatap tepat dimatanya. Ada kekhawatiran yang mengambil alih sorot mata yang biasanya cerah. Saya rangkum tangannya dalam genggaman saya. Saya coba salurkan keyakinan yang saya punya. Seperti yakinnya langit pada hujan.
“Cit, dengar. Aku akan menjadi langit untuk hujanmu. Aku tidak akan pernah melarang ketika kamu akan melakukan perjalanan seperti perjalanan hujan. Karena aku tahu, dunia ini bukan hanya tentang aku dan kamu, sama halnya semesta tidak hanya tentang langit dan hujan. Aku tidak akan mengurungmu dalam duniaku, kamu bebas sebebas-bebasnya. Tapi, kamu harus tahu kemana harus pulang. Ada rumah yang terus menunggu kepulanganmu, dan itu aku.” Ujar saya membuatnya tersenyum sampai ke matanya. Dia sudah kembali menjadi Citra saya yang biasanya.
“Memangnya, kamu mau pergi, Cit? Kemana?” Tanya saya. Dia tersenyum diikuti gelengan pelan.
“Kenapa aku harus pergi? Ketika disini saja aku nyaman.” Jawabnya membuat tawa pecah diantara kami.
“Sumpah, kayaknya kamu pindah aja dari arsi deh, L.” Ucap Citra sambil tertawa.
“Lah, kenapa?” Tanya saya.
“Semakin kesini, semakin nggak cocok kamu jadi anak arsi. Biasanya anak arsi tuh nggak bakal kepikiran teori-teori seperti tadi. Nemu darimana itu tadi?” Jawabnya di sela tawanya.
“Nggak tahu. Kayaknya virusnya Bas udah nular ke aku deh.” Jawab saya sekenanya.
“O iya, katanya Bas udah taken ya?” Seperti yang saya bilang, dia mudah mengalihkan pembicaraan. Dan kali ini sepertinya Bas—salah satu teman saya yang dia juga sudah kenal—menjadi objek perbincangan.
“Iya. Minggu lalu kayaknya. Kamu tahu darimana?” Soalnya seinget saya, saya belum cerita mengenai jadiannya Bas.
“Ya, siapa lagi kalau bukan dari Bang Jev.” Jawabnya menyebut nama sepupunya yang juga kebetulan teman saya. “Kata Bang Jev juga, ceweknya Bas itu ternyata temen sekelasnya Bang Jev. Kok bisa Bas nggak tahu?” Saya hanya mengangkat bahu. Karena saya juga nggak begitu tahu bagaimana cerita Bas, Bella—ceweknya Bas—dan Jev.
Dan sore ini kami habiskan dengan membicarakan tentang teman-teman saya. Setelah pertanyaan-pertanyaan dia tentang hujan tadi, hujan mempunyai arti lebih buat saya, tapi tidak sampai menggeser posisinya. Memang teori tentang hujan dan langit muncul begitu saja, tapi saya tidak pernah bercanda dengan ucapan saya pada Citra. Saya akan menjadi langit untuk hujannya, rumah untuk kepulangannya, dan tetap menjadi L-nya.
-Triana Febri-
Note: Maaf. Hanya coretan ketika terjebak hujan.


1 komentar: