POTRET
‘Aku
mengagumimu di balik kamera’
***
Apa yang paling
menyakitkan dari jatuh cinta? Jatuh cinta dalam diam. Lo nggak berani untuk
mengungkapkan, sehingga dengan pengecutnya lo hanya memperhatikannya dari
kejauhan. Lo nggak bisa berbuat apa-apa, karena lo hanya penggemar belaka,
bukan orang yang berpengaruh dalam hidupnya. Dan percayalah, itu sama sekali
nggak enak!
Kalau lo berpikir gue
curhat, ya lo bener. Gue, Bastian, si pengagum rahasia, penggemar nomor
satunya, yang terus bersembunyi di balik kamera. Kalau lo mau cap gue pengecut,
silakan. Gue terima. Karena apa, nyapa dia aja gue nggak berani, apa lagi
ngungkapin perasaan, gue mana punya nyali.
Dia, Arabella yang gue
panggil—suatu hari nanti—dengan panggilan Ara. Sosok yang menjadi objek favorit
jepretan kamera gue. Tidak, dia tidak semodis mahasiswa-mahasiswa selebgram
dengan ribuan followers, atau secantik gebetan-gebetan Jevian. Dia, hanya
seorang gadis dengan rambut sebahu yang berhasil menarik perhatian gue sejak
kejadian tanpa sengaja di Perpustakaan kampus 3 bulan silam.
“Selamat pagi, Bang
Bastian?” Sebuah suara cempreng mengganggu pendengaran gue pagi ini. Tanpa
menolehpun, gue sudah sangat hafal suara siapa ini.
“Bang, Bang. Emang lo
pikir gue Bang cilok apa?” Protes gue yang hanya direspon cengiran—yang semakin
mirip ayam—sama seorang Jevian. Ya, kenalin ini yang namanya Jevian, manusia
dengan dosa terbanyak karena sering bikin baper anak orang.
“Tumben lo udah
nongkrong di sini jam segini, Bas? Biasanya juga masih pacaran sama bantal lo.”
Tanya Jev sudah duduk manis di sebelah gue. Kalau kalian mau tahu, kita
sekarang sedang berada di gazebo fakultas, tempat nongkrong anak fakultas gue,
dengan gue yang masih fokus sama kamera dan Jev yang sedang mengaduk-aduk jus
jambunya.
“Ye..emang situ yang
nggak pernah datang pagi? Gue mah selalu rajin ya, Jev.” Sanggah gue.
“Oh iya, kan lo harus
jadi fotografer dulu ya? Gimana pagi ini si Mbaknya, masih cantik?” Tanya Jev
dengan muka, ya pengen gue lempar sepatu.
“Berisik lo.” Ucap gue
sambil menyimpan kamera gue ke ransel.
“Lagian lo, Bas, kapan
lo mau bergeraknya? Keburu diambil orang baru tau rasa lo. Tampang lo aja yang
preman, padahal nyali lo perlu dipertanyakan. Nggak capek apa cuma bisa jadi
fotografer jarak jauh? Samperin gitu, ajak kenalan trus ajak jalan deh.” Antara
ngasih saran sama bully beda tipis.
“Itu rahang enteng
banget ya Jev, kalau ngomong? Sorry
ya, gue nggak kayak lo yang siapa aja diajak kenalan.” Cibir gue. Percaya sama
gue, pagi ini pasti udah ada cewek yang diajak kenalan sama makhluk berkacamata
depan gue ini.
“Namanya juga membangun
relasi, Bas.” Alasan basi seorang Jevian.
“Antara relasi sama
nyetock gebetan beda tipis, Jev.” Ujar gue. Setelah itu, nggak gue peduliin
lagi tuh Jev bilang apa. Fokus gue beralih pada sekitar gazebo yang tumben pagi
ini rame. Dan tanpa sengaja pandangan gue jatuh pada sosok yang sedang ngobrol
sama seseorang cowok. Sosok itu Ara, dan cowok di sampingnya gue nggak tahu dia
siapa. Gue masih memperhatikannya, dan Ara tiba-tiba tertawa. Cantik sih, tapi
kok hati gue sakit ya?
“Martabak dikacangin
enak kayaknya, Bas.” Ucap Jev tepat di samping telinga gue dengan suara yang
nggak ada pelannya sama sekali.
“Apaan sih, Jev? Suara
lo bikin polusi.” Protes gue.
“Lagian si Bapak, gue
ngomong dari tadi dikacangin. Lagi lihat siapa sih sampai segitunya?” Tanya Jev
mengikuti arah pandang gue. “Lah itu kan si Bella? Ada apa lo ngelihat temen
gue sampai segitunya?” Jev sudah memicingkan matanya curiga.
“Ara temen lo? Kok
bisa?” Tanya gue spontan. Sumpah, gue shock tau Jev kenal sama Ara.
“Bella temen sekelas
gue, Bas. Lha lo sendiri, kok bisa tahu Bella? Eh, bentar kok lo manggil dia
Ara? Jangan-jangan dia..” Dalam hati gue sudah mengutuk mulut gue yang dengan
seenaknya kelepasan nyebut Ara. Tapi gue lebih mengutuk keadaan, kenapa Ara
harus temennya Jev sih? Rasanya gue pengen mutilasi ini makhluk yang sedang pasang
cengirannya. Gue hanya mengangkat bahu mencoba tak peduli.
“Wah, ternyata Bella
ya, Bas? Mau gue bantuin nggak, berhubung gue temen lo sekaligus gue lumayan
deket sama Bella?” Tawar Jev.
“Nggak, makasih.” Tolak
gue. Apa-apaan dibantuin soerang Jevian itu sama aja bunuh diri.
“Beneran? Ya udah deh
kalau lo nggak mau.” Ucapnya sambil beranjak. “Gue cabut dulu ya, ada kelas
ini.” Pamitnya.
“Iye..iye. Sana pergi
yang jauh sekalian nggak usah balik.” Usir gue.
“Bas, gue cuma mau
ngasih tahu, kalau lo nggak bergerak cepat lo beneran bakal kalah. Asal lo
tahu, yang ngincer Bella itu banyak, dan cowok di depannya itu salah satunya.”
Bisik Jev, kemudian pergi begitu saja.
Gue masih belum
beranjak, fokus gue juga belum berganti. Dan makhluk yang katanya mau ke kelas,
menghampiri Ara. Mereka berhigh five akrab. Gue nggak tahu Jev ngomong apa,
yang jelas mereka bertiga langsung meninggalkan gazebo. Semoga Jev, nggak
ngomong apa-apa tentang gue ke Ara.
Kemudian hening.
Kekosongan menyerang gue tiba-tiba. Dan tiba-tiba omongan Jev menyita pikiran
gue. Tentang gue yang nggak bergerak dan milih menjadi fotografer—istilahnya
Jev—jauh Ara. Faktanya, gue sudah bersembunyi di balik kamera gue hampir 3
bulan, dan itu bukan waktu yang sebentar. Gue yang mengenal dia, tanpa pernah
peduli dia mungkin tidak mengenal gue.
Tanpa sadar, gue
kembali meraih kamera yang sudah gue simpen di ransel. Gue hidupkan lagi, dan
gue lihat-lihat foto-foto dia. Foto dia ketika berangkat kampus, di perpus,
ngobrol sama temenya, ketika di pameran, dan foto lainnya yang baru gue sadar
foto Ara hampir menyentuh ratusan. Ck, kayaknya gue sudah gila. ‘Kalau lo nggak cepat bergerak, lo bakal
keduluan, Bas.’ Omongan Jev terus berulang-ulang di pikiran gue. Apa iya,
selamanya gue bakal seperti ini? Melihatnya dari jauh, mencintainya diam-diam,
dan mungkin harus merelakannya bahagia dengan orang lain? Tapi, untuk
menghampirinya dan menyapanya, gue belum ada nyali. Gue harus gimana?
“Foto-fotonya bagus.”
Sebuah suara menginterupsi pendengaran gue. Asing tapi menenangkan. Spontan gue
langsung menoleh ke belakang. Dan apa yang gue temukan? Dia sedang berdiri di
belakangku dengan pandangan tertuju pada kameraku yang sedang menampilkan foto
dirinya. Ya, suara itu milik Ara.
“Oh..” Gue bingung
harus respon apa. Bukannya kata Jev, mereka ada kelas? Kok dia di sini? Ulah
Jev pasti ini.
“Boleh aku duduk?”
Tanyanya pelan.
“Bo..boleh kok,
silakan.” Ucapku bergeser sedikit. Dan dia duduk di tempat yang diduduki Jev
tadi. Kemudian hening. Gue harus ngomong apa ini?
“Terimakasih.” Ucapnya
tiba-tiba masih dengan begitu pelan. Gue spontan menoleh. Menemukan wajah yang
biasanya hanya bisa gue lihat dari jauh, sekarang duduk tepat di samping gue.
“Untuk?” Tanya gue.
Seharusnya gue yang meminta maaf bukan justru mendapatkan ucapan terimakasih.
Dia masih menunduk.
“Semuanya.” Jawabnya
sambil mengangkat wajahnya. Dan sebuah senyum terukir di sana. Gue pun ikut
tersenyum.
“Bas, jangan lupa ayam
bakarnya Bu Rum ya?” Teriakan Jev pengen gue hadiahi lemparan sepatu. Dia
melintas dengan cengirannya. Sumpah, ganggu banget ini anak. Setelah Jev
menjauh, fokus gue kembali ke sosok yang sedang tertawa dengan cantiknya.
“Eh, kata Jev tadi kalian
ada kelas?” Tanya gue.
“Dosennya ada keperluan
lain, ya dibatalin kelasnya.” Jelasnya masih di sisa-sisa tawanya. Gue
mengangguk paham.
“Kenalin, gue Bastian.”
Kenal gue sambil mengulurkan tangan. Dia menyambut beberapa detika setelahnya.
“Bukannya kamu sudah
mengenalku? Sekarang biarkan aku yang mengenalmu, Bas.” Ucapnya sambil
tersenyum. Tolong siapa saja bilang kalau ini bukan mimpi. Kalau ini mimpi, gue
rela nggak bangun selamanya.
“Bel, hati-hati sama
Bastian.” Suara Jev meyakinkan gue bahwa ini bukan mimpi.
Kita masih berjabat
tangan. Senyum dia masih terukir manis di wajahnya. Dan gue berjanji akan
mengubah jabat tangan pagi ini menjadi genggaman, suatu saat nanti.
-Triana
Febri-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar