Selasa, 31 Oktober 2017

[CERPEN] POTRET



POTRET


‘Aku mengagumimu di balik kamera’
***

Apa yang paling menyakitkan dari jatuh cinta? Jatuh cinta dalam diam. Lo nggak berani untuk mengungkapkan, sehingga dengan pengecutnya lo hanya memperhatikannya dari kejauhan. Lo nggak bisa berbuat apa-apa, karena lo hanya penggemar belaka, bukan orang yang berpengaruh dalam hidupnya. Dan percayalah, itu sama sekali nggak enak!

Kalau lo berpikir gue curhat, ya lo bener. Gue, Bastian, si pengagum rahasia, penggemar nomor satunya, yang terus bersembunyi di balik kamera. Kalau lo mau cap gue pengecut, silakan. Gue terima. Karena apa, nyapa dia aja gue nggak berani, apa lagi ngungkapin perasaan, gue mana punya nyali.
Dia, Arabella yang gue panggil—suatu hari nanti—dengan panggilan Ara. Sosok yang menjadi objek favorit jepretan kamera gue. Tidak, dia tidak semodis mahasiswa-mahasiswa selebgram dengan ribuan followers, atau secantik gebetan-gebetan Jevian. Dia, hanya seorang gadis dengan rambut sebahu yang berhasil menarik perhatian gue sejak kejadian tanpa sengaja di Perpustakaan kampus 3 bulan silam.
“Selamat pagi, Bang Bastian?” Sebuah suara cempreng mengganggu pendengaran gue pagi ini. Tanpa menolehpun, gue sudah sangat hafal suara siapa ini.
“Bang, Bang. Emang lo pikir gue Bang cilok apa?” Protes gue yang hanya direspon cengiran—yang semakin mirip ayam—sama seorang Jevian. Ya, kenalin ini yang namanya Jevian, manusia dengan dosa terbanyak karena sering bikin baper anak orang.
“Tumben lo udah nongkrong di sini jam segini, Bas? Biasanya juga masih pacaran sama bantal lo.” Tanya Jev sudah duduk manis di sebelah gue. Kalau kalian mau tahu, kita sekarang sedang berada di gazebo fakultas, tempat nongkrong anak fakultas gue, dengan gue yang masih fokus sama kamera dan Jev yang sedang mengaduk-aduk jus jambunya.
“Ye..emang situ yang nggak pernah datang pagi? Gue mah selalu rajin ya, Jev.” Sanggah gue.
“Oh iya, kan lo harus jadi fotografer dulu ya? Gimana pagi ini si Mbaknya, masih cantik?” Tanya Jev dengan muka, ya pengen gue lempar sepatu.
“Berisik lo.” Ucap gue sambil menyimpan kamera gue ke ransel.
“Lagian lo, Bas, kapan lo mau bergeraknya? Keburu diambil orang baru tau rasa lo. Tampang lo aja yang preman, padahal nyali lo perlu dipertanyakan. Nggak capek apa cuma bisa jadi fotografer jarak jauh? Samperin gitu, ajak kenalan trus ajak jalan deh.” Antara ngasih saran sama bully beda tipis.
“Itu rahang enteng banget ya Jev, kalau ngomong? Sorry ya, gue nggak kayak lo yang siapa aja diajak kenalan.” Cibir gue. Percaya sama gue, pagi ini pasti udah ada cewek yang diajak kenalan sama makhluk berkacamata depan gue ini.
“Namanya juga membangun relasi, Bas.” Alasan basi seorang Jevian.
“Antara relasi sama nyetock gebetan beda tipis, Jev.” Ujar gue. Setelah itu, nggak gue peduliin lagi tuh Jev bilang apa. Fokus gue beralih pada sekitar gazebo yang tumben pagi ini rame. Dan tanpa sengaja pandangan gue jatuh pada sosok yang sedang ngobrol sama seseorang cowok. Sosok itu Ara, dan cowok di sampingnya gue nggak tahu dia siapa. Gue masih memperhatikannya, dan Ara tiba-tiba tertawa. Cantik sih, tapi kok hati gue sakit ya?
“Martabak dikacangin enak kayaknya, Bas.” Ucap Jev tepat di samping telinga gue dengan suara yang nggak ada pelannya sama sekali.
“Apaan sih, Jev? Suara lo bikin polusi.” Protes gue.
“Lagian si Bapak, gue ngomong dari tadi dikacangin. Lagi lihat siapa sih sampai segitunya?” Tanya Jev mengikuti arah pandang gue. “Lah itu kan si Bella? Ada apa lo ngelihat temen gue sampai segitunya?” Jev sudah memicingkan matanya curiga.
“Ara temen lo? Kok bisa?” Tanya gue spontan. Sumpah, gue shock tau Jev kenal sama Ara.
“Bella temen sekelas gue, Bas. Lha lo sendiri, kok bisa tahu Bella? Eh, bentar kok lo manggil dia Ara? Jangan-jangan dia..” Dalam hati gue sudah mengutuk mulut gue yang dengan seenaknya kelepasan nyebut Ara. Tapi gue lebih mengutuk keadaan, kenapa Ara harus temennya Jev sih? Rasanya gue pengen mutilasi ini makhluk yang sedang pasang cengirannya. Gue hanya mengangkat bahu mencoba tak peduli.
“Wah, ternyata Bella ya, Bas? Mau gue bantuin nggak, berhubung gue temen lo sekaligus gue lumayan deket sama Bella?” Tawar Jev.
“Nggak, makasih.” Tolak gue. Apa-apaan dibantuin soerang Jevian itu sama aja bunuh diri.
“Beneran? Ya udah deh kalau lo nggak mau.” Ucapnya sambil beranjak. “Gue cabut dulu ya, ada kelas ini.” Pamitnya.
“Iye..iye. Sana pergi yang jauh sekalian nggak usah balik.” Usir gue.
“Bas, gue cuma mau ngasih tahu, kalau lo nggak bergerak cepat lo beneran bakal kalah. Asal lo tahu, yang ngincer Bella itu banyak, dan cowok di depannya itu salah satunya.” Bisik Jev, kemudian pergi begitu saja.
Gue masih belum beranjak, fokus gue juga belum berganti. Dan makhluk yang katanya mau ke kelas, menghampiri Ara. Mereka berhigh five akrab. Gue nggak tahu Jev ngomong apa, yang jelas mereka bertiga langsung meninggalkan gazebo. Semoga Jev, nggak ngomong apa-apa tentang gue ke Ara.
Kemudian hening. Kekosongan menyerang gue tiba-tiba. Dan tiba-tiba omongan Jev menyita pikiran gue. Tentang gue yang nggak bergerak dan milih menjadi fotografer—istilahnya Jev—jauh Ara. Faktanya, gue sudah bersembunyi di balik kamera gue hampir 3 bulan, dan itu bukan waktu yang sebentar. Gue yang mengenal dia, tanpa pernah peduli dia mungkin tidak mengenal gue.
Tanpa sadar, gue kembali meraih kamera yang sudah gue simpen di ransel. Gue hidupkan lagi, dan gue lihat-lihat foto-foto dia. Foto dia ketika berangkat kampus, di perpus, ngobrol sama temenya, ketika di pameran, dan foto lainnya yang baru gue sadar foto Ara hampir menyentuh ratusan. Ck, kayaknya gue sudah gila. ‘Kalau lo nggak cepat bergerak, lo bakal keduluan, Bas.’ Omongan Jev terus berulang-ulang di pikiran gue. Apa iya, selamanya gue bakal seperti ini? Melihatnya dari jauh, mencintainya diam-diam, dan mungkin harus merelakannya bahagia dengan orang lain? Tapi, untuk menghampirinya dan menyapanya, gue belum ada nyali. Gue harus gimana?
“Foto-fotonya bagus.” Sebuah suara menginterupsi pendengaran gue. Asing tapi menenangkan. Spontan gue langsung menoleh ke belakang. Dan apa yang gue temukan? Dia sedang berdiri di belakangku dengan pandangan tertuju pada kameraku yang sedang menampilkan foto dirinya. Ya, suara itu milik Ara.
“Oh..” Gue bingung harus respon apa. Bukannya kata Jev, mereka ada kelas? Kok dia di sini? Ulah Jev pasti ini.
“Boleh aku duduk?” Tanyanya pelan.
“Bo..boleh kok, silakan.” Ucapku bergeser sedikit. Dan dia duduk di tempat yang diduduki Jev tadi. Kemudian hening. Gue harus ngomong apa ini?
“Terimakasih.” Ucapnya tiba-tiba masih dengan begitu pelan. Gue spontan menoleh. Menemukan wajah yang biasanya hanya bisa gue lihat dari jauh, sekarang duduk tepat di samping gue.
“Untuk?” Tanya gue. Seharusnya gue yang meminta maaf bukan justru mendapatkan ucapan terimakasih. Dia masih menunduk.
“Semuanya.” Jawabnya sambil mengangkat wajahnya. Dan sebuah senyum terukir di sana. Gue pun ikut tersenyum.
“Bas, jangan lupa ayam bakarnya Bu Rum ya?” Teriakan Jev pengen gue hadiahi lemparan sepatu. Dia melintas dengan cengirannya. Sumpah, ganggu banget ini anak. Setelah Jev menjauh, fokus gue kembali ke sosok yang sedang tertawa dengan cantiknya.
“Eh, kata Jev tadi kalian ada kelas?” Tanya gue.
“Dosennya ada keperluan lain, ya dibatalin kelasnya.” Jelasnya masih di sisa-sisa tawanya. Gue mengangguk paham.
“Kenalin, gue Bastian.” Kenal gue sambil mengulurkan tangan. Dia menyambut beberapa detika setelahnya.
“Bukannya kamu sudah mengenalku? Sekarang biarkan aku yang mengenalmu, Bas.” Ucapnya sambil tersenyum. Tolong siapa saja bilang kalau ini bukan mimpi. Kalau ini mimpi, gue rela nggak bangun selamanya.
“Bel, hati-hati sama Bastian.” Suara Jev meyakinkan gue bahwa ini bukan mimpi.
Kita masih berjabat tangan. Senyum dia masih terukir manis di wajahnya. Dan gue berjanji akan mengubah jabat tangan pagi ini menjadi genggaman, suatu saat nanti.
-Triana Febri-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar