Selasa, 30 Oktober 2018

[CERPEN] TAKE YOUR TIME


TAKE YOUR TIME
“Karena kamu bukan robot. Kamu masih manusia yang ada batasnya”
***

Tidak ada yang salah dengan kesibukan. Tinggal bagaimana kita mengatur waktunya. Siapa yang bilang kesibukan bisa membuat lo melupakan diri lo sendiri? Menurut gue, nggak ada istilah kayak gitu. Ketika sibuk lo karena hal yang memang lo senengin, seharusnya nggak ada masalah dengan seberapa sibuk lo.
Gue selalu dididik untuk mengenal diri gue sendiri. Apa yang pengen gue lakuin, bagaimana gue seharusnya bersikap, dan bagaimana gue akan membawa hidup gue nanti. Selalu menjadi hal pokok dalam keluarga gue. Apalagi menjadi anak sulung dari tiga bersaudara, membuat gue harus menjadi kakak yang bisa diandalkan.
Kalau bertanya bagaimana kedua orang tua gue, mereka bukan tipe yang mengatur kehidupan anaknya. Seperti yang gue katakan tadi, gue didik mengenal diri gue sendiri. Jadi, orang tua gue memberikan sepenuhnya keputusan di tangan gue. Mereka sudah percaya, apa yang gue lakukan itulah yang gue inginkan.
Ya, bahkan sampai keputusan gue untuk kuliah di kota perantauan. “Biar Bintang mandiri. Percaya sama Bintang, pasti Bintang bakal baik-baik saja di sana.” Janji gue waktu itu, setelah menyampaikan keinginan gue untuk kuliah di perantauan pada kedua orang tua gue. “Ya udah, Mama sama Papa percaya sama Bintang. Jaga diri di sana.” Ijin yang gue terima dua tahun silam.
Dan sampai sekarang, gue masih megang apa yang gue janjikan dulu pada kedua orang tua gue. Menjaga kepercayaan yang udah mereka berikan, salah satu hal yang gue harus lakukan ketika posisi gue jauh dari orang tua. Bahkan sampai ketika gue dijuluki budak kesibukan.
Gue, Christian Bintang Pratama. Mahasiswa semester lima. Kalau kata temen-temen gue, “Bintang itu gak bisa dipisahin sama rapat”, ya sampai julukan budak kesibukan tersemat setelah nama panggilan gue.
“Rapat mulu lo.”
“Hari ini rapat dimana?”
“Orang sibuk mah beda, agenda rapat dimana-mana.”
Event apa lagi sekarang?”
“Nggak ada niatan mau pensiun gitu?”
Komentar-komentar yang sudah biasa gue terima dari temen-temen gue, terutama temen sekelas gue ketika gue ijin nggak bisa ikut kelompokan. Dan, gue nggak ada tersinggung sama sekali. Paling gue jawab ketawa aja. Ya, gimana ya, segitu cintanya gue sama rapat. Haha.
Berawal dari ketika gue sampai di kota ini pertama kali. Tanpa ada kenalan, gue bertekad gue harus bisa bertahan hidup di kota ini. Kemudian ketika hari-hari pengenalan kampus, gue paham kalau gue mau bertahan di kota ini, gue harus punya lingkungan yang bakal buat gue nyaman. Akhirnya gue putuskan buat masuk organisasi. Siapa tahu ketika gue jadi anak organisasi, gue bakal nemuin lingkungan itu. Dan sejak itulah, gue menjadi Bintang yang seperti ini.
“Bintang!” Gue reflek menoleh, ketika sebuah suara memanggil nama gue. Dan yang gue temukan, Rayhan yang berjalan mendekat.
“Ya. Ada apa, Ray?” Respon gue.
“Gimana progress buat besok? Acara amankan?” Tanya dia crosscheck, secara dia ketua panitia buat acara besok.
Ya, sekarang sedang ada persiapan buat salah satu acara tahunan organisasi gue di aula kampus. Sebenarnya serangkaian acaranya sudah dimulai minggu kemarin, seperti bazar dan festival band mahasiswa. Dan untuk besok itu acara puncaknya. Dan gue yang dipercayai buat jadi koordinator acaranya.
“Sejauh ini masih aman kok, Ray. Tadi gue udah konfirmasi sama para pengisi acara besok, dan mereka oke. Trus, sama koordinator lain juga masih aman-aman aja kok.” Lapor gue secara garis besar aja.
“Sip sip. Koordinasi terus aja, minimalisir kesalahan sekecil mungkin.” Ujarnya sambil menulis dibuku catatannya.
“Siap, Pak Ketua. Gue jamin, nama lo gak bakal jelek besok.” Ucap gue bercanda.
“Bisa aja lo.” Respon dia sambil tertawa. Paham sih gue gimana perasaannya H-1 acara seperti ini. Apalagi gue sama Rayhan udah temenan dari pertama kita masuk organisasi ini.
“Ya udah ya, gue crosscheck ke yang lain dulu. Kalau ada apa-apa kabari.” Pamitnya.
“Siap.” Jawab gue. Rayhan menepuk pundak gue sebelum dia melangkah pergi. Gue udah mau nulis chat di grup acara buat crosscheck ke staf-staf gue, ketika Rayhan kembali manggil gue.
“Yaps.” Gue langsung noleh ke dia.
“Kayaknya ada yang kelupaan lo crosscheck deh.” Ucapnya.
“Hah?” Gue kaget. “Kelupaan gue check? Apaan? Perasaan udah semua deh.” Gue langsung buka note di hp.
“Anindira.” Ketika nama itu di sebut, otomatis gue berhenti scroll up note gue. Gue langsung noleh ke Rayhan. Menunggu kejelasan dari ucapannya.
“Lo kayaknya harus chek dia deh. Gue tadi ketemu anak-anak dekdok di kantin, dan dia nggak ada. Kata Faisal, dia nolak di ajak makan, mau kelarin urusan dekdok dulu. Coba lo chek, tau sendirikan Anindira gimana orangnya.” Jelas Rayhan, kemudian melanjutkan langkahnya.
Ketika Rayhan sudah semakin menjauh, gue segera membuka aplikasi chat, bukan lagi untuk crosscheck staf gue, tapi untuk mengirim pesan pada seseorang yang namanya selalu di deretan paling atas. Anindira.
Namun, tak juga ada respon. Masih tanda ceklist abu-abu di samping pesan yang gue kirim beberapa menit yang lalu. Kebiasaan seorang Anindira, mengesampingkan semuanya ketika dia lagi berada di saat yang seperti ini. Dia bakal lupa waktu, lupa makan, lupa istirahat. Itu yang selalu gue ingatkan padanya.
Akhirnya, gue putuskan untuk mencarinya di sekitar aula. Di tempat yang mungkin perlengkapan dekorasi berada. Karena dia bakal di sana. Dan benar saja, gue melihatnya. Terduduk menyandar di tembok, dengan kepala yang berada di atas lututnya. Rambut sebahu yang kali ini ia gerai mampu menyembunyikan wajahnya. Gue segera mendekatinya.
“Nin?” Panggil gue pelan sambil menyibak rambutnya. Dia masih bergeming. “Anindira? Hei!” Panggil gue lagi sambil menggoyangkan bahunya. Akhirnya dia mengangkat wajahnya.
“Abin?” Tak lupa senyum tipisnya. “Ngapain?” Tanyanya seperti tak terjadi apa-apa sambil merapikan rambutnya.
“Ngapain di sini?” Tanya gue langsung.
“Ngapain? Ya, ini ngurus dekorasilah.” Jawabnya santai.
“Anak dekdok yang lain mana?”
“Lagi pada makan. Kenapa sih kamu? Ada perubahan dekorasi atau gimana?”
“Trus kamu sendiri udah makan?” Gue mengacuhkan pertanyaan terakhirnya.
“Em..nanti. Gimana, ada perubahan dekorasi buat besok atau gimana?” Dia mengulang pertanyaannya yang gak bakal gue jawab. Ya, karena memang gak ada perubahan apa-apa mengenai dekorasi dan alasan gue nyari dia bukan karena itu.
“Yuk?!” Ucap gue sambil menariknya buat berdiri.
“Kemana?”
“Makan. Kamu belum makan kan?”
“Nanti, Bin. Aku masih ngurus dekdok ini.”
“Itu bisa dilanjut nanti. Sekarang kita makan dulu, Nin.” Ucap gue sambil menggandeng tangannya untuk pergi makan.
“Bintang, bentar.” Ada penekanan ketika dia memanggil nama gue dengan Bintang. Gue kembali menoleh padanya yang masih tak beranjak dari tempatnya. “Kamu sendiri yang bilang kita harus tetap profesional. Hubungan kita jangan sampai ganggu tugas kita. Jadi, aku mohon kamu lakuin apa yang kita sepakati. Kamu kalau mau makan, ya makan dulu aja. Dekdok masih banyak yang harus diurus, Bin” Jelasnya. Ya, selama satu setengah tahun ini gue sama dia memang ada hubungan dan kita berada di organisasi yang sama, dan karena itu kita sebisa mungkin gak menyampurkan masalah pribadi ke organisasi.
“Dengan kamu yang nglewatin waktu makan kamu? Dekdok kurang apa lagi? Kata Faisal semuanya udah beres.” Ya setahu gue dekdok udah tinggal ngerapiin dikit.
“Bin..”
“Ayolah, Nin, jangan kayak gini.” Selama kita menjalin hubungan, Anindira yang keras kepala yang selalu membuat gue tak bisa berbuat apa-apa. Tepat sebelum gue dan Anindira semakin memanas, Faisal datang dengan beberapa anak dekdok.
“Sal, handle dulu dekdok ya? Gue culik dulu koordinator lo.” Ucap gue langsung menarik Anindira pergi dari sana.
“Bawa aja, Bro. Suruh istirahat, daripada besok dia tumbang, dekdok yang bakal handle siapa?” Teriak Faisal yang masih bisa gue dengar. Gue hanya mengangkat tangan tanda paham.
Tak ada perlawanan bahkan suara sedikitpun dari Anindira sampai akhirnya gue bisa membawanya pergi dari aula dan berakhir di salah satu tempat makan dekat kampus. Begitu sampai, dia langsung duduk dan memalingkan wajahnya. Menghindari kontak mata dengan gue.
“Hei, Anindra?!” Dia masih menolak untuk menoleh ke gue.
“Anin, jangan ginilah. Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa.” Ucap gue pelan. “Ngomong dong, Nin. Jangan diem gini.” Gue terus membujuknya. Akhirnya dia menoleh.
“Makasih udah khawatirin aku. Tapi tadi masih banyak yang harus aku kerjain, Bin.” Ucapnya ketus. Mungkin dia masih marah karena gue paksa buat istirahat.
“Kamu gak kerja sendiri. Kamu punya tim, Nin. Kamu nyuruh mereka istirahat, kamu juga harus istirahat.” Ujar gue. Anindira selalu seperti ini. Dimanapun, dia tak bisa dipisahkan dengan kalimat, “udah, gue aja” yang kadang bikin orang lain gak enak.
Tak ada respon dari dia. Tapi sorot matanya sudah meredup. Sudah tak ada kilatan marah seperti tadi. Dan itu artinya dia udah siap mendengarkan.
“Anidira, dengerin ya?” Ucap gue sambil memainkan jari-jarinya. “Kamu mau sibuk, silakan. Kamu mau gak ngasih kabar, nggak papa. Aku cuma minta, jangan nekat. Jangan maksain diri kamu sendiri. Makan waktunya makan. Istirahat waktunya istirahat. Karena kamu bukan robot. Kamu masih manusia yang ada batasnya.” Ucap gue pelan. Dia hanya menunduk.
“Maaf.” Itu yang gue dengar ketika dia sudah mengangkat wajahnya.
“Gak perlu minta maaf, nggak ada yang salah di sini. Aku cuma minta, ini jadi yang terakhir kali. Besok-besok aku gak mau denger ada yang bilang ke aku kayak gini lagi. Kamu punya temen, Nin. Kerjain bareng-bareng, karena kamu gak kerja sendiri di sini. Jangan maksain tubuh kamu juga, kamu harus istirahat. Kalau nanti, gak ada aku yang bakal seret kamu kayak tadi gimana, kasian temen-temen kamu.” Dia hanya mengangguk pelan.
“Udah ya, sekarang kita makan dan istirahat di sini sebentar. Nanti baru balik ke Aula.” Ucap gue sambil membuka buku menu yang ada di depan gue.
“Tapi, Bin..”
“Aku udah bilang ke yang lain kok, kamu tenang aja.” Gue paham apa yang akan dia ucapkan. Dia hanya mengangguk dan mengikuti apa yang gue katakan.
Memang, gue mangamini orang-orang yang segitu cintanya dengan kesibukan, karena gue juga seperti itu. Tapi, gue juga gak lantas setuju dengan orang-orang yang terlalu memaksakan. Sibuk boleh, nekat jangan. Lo yang paham sama diri lo sendiri, sampai mana batas limit lo. Kalau udah sampai batasnya, istirahat jangan justru nekat. Karena lo masih punya hal lain yang butuh kewarasan.

--Triana Febri--
Teruntuk, seseorang yang selalu mengusahakan. 
Seseorang yang menjadikan teman-temannya hal yang paling diprioritaskan. 
Seseorang yang menyebut dirinya sendiri budak kesibukan. 
Seseorang yang rasa lelahnya selalu ia sembunyikan. 
Tolong, istirahatlah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar