TAKE
YOUR TIME
“Karena kamu bukan robot. Kamu masih
manusia yang ada batasnya”
***
Tidak ada yang salah
dengan kesibukan. Tinggal bagaimana kita mengatur waktunya. Siapa yang bilang
kesibukan bisa membuat lo melupakan diri lo sendiri? Menurut gue, nggak ada
istilah kayak gitu. Ketika sibuk lo karena hal yang memang lo senengin,
seharusnya nggak ada masalah dengan seberapa sibuk lo.
Gue selalu dididik untuk
mengenal diri gue sendiri. Apa yang pengen gue lakuin, bagaimana gue seharusnya
bersikap, dan bagaimana gue akan membawa hidup gue nanti. Selalu menjadi hal
pokok dalam keluarga gue. Apalagi menjadi anak sulung dari tiga bersaudara,
membuat gue harus menjadi kakak yang bisa diandalkan.
Kalau bertanya bagaimana
kedua orang tua gue, mereka bukan tipe yang mengatur kehidupan anaknya. Seperti
yang gue katakan tadi, gue didik mengenal diri gue sendiri. Jadi, orang tua gue
memberikan sepenuhnya keputusan di tangan gue. Mereka sudah percaya, apa yang
gue lakukan itulah yang gue inginkan.
Ya, bahkan sampai keputusan
gue untuk kuliah di kota perantauan. “Biar Bintang mandiri. Percaya sama
Bintang, pasti Bintang bakal baik-baik saja di sana.” Janji gue waktu itu,
setelah menyampaikan keinginan gue untuk kuliah di perantauan pada kedua orang
tua gue. “Ya udah, Mama sama Papa percaya sama Bintang. Jaga diri di sana.”
Ijin yang gue terima dua tahun silam.
Dan sampai sekarang, gue
masih megang apa yang gue janjikan dulu pada kedua orang tua gue. Menjaga
kepercayaan yang udah mereka berikan, salah satu hal yang gue harus lakukan
ketika posisi gue jauh dari orang tua. Bahkan sampai ketika gue dijuluki budak
kesibukan.
Gue, Christian Bintang
Pratama. Mahasiswa semester lima. Kalau kata temen-temen gue, “Bintang itu gak
bisa dipisahin sama rapat”, ya sampai julukan budak kesibukan tersemat setelah
nama panggilan gue.
“Rapat mulu lo.”
“Hari ini rapat dimana?”
“Orang sibuk mah beda,
agenda rapat dimana-mana.”
“Event apa lagi
sekarang?”
“Nggak ada niatan mau pensiun
gitu?”
Komentar-komentar yang
sudah biasa gue terima dari temen-temen gue, terutama temen sekelas gue ketika
gue ijin nggak bisa ikut kelompokan. Dan, gue nggak ada tersinggung sama
sekali. Paling gue jawab ketawa aja. Ya, gimana ya, segitu cintanya gue sama
rapat. Haha.
Berawal dari ketika gue
sampai di kota ini pertama kali. Tanpa ada kenalan, gue bertekad gue harus bisa
bertahan hidup di kota ini. Kemudian ketika hari-hari pengenalan kampus, gue
paham kalau gue mau bertahan di kota ini, gue harus punya lingkungan yang bakal
buat gue nyaman. Akhirnya gue putuskan buat masuk organisasi. Siapa tahu ketika
gue jadi anak organisasi, gue bakal nemuin lingkungan itu. Dan sejak itulah,
gue menjadi Bintang yang seperti ini.
“Bintang!” Gue reflek
menoleh, ketika sebuah suara memanggil nama gue. Dan yang gue temukan, Rayhan
yang berjalan mendekat.
“Ya. Ada apa, Ray?”
Respon gue.
“Gimana progress buat
besok? Acara amankan?” Tanya dia crosscheck,
secara dia ketua panitia buat acara besok.
Ya, sekarang sedang ada
persiapan buat salah satu acara tahunan organisasi gue di aula kampus.
Sebenarnya serangkaian acaranya sudah dimulai minggu kemarin, seperti bazar dan
festival band mahasiswa. Dan untuk besok itu acara puncaknya. Dan gue yang
dipercayai buat jadi koordinator acaranya.
“Sejauh ini masih aman
kok, Ray. Tadi gue udah konfirmasi sama para pengisi acara besok, dan mereka
oke. Trus, sama koordinator lain juga masih aman-aman aja kok.” Lapor gue
secara garis besar aja.
“Sip sip. Koordinasi
terus aja, minimalisir kesalahan sekecil mungkin.” Ujarnya sambil menulis
dibuku catatannya.
“Siap, Pak Ketua. Gue
jamin, nama lo gak bakal jelek besok.” Ucap gue bercanda.
“Bisa aja lo.” Respon dia
sambil tertawa. Paham sih gue gimana perasaannya H-1 acara seperti ini. Apalagi
gue sama Rayhan udah temenan dari pertama kita masuk organisasi ini.
“Ya udah ya, gue crosscheck ke yang lain dulu. Kalau ada
apa-apa kabari.” Pamitnya.
“Siap.” Jawab gue. Rayhan
menepuk pundak gue sebelum dia melangkah pergi. Gue udah mau nulis chat di grup
acara buat crosscheck ke staf-staf
gue, ketika Rayhan kembali manggil gue.
“Yaps.” Gue langsung
noleh ke dia.
“Kayaknya ada yang
kelupaan lo crosscheck deh.” Ucapnya.
“Hah?” Gue kaget.
“Kelupaan gue check? Apaan? Perasaan udah semua deh.” Gue langsung buka note di
hp.
“Anindira.” Ketika nama
itu di sebut, otomatis gue berhenti scroll
up note gue. Gue langsung noleh ke Rayhan. Menunggu kejelasan dari
ucapannya.
“Lo kayaknya harus chek
dia deh. Gue tadi ketemu anak-anak dekdok di kantin, dan dia nggak ada. Kata
Faisal, dia nolak di ajak makan, mau kelarin urusan dekdok dulu. Coba lo chek,
tau sendirikan Anindira gimana orangnya.” Jelas Rayhan, kemudian melanjutkan
langkahnya.
Ketika Rayhan sudah
semakin menjauh, gue segera membuka aplikasi chat, bukan lagi untuk crosscheck staf gue, tapi untuk mengirim
pesan pada seseorang yang namanya selalu di deretan paling atas. Anindira.
Namun, tak juga ada
respon. Masih tanda ceklist abu-abu
di samping pesan yang gue kirim beberapa menit yang lalu. Kebiasaan seorang
Anindira, mengesampingkan semuanya ketika dia lagi berada di saat yang seperti
ini. Dia bakal lupa waktu, lupa makan, lupa istirahat. Itu yang selalu gue
ingatkan padanya.
Akhirnya, gue putuskan
untuk mencarinya di sekitar aula. Di tempat yang mungkin perlengkapan dekorasi berada.
Karena dia bakal di sana. Dan benar saja, gue melihatnya. Terduduk menyandar di
tembok, dengan kepala yang berada di atas lututnya. Rambut sebahu yang kali ini
ia gerai mampu menyembunyikan wajahnya. Gue segera mendekatinya.
“Nin?” Panggil gue pelan
sambil menyibak rambutnya. Dia masih bergeming. “Anindira? Hei!” Panggil gue
lagi sambil menggoyangkan bahunya. Akhirnya dia mengangkat wajahnya.
“Abin?” Tak lupa senyum
tipisnya. “Ngapain?” Tanyanya seperti tak terjadi apa-apa sambil merapikan
rambutnya.
“Ngapain di sini?” Tanya
gue langsung.
“Ngapain? Ya, ini ngurus
dekorasilah.” Jawabnya santai.
“Anak dekdok yang lain
mana?”
“Lagi pada makan. Kenapa
sih kamu? Ada perubahan dekorasi atau gimana?”
“Trus kamu sendiri udah
makan?” Gue mengacuhkan pertanyaan terakhirnya.
“Em..nanti. Gimana, ada
perubahan dekorasi buat besok atau gimana?” Dia mengulang pertanyaannya yang
gak bakal gue jawab. Ya, karena memang gak ada perubahan apa-apa mengenai
dekorasi dan alasan gue nyari dia bukan karena itu.
“Yuk?!” Ucap gue sambil
menariknya buat berdiri.
“Kemana?”
“Makan. Kamu belum makan
kan?”
“Nanti, Bin. Aku masih
ngurus dekdok ini.”
“Itu bisa dilanjut nanti.
Sekarang kita makan dulu, Nin.” Ucap gue sambil menggandeng tangannya untuk
pergi makan.
“Bintang, bentar.” Ada
penekanan ketika dia memanggil nama gue dengan Bintang. Gue kembali menoleh
padanya yang masih tak beranjak dari tempatnya. “Kamu sendiri yang bilang kita
harus tetap profesional. Hubungan kita jangan sampai ganggu tugas kita. Jadi,
aku mohon kamu lakuin apa yang kita sepakati. Kamu kalau mau makan, ya makan
dulu aja. Dekdok masih banyak yang harus diurus, Bin” Jelasnya. Ya, selama satu
setengah tahun ini gue sama dia memang ada hubungan dan kita berada di
organisasi yang sama, dan karena itu kita sebisa mungkin gak menyampurkan
masalah pribadi ke organisasi.
“Dengan kamu yang
nglewatin waktu makan kamu? Dekdok kurang apa lagi? Kata Faisal semuanya udah
beres.” Ya setahu gue dekdok udah tinggal ngerapiin dikit.
“Bin..”
“Ayolah, Nin, jangan
kayak gini.” Selama kita menjalin hubungan, Anindira yang keras kepala yang
selalu membuat gue tak bisa berbuat apa-apa. Tepat sebelum gue dan Anindira
semakin memanas, Faisal datang dengan beberapa anak dekdok.
“Sal, handle dulu dekdok ya? Gue culik dulu
koordinator lo.” Ucap gue langsung menarik Anindira pergi dari sana.
“Bawa aja, Bro. Suruh
istirahat, daripada besok dia tumbang, dekdok yang bakal handle siapa?” Teriak Faisal yang masih bisa gue dengar. Gue hanya
mengangkat tangan tanda paham.
Tak ada perlawanan bahkan
suara sedikitpun dari Anindira sampai akhirnya gue bisa membawanya pergi dari aula
dan berakhir di salah satu tempat makan dekat kampus. Begitu sampai, dia
langsung duduk dan memalingkan wajahnya. Menghindari kontak mata dengan gue.
“Hei, Anindra?!” Dia
masih menolak untuk menoleh ke gue.
“Anin, jangan ginilah.
Aku cuma gak mau kamu kenapa-napa.” Ucap gue pelan. “Ngomong dong, Nin. Jangan
diem gini.” Gue terus membujuknya. Akhirnya dia menoleh.
“Makasih udah khawatirin
aku. Tapi tadi masih banyak yang harus aku kerjain, Bin.” Ucapnya ketus.
Mungkin dia masih marah karena gue paksa buat istirahat.
“Kamu gak kerja sendiri.
Kamu punya tim, Nin. Kamu nyuruh mereka istirahat, kamu juga harus istirahat.”
Ujar gue. Anindira selalu seperti ini. Dimanapun, dia tak bisa dipisahkan
dengan kalimat, “udah, gue aja” yang kadang bikin orang lain gak enak.
Tak ada respon dari dia.
Tapi sorot matanya sudah meredup. Sudah tak ada kilatan marah seperti tadi. Dan
itu artinya dia udah siap mendengarkan.
“Anidira, dengerin ya?”
Ucap gue sambil memainkan jari-jarinya. “Kamu mau sibuk, silakan. Kamu mau gak
ngasih kabar, nggak papa. Aku cuma minta, jangan nekat. Jangan maksain diri
kamu sendiri. Makan waktunya makan. Istirahat waktunya istirahat. Karena kamu
bukan robot. Kamu masih manusia yang ada batasnya.” Ucap gue pelan. Dia hanya
menunduk.
“Maaf.” Itu yang gue
dengar ketika dia sudah mengangkat wajahnya.
“Gak perlu minta maaf,
nggak ada yang salah di sini. Aku cuma minta, ini jadi yang terakhir kali. Besok-besok
aku gak mau denger ada yang bilang ke aku kayak gini lagi. Kamu punya temen,
Nin. Kerjain bareng-bareng, karena kamu gak kerja sendiri di sini. Jangan
maksain tubuh kamu juga, kamu harus istirahat. Kalau nanti, gak ada aku yang
bakal seret kamu kayak tadi gimana, kasian temen-temen kamu.” Dia hanya
mengangguk pelan.
“Udah ya, sekarang kita
makan dan istirahat di sini sebentar. Nanti baru balik ke Aula.” Ucap gue
sambil membuka buku menu yang ada di depan gue.
“Tapi, Bin..”
“Aku udah bilang ke yang
lain kok, kamu tenang aja.” Gue paham apa yang akan dia ucapkan. Dia hanya
mengangguk dan mengikuti apa yang gue katakan.
Memang, gue mangamini
orang-orang yang segitu cintanya dengan kesibukan, karena gue juga seperti itu.
Tapi, gue juga gak lantas setuju dengan orang-orang yang terlalu memaksakan.
Sibuk boleh, nekat jangan. Lo yang paham sama diri lo sendiri, sampai mana
batas limit lo. Kalau udah sampai batasnya, istirahat jangan justru nekat.
Karena lo masih punya hal lain yang butuh kewarasan.
--Triana
Febri--
Teruntuk, seseorang yang selalu mengusahakan.
Seseorang yang menjadikan teman-temannya hal yang paling diprioritaskan.
Seseorang yang menyebut dirinya sendiri budak kesibukan.
Seseorang yang rasa lelahnya selalu ia sembunyikan.
Tolong, istirahatlah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar