THE WAY
“You just have to go your way now.” - My Pace, Stray Kids
***
Aku sempat membaca sebuah
buku—yang ku lupa apa judulnya—tentang topeng yang digunakan manusia. Manusia
dan topeng adalah kombinasi yang tak bisa dipisahkan. Dalam buku itu tertulis
ada tiga topeng yang digunakan manusia, topeng ketika di depan orang banyak,
topeng ketika berada dengan orang terdekat, dan topeng ketika dia sendiri. Banyak
orang yang menggunakan ketiga topeng yang sangat berbeda, tapi tak sedikit juga
yang mempunyai topeng hampir sama.
Seperti dua orang yang
sangat ku kenal. Kedua-duanya sedang duduk di depanku saat ini. Di sisi
kananku, seseorang yang tak bisa dipisahkan dengan ponselnya, Jinandra Langit
Prasetya atau biasa ku panggil dia Andra. Pecandu berat game, segala game. Bahkan
bisa dibilang fungsi ponselnya lebih sering untuk nge-game daripada komunikasi. Saat ini saja, dia sudah seperti orang
gila. Mengumpat, marah, tertawa. Begitu terus ketika dia sudah fokus dengan game-nya.
“Nge-game bisa melatih cara berpikir lho.” Pembelaan tetapnya.
Kemudian di sisi kiriku,
kebalikan dari berisiknya Andra. Alexander Kavin atau cukup panggil dia Kavin,
karena dia kurang suka dengan nama depannya. Ketika Andra sudah sibuk dengan game di ponselnya, maka Kavin hanya akan
diam sambil memainkan apapun yang ada di dekatnya. Dan saat ini botol air
mineral yang jadi objeknya. Ketika banyak orang yang akan protes bagaimana
berisiknya Andra, hanya Kavin yang akan tetap tenang duduk di samping Andra
sambil berucap, “Udah biarin aja.” Dengan ekspresi datarnya, tentu saja.
Ketika dilihat sekilas, memang
Andra dan Kavin sangat bertolak belakang. Andra si berisik, Kavin si pendiam.
Andra si ramah, Kavin si datar. Andra yang mudah akrab dengan siapa saja, Kavin
yang dikenal hanya karena teman Andra. Dari kecil sampai saat ini, ketika kita
sudah ber-title mahasiswa, mereka
berdua masih di kenal dengan seperti itu. Ya, kita bertiga berteman dari kecil.
Tetanggaan, sesederhana itu.
“Agatha, kok betah sih
berteman dengan mereka berdua? Andra dan Kavin. Bukannya susah ya, ngadepin dua
orang yang sifatnya beda gitu?” Bukan hanya sekali dua kali pertanyaan itu
mampir ke setiap obrolan dengan teman-temanku, ketika mereka tahu pertemananku
dengan Andra dan Kavin.
“Biasa aja.” Seperti
sudah disetting, jawaban itu yang
selalu ku lontarkan untuk pertanyaan mengenai pertemanan kita bertiga.
Seperti yang ku katakan
mengenai topeng dan manusia, Andra dan Kavin juga tak lepas dengan hal itu. Tentang
Andra yang begini, Kavin yang begitu, itu hanya topeng yang mereka perlihatkan
di depan banyak orang. Yang mereka berdua perlihatkan di depanku, pastinya
berbeda.
“Kenapa setiap orang
berbeda-beda?” Pertanyaan itu tiba-tiba ku lontarkan begitu saja.
“Ya iyalah beda-beda,
kalau sama pasti susah ngenalinnya.” Jawab Andra masih dengan pandangan tak
beralih dari ponselnya. Sedangkan Kavin hanya mendongak tanpa menjawab, atau
belum ada niatan untuk menjawab.
“Bukan gitu, Ndra.”
Ucapku gemas dengan makhuk bernama Andra. “Gini, kenapa orang-orang itu harus menjadi
orang yang berbeda karena keadaan. Di saat keadaan seperti ini, mereka menjadi
orang yang begini. Di saat di depan si A, mereka jadi orang yang seperti ini.
Kalian pahamkan yang aku maksud? Kenapa mereka harus seperti itu?” Aku coba
menjelaskan dengan sedikit panjang, berharap mereka berdua menangkap apa yang
aku maksud.
“Bukan hanya mereka, tapi
kita. Kita juga seperti itu, Tha.” Ucap Andra. Kali ini dengan ponsel yang ia
letakkan di depannya, dengan layar yang sudah menghitam.
“Kita? Aku nggak.” Aku
menyangkal. Menurutku, aku tak termasuk pada pertanyaan yang ku lontarkan tadi.
“Lo cuma belum sadar,
Tha.” Kavin angkat bicara. “Tanpa lo sadari, lo itu sama kayak gue, Andra dan
orang-orang yang lo pertanyakan tadi. Dan itu bukan keharusan, tapi emang
seperti itu seharusnya.” Jawab Kavin datar.
“Oke, tapi kenapa? Kenapa
manusia seperti itu? Kenapa mereka selalu menjadi orang yang berbeda ketika
berhadapan dengan orang lain? Seperti menggunakan topeng.” Entah kenapa aku
ingin mendengarkan pendapat mereka tentang hal ini.
“Untuk bertahan,
mungkin?” Jawab Andra. Reflek aku langsung fokus pada Andra. Kavin hanya
mengangguk, membenarkan ucapan Andra.
“Ngapain liatin gue
segitunya? Biasa aja.” Andra yang terlihat aktif di lingkungan pertemanannya,
memang tak penah suka ketika menjadi titik fokus. Ya, dia memang begitu.
“Kenapa?” Tanyaku
mengabaikan protesnya.
“Ehm…gini,” Andra menjeda
ucapannya, mungkin mencari perumpamaan yang pas. “Orang-orang seperti gue, yang
kata lo tadi menggunakan topeng, hanya berusaha bertahan. Mungkin enak jadi
orang yang dari lahir sudah punya ‘nama’, mereka akan diterima dimana saja.
Tapi, untuk orang yang seperti gue, Kavin, harus bertahan dengan cara apapun,
dan salah satunya dengan jadi orang yang berbeda tergantung dengan siapa kita
berhadapan atau situasi seperti apa. Karena ketika kita tidak bisa bertahan,
kita akan masuk ke kelompok terbuang.” Beginilah Andra terlepas dari semua game-nya. Dia bisa jadi orang yang
paling serius, bijak atau apapun itu istilahnya, ketika kita hanya bertiga.
Tidak semua orang yang bisa melihat sisi Andra yang seperti ini.
“Dan mungkin, lo termasuk
orang yang dari lahir sudah punya ‘nama’, Tha.” Kavin menimpali.
“Kok bisa?” Protesku
kesekian kalinya.
“Ya, seperti yang
diomongin Andra tadi, hanya orang-orang seperti gue dan Andra yang mau nggak
mau bertahan agar tidak menjadi kelompok terbuang, dengan topeng sekalipun. Dan
lo, gue rasa lo nggak perlu itu, Tha. Karena lo udah punya panggung lo, yang
bakal nerima lo.” Jelas Kavin dengan nada yang santai. Ini yang berbeda dari Kavin
yang biasa dikenal oleh kebanyakan orang. Jika biasanya dia memilih diam tak
peduli dengan sekelilingnya, seperti dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri,
padahal dia adalah orang yang paling peka diantara kita bertiga. Ucapannya yang
kelewat santai justru menjadi kekuatannya. Seperti ucapannya tadi.
“Ah..udahlah. Ngapain
bahas ginian. Terlalu berat buat konsumsi setelah tadi kuliah 6 sks tanpa
jeda.” Sungut Andra sambil mengacak rambutnya. Sedetik kemudian dia sudah
kembali fokus pada ponselnya. Tanda kalau dia sudah tidak mau membahas lagi
tentang apa yang sebelumnya kita bicarakan. Begitu juga Kavin yang kali ini
sudah fokus pada bukunya. Dan ketika sudah seperti itu, tak ada pilihan untukku
selain mengakhiri obrolan tersebut.
“Lo boleh lihat orang
lain yang berjalan berdampingan atau orang yang berjalan di sekitar lo, tapi lo
harus tetep fokus sama jalan lo, Tha. Gak usah peduli gimana orang lain
nyelesain perjalanan itu. Yang lo harus peduliin, lo harus tetap nyelesain
perjalanan lo, dengan cara lo sendiri tentunya.” Suara Andra kembali mengambil
alih keheningan. Namun pandangannya tak beralih dari ponselnya.
Aku tak merespon
pernyataan Andra karena memang dia tidak butuh itu. Obrolan pendek kita bertiga
tadi terus berputar di kepalaku. Bantahanku, jawabannya Andra, ucapannya Kavin,
semua ku cerna baik-baik. Dan, apa yang dikatakan mereka berdua ada benarnya.
Semua orang punya caranya sendiri untuk bertahan, dan teori manusia dan topeng
adalah salah satu caranya.
Pandanganku kembali
terfokus pada mereka berdua. Andra dengan gamenya,
Kavin dengan bukunya. Semua anggapan orang lain tentang mereka berdua, adalah
gelembung yang sengaja mereka ciptakan. Andra dan Kavin hanya ingin bertahan. Mereka
menutupi identitas yang tak ingin mereka perlihatkan. Agar mereka tak mudah dijatuhkan.
--Triana
Febri--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar