Sabtu, 29 September 2018

[CERPEN] THE WAY


THE WAY
“You just have to go your way now.” - My Pace, Stray Kids
***

Aku sempat membaca sebuah buku—yang ku lupa apa judulnya—tentang topeng yang digunakan manusia. Manusia dan topeng adalah kombinasi yang tak bisa dipisahkan. Dalam buku itu tertulis ada tiga topeng yang digunakan manusia, topeng ketika di depan orang banyak, topeng ketika berada dengan orang terdekat, dan topeng ketika dia sendiri. Banyak orang yang menggunakan ketiga topeng yang sangat berbeda, tapi tak sedikit juga yang mempunyai topeng hampir sama.
Seperti dua orang yang sangat ku kenal. Kedua-duanya sedang duduk di depanku saat ini. Di sisi kananku, seseorang yang tak bisa dipisahkan dengan ponselnya, Jinandra Langit Prasetya atau biasa ku panggil dia Andra. Pecandu berat game, segala game. Bahkan bisa dibilang fungsi ponselnya lebih sering untuk nge-game daripada komunikasi. Saat ini saja, dia sudah seperti orang gila. Mengumpat, marah, tertawa. Begitu terus ketika dia sudah fokus dengan game-nya.
“Nge-game bisa melatih cara berpikir lho.” Pembelaan tetapnya.
Kemudian di sisi kiriku, kebalikan dari berisiknya Andra. Alexander Kavin atau cukup panggil dia Kavin, karena dia kurang suka dengan nama depannya. Ketika Andra sudah sibuk dengan game di ponselnya, maka Kavin hanya akan diam sambil memainkan apapun yang ada di dekatnya. Dan saat ini botol air mineral yang jadi objeknya. Ketika banyak orang yang akan protes bagaimana berisiknya Andra, hanya Kavin yang akan tetap tenang duduk di samping Andra sambil berucap, “Udah biarin aja.” Dengan ekspresi datarnya, tentu saja.
Ketika dilihat sekilas, memang Andra dan Kavin sangat bertolak belakang. Andra si berisik, Kavin si pendiam. Andra si ramah, Kavin si datar. Andra yang mudah akrab dengan siapa saja, Kavin yang dikenal hanya karena teman Andra. Dari kecil sampai saat ini, ketika kita sudah ber-title mahasiswa, mereka berdua masih di kenal dengan seperti itu. Ya, kita bertiga berteman dari kecil. Tetanggaan, sesederhana itu.
“Agatha, kok betah sih berteman dengan mereka berdua? Andra dan Kavin. Bukannya susah ya, ngadepin dua orang yang sifatnya beda gitu?” Bukan hanya sekali dua kali pertanyaan itu mampir ke setiap obrolan dengan teman-temanku, ketika mereka tahu pertemananku dengan Andra dan Kavin.
“Biasa aja.” Seperti sudah disetting, jawaban itu yang selalu ku lontarkan untuk pertanyaan mengenai pertemanan kita bertiga.
Seperti yang ku katakan mengenai topeng dan manusia, Andra dan Kavin juga tak lepas dengan hal itu. Tentang Andra yang begini, Kavin yang begitu, itu hanya topeng yang mereka perlihatkan di depan banyak orang. Yang mereka berdua perlihatkan di depanku, pastinya berbeda.
“Kenapa setiap orang berbeda-beda?” Pertanyaan itu tiba-tiba ku lontarkan begitu saja.
“Ya iyalah beda-beda, kalau sama pasti susah ngenalinnya.” Jawab Andra masih dengan pandangan tak beralih dari ponselnya. Sedangkan Kavin hanya mendongak tanpa menjawab, atau belum ada niatan untuk menjawab.
“Bukan gitu, Ndra.” Ucapku gemas dengan makhuk bernama Andra. “Gini, kenapa orang-orang itu harus menjadi orang yang berbeda karena keadaan. Di saat keadaan seperti ini, mereka menjadi orang yang begini. Di saat di depan si A, mereka jadi orang yang seperti ini. Kalian pahamkan yang aku maksud? Kenapa mereka harus seperti itu?” Aku coba menjelaskan dengan sedikit panjang, berharap mereka berdua menangkap apa yang aku maksud.
“Bukan hanya mereka, tapi kita. Kita juga seperti itu, Tha.” Ucap Andra. Kali ini dengan ponsel yang ia letakkan di depannya, dengan layar yang sudah menghitam.
“Kita? Aku nggak.” Aku menyangkal. Menurutku, aku tak termasuk pada pertanyaan yang ku lontarkan tadi.
“Lo cuma belum sadar, Tha.” Kavin angkat bicara. “Tanpa lo sadari, lo itu sama kayak gue, Andra dan orang-orang yang lo pertanyakan tadi. Dan itu bukan keharusan, tapi emang seperti itu seharusnya.” Jawab Kavin datar.
“Oke, tapi kenapa? Kenapa manusia seperti itu? Kenapa mereka selalu menjadi orang yang berbeda ketika berhadapan dengan orang lain? Seperti menggunakan topeng.” Entah kenapa aku ingin mendengarkan pendapat mereka tentang hal ini.
“Untuk bertahan, mungkin?” Jawab Andra. Reflek aku langsung fokus pada Andra. Kavin hanya mengangguk, membenarkan ucapan Andra.
“Ngapain liatin gue segitunya? Biasa aja.” Andra yang terlihat aktif di lingkungan pertemanannya, memang tak penah suka ketika menjadi titik fokus. Ya, dia memang begitu.
“Kenapa?” Tanyaku mengabaikan protesnya.
“Ehm…gini,” Andra menjeda ucapannya, mungkin mencari perumpamaan yang pas. “Orang-orang seperti gue, yang kata lo tadi menggunakan topeng, hanya berusaha bertahan. Mungkin enak jadi orang yang dari lahir sudah punya ‘nama’, mereka akan diterima dimana saja. Tapi, untuk orang yang seperti gue, Kavin, harus bertahan dengan cara apapun, dan salah satunya dengan jadi orang yang berbeda tergantung dengan siapa kita berhadapan atau situasi seperti apa. Karena ketika kita tidak bisa bertahan, kita akan masuk ke kelompok terbuang.” Beginilah Andra terlepas dari semua game-nya. Dia bisa jadi orang yang paling serius, bijak atau apapun itu istilahnya, ketika kita hanya bertiga. Tidak semua orang yang bisa melihat sisi Andra yang seperti ini.
“Dan mungkin, lo termasuk orang yang dari lahir sudah punya ‘nama’, Tha.” Kavin menimpali.
“Kok bisa?” Protesku kesekian kalinya.
“Ya, seperti yang diomongin Andra tadi, hanya orang-orang seperti gue dan Andra yang mau nggak mau bertahan agar tidak menjadi kelompok terbuang, dengan topeng sekalipun. Dan lo, gue rasa lo nggak perlu itu, Tha. Karena lo udah punya panggung lo, yang bakal nerima lo.” Jelas Kavin dengan nada yang santai. Ini yang berbeda dari Kavin yang biasa dikenal oleh kebanyakan orang. Jika biasanya dia memilih diam tak peduli dengan sekelilingnya, seperti dia terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, padahal dia adalah orang yang paling peka diantara kita bertiga. Ucapannya yang kelewat santai justru menjadi kekuatannya. Seperti ucapannya tadi.
“Ah..udahlah. Ngapain bahas ginian. Terlalu berat buat konsumsi setelah tadi kuliah 6 sks tanpa jeda.” Sungut Andra sambil mengacak rambutnya. Sedetik kemudian dia sudah kembali fokus pada ponselnya. Tanda kalau dia sudah tidak mau membahas lagi tentang apa yang sebelumnya kita bicarakan. Begitu juga Kavin yang kali ini sudah fokus pada bukunya. Dan ketika sudah seperti itu, tak ada pilihan untukku selain mengakhiri obrolan tersebut.
“Lo boleh lihat orang lain yang berjalan berdampingan atau orang yang berjalan di sekitar lo, tapi lo harus tetep fokus sama jalan lo, Tha. Gak usah peduli gimana orang lain nyelesain perjalanan itu. Yang lo harus peduliin, lo harus tetap nyelesain perjalanan lo, dengan cara lo sendiri tentunya.” Suara Andra kembali mengambil alih keheningan. Namun pandangannya tak beralih dari ponselnya.
Aku tak merespon pernyataan Andra karena memang dia tidak butuh itu. Obrolan pendek kita bertiga tadi terus berputar di kepalaku. Bantahanku, jawabannya Andra, ucapannya Kavin, semua ku cerna baik-baik. Dan, apa yang dikatakan mereka berdua ada benarnya. Semua orang punya caranya sendiri untuk bertahan, dan teori manusia dan topeng adalah salah satu caranya.
Pandanganku kembali terfokus pada mereka berdua. Andra dengan gamenya, Kavin dengan bukunya. Semua anggapan orang lain tentang mereka berdua, adalah gelembung yang sengaja mereka ciptakan. Andra dan Kavin hanya ingin bertahan. Mereka menutupi identitas yang tak ingin mereka perlihatkan. Agar mereka tak mudah dijatuhkan.

--Triana Febri--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar