PERJALANAN
‘Selamat menikmati perjalananmu,
apapun alasan dan tujuanmu.’
***
Aku selalu suka yang
namanya perjalanan. Entah itu perjalanan untuk pergi, ataupun untuk kembali.
Karena menurutku, di setiap perjalanan selalu ada hal baru yang aku temukan.
Entah itu kejadian, atau hanya pikiran-pikiran yang melintas sebentar.
Begitu juga saat ini. Aku
sedang berada di tengah perjalanan. Perjalanan untuk pulang lebih tepatnya.
Duduk sendiri di dalam sebuah bis yang melaju tak begitu kencang di atas karpet
hitam, sudah biasa bagiku ketika akhir pekan. Seperti saat ini, Sabtu sore
ketika aku memutuskan untuk pulang.
“Kuliah?” Pertayaan dari
kondektur ketika aku mengulurkan selembar uang berwarna hijau. Aku tetap
mengangguk, meskipun pertanyaan itu tak berhubungan apa-apa denga tarif
perjalananku. Karena meski si Bapak kondektur tahu kalau aku mahasiswa, tarifku
tak disamakan dengan pelajar berseragam.
Setelah si Bapak
kondektur beralih ke penumpang lain, aku menolehkan pandanganku pada jendela
yang berada tepat di sampingku. Perumahan, pertokoan, pematang sawah, taman
bermain, menjadi pemandangan yang biasa menemaniku ketika perjalanan. Seperti
potongan-potongan film yang silih berganti.
“Iya, ini aku masih di
jalan.” Kali ini suara berasal dari seseorang yang duduk di kursi depanku yang
berhasil mengalihkan perhatianku. Aku sedikit melirik ke pantulan bayangan dari
jendela di sebelahnya. Seorang perempuan dan sedang berbicara ditelepon.
“Tadi masih ada kegiatan,
baru bisa balik sore.” Aku masih menangkap obrolannya dengan seseorang di
seberang teleponnya.
“Iya..iya. Besok-besok pulang pagi.” Setelah itu, aku tak mendengar
lagi suaranya.
Tanpa sadar aku tersenyum
mendengar sedikit obrolan itu. Bukan, aku bukan orang yang suka menguping
pembicaraan orang lain. Hanya saja, aku suka memperhatikan apa saja yang mampir
ke indraku. Salah satunya ya obrolan telepon perempuan tadi. Salah satu hal
yang membuatku menyukai perjalanan.
Obrolan perempuan di
depanku membawaku ke bayangan seseorang. Mungkin lawan bicara perempuan tadi,
sama seperti seseorang yang aku kenal. Seseorang yang selalu memintaku untuk
pulang pagi hari.
“Besok
pulang pagi ya?” Permintaan yang selalu sama ketika aku menelponnya malam
sebelum aku pulang. Aku hanya meresponnya dengan tawa.
“Kok
ketawa sih? Pokoknya besok harus pulang pagi ya Saudara Faisal?”Ada nada sebal
di suaranya.
“Hei,
Ardhisya?!” Aku selalu suka namanya. Sesering apapun aku memanggilnya, seperti
tak pernah puas.
“Hm.”
“Kamu
tau kan, aku nggak bisa pulang pagi.” Jawabku malam itu.
“Meskipun
demi aku?”
“Dhis…”
Aku hanya berakhir dengan menyebut namanya. Dia tahu, demi apapun aku tidak
bisa pulang pagi hari, termasuk Sabtu pagi.
“Huuh..terserah,
Sal, terserah. Tapi jangan harap besok aku mau jemput kamu.” Ucapnya yang
justru membuatku tertawa. Karena aku tahu, kalimat itu yang selalu diucapkannya
ketika permintaannya tak bisa aku iyakan. Dan aku tahu, dia tidak serius dengan
ucapannya itu.
Ketika aku menyukai
sebuah perjalanan, ada banyak alasan di belakangnya. Perjalanan kembali, aku
akan segera bertemu dengan teman-temanku dan juga kesibukanku. Perjalanan
pulang, aku akan bertemu seseorang. Dia, Ardhisya, seseorang yang sudah mau
menjadi alasan untuk perjalanan pulang seorang Faisal Charros Anggarda.
Mungkin ketika orang
lain, lebih memilih pulang secepatnya untuk waktu yang lebih lama di rumah, aku
tidak. Meski aku punya seseorang yang hanya bisa ku temui ketika akhir pekan,
aku tetap tidak bisa menuruti permintaannya untuk pulang Sabtu pagi.
“Jadi
selama ini alasan lo pulang cuma karena Disya, gitu?” Tanya Bintang, salah satu
temanku ketika kita sedang mengobrol di teras kos beberapa hari yang lalu.
“Hm.”
“Parah.
Durhaka lo, Sal.” Ucapnya dengan tawa. “Sekali-kali pulang buat ketemu orang
tua gitu, Sal.” Imbuhnya dengan nasehat ringan seperti biasanya. Bintang salah
satu dari temanku yang sangat tahu kenapa aku selalu pulang Sabtu sore.
Aku dulu pernah melakukan
apa yang dikatakan Bintang. Pulang untuk bertemu orang tuaku. Yang memang sudah
seharusnya seperti itu. Tapi, ketika aku pulang dan menemukan rumah kosong diSabtu
pagi, alasan itu sudah hilang begitu saja.
Setelah kejadian itu,
daripada aku hanya menemukan rumah kosong dipagi hari, aku memutuskan untuk
kepulangan selanjutnya sore hari. Waktu dimana aku bisa mendapatkan sambutan
kepulangan oleh seseorang yang bisa ku temui sampai saat ini, Ardhisya.
Sekarang alasanku pulang hanya itu, mungkin ketika suatu saat bisa bertemu
orang tuaku, itu bonus. Aku selalu menolak pulang pagi bukan karena aku tidak
bisa, tapi karena memang aku tak mau. Karena buat apa pulang, ketika yang
menyambut hanya bangunan kosong.
Aku kembali memfokuskan
pandanganku pada luar jendela. Ternyata langit sudah mulai menggelap.
Pencahayaan sudah diambil alih oleh deretan lampu jalan. Melihat kolaborasi
semua pencahayaan ketika menyambut petang, membuatku tak pernah menyesal
tentang keputusan untuk perjalanan pulangku.
Seperti halnya perjalanan
pulangku yang ada alasan dan tujuan, begitu juga dengan perjalanan hidup.
Setiap orang punya perjalanannya hidupnya sendiri-sendiri, dengan alasan dan
tujuan yang berbeda-beda tentunya. Meski kita punya perjalanan sendiri-sendiri,
kita tidak bisa mengubah alur perjalanan yang sudah ditentukan, seperti halnya
aku yang tidak bisa meminta sopir bis untuk merubah alur perjalanan pulangku.
Kita hanya bisa melakukan dua hal, menikmati setiap perjalanan atau
melewatkannya begitu saja. Dan aku memilih menikmati setiap perjalanan.
‘Aku hampir sampai.
Sampai ketemu nanti.’ Pesan yang ku kirim kepada seseorang. Ketika perjalanan
pulangku sudah hampir berakhir.
--Triana
Febri--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar