SALAH SATU
“Kau tidak akan pernah bisa memegang
dua hal dengan sama eratnya.”
***
Tidak ada yang lebih baik
di antara meninggalkan ataupun ditinggalkan. Karena dua hal itu sama-sama
diikuti luka setelahnya.
Setiap orang yang memilih
meninggalkan bukan berarti dia egois. Siapa tahu dia pergi dengan luka yang
menghantarkannya. Dia harus pergi meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tak bisa
dia tinggalkan. Dia terluka, tentu saja. Begitu juga dengan orang yang memilih
ditinggalkan. Jangan berpikir kalau dia hanya mau terus diperjuangkan. Mungkin,
dia tahu memang di situlah tempatnya. Mau tidak mau dia harus bertahan. Meski
dia harus merelakan kepergian dan dia berakhir sendiri. Kedua-duanya
membutuhkan hati yang besar. Baik yang meninggalkan ataupun yang ditinggalkan.
Dua hal itulah yang tidak
pernah aku inginkan di dalam hidupku. Aku selalu berharap tidak akan pernah
berada diposisi keduanya, meninggalkan ataupun ditinggalkan. Dengan hidup yang
aku miliki, aku hanya ingin tinggal. Menetap dan berjalan beriringan dengan
orang-orang yang menemaniku dalam waktu yang panjang. Tidak ada salam
perpisahan ataupun saling melepaskan.
Julian Arthur Pratmayasa.
Seperti kebanyakan orang yang dipanggil dengan nama depan, akupun juga begitu.
Julian, orang-orang mengenalku dengan nama itu. Aku hidup di tengah-tengah
orang yang bisa mengertiku. Keluarga yang selalu mendukungku, juga teman-teman
yang sudah mau menemaniku bertahan sampai saat ini. Dua hal yang tak ingin aku
lepaskan.
Sampai sebuah amplop yang
membuatku harus berada dibatas kebingungan. Amplop yang memintaku untuk
meninggalkan tempat kelahiranku, meninggalkan teman-temanku, demi mimpiku.
Sudah ku bilang, kalau keluargaku akan selalu mendukungku. Tapi hal itu tidak
lantas membuatku membuang begitu saja amplop itu. Apalagi setelah pertanyaan
dari Ibu yang tersirat harapan besar dinadanya.
“Kamu sudah ada
keputusan, Yan? Mau ambil atau tidak undangan Universitas itu?” Tanya Ibu satu
hari setelah aku menyampaikan amplop berisi undangan suatu Universitas.
“Ini di luar kota, Bu.
Jauh dari rumah.” Jawabku saat itu.
“Tapi, itukan mimpimu.
Jangan sia-siakan kesempatan yang datang, Yan.” Ujar wanita yang sangat aku
kagumi sebelum meninggalkanku dengan usapan di bahuku, memberiku waktu untuk
berpikir lebih matang.
Meskipun keluargaku,
terlebih ibuku, menyerahkan semua keputusan ini padaku, aku tak bisa melepaskan
atau mengambil keputusan dengan begitu mudahnya. Aku membenarkan kata Ibu,
kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Terlebih lagi ini
mimpiku, menjadi mahasiswa di salah satu fakultas di Universitas itu menjadi
salah satu list keinginanku, yang artinya aku bisa lebih dekat apa yang aku
impikan. Dan ketika aku mengambil kesempatan ini, itu artinya aku harus
berpisah dengan teman-temanku. Apa aku bisa?
“Kau akan mengambil
undangan itu, Yan?” Seperti Ibu, Rendy juga menanyakan keputusanku. Dia salah
satu temanku. Selain Rendy, ada Leo dan Dimas yang juga menunggu jawabanku.
“Sepertinya aku tak bisa
melepaskan kesempatan itu. Maaf.” Jawabku pelan sambil menunduk.
“Haha.” Tawa sarkas Rendy
yang langsung ku terima sebagai respon dari jawabanku. “Seharusnya aku tak
berharap kau akan memilih sebaliknya, tetap tinggal di sini. Karena kau memang
tidak pernah menganggap serius janji kita berempat dulu. Atau mungkin saja kau
sudah lupa apa yang kau ucapkan dulu.” Seharusnya aku tidak terkejut dengan
respon Rendy. Aku tidak bisa berharap dia akan mendukung keputusanku dengan
begitu mudahnya, karena memang seperti itulah Rendy. Mungkin diantara kita
berempat, Rendy adalah orang yang paling keras kepala tapi juga sensitif.
Namun, dari pernyataannya yang tak bisa ku terima adalah dia menganggapku
melupakan janji yang kita buat berempat dulu.
Ya, kita berempat pernah
membuat sebuah janji pada suatu siang dihari pertama kita mengenakan seragam
putih biru. Bahwa kita tidak akan pernah meninggalkan kota ini. Kita akan
melanjutkan pendidikan di kota ini. Intinya, kita akan memulai mencapai mimpi
kita di kota ini, dengan kita tetap berempat yang saling menemani. Dan apa sih
yang bisa anak seusia itu pikirkan? Selain setuju karena tak ingin berpisah
satu sama lain. Bahkan sampai sekarangpun, aku sebenarnya juga tak ingin
meninggalkan mereka, meninggalkan kota ini.
“Aku tak lupa, Ren.”
Ucapku tegas.
“Halah.” Dengusnya.
“Sudah kau pergi sana! Apapun pendapat kami kau juga akan tetap pergi.”
Lanjutnya tanpa melihat ke arahku.
“Ayolah, Ren, aku tak mau
pergi dengan kita yang seperti ini. Kalau aku bisa, aku juga tak mau
meninggalkan tempat ini. Tapi di sana mimpiku sudah menunggu. Dan aku juga
tidak bisa melepaskan kesempatan ini.” Aku masih mencoba menjelaskan
keputusanku. Aku tak mau pergi dengan persahabatanku yang hancur.
“Kenapa harus ke sana?
Universitas di kota ini juga bagus-bagus. Kau bisa memulainya dari sini.”
Suaranya memelan, tapi juga semakin tajam.
“Tidak bisa.” Jawabku lirih.
“Aku hanya minta waktu 4 tahun. Setelah aku menyelesaikannya secepatnya, aku
akan langsung kembali ke sini.” Aku tetap meyakinkan mereka. Menjanjikan waktu
sesingkat mungkin untuk menempuh pendidikanku nanti.
“Tidak ada yang bisa
menjamin setelah 4 tahun apa semuanya masih sama, Yan. Sudahlah, kau tak usah
menjanjikan yang kau sendiri saja tak yakin.” Kali ini Dimas yang menanggapi.
“Kita masih bisa
berkomunikasi. Aku bisa pulang beberapa kali.” Aku masih terus mengusahakan
untuk persahabatanku tak selesai begitu saja.
“Tapi ini bukan lagi
masalah komunikasi, Yan. Ini tentang janji.” Rendy sudah bersama emosinya lagi.
Dia menghembuskan nafasnya kasar. “Kau tahu sendiri, aku paling tidak suka
orang yang ingkar janji. Terlebih lagi sahabatku.” Seperti tamparan keras
untukku. Aku tak menyangka, amplop itu akan membawaku pada keputusan sejauh
ini.
“Kalau kau mau pergi, ya
pergi saja. Aku tak akan menghalangimu. Silakan kau kejar mimpimu itu. Semoga
hidupmu di sana lebih menyenangkan. Tapi, aku tak bisa berjanji ketika kau
kembali nanti, semua masih sama.” Ujar Rendy sebelum dia pergi bersama Dimas.
Meski nada bicaranya seperti Rendy biasanya, tapi aku tahu aku sudah kalah. Dia
sudah benar-benar lepas, begitu juga persahabatan kita.
“Sudahlah, kau harus
segera bersiap-siap. Kau akan pergi sebentar lagi.” Sebuah suara menyadarkanku.
Membuatku menoleh dan mendapati Leo berdiri tak jauh dariku.
“Kenapa semuanya jadi
seperti ini, Le? Aku hanya ingin kalian dan mimpiku tetap berada dalam
jangkauanku, apakah itu salah?” Aku masih tak bisa terima dengan apa yang sudah
terjadi.
“Kau tau sendiri kan,
Yan, namanya hidup selalu penuh dengan pilihan. Kau harus pilih salah satunya.
Karena kau tidak akan pernah bisa memegang dua hal dengan sama eratnya. Seperti
sekarang, kau mungkin harus melepas salah satunya. Dan kau sudah tahu kan, apa
yang terlepas dari genggamanmu?” Leo berkata dengan tenangnya. Tanpa sadar aku
mengangguk, membenarkan ucapannya.
“Le, aku harus
bagaimana?” Tanyaku pasrah.
“Kau sendiri yang tahu
kau harus bagaimana, Yan.” Ucapnya sambil menepuk pundakku pelan. “Lakukan apa
yang sudah jadi keputusanmu. Jangan sampai hal itu juga terlepas dari
genggamanmu. Jangan sampai kau menyesal, karena akhirnya kau kehilangan dua-duanya.
Dan berdoa saja, ketika kau kembali nanti, tak ada yang berubah.” Imbuh Leo.
Setelah itu dia beranjak pergi mengikuti Rendy dan Dimas.
Seperti kata Leo, aku
harus melakukan apa yang sudah aku putuskan, kalau aku tidak mau menyesal untuk
yang kedua kalinya. Jadi, di sinilah aku sekarang, duduk di salah satu gerbong
kereta yang membawaku ke kota orang untuk menjemput mimpiku. Ya, inilah yang
bisa aku lakukan sekarang, menggenggam erat apa yang masih bisa aku pegang.
Ditemani semilir angin
dari jendela sampingku, aku kembali teringat dua hal yang paling aku benci.
Meninggalkan dan ditinggalkan. Tapi, nyatanya aku harus berada di posisi itu
secara bersamaan. Meninggalkan kota kelahiranku dengan segala kenangannya, dan
mungkin juga sekarang aku ditinggalkan hal yang terlepas dari genggamanku,
teman-temanku.
Aku tak bisa menyalahkan
teman-temanku. Seperti halnya aku juga berharap mereka tak akan melupakanku. Meskipun
aku tak bisa tetap tinggal, seperti keinginanku. Meski harus ada pihak yang
meninggalkan dan ditinggalkan. Meski harus ada luka yang ikut bercerita. Tapi,
tetap ada satu harapan. Ketika nanti waktunya sudah tiba, kita akan sama-sama
pulang. Saling bertukar sapa dan bertukar cerita.
---Triana Febri---
Note:
Teruntuk seseorang yang memilih meninggalkan suatu hal. Semua orang menganggapnya egois, tanpa mau tahu kalau dia juga menahan luka karena dia juga ditinggalkan disaat yang bersamaan.
Jangan terluka lagi. Jangan menyendiri lagi. Karena yang terjadi sekarang proses dari sebuah kehidupan. Ciptakan kenangan baru. Lanjutkan hidupmu. Dan, kau bisa kembali ketika sampai waktunya nanti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar