Kamis, 19 Juli 2018

[CERPEN] SALAH SATU


SALAH SATU
“Kau tidak akan pernah bisa memegang dua hal dengan sama eratnya.”
***

Tidak ada yang lebih baik di antara meninggalkan ataupun ditinggalkan. Karena dua hal itu sama-sama diikuti luka setelahnya.
Setiap orang yang memilih meninggalkan bukan berarti dia egois. Siapa tahu dia pergi dengan luka yang menghantarkannya. Dia harus pergi meninggalkan sesuatu yang sebenarnya tak bisa dia tinggalkan. Dia terluka, tentu saja. Begitu juga dengan orang yang memilih ditinggalkan. Jangan berpikir kalau dia hanya mau terus diperjuangkan. Mungkin, dia tahu memang di situlah tempatnya. Mau tidak mau dia harus bertahan. Meski dia harus merelakan kepergian dan dia berakhir sendiri. Kedua-duanya membutuhkan hati yang besar. Baik yang meninggalkan ataupun yang ditinggalkan.
Dua hal itulah yang tidak pernah aku inginkan di dalam hidupku. Aku selalu berharap tidak akan pernah berada diposisi keduanya, meninggalkan ataupun ditinggalkan. Dengan hidup yang aku miliki, aku hanya ingin tinggal. Menetap dan berjalan beriringan dengan orang-orang yang menemaniku dalam waktu yang panjang. Tidak ada salam perpisahan ataupun saling melepaskan.
Julian Arthur Pratmayasa. Seperti kebanyakan orang yang dipanggil dengan nama depan, akupun juga begitu. Julian, orang-orang mengenalku dengan nama itu. Aku hidup di tengah-tengah orang yang bisa mengertiku. Keluarga yang selalu mendukungku, juga teman-teman yang sudah mau menemaniku bertahan sampai saat ini. Dua hal yang tak ingin aku lepaskan.
Sampai sebuah amplop yang membuatku harus berada dibatas kebingungan. Amplop yang memintaku untuk meninggalkan tempat kelahiranku, meninggalkan teman-temanku, demi mimpiku. Sudah ku bilang, kalau keluargaku akan selalu mendukungku. Tapi hal itu tidak lantas membuatku membuang begitu saja amplop itu. Apalagi setelah pertanyaan dari Ibu yang tersirat harapan besar dinadanya.
“Kamu sudah ada keputusan, Yan? Mau ambil atau tidak undangan Universitas itu?” Tanya Ibu satu hari setelah aku menyampaikan amplop berisi undangan suatu Universitas.
“Ini di luar kota, Bu. Jauh dari rumah.” Jawabku saat itu.
“Tapi, itukan mimpimu. Jangan sia-siakan kesempatan yang datang, Yan.” Ujar wanita yang sangat aku kagumi sebelum meninggalkanku dengan usapan di bahuku, memberiku waktu untuk berpikir lebih matang.
Meskipun keluargaku, terlebih ibuku, menyerahkan semua keputusan ini padaku, aku tak bisa melepaskan atau mengambil keputusan dengan begitu mudahnya. Aku membenarkan kata Ibu, kesempatan seperti ini mungkin tidak akan datang dua kali. Terlebih lagi ini mimpiku, menjadi mahasiswa di salah satu fakultas di Universitas itu menjadi salah satu list keinginanku, yang artinya aku bisa lebih dekat apa yang aku impikan. Dan ketika aku mengambil kesempatan ini, itu artinya aku harus berpisah dengan teman-temanku. Apa aku bisa?
“Kau akan mengambil undangan itu, Yan?” Seperti Ibu, Rendy juga menanyakan keputusanku. Dia salah satu temanku. Selain Rendy, ada Leo dan Dimas yang juga menunggu jawabanku.
“Sepertinya aku tak bisa melepaskan kesempatan itu. Maaf.” Jawabku pelan sambil menunduk.
“Haha.” Tawa sarkas Rendy yang langsung ku terima sebagai respon dari jawabanku. “Seharusnya aku tak berharap kau akan memilih sebaliknya, tetap tinggal di sini. Karena kau memang tidak pernah menganggap serius janji kita berempat dulu. Atau mungkin saja kau sudah lupa apa yang kau ucapkan dulu.” Seharusnya aku tidak terkejut dengan respon Rendy. Aku tidak bisa berharap dia akan mendukung keputusanku dengan begitu mudahnya, karena memang seperti itulah Rendy. Mungkin diantara kita berempat, Rendy adalah orang yang paling keras kepala tapi juga sensitif. Namun, dari pernyataannya yang tak bisa ku terima adalah dia menganggapku melupakan janji yang kita buat berempat dulu.
Ya, kita berempat pernah membuat sebuah janji pada suatu siang dihari pertama kita mengenakan seragam putih biru. Bahwa kita tidak akan pernah meninggalkan kota ini. Kita akan melanjutkan pendidikan di kota ini. Intinya, kita akan memulai mencapai mimpi kita di kota ini, dengan kita tetap berempat yang saling menemani. Dan apa sih yang bisa anak seusia itu pikirkan? Selain setuju karena tak ingin berpisah satu sama lain. Bahkan sampai sekarangpun, aku sebenarnya juga tak ingin meninggalkan mereka, meninggalkan kota ini.
“Aku tak lupa, Ren.” Ucapku tegas.
“Halah.” Dengusnya. “Sudah kau pergi sana! Apapun pendapat kami kau juga akan tetap pergi.” Lanjutnya tanpa melihat ke arahku.
“Ayolah, Ren, aku tak mau pergi dengan kita yang seperti ini. Kalau aku bisa, aku juga tak mau meninggalkan tempat ini. Tapi di sana mimpiku sudah menunggu. Dan aku juga tidak bisa melepaskan kesempatan ini.” Aku masih mencoba menjelaskan keputusanku. Aku tak mau pergi dengan persahabatanku yang hancur.
“Kenapa harus ke sana? Universitas di kota ini juga bagus-bagus. Kau bisa memulainya dari sini.” Suaranya memelan, tapi juga semakin tajam.
“Tidak bisa.” Jawabku lirih. “Aku hanya minta waktu 4 tahun. Setelah aku menyelesaikannya secepatnya, aku akan langsung kembali ke sini.” Aku tetap meyakinkan mereka. Menjanjikan waktu sesingkat mungkin untuk menempuh pendidikanku nanti.
“Tidak ada yang bisa menjamin setelah 4 tahun apa semuanya masih sama, Yan. Sudahlah, kau tak usah menjanjikan yang kau sendiri saja tak yakin.” Kali ini Dimas yang menanggapi.
“Kita masih bisa berkomunikasi. Aku bisa pulang beberapa kali.” Aku masih terus mengusahakan untuk persahabatanku tak selesai begitu saja.
“Tapi ini bukan lagi masalah komunikasi, Yan. Ini tentang janji.” Rendy sudah bersama emosinya lagi. Dia menghembuskan nafasnya kasar. “Kau tahu sendiri, aku paling tidak suka orang yang ingkar janji. Terlebih lagi sahabatku.” Seperti tamparan keras untukku. Aku tak menyangka, amplop itu akan membawaku pada keputusan sejauh ini.
“Kalau kau mau pergi, ya pergi saja. Aku tak akan menghalangimu. Silakan kau kejar mimpimu itu. Semoga hidupmu di sana lebih menyenangkan. Tapi, aku tak bisa berjanji ketika kau kembali nanti, semua masih sama.” Ujar Rendy sebelum dia pergi bersama Dimas. Meski nada bicaranya seperti Rendy biasanya, tapi aku tahu aku sudah kalah. Dia sudah benar-benar lepas, begitu juga persahabatan kita.
“Sudahlah, kau harus segera bersiap-siap. Kau akan pergi sebentar lagi.” Sebuah suara menyadarkanku. Membuatku menoleh dan mendapati Leo berdiri tak jauh dariku.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini, Le? Aku hanya ingin kalian dan mimpiku tetap berada dalam jangkauanku, apakah itu salah?” Aku masih tak bisa terima dengan apa yang sudah terjadi.
“Kau tau sendiri kan, Yan, namanya hidup selalu penuh dengan pilihan. Kau harus pilih salah satunya. Karena kau tidak akan pernah bisa memegang dua hal dengan sama eratnya. Seperti sekarang, kau mungkin harus melepas salah satunya. Dan kau sudah tahu kan, apa yang terlepas dari genggamanmu?” Leo berkata dengan tenangnya. Tanpa sadar aku mengangguk, membenarkan ucapannya.
“Le, aku harus bagaimana?” Tanyaku pasrah.
“Kau sendiri yang tahu kau harus bagaimana, Yan.” Ucapnya sambil menepuk pundakku pelan. “Lakukan apa yang sudah jadi keputusanmu. Jangan sampai hal itu juga terlepas dari genggamanmu. Jangan sampai kau menyesal, karena akhirnya kau kehilangan dua-duanya. Dan berdoa saja, ketika kau kembali nanti, tak ada yang berubah.” Imbuh Leo. Setelah itu dia beranjak pergi mengikuti Rendy dan Dimas.
Seperti kata Leo, aku harus melakukan apa yang sudah aku putuskan, kalau aku tidak mau menyesal untuk yang kedua kalinya. Jadi, di sinilah aku sekarang, duduk di salah satu gerbong kereta yang membawaku ke kota orang untuk menjemput mimpiku. Ya, inilah yang bisa aku lakukan sekarang, menggenggam erat apa yang masih bisa aku pegang.
Ditemani semilir angin dari jendela sampingku, aku kembali teringat dua hal yang paling aku benci. Meninggalkan dan ditinggalkan. Tapi, nyatanya aku harus berada di posisi itu secara bersamaan. Meninggalkan kota kelahiranku dengan segala kenangannya, dan mungkin juga sekarang aku ditinggalkan hal yang terlepas dari genggamanku, teman-temanku.
Aku tak bisa menyalahkan teman-temanku. Seperti halnya aku juga berharap mereka tak akan melupakanku. Meskipun aku tak bisa tetap tinggal, seperti keinginanku. Meski harus ada pihak yang meninggalkan dan ditinggalkan. Meski harus ada luka yang ikut bercerita. Tapi, tetap ada satu harapan. Ketika nanti waktunya sudah tiba, kita akan sama-sama pulang. Saling bertukar sapa dan bertukar cerita.
---Triana Febri---
Note:
Teruntuk seseorang yang memilih meninggalkan suatu hal. Semua orang menganggapnya egois, tanpa mau tahu kalau dia juga menahan luka karena dia juga ditinggalkan disaat yang bersamaan. 
Jangan terluka lagi. Jangan menyendiri lagi. Karena yang terjadi sekarang proses dari sebuah kehidupan. Ciptakan kenangan baru. Lanjutkan hidupmu. Dan, kau bisa kembali ketika sampai waktunya nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar