BETWEEN US
“You gave me the best me. So you’ll
give you the best of you. You found me. You recognized me”-Magic Shop, BTS.
***
Manusia tidak akan pernah
bisa hidup hanya dengan dirinya sendiri, tanpa membutuhkan orang lain. Karena
itulah manusia disebut makhluk sosial, itu yang selalu dikatakan guru Ilmu
Pengetahuan Sosial. Selalu ada alasan kenapa manusia diciptakan untuk manusia
lainnya. Bukan untuk saling ketergantungan, tapi agar manusia-manusia itu
saling bergandengan. Tak ada salahnya saling membantu, mengingatkan bahkan
mendukung dengan manusia yang lain. Dan mungkin seseorang hidup sampai saat
ini, karena masih ada alasan yang membuatnya harus bertahan. Entah itu orang
lain, ataupun dirinya sendiri.
Begitu juga dengan tujuh
remaja yang sekarang duduk melingkar tanpa suara sejak 20 menit yang lalu. Biasanya
perkumpulan mereka selalu penuh dengan pembicaraan. Dari topik ringan sekitar
kegiatan perkuliahan sampai sedikit berat mengenai bagiamana mereka akan
melanjutkan hidup nantinya. Namun hari ini berbeda, daripada membangun sebuah
obrolan, mereka justru sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Hingga saat ini
yang terdengar hanya gesekan dedaunan yang terkena angina pada pohon yang
memayungi mereka, serta obrolan samar mahasiswa lain dari kejauhan. Ya, mereka
bertujuh sedang duduk disalah satu sudut gazebo di kampus mereka. Setelah pesan
singkat pagi tadi yang mengajak mereka berkumpul setelah kelas, tapi sampai
hamper setengah jam taka da obrolan yang dari mulut mereka.
“Gue pulang.” Ucap salah
satu dari mereka, si mata sipit. Dia sudah berdiri sambil menggendong ranselnya
di salah satu pundaknya. Meskipun suaranya tak keras, tapi berhasil membuat
keenam temannya menoleh padanya.
“Kamu mau pulang, Ga?”
Tanya seseorang dengan suara tenangnya. Dari raut wajahnya, dia terlihat yang
paling dewasa diantara mereka bertujuh. Ga, Yuga nama si mata sipit. Sedangkan
yang bertanya adalah Juna, Arjuna.
“Iyalah. Mending gue
pulang, Jun. Daripada disini nggak jelas. Gak penting.” Jawab Yuga ketus
seperti biasanya.
“Sebenarnya kita kumpul
ada apa sih?” Sosok yang dari kedatangannya sibuk dengan komiknya pun ikut
angkat bicara. Dia Vino.
“Emang perlu?” Dua kata
mampu membuat enam kepala menoleh ke sumber suara. Merasa diperhatikan keenam
temannya, Kiki menghela nafas berat kemudian melanjutkan ucapannya. “Emang
perlu alasan agar kita kumpul begini? Kiki baru tahu.” Ucapnya lirih. Ya, dia
yang pagi tadi mengirim pesan ke grup chat mereka, mengajak teman-temannya
bertemu.
“Bukan gitu juga, Ki.
Tapi kita semua juga punya kesibukan masing-masing, kalau cuma kumpul gak jelas
gini, sia-sia.” Sanggah Jay sambil melepas earphonenya.
“Gak jelas ya? Kalau gitu
Kiki minta maaf udah ganggu kesibukkan kalian.” Ucap Kiki lagi dengan nada
penekanan. Kemudian mereka membiarkan hening yang mengambil alih. Kiki hanya
menunduk. Sedang yang lain, memperhatikannya tak paham. Kiki bukan tipe orang
yang seperti ini.
“Sebenarnya ada apa sih,
Ki? Cerita kalau ada apa-apa. Bukannya kita nggak mau kumpul seperti ini, tapi
mungkin kalau lo butuh cerita, bisa cerita dari tadi nggak diam aja hampir
setengah jam gini. Waktu yang kebuang itu mungkin yang dimaksud Yuga nggak
penting dan Jay sia-sia.” Nicho mencoba menengahi.
“Memangnya dari
kedatangan kalian tadi, kalian ngasih kesempatan buat Kiki ngomong? Nggak. Kak
Juna dan Kak Nicho langsung sibuk dengan buku dan tugas. Kak Jay bahkan tidak
melepas earphonenya. Kak Yuga sibuk dengan ponselnya dan umpatannya. Mario dan
Vino langsung sibuk dengan gamenya. Bahkan nggak ada sapaan seperti dulu ketika
kalian datang satu persatu tadi, langsung duduk gitu aja. Bagaimana Kiki mau
ngomong kalau gitu?” Ucap Kiki panjang lebar.
“Lo kan bisa ngomong duluan?
Lo juga diam aja kan dari tadi, nggak ada usaha buat kita fokus ke lo.
Kekanakan.” Ucap Jay sinis. Ada emosi disuaranya.
“Udah Jay.” Mario
menenangkan.
“Oke, Kiki akui Kiki
kekanakan. Kiki cuma pengen kita ngumpul lagi seperti dulu. Kalian inget nggak
kapan terakhir kita kumpul lengkap bertujuh? Udah lama.” Ucap Kiki.
“Ki, lo paham sendiri
kan, kita bukan anak SMA lagi. Dengan tugas dan kesibukan masing-masing, kita
nggak mungkin bisa sering ngumpul lagi. Seharusnya lo tau itu, Ki.” Vino angkat
bicara.
“Kiki paham itu. Oke
kalau kita nggak bisa duduk bareng gini, tapi komunikasi? Kiki juga ngerasa
kita juga kehilangan komunikasi. Kiki selalu nunggu ada chat masuk digrup. Tapi
nyatanya nggak ada. Bahkan ajakan Kiki tadi pagi cuma dijawab ‘Ya’.” Kiki
mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam pada teman-temannya yang juga
dianggap kakaknya itu.
Mereka bertujuh bukan
orang yang baru kenal satu bulan atau dua bulan. Mereka dipertemukan di bangku
SMA. Dan hal itulah, mereka sudah mengenal satu sama lain. Karena sudah lamanya
hubungan pertemanan mereka, juga membuat Kiki merasa kehilangan keberadaan
teman-temannya akhir-akhir ini. Tidak adanya kabar satu sama lain, berkurangnya
intensitas bertemu, dan kata ‘sibuk’ yang selalu dilontarkan.
“Kalau tadi Kak Nicho
minta Kiki buat cerita, sekarang Kiki minta kalian cerita. Kiki tahu, ada hal
yang kalian sembunyikan. Dulu, kalian yang selalu ngomong ke Kiki, kalau ada
apa-apa Kiki harus cerita, meski hanya didengarkan tapi itu sudah ngurangin beban.
Tapi sekarang, ketika Kiki mau cerita, Kiki harus cerita kemana jika kalian
sibuk?” Kiki seperti bermonolog karena tak juga ada respon dari keenam
teman-temannya.
“Maaf.” Satu kata lolos
dari mulut Juna.
“Bukan, Kak. Bukan
permintaan maaf yang Kiki minta. Kiki cuma pengen kaya dulu lagi. Sekarang
‘rumah’ yang Kiki punya serasa rumah kosong. Nggak ada penghuninya. Nggak ada
kabar. Bahkan Kiki nggak tahu kapan kalian akan ‘pulang’.” Seperti tamparan
ucapan Kiki. Tak ada sahutan. Mungkin mereka sadar, sudah lama mereka tidak
pulang.
“Kak Juna, Kak Nicho,
Kiki paham prestasi sangat penting buat kalian. Kesempatan sampai posisi saat
ini sangat berharga dan nggak akan kalian sia-siakan. Tapi apa ya harus sampai
nyakitin diri kalian sendiri? Kak, semua yang dipaksakan itu justru
menyakitkan. Kiki paham, belajar itu penting, tapi apa harus sampai lupa sama
kesehatan? Dulu, ketika Kiki selalu belajar sampai larut malam, kalian selalu
marahin Kiki. Sekarang, kalian waktu istirahat saja nggak punya, dan Kak Juna sampai
harus masuk Rumah Sakit. Jangan dipaksakan, Kak. Semampunya Kakak aja.” Ucap
Kiki kepada dua teman yang sudah dianggap panutannya.
“Serius lo kemarin masuk
RS, Jun? Kenapa? Kok kita nggak tahu.” Tanya Mario yang merasa baru mendengar
kabar itu.
“Maagku kambuh, Yo. Tapi
udah sembuh kok.” Jawab Juna sedikit tersenyum.
“Mau sampai parah dulu,
Kak, baru ngabarin kita?” Tanya Kiki sarkastik, hanya dibalas gelengan pelan
Juna.
“Kak Yuga sama Kak Jay
juga, mau kapan ilang-ilangan terus? Kalau ada masalah itu dihadapi bukan
dihindari. Setiap ada masalah langsung ditinggal pergi gitu, bisa langsung
selesai gitu, Kak? Nggak. Apa nggak capek Kak selalu seperti itu? Kalian anggap
kita apa sih, Kak? Selalu minta orang lain ngomong, tapi sendirinya nggak
ngomong langsung ngilang gitu aja. Lagian kalau setiap ada masalah dihindari,
itu nggak bakal nyelesain masalah Kak, yang ada semakin numpuk.” Kiki nggak
peduli kalau setelah ini, dia dianngap terlalu banyak omong atau terlalu ikut
campur urusan orang lain. Karena menurutnya keenam orang di depannya ini bukan
orang lain baginya.
“Bukan gitu, Ki. Kemarin
gue cuma butuh refreshing.” Bela Jay.
“Kalau cuma refreshing, kenapa langsung nggak ada
kabar. Kontak Kak Jay nggak bisa dihubungi. Dan nggak ada kejelasan Kak Jay pergi
kemana. Itu yang namanya refreshing?”
Entah sudah berapa kali Kiki menghela nafasnya berat. Dia hanya ingin mereka
kembali terbuka lagi satu sama lain.
“Dan kalian, Vino sama
Mario. Kiki paham gimana sifat kalian. Tapi seperti yang kamu bilang tadi, Vin,
kita bukan anak SMA lagi yang bisa seenaknya sendiri. Kalian kapan mau
seriusnya? Kalau toh emang kalian nggak suka di jalan ini, ya udah berhenti.
Kenapa harus kalian paksakan dari awal, kalau toh kalian cuma main-main? Kalian
sadar gak, berapa banyak waktu yang kalian sia-siakan? Yang dulu katanya mau
serius, mau ngejar mimpi mana? Ayolah, kita bukan lagi anak kecil yang selala
cari perhatian untuk didengarkan apa mau kita. Kita seharusnya udah bisa
mutuskan apa yang terbaik buat kita sendiri. Dan Kiki harap, kalian paham itu.”
Ucap Kiki berusaha tanpa emosi.
Lagi-lagi hening yang
mengambil alih. Kali ini mereka bukan sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri.
Mereka diam karena berpikir. Apa yang sudah mereka lakukan, sampai Kiki yang
biasanya hanya diam, tak banyak bicara dan selalu sependapat dengan
teman-temannya bisa berkata sepanjang itu. Apa iya mereka sudah pergi terlalu
lama, sampai sudah tak mengenali lagi, sampai lupa kalau mereka punya satu sama
lain untuk pulang?
Juna dan Nicho seperti
tertampar. Mereka menyadari mereka terlalu sibuk dengan tujuannya sendiri,
sampai lupa mereka punya teman-teman yang masih perlu mereka gandeng. Mereka
terlalu cepat berlari, sampai tak sadar tangan yang dulunya saling bergandengan
lepas satu persatu.
Yuga dan Jay seperti
menemukan seberkas cahaya yang menuntunnya untuk pulang dari pelarian. Mereka
melupakan hal terpenting yang membuatnya bisa bertahan sampai saat ini. Mereka
terlalu sibuk berperang dengan dirinya sendiri, sampai lupa mereka masih punya
telinga-telinga yang mau mendengarkan semua cerita mereka. Mereka terlalu sibuk
mencari tempat pelarian yang jauh, sampai mereka tersesat dan lupa mereka harus
pulang kemana, padahal ada ‘rumah’ yang siap menerima mereka bagaimanapun
keadaannya.
Vino dan Mario seperti
mendapatkan game over pada semua gamenya. Mereka merasa sudah saatnya
mengentikan semua gamenya dan kembali pada dunia nyatanya. Mereka terlalu
nyaman di dunia maya dengan segala kesenangannya, sampai melupakan mimpi dan
hidupnya yang harus mereka selesaikan. Mereka terlalu sibuk dengan strategi
untuk permainannya, sampai tak sadar bahwa hidupnya justru berhenti di satu
titik. Seharusnya mereka sadar, seperti di game yang selalu dimainkannya, ada ‘start’ ada ‘finish’. Begitu juga dengan hidup mereka. Mereka sudah memulainya,
seharusnya melanjutkannya sampai akhir, bukan justru hanya membiarkannya
mengikuti arus.
Kiki. Entah apa yang
dilakukannya sekarang. Yang jelas, dia hanya berusaha memanggil teman-temannya
untuk ‘pulang’. Meramaikan kembali ‘rumah’ mereka. Mengingatkan kembali kalau
dia tidak pernah pergi. Selalu menunggu yang lain untuk pulang. Seperti kata Vino,
mereka tak bisa kembali seperti dulu. Kiki paham itu. Tapi, yang Kiki harapkan
di sini, mereka bisa melanjutkan apa yang sudah mereka bangun. Kebiasaan yang
bisa membuat mereka bertahan sampai saat ini. Duduk bareng, makan bareng,
bertukar cerita, ataupun saling bertukar kabar. Hanya sesederhana itu yang Kiki
harapkan. Dia sudah merasa kehilangan teman-temannya akhir-akhir ini, ditinggal
sendiri dengan segala kekosongan. Dan perasaan kosong itu, yang membuatnya tak
ingin kehilangan lebih jauh lagi. Dia ingin mereka semua pulang.
“Maaf. Kiki terlalu sok
tahu. Kiki terlalu merengek. Kiki hanya nggak mau kesibukan membuat kita jauh
satu sama lain.” Ucap Kiki lirih. Kemudian dirasakannya, sebuah tepukan halus
dipunggungnya. Dia menoleh, menemukan Juna yang tersenyum padanya.
“Ki, maaf..ah, bukan. Ki,
Kak Juna pulang. Kita pulang.” Ucap Juna. Dia sadar, sudah terlalu jauh dia
berlari untuk dirinya sendiri, dan sekarang saatnya dia harus menunggu
teman-temannya.
Meski tak mengucapkan
kata yang sama, seperti terwakili dengan Juna, yang lain hanya mengangguk
mengiyakan. Seperti kata Juna, mereka pulang. Sudah cukup waktu untuk diri
mereka sendiri-sendiri, dan sekarang saatnya kembali menguatkan satu sama lain.
Taka da yang bisa Kiki lakukan selain tersenyum selebar-lebarnya.
Teman-temannya sudah kembali. Penghuni ‘rumah’nya sudah pulang.
Ketika rumah tak hanya
tentang bangunan berpintu. Ketika rumah tak hanya tentang tempat yang tak bisa
berpindah. Ketika rumah tentang pemilik detak jantung, bukan bangunan melainkan
orang. Orang yang akan menjadi tujuan kembali. Orang yang akan selalu menyambut
dengan senang hati ketika kepulangan, itulah ‘rumah’.
Juna, Nicho. Yuga, Jay,
Vino, Mario, dan Kiki, mereka punya rumah. Rumah yang mereka bangun bertujuh.
Dalam rumah itu mereka paham, mereka tak bisa hidup dengan dirinya sendiri. Apa
yang mereka bangun bersama, harus mereka perjuangkan bersama. Dan itulah mereka
sadar, mereka bertahan untuk satu sama lain. Bukan untuk saling bergantung,
tapi untuk saling merangkul. Bukankah seharusnya manusia seperti itu?
---Triana Febri---
Happy 5th Anniversary, BTS!
Terimakasih untuk segala inspirasi dan motivasi.
cr.pict: pinterest


Tidak ada komentar:
Posting Komentar