Jumat, 29 Juni 2018

[CERPEN] BETWEEN US


BETWEEN US
 


“You gave me the best me. So you’ll give you the best of you. You found me. You recognized me”-Magic Shop, BTS.

***

Manusia tidak akan pernah bisa hidup hanya dengan dirinya sendiri, tanpa membutuhkan orang lain. Karena itulah manusia disebut makhluk sosial, itu yang selalu dikatakan guru Ilmu Pengetahuan Sosial. Selalu ada alasan kenapa manusia diciptakan untuk manusia lainnya. Bukan untuk saling ketergantungan, tapi agar manusia-manusia itu saling bergandengan. Tak ada salahnya saling membantu, mengingatkan bahkan mendukung dengan manusia yang lain. Dan mungkin seseorang hidup sampai saat ini, karena masih ada alasan yang membuatnya harus bertahan. Entah itu orang lain, ataupun dirinya sendiri.
Begitu juga dengan tujuh remaja yang sekarang duduk melingkar tanpa suara sejak 20 menit yang lalu. Biasanya perkumpulan mereka selalu penuh dengan pembicaraan. Dari topik ringan sekitar kegiatan perkuliahan sampai sedikit berat mengenai bagiamana mereka akan melanjutkan hidup nantinya. Namun hari ini berbeda, daripada membangun sebuah obrolan, mereka justru sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Hingga saat ini yang terdengar hanya gesekan dedaunan yang terkena angina pada pohon yang memayungi mereka, serta obrolan samar mahasiswa lain dari kejauhan. Ya, mereka bertujuh sedang duduk disalah satu sudut gazebo di kampus mereka. Setelah pesan singkat pagi tadi yang mengajak mereka berkumpul setelah kelas, tapi sampai hamper setengah jam taka da obrolan yang dari mulut mereka.
“Gue pulang.” Ucap salah satu dari mereka, si mata sipit. Dia sudah berdiri sambil menggendong ranselnya di salah satu pundaknya. Meskipun suaranya tak keras, tapi berhasil membuat keenam temannya menoleh padanya.
“Kamu mau pulang, Ga?” Tanya seseorang dengan suara tenangnya. Dari raut wajahnya, dia terlihat yang paling dewasa diantara mereka bertujuh. Ga, Yuga nama si mata sipit. Sedangkan yang bertanya adalah Juna, Arjuna.
“Iyalah. Mending gue pulang, Jun. Daripada disini nggak jelas. Gak penting.” Jawab Yuga ketus seperti biasanya.
“Sebenarnya kita kumpul ada apa sih?” Sosok yang dari kedatangannya sibuk dengan komiknya pun ikut angkat bicara. Dia Vino.
“Emang perlu?” Dua kata mampu membuat enam kepala menoleh ke sumber suara. Merasa diperhatikan keenam temannya, Kiki menghela nafas berat kemudian melanjutkan ucapannya. “Emang perlu alasan agar kita kumpul begini? Kiki baru tahu.” Ucapnya lirih. Ya, dia yang pagi tadi mengirim pesan ke grup chat mereka, mengajak teman-temannya bertemu.
“Bukan gitu juga, Ki. Tapi kita semua juga punya kesibukan masing-masing, kalau cuma kumpul gak jelas gini, sia-sia.” Sanggah Jay sambil melepas earphonenya.
“Gak jelas ya? Kalau gitu Kiki minta maaf udah ganggu kesibukkan kalian.” Ucap Kiki lagi dengan nada penekanan. Kemudian mereka membiarkan hening yang mengambil alih. Kiki hanya menunduk. Sedang yang lain, memperhatikannya tak paham. Kiki bukan tipe orang yang seperti ini.
“Sebenarnya ada apa sih, Ki? Cerita kalau ada apa-apa. Bukannya kita nggak mau kumpul seperti ini, tapi mungkin kalau lo butuh cerita, bisa cerita dari tadi nggak diam aja hampir setengah jam gini. Waktu yang kebuang itu mungkin yang dimaksud Yuga nggak penting dan Jay sia-sia.” Nicho mencoba menengahi.
“Memangnya dari kedatangan kalian tadi, kalian ngasih kesempatan buat Kiki ngomong? Nggak. Kak Juna dan Kak Nicho langsung sibuk dengan buku dan tugas. Kak Jay bahkan tidak melepas earphonenya. Kak Yuga sibuk dengan ponselnya dan umpatannya. Mario dan Vino langsung sibuk dengan gamenya. Bahkan nggak ada sapaan seperti dulu ketika kalian datang satu persatu tadi, langsung duduk gitu aja. Bagaimana Kiki mau ngomong kalau gitu?” Ucap Kiki panjang lebar.
“Lo kan bisa ngomong duluan? Lo juga diam aja kan dari tadi, nggak ada usaha buat kita fokus ke lo. Kekanakan.” Ucap Jay sinis. Ada emosi disuaranya.
“Udah Jay.” Mario menenangkan.
“Oke, Kiki akui Kiki kekanakan. Kiki cuma pengen kita ngumpul lagi seperti dulu. Kalian inget nggak kapan terakhir kita kumpul lengkap bertujuh? Udah lama.” Ucap Kiki.
“Ki, lo paham sendiri kan, kita bukan anak SMA lagi. Dengan tugas dan kesibukan masing-masing, kita nggak mungkin bisa sering ngumpul lagi. Seharusnya lo tau itu, Ki.” Vino angkat bicara.
“Kiki paham itu. Oke kalau kita nggak bisa duduk bareng gini, tapi komunikasi? Kiki juga ngerasa kita juga kehilangan komunikasi. Kiki selalu nunggu ada chat masuk digrup. Tapi nyatanya nggak ada. Bahkan ajakan Kiki tadi pagi cuma dijawab ‘Ya’.” Kiki mengeluarkan apa yang selama ini dia pendam pada teman-temannya yang juga dianggap kakaknya itu.
Mereka bertujuh bukan orang yang baru kenal satu bulan atau dua bulan. Mereka dipertemukan di bangku SMA. Dan hal itulah, mereka sudah mengenal satu sama lain. Karena sudah lamanya hubungan pertemanan mereka, juga membuat Kiki merasa kehilangan keberadaan teman-temannya akhir-akhir ini. Tidak adanya kabar satu sama lain, berkurangnya intensitas bertemu, dan kata ‘sibuk’ yang selalu dilontarkan.
“Kalau tadi Kak Nicho minta Kiki buat cerita, sekarang Kiki minta kalian cerita. Kiki tahu, ada hal yang kalian sembunyikan. Dulu, kalian yang selalu ngomong ke Kiki, kalau ada apa-apa Kiki harus cerita, meski hanya didengarkan tapi itu sudah ngurangin beban. Tapi sekarang, ketika Kiki mau cerita, Kiki harus cerita kemana jika kalian sibuk?” Kiki seperti bermonolog karena tak juga ada respon dari keenam teman-temannya.
“Maaf.” Satu kata lolos dari mulut Juna.
“Bukan, Kak. Bukan permintaan maaf yang Kiki minta. Kiki cuma pengen kaya dulu lagi. Sekarang ‘rumah’ yang Kiki punya serasa rumah kosong. Nggak ada penghuninya. Nggak ada kabar. Bahkan Kiki nggak tahu kapan kalian akan ‘pulang’.” Seperti tamparan ucapan Kiki. Tak ada sahutan. Mungkin mereka sadar, sudah lama mereka tidak pulang.
“Kak Juna, Kak Nicho, Kiki paham prestasi sangat penting buat kalian. Kesempatan sampai posisi saat ini sangat berharga dan nggak akan kalian sia-siakan. Tapi apa ya harus sampai nyakitin diri kalian sendiri? Kak, semua yang dipaksakan itu justru menyakitkan. Kiki paham, belajar itu penting, tapi apa harus sampai lupa sama kesehatan? Dulu, ketika Kiki selalu belajar sampai larut malam, kalian selalu marahin Kiki. Sekarang, kalian waktu istirahat saja nggak punya, dan Kak Juna sampai harus masuk Rumah Sakit. Jangan dipaksakan, Kak. Semampunya Kakak aja.” Ucap Kiki kepada dua teman yang sudah dianggap panutannya.
“Serius lo kemarin masuk RS, Jun? Kenapa? Kok kita nggak tahu.” Tanya Mario yang merasa baru mendengar kabar itu.
“Maagku kambuh, Yo. Tapi udah sembuh kok.” Jawab Juna sedikit tersenyum.
“Mau sampai parah dulu, Kak, baru ngabarin kita?” Tanya Kiki sarkastik, hanya dibalas gelengan pelan Juna.
“Kak Yuga sama Kak Jay juga, mau kapan ilang-ilangan terus? Kalau ada masalah itu dihadapi bukan dihindari. Setiap ada masalah langsung ditinggal pergi gitu, bisa langsung selesai gitu, Kak? Nggak. Apa nggak capek Kak selalu seperti itu? Kalian anggap kita apa sih, Kak? Selalu minta orang lain ngomong, tapi sendirinya nggak ngomong langsung ngilang gitu aja. Lagian kalau setiap ada masalah dihindari, itu nggak bakal nyelesain masalah Kak, yang ada semakin numpuk.” Kiki nggak peduli kalau setelah ini, dia dianngap terlalu banyak omong atau terlalu ikut campur urusan orang lain. Karena menurutnya keenam orang di depannya ini bukan orang lain baginya.
“Bukan gitu, Ki. Kemarin gue cuma butuh refreshing.” Bela Jay.
“Kalau cuma refreshing, kenapa langsung nggak ada kabar. Kontak Kak Jay nggak bisa dihubungi. Dan nggak ada kejelasan Kak Jay pergi kemana. Itu yang namanya refreshing?” Entah sudah berapa kali Kiki menghela nafasnya berat. Dia hanya ingin mereka kembali terbuka lagi satu sama lain.
“Dan kalian, Vino sama Mario. Kiki paham gimana sifat kalian. Tapi seperti yang kamu bilang tadi, Vin, kita bukan anak SMA lagi yang bisa seenaknya sendiri. Kalian kapan mau seriusnya? Kalau toh emang kalian nggak suka di jalan ini, ya udah berhenti. Kenapa harus kalian paksakan dari awal, kalau toh kalian cuma main-main? Kalian sadar gak, berapa banyak waktu yang kalian sia-siakan? Yang dulu katanya mau serius, mau ngejar mimpi mana? Ayolah, kita bukan lagi anak kecil yang selala cari perhatian untuk didengarkan apa mau kita. Kita seharusnya udah bisa mutuskan apa yang terbaik buat kita sendiri. Dan Kiki harap, kalian paham itu.” Ucap Kiki berusaha tanpa emosi.
Lagi-lagi hening yang mengambil alih. Kali ini mereka bukan sibuk dengan dunianya sendiri-sendiri. Mereka diam karena berpikir. Apa yang sudah mereka lakukan, sampai Kiki yang biasanya hanya diam, tak banyak bicara dan selalu sependapat dengan teman-temannya bisa berkata sepanjang itu. Apa iya mereka sudah pergi terlalu lama, sampai sudah tak mengenali lagi, sampai lupa kalau mereka punya satu sama lain untuk pulang?
Juna dan Nicho seperti tertampar. Mereka menyadari mereka terlalu sibuk dengan tujuannya sendiri, sampai lupa mereka punya teman-teman yang masih perlu mereka gandeng. Mereka terlalu cepat berlari, sampai tak sadar tangan yang dulunya saling bergandengan lepas satu persatu.
Yuga dan Jay seperti menemukan seberkas cahaya yang menuntunnya untuk pulang dari pelarian. Mereka melupakan hal terpenting yang membuatnya bisa bertahan sampai saat ini. Mereka terlalu sibuk berperang dengan dirinya sendiri, sampai lupa mereka masih punya telinga-telinga yang mau mendengarkan semua cerita mereka. Mereka terlalu sibuk mencari tempat pelarian yang jauh, sampai mereka tersesat dan lupa mereka harus pulang kemana, padahal ada ‘rumah’ yang siap menerima mereka bagaimanapun keadaannya.
Vino dan Mario seperti mendapatkan game over pada semua gamenya. Mereka merasa sudah saatnya mengentikan semua gamenya dan kembali pada dunia nyatanya. Mereka terlalu nyaman di dunia maya dengan segala kesenangannya, sampai melupakan mimpi dan hidupnya yang harus mereka selesaikan. Mereka terlalu sibuk dengan strategi untuk permainannya, sampai tak sadar bahwa hidupnya justru berhenti di satu titik. Seharusnya mereka sadar, seperti di game yang selalu dimainkannya, ada ‘start’ ada ‘finish’. Begitu juga dengan hidup mereka. Mereka sudah memulainya, seharusnya melanjutkannya sampai akhir, bukan justru hanya membiarkannya mengikuti arus.
Kiki. Entah apa yang dilakukannya sekarang. Yang jelas, dia hanya berusaha memanggil teman-temannya untuk ‘pulang’. Meramaikan kembali ‘rumah’ mereka. Mengingatkan kembali kalau dia tidak pernah pergi. Selalu menunggu yang lain untuk pulang. Seperti kata Vino, mereka tak bisa kembali seperti dulu. Kiki paham itu. Tapi, yang Kiki harapkan di sini, mereka bisa melanjutkan apa yang sudah mereka bangun. Kebiasaan yang bisa membuat mereka bertahan sampai saat ini. Duduk bareng, makan bareng, bertukar cerita, ataupun saling bertukar kabar. Hanya sesederhana itu yang Kiki harapkan. Dia sudah merasa kehilangan teman-temannya akhir-akhir ini, ditinggal sendiri dengan segala kekosongan. Dan perasaan kosong itu, yang membuatnya tak ingin kehilangan lebih jauh lagi. Dia ingin mereka semua pulang.
“Maaf. Kiki terlalu sok tahu. Kiki terlalu merengek. Kiki hanya nggak mau kesibukan membuat kita jauh satu sama lain.” Ucap Kiki lirih. Kemudian dirasakannya, sebuah tepukan halus dipunggungnya. Dia menoleh, menemukan Juna yang tersenyum padanya.
“Ki, maaf..ah, bukan. Ki, Kak Juna pulang. Kita pulang.” Ucap Juna. Dia sadar, sudah terlalu jauh dia berlari untuk dirinya sendiri, dan sekarang saatnya dia harus menunggu teman-temannya.
Meski tak mengucapkan kata yang sama, seperti terwakili dengan Juna, yang lain hanya mengangguk mengiyakan. Seperti kata Juna, mereka pulang. Sudah cukup waktu untuk diri mereka sendiri-sendiri, dan sekarang saatnya kembali menguatkan satu sama lain. Taka da yang bisa Kiki lakukan selain tersenyum selebar-lebarnya. Teman-temannya sudah kembali. Penghuni ‘rumah’nya sudah pulang.
Ketika rumah tak hanya tentang bangunan berpintu. Ketika rumah tak hanya tentang tempat yang tak bisa berpindah. Ketika rumah tentang pemilik detak jantung, bukan bangunan melainkan orang. Orang yang akan menjadi tujuan kembali. Orang yang akan selalu menyambut dengan senang hati ketika kepulangan, itulah ‘rumah’.
Juna, Nicho. Yuga, Jay, Vino, Mario, dan Kiki, mereka punya rumah. Rumah yang mereka bangun bertujuh. Dalam rumah itu mereka paham, mereka tak bisa hidup dengan dirinya sendiri. Apa yang mereka bangun bersama, harus mereka perjuangkan bersama. Dan itulah mereka sadar, mereka bertahan untuk satu sama lain. Bukan untuk saling bergantung, tapi untuk saling merangkul. Bukankah seharusnya manusia seperti itu?
---Triana Febri---

Happy 5th Anniversary, BTS!
Terimakasih untuk segala inspirasi dan motivasi.
 cr.pict: pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar