Kamis, 31 Mei 2018

[CERPEN] LETTING GO


LETTING GO

“You must be survive”
---
Malam ini atensiku ditarik paksa dari alam mimpi. Suara berisik yang berasal tak jauh dariku membuatku kembali duduk. Rasa kantuk yang tadinya tak mau pergi, hilang begitu saja ketika mataku menangkap seseorang sedang mengeluarkan baju-bajunya dari almari.
“Lo sedang apa?” Tanyaku mendekat ke arahnya.
“Sudahlah, lo tidur lagi aja.” Jawabnya tak acuh, tetap dengan kegiatannya mengemas barang-barangnya.
“Win, lo ngapain berkemas? Mau kemana?” Tanyaku sambil mengeluarkan baju-bajunya. Tapi dia, Arwino, tak menjawab sama sekali. Dia memasukkan kembali apa yang sudah aku keluarkan.
Mataku tak sengaja menangkap jam dinding yang menggantung di belakangnya. Satu jam sebelum pergantian hari. Seperti tak memperdulikan keberadaanku disitu, dia masih saja berkemas. Aku melihat pintu kamar, berharap Pak Zul muncul untuk mengontrol seperti biasanya. Tetapi tidak ada. Tidak ada sampai Arwino mengangkat ranselnya.
“Arwino Bramasta! Lo mau kemana sih?” Emosiku sudah mengambil alih, sampai ranselnya sudah terlempar dari tangannya. Arwino hanya diam. Dia masih tampak tenang. Dan jujur, itu yang membuatku semakin emosi.
Aku mengenal seorang Arwino Bramasta bukan baru satu tahun atau dua tahun. Tapi dari kita berdua berada di sekolah dasar. Selama itu pula, aku paham dibalik wajah tenangnya itu menyimpan segala emosi. Dan itu yang semakin menakutkan. Seperti malam ini. Arwino yang tetap memasang wajah datarnya, dan dengan santainya mengambil kembali ransel dan menggendongnya.
“Gue pergi, lo baik-baik di sini.” Ucap Arwino seperti tak ada yang salah.
“Mau pergi kemana sih, Win? Tempat lo di sini.”
“Sorry. Tempat lo, bukan tempat gue. Gue nggak pernah nganggep ini tempat gue.”
“Tapi, Win, dulu..”
“Nggak usah bawa dulu-dulu, Gar!” Potongnya cepat.
“Tolong bilang kalau sekarang lo lagi bercanda, Win.”
“Haha. Memangnya gue lagi kelihatan bercanda, Gar? Sayangnya nggak.” Jawabnya dengan tawa. Aku masih mencermati apa yang terjadi. Setahuku dia tak ada masalah di sini. Dan hubungan kami baik-baik saja. Dia juga masih menjadi Arwino yang biasanya sampai sebelum tidur tadi. Tapi, kenapa tiba-tiba seperti ini?
“Oke, anggap saja ini bukan tempat lo, trus kenapa lo mau di sini sampai saat ini?” Aku masih berharap dia hanya bercanda.
“Haha. Lo serius mau tahu apa alasan gue di sini sampai saat ini?” Tanyanya dengan nada tak berubah sama sekali. “Karea gue kasihan sama lo, Gar. Se-simple itu.” Jawabnya dengan senyum sarkasnya.
“Kasihan sama gue? Jadi, persahabatan kita selama ini?” Arwino udah keterlaluan.
“Lo jawab sendiri aja.” Ujarnya. “Seharusnya lo bahagia gue pergi, nggak bakal ada yang ganggu lo lagi, nggak ada yang bakal ngehalangin jalan lo lagi. Dan lo bisa menjadi apa yang lau mau. Udahlah, gue pergi.” Ucapnya sebelum melangkah pergi setelah menepuk pundakku pelan.
“Segampang itu lo pergi, Win?” Tanyaku dengan suara tak begitu keras, tapi masih bisa membuatnya berhenti.
“Ya, segampang ini. Gue hanya perlu pergi dari tempat ini dan ngelupain semuanya.” Jawabnya kemudian melanjutkan langkahnya, dan hilang di balik pintu. Dan aku masih belum beranjak, masih tak percaya dengan kepergian Arwino. Bahkan untuk mengejarnya saja, aku tak bisa. Karena seperti yang ku bilang tadi, aku terlalu mengenal Arwino. Dan entah kenapa, aku merasa ada alasan untuk kepergiannya ini.
Aku percaya, setiap orang punya rasa sakitnya sendiri-sendiri. Tak pernah ada ukuran yang bisa digunakan untuk membandingkan antara rasa sakit seseorang dengan orang lain. Dan mungkin sekarang aku sedang berhadapan dengan rasa sakitku. Bilang saja, aku terlalu berlebihan mengenai sebuah hubungan persahabatan. Aku akan mengamini itu dengan sukarela. Karena memang seperti inilah aku.
Arwino Bramasta bukan hanya seorang teman yang ku kenal sejak lama. Bukan juga seorang teman yang selalu membenarkan semua apa yang aku lakukan. Dia memang tak sebaik itu. Tapi, seorang Arwino adalah teman yang bisa membawa seorang Edgar Harisson hingga bisa bertahan sampai saat ini. Dan seharusnya aku sadar, tak ada yang selamanya di dunia ini. Begitupun dengan Arwino. Mungkin sekarang memang saatnya dia pergi. Salahku yang terlalu bergantung padanya, sampai aku tak siap ketika aku harus bertahan sendiri. Dan malamku, ku habiskan untuk menyadarkan diriku sendiri bahwa sekarang aku harus berjuang sendiri.
“Edgar, Bapak yakin kalau kamu pasti sudah tahu mengenai keluarnya Arwino dari Akademi ini.” Ucap Pak Reza ketika aku menghadapnya pagi ini. Aku hanya mengangguk pelan.
“Karena Arwino keluar, itu artinya dia juga tidak bisa ikut kompetisi dance untuk bulan depan.” Pak Reza memberi jeda ucapannya, sedangkan aku hanya bisa menghela nafas pelan. “Awalnya, Bapak berencana memilih diantara kalian berdua untuk menjadi main dancer di kompetisi nanti, tapi karena Arwino sudah tidak bisa ikut kompetisi, jadi Bapak percaya sama kamu untuk menjadi main dancer nanti.” Jujur, aku terkejut dengan penjelasan Pak Reza.
“Saya, Pak?” Tanyaku meyakinkan kalau pendengaranku tak salah.
“Iya. Kemarin Bapak juga sudah sempat membicarakan ini dengan Arwino, tapi dia menolak bahkan dia keluar dari akademi ini. Jadi, kamu siap kan, Gar?” Mendengar kalau Arwino tahu lebih dulu mengenai hal ini, membuatku menyadari sesuatu. Dan tiba-tiba seperti ada yang memukulku. Apa karena hal ini, Arwino memilih pergi?
“Edgar?!” Suara Pak Reza menarik kesadaranku.
“Eh, iya, Pak?” Jawabku tergagap.
“Jadi, kamu siap kan?” Tanya Pak Reza mengulangi penawarannya.
“Akan saya coba, Pak.” Jawabku pelan.
“Baiklah. Bapak percaya kalau kamu bisa, Gar.” Ucap Pak Reza sambil menepuk pundakku pelan. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.
Keluar dari ruangan Pak Reza, langkahku berhenti di depan mading. Poster kompetisi dance untuk bulan depan memenuhi mading itu. Yang entah bagaimana, diriku seolah dibawa ke waktu dimana aku sama Arwino menonton dance competion beberapa tahun silam.
“Gue pengen berada di atas panggung itu.” Ucapku spontan waktu itu.
“Ya udahlah, gih naik.” Jawab Arwino dengan santainya.
“Win, maksud gue tuh..”
“Iya, paham gue.” Potongnya seakan tahu, apa yang akan aku proteskan.
“Bayangin, Win. Lo bakal ngrasain musik, tarian dan teriakan jadi satu. Dan itu lo rasain dari atas sana.” Aku membawa imajinasiku, suatu saat nanti bakal merasakan atmosfer panggung.
“Lo juga bakal berdiri di atas sana kok, Gar. Nanti. Percaya sama gue.” Ucap Arwino dengan pandangan masih ke panggung.
“Nggak cuma gue. Kita. Lo juga bakal di sana kan? Kita bakal satu panggung kan?” Daripada bertanya, aku lebih menganggap itu pernyataan.
“Iya.” Jawab Arwino singkat tapi tegas.
Iya. Jawabnya beberapa tahun silam. Dan jawaban itu sekarang sudah berubah. Tidak ada yang namanya satu panggung. Tidak ada Arwino yang akan ikut merasakan bagaimana astmosfir kompetisi nanti. Yang ada hanya Edgar Harisson.
“Gar, pada dasarnya setiap manusia diciptakan sendiri-sendiri. Kalau ada yang menemani itu bonus. Jadi, jangan pernah bergantung pada siapapun. Semua ada waktunya. Jika lo udah terlalu nyaman bergantung pada seseorang, ketika orang itu nanti pergi, lo sendiri yang akan kesusahan untuk bertahan. Padahal lo harus tetap berjuang untuk hidup lo sendiri. Jadi, mulai sekarang, lo harus terbiasa sendiri. Nanti, ketika gue juga pergi, you must be survive. Tiba-tiba ucapan Arwino ketika aku bercerita kalau aku selalu merasa sendiri, kembali terulang. Kalau saja aku tahu, kalimat itu mungkin ia tujukan untuk saat ini, aku tak akan meresponnya dengan bercandaan seperti waktu itu.
Entah kenapa, tak ada sakit lagi untuk kepergian Arwino. Seperti katanya, semua ada waktunya. Dan sekarang mungkin waktunya untuk pergi. Agar aku tak terlalu bergantung padanya. Seperti ucapannya ‘you must be survive’, ya aku harus bertahan untuk hidupku sendiri. Semoga sukses dimanapun lo berada, Arwino.
---Triana Febri---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar