“You must be survive”
---
Malam ini atensiku
ditarik paksa dari alam mimpi. Suara berisik yang berasal tak jauh dariku
membuatku kembali duduk. Rasa kantuk yang tadinya tak mau pergi, hilang begitu
saja ketika mataku menangkap seseorang sedang mengeluarkan baju-bajunya dari
almari.
“Lo sedang apa?” Tanyaku
mendekat ke arahnya.
“Sudahlah, lo tidur lagi
aja.” Jawabnya tak acuh, tetap dengan kegiatannya mengemas barang-barangnya.
“Win, lo ngapain
berkemas? Mau kemana?” Tanyaku sambil mengeluarkan baju-bajunya. Tapi dia,
Arwino, tak menjawab sama sekali. Dia memasukkan kembali apa yang sudah aku
keluarkan.
Mataku tak sengaja
menangkap jam dinding yang menggantung di belakangnya. Satu jam sebelum
pergantian hari. Seperti tak memperdulikan keberadaanku disitu, dia masih saja
berkemas. Aku melihat pintu kamar, berharap Pak Zul muncul untuk mengontrol
seperti biasanya. Tetapi tidak ada. Tidak ada sampai Arwino mengangkat
ranselnya.
“Arwino Bramasta! Lo mau
kemana sih?” Emosiku sudah mengambil alih, sampai ranselnya sudah terlempar
dari tangannya. Arwino hanya diam. Dia masih tampak tenang. Dan jujur, itu yang
membuatku semakin emosi.
Aku mengenal seorang
Arwino Bramasta bukan baru satu tahun atau dua tahun. Tapi dari kita berdua
berada di sekolah dasar. Selama itu pula, aku paham dibalik wajah tenangnya itu
menyimpan segala emosi. Dan itu yang semakin menakutkan. Seperti malam ini. Arwino
yang tetap memasang wajah datarnya, dan dengan santainya mengambil kembali
ransel dan menggendongnya.
“Gue pergi, lo baik-baik
di sini.” Ucap Arwino seperti tak ada yang salah.
“Mau pergi kemana sih,
Win? Tempat lo di sini.”
“Sorry. Tempat lo, bukan
tempat gue. Gue nggak pernah nganggep ini tempat gue.”
“Tapi, Win, dulu..”
“Nggak usah bawa
dulu-dulu, Gar!” Potongnya cepat.
“Tolong bilang kalau
sekarang lo lagi bercanda, Win.”
“Haha. Memangnya gue lagi
kelihatan bercanda, Gar? Sayangnya nggak.” Jawabnya dengan tawa. Aku masih
mencermati apa yang terjadi. Setahuku dia tak ada masalah di sini. Dan hubungan
kami baik-baik saja. Dia juga masih menjadi Arwino yang biasanya sampai sebelum
tidur tadi. Tapi, kenapa tiba-tiba seperti ini?
“Oke, anggap saja ini
bukan tempat lo, trus kenapa lo mau di sini sampai saat ini?” Aku masih
berharap dia hanya bercanda.
“Haha. Lo serius mau tahu
apa alasan gue di sini sampai saat ini?” Tanyanya dengan nada tak berubah sama
sekali. “Karea gue kasihan sama lo, Gar. Se-simple
itu.” Jawabnya dengan senyum sarkasnya.
“Kasihan sama gue? Jadi,
persahabatan kita selama ini?” Arwino udah keterlaluan.
“Lo jawab sendiri aja.” Ujarnya.
“Seharusnya lo bahagia gue pergi, nggak bakal ada yang ganggu lo lagi, nggak
ada yang bakal ngehalangin jalan lo lagi. Dan lo bisa menjadi apa yang lau mau.
Udahlah, gue pergi.” Ucapnya sebelum melangkah pergi setelah menepuk pundakku
pelan.
“Segampang itu lo pergi,
Win?” Tanyaku dengan suara tak begitu keras, tapi masih bisa membuatnya
berhenti.
“Ya, segampang ini. Gue
hanya perlu pergi dari tempat ini dan ngelupain semuanya.” Jawabnya kemudian
melanjutkan langkahnya, dan hilang di balik pintu. Dan aku masih belum
beranjak, masih tak percaya dengan kepergian Arwino. Bahkan untuk mengejarnya
saja, aku tak bisa. Karena seperti yang ku bilang tadi, aku terlalu mengenal
Arwino. Dan entah kenapa, aku merasa ada alasan untuk kepergiannya ini.
Aku percaya, setiap orang
punya rasa sakitnya sendiri-sendiri. Tak pernah ada ukuran yang bisa digunakan
untuk membandingkan antara rasa sakit seseorang dengan orang lain. Dan mungkin
sekarang aku sedang berhadapan dengan rasa sakitku. Bilang saja, aku terlalu
berlebihan mengenai sebuah hubungan persahabatan. Aku akan mengamini itu dengan
sukarela. Karena memang seperti inilah aku.
Arwino Bramasta bukan
hanya seorang teman yang ku kenal sejak lama. Bukan juga seorang teman yang
selalu membenarkan semua apa yang aku lakukan. Dia memang tak sebaik itu. Tapi,
seorang Arwino adalah teman yang bisa membawa seorang Edgar Harisson hingga
bisa bertahan sampai saat ini. Dan seharusnya aku sadar, tak ada yang selamanya
di dunia ini. Begitupun dengan Arwino. Mungkin sekarang memang saatnya dia
pergi. Salahku yang terlalu bergantung padanya, sampai aku tak siap ketika aku
harus bertahan sendiri. Dan malamku, ku habiskan untuk menyadarkan diriku
sendiri bahwa sekarang aku harus berjuang sendiri.
“Edgar, Bapak yakin kalau
kamu pasti sudah tahu mengenai keluarnya Arwino dari Akademi ini.” Ucap Pak
Reza ketika aku menghadapnya pagi ini. Aku hanya mengangguk pelan.
“Karena Arwino keluar,
itu artinya dia juga tidak bisa ikut kompetisi dance untuk bulan depan.” Pak Reza memberi jeda ucapannya,
sedangkan aku hanya bisa menghela nafas pelan. “Awalnya, Bapak berencana
memilih diantara kalian berdua untuk menjadi main dancer di kompetisi nanti, tapi karena Arwino sudah tidak bisa
ikut kompetisi, jadi Bapak percaya sama kamu untuk menjadi main dancer nanti.” Jujur, aku terkejut dengan penjelasan Pak Reza.
“Saya, Pak?” Tanyaku
meyakinkan kalau pendengaranku tak salah.
“Iya. Kemarin Bapak juga
sudah sempat membicarakan ini dengan Arwino, tapi dia menolak bahkan dia keluar
dari akademi ini. Jadi, kamu siap kan, Gar?” Mendengar kalau Arwino tahu lebih
dulu mengenai hal ini, membuatku menyadari sesuatu. Dan tiba-tiba seperti ada
yang memukulku. Apa karena hal ini, Arwino memilih pergi?
“Edgar?!” Suara Pak Reza
menarik kesadaranku.
“Eh, iya, Pak?” Jawabku tergagap.
“Jadi, kamu siap kan?”
Tanya Pak Reza mengulangi penawarannya.
“Akan saya coba, Pak.”
Jawabku pelan.
“Baiklah. Bapak percaya
kalau kamu bisa, Gar.” Ucap Pak Reza sambil menepuk pundakku pelan. Aku hanya
membalasnya dengan senyum tipis.
Keluar dari ruangan Pak
Reza, langkahku berhenti di depan mading. Poster kompetisi dance untuk bulan depan memenuhi mading itu. Yang entah bagaimana,
diriku seolah dibawa ke waktu dimana aku sama Arwino menonton dance competion beberapa tahun silam.
“Gue
pengen berada di atas panggung itu.” Ucapku spontan waktu itu.
“Ya
udahlah, gih naik.” Jawab Arwino dengan santainya.
“Win,
maksud gue tuh..”
“Iya,
paham gue.” Potongnya seakan tahu, apa yang akan aku proteskan.
“Bayangin,
Win. Lo bakal ngrasain musik, tarian dan teriakan jadi satu. Dan itu lo rasain
dari atas sana.” Aku membawa imajinasiku, suatu saat nanti bakal merasakan
atmosfer panggung.
“Lo
juga bakal berdiri di atas sana kok, Gar. Nanti. Percaya sama gue.” Ucap Arwino
dengan pandangan masih ke panggung.
“Nggak
cuma gue. Kita. Lo juga bakal di sana kan? Kita bakal satu panggung kan?”
Daripada bertanya, aku lebih menganggap itu pernyataan.
“Iya.”
Jawab Arwino singkat tapi tegas.
Iya. Jawabnya beberapa
tahun silam. Dan jawaban itu sekarang sudah berubah. Tidak ada yang namanya
satu panggung. Tidak ada Arwino yang akan ikut merasakan bagaimana astmosfir
kompetisi nanti. Yang ada hanya Edgar Harisson.
“Gar,
pada dasarnya setiap manusia diciptakan sendiri-sendiri. Kalau ada yang
menemani itu bonus. Jadi, jangan pernah bergantung pada siapapun. Semua ada
waktunya. Jika lo udah terlalu nyaman bergantung pada seseorang, ketika orang
itu nanti pergi, lo sendiri yang akan kesusahan untuk bertahan. Padahal lo
harus tetap berjuang untuk hidup lo sendiri. Jadi, mulai sekarang, lo harus
terbiasa sendiri. Nanti, ketika gue juga pergi,
you must be survive.” Tiba-tiba
ucapan Arwino ketika aku bercerita kalau aku selalu merasa sendiri, kembali
terulang. Kalau saja aku tahu, kalimat itu mungkin ia tujukan untuk saat ini,
aku tak akan meresponnya dengan bercandaan seperti waktu itu.
Entah kenapa, tak ada
sakit lagi untuk kepergian Arwino. Seperti katanya, semua ada waktunya. Dan
sekarang mungkin waktunya untuk pergi. Agar aku tak terlalu bergantung padanya.
Seperti ucapannya ‘you must be survive’,
ya aku harus bertahan untuk hidupku sendiri. Semoga sukses dimanapun lo berada,
Arwino.
---Triana
Febri---

Tidak ada komentar:
Posting Komentar