Minggu, 29 April 2018

[CERPEN] APRIL


APRIL

“Terkadang yang paling disukai, bisa jadi yang paling menyakiti.”
***


Saktiawan Anggaski. Dia Mas Angga bagi adik dan keluarganya. Dia Sakti bagi teman-temannya. Dan dia Agas ketika sendiri.
Dari ketiga versi itu, aku lebih suka memanggilnya Agas. Bukan Mas Angga yang selalu menyayangi si kecil Zahra dan menjadi kebanggan keluarganya. Bukan juga Sakti yang akan selalu tertawa dengan segala tingkah lakunya. Tapi hanya seorang Agas dengan segala cerita tentang April-nya.
Suatu hari di akhir Maret dengan cuaca yang cerah. Dua puluh menit berlalu dengan aku yang sibuk pada bukuku, dan Agas yang hanya duduk di depanku. Kegiatan seperti ini sudah sering kami lakukan. Sepulang sekolah, duduk di taman, dengan aku yang mengerjakan tugas dan Agas yang memaksa menemani.
“Kalau bosan, kenapa kamu tak pulang duluan?” Aku pernah bertanya seperti itu, ketika kami masih berseragam putih biru.
“Ya, dengan berakhir kamu bakal menyusahkan semua orang untuk mencarimu?” Jawabnya waktu itu. “Kamu itu ceroboh, Rei. Dulu aja waktu aku sakit dan nggak masuk sekolah, kamu sok-sokan mau pulang sendiri dan berakhir tersesat. Seharusnya kamu bersyukur aku masih mau menunggumu, bukan terus mengusirku.” Gerutunya.
“Namanya juga anak SD.” Jawabku masih tak terima ketika Agas mengungkit kejadian aku tersesat waktu pulang sekolah bertahun-tahun silam.
“Udahlah, segera selesaikan tugasmu. Trus kita pulang.” Ucapnya sambil menelungkupkan kepalanya di meja dengan malas.
Jika kalian bertanya, apa hubunganku dengan Agas? Kita teman. Dia teman kecilku lebih tepatnya. Rumah kita sebelahan dan kita mulai masuk taman kanak-kanak di tahun yang sama. Ya, seklasik itu alasannya.
“Ah, sebentar lagi April.” Ucapnya tiba-tiba.
“Iya tahu. Sebentar lagi April, dan kamu ulang tahun. Mau kado apa dariku?” Tanya tanpa mengalihkan pandanganku dari deretan tulisan di buku tugasku.
“Nggak.” Jawabnya singkat.
“Tumben.” Ucapku tak percaya. “Bukannya kamu ngomong gitu ngasih kode buat dikasih kado?” Tanyaku sudah hafal dengan sifat orang yang sudah 18 tahun bersamaku ini.
“Hem.” Gumamnya membuatku mengalihkan pandangan dari berlembar-lembar tugas di depanku. Dan yang ku lihat wajah Agas yang lesu. Tidak ada senyum jail yang selalu identik dengan seorang Saktiawan Anggaski.
“Kenapa, Gas?” Tanyaku to the point.
“Kenapa apanya? Tugasmu udah selesai?” Pengalihan. Dan itu membuatku yakin kalau ada apa-apa dengan Agas.
“Gas, kamu kenapa sih?” Aku sudah tidak tahan lagi dengan Agas yang tiba-tiba badmood seperti ini.
“Aku nggak papa, Rei. Cuma aku keinget, April tahun ini sudah satu tahun Kakek pergi.” Ucapnya. Blam. Aku langsung teringat satu fakta. Ya, tahun ini satu tahun kepergian Kakeknya Agas. Salah satu orang yang sangat Agas sayangi. Aku langsung membodohkan diriku sendiri, kenapa aku lupa dengan fakta itu.
“Ya udah ya, Kakek kan udah tenang di sana. Nggak usah sedih gitu dong, Gas.” Ucapku pelan. Bayangan gimana terpukulnya Agas dulu melintas begitu saja.
“Ah..” Agas hanya mengela nafas. Kemudian dia mendongak menatapku. “Pulang yuk, Rei. Laper aku.” Ajaknya. Dan aku tak ada pilihan selain mengikutinya. Agas yang seperti ini tidak akan dia tunjukan ketika dia menjadi Mas Angga ataupun Sakti.
Lima belas hari setelahnya. Awal April, tanggal kelahiran Agas. Tak ada yang spesial, seperti perayaan besar-besaran atau kado-kado yang berdatangan. Hanya sekedar ucapan “Hbd, Sak.” dari teman-teman kelas Agas. Hal tersebut yang Agas ceitakan, ketika aku bertanya bagaimana ulang tahunnya hari ini.
“Ya udah, sekarang giliran aku. Selamat ulang tahun, Agas. Doanya sama tahun-tahun kemarin ya.” Ucapku, sepulang sekolah di tempat biasanya.
“Kadonya?” Ucapnya sambil mengulurkan tangannya.
“Kan katanya kemarin nggak mau kado.” Jawabku sambil menampis telapak tangannya lumayan keras.
“Iya iya, bercanda.” Jawabnya. “Makasih ya, Rei.” Imbuhnya.
“Eh tapi, Gas. Aku punya kabar baik, semoga bisa jadi kado.” Kataku teringat sesuatu yang baru aku dengar pagi tadi di ruang guru.
“Apa? Kamu punya pacar?” Tanyanya dengan tebakan asalnya. Spontan aku langsung memukul lengannya.
“Ngaco.” Protesku tak terima. “Jadi gini, Gas, tadi pagi aku dipanggil sama Bu Desi. Kata Bu Desi aku dapat beasiswa ngelanjutin kuliah di salah satu kampus ternama. Kamu inget kan aku pernah ngomong, kalau aku pengen banget kuliah di kampus yang di luar kota itu? Nah, aku iseng ikut seleksinya, dan aku berhasil diterima di sana, Gas.” Ceritaku dengan semangatnya, sampai aku tak menyadari kalau Agas hanya diam.
“Gas, kamu dengerin aku kan?” Tanyaku memastikan.
“Iya, Rei. Aku denger. Selamat ya.” Ucapnya datar dengan senyum yang dipaksakan. Aku tak meresponnya. Masih mengamati perubahan Agas. Apa kabar baik ini salah? Apakah aku salah bicara lagi?
“Jadi, kamu berangkat kapan?” Tanyanya memecah keheningan. Aku kira Agas akan tetap diam. Aku sedikit lega.
“Setelah ujian nasional, akhir April. Kenapa?” Ya, itu informasi yang aku dapat dari Bu Desi. Tepat setelah ujian nasional, aku harus segera mengurus administrasi di kampus itu. Karena kampus itu di luar kota, itu artinya aku juga sudah mulai menetap di sana.
“Rei, harus kampus itu? Itu luar kota, Rei. Kenapa harus April?” Tanya Agas bertubi-tubi dengan suara yang pelan.
“Hah?” Jujur, aku tak paham dengan pertanyaan Agas. Dia kenapa tiba-tiba seperti ini. Dia tahu kalau aku sangat ingin masuk kampus itu. Dan apa yang salah dengan keberangkatanku yang bulan April?
“Kamu nggak bisa cari kampus lain gitu? Jangan di sana, Rei.” Pintanya dengan pandangan yang bisa dikatakan memohon.
“Gas, kamu sendiri tahu kan kalau aku pengen banget masuk kampus itu? Itu salah satu cita-citaku. Dan perasaan kemarin kamu setuju-setuju saja. Kenapa sekarang seperti ini?” Aku semakin tak paham apa yang sedang terjadi pada Agas.
“Tapi kenapa harus April sih, Rei?” Agas mengacak rambutnya frustasi.
“Apa bedanya dengan bulan lainnya?” Sumpah, aku belum pernah menemui Agas yang seperti ini. “Gas, kamu sebenernya kenapa sih? Ngomong yang jelas. Jangan buat aku bingung!” Ucapku.
“Kenapa harus April? Kenapa semuanya pergi di bulan yang seharusnya bikin aku bahagia. Tahun kemarin Kakek, sekarang kamu. Kenapa harus April?” Agas sudah mulai emosi. Aku merasakan itu dari nada bicaranya.
“Gas, aku pergi buat kuliah. Aku juga pasti pulang. Atau nggak kamu juga daftar di kampus itu.” Aku mencoba menjelaskannya dan memberikan opsi.
“Nggak bisa.” Ucapnya lirih, Belum sempat aku menyanggahnya, dia sudah melanjutkan bicaranya. “Ah sudahlah. Yuk pulang. Aku capek.” Ucapnya masih dengan pelan, dan langsung berjalan begitu saja ke parkiran sekolah. Aku hanya mengikutinya dalam diam.
Hari setelahnya, dia sudah tidak emosi seperti sore itu. Dia tetap tertawa dengan teman-temannya. Kami juga tetap pulang bersama. Masih ngobrol seperti biasanya. Tapi, aku merasa Agas sedikit menjadi pendiam atau tak pernah membahas masalah rencana kuliahku. Sampai hari ujian nasional. Sampai aku harus berangkat ke perantauan. Agas tetap sama. Dia juga mengantarkanku ke stasiun.
“Hati-hati, Rei.” Hanya pesan untuk berhati-hati yang dia ucapkan. Dan aku langsung mengiyakannya.
Sampai di kota tujuan, aku langsung disibukan dengan pengurusan administrasi pendaftaran. Kemudian kegiatan-kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Hari-hari pengenalan kampus. Sampai tak terasa waktu terus berjalan dengan begitu cepat, sampai tahun sudah berganti.
Selain kesibukan dan jam istirahat yang berubah, selebihnya tak ada yang berubah. Aku masih berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temanku dulu, termasuk Agas. Dia akhirnya memutuskan untuk kuliah di kota kelahiran kami. Tahun baru kemarin, aku juga menyempatkan untuk pulang.
Tak terasa aku sudah bertemu dengan April lagi. Berdasarkan informasi dari dosen jauh-jauh hari sebelumnya, Aprilku tahun ini diisi dengan UTS. Tapi selain itu yang paling terpenting, April bulannya Agas. Kado apa yang akan aku berikan padanya tahun ini? Pertanyaan itu terus berputar di pikiranku, sampai sebuah panggilan dari Ibu yang tiba-tiba menghubungiku. Padahal tadi malam, aku sudah berbicang dengan Ibu sampai hampir dua jam.
“Ya, Bu. Ada apa?” Tanyaku ketika sudah bertukar salam dengan Ibu.
“Kamu sudah di kampus, Rei?” Tanya Ibu.
“Sudah, Bu. Ini lagi nunggu dosen. Ada sesuatu yang terjadi di rumah, Bu?” Entah kenapa perasaanku tiba-tiba saja tidak enak.
“Rumah baik-baik saja.” Ucap Ibu cepat. “Rei, Ibu cuma mau mengabarkan, Ibunya Angga meninggal dunia subuh tadi.” Blam. Tiba-tiba seperti ada yang memukulku tepat di jantung.
“Bu, Rei salah denger kan? Ibunya Agas baik-baik aja kan?” Aku berharap aku hanya salah dengar.
“Nggak, Rei. Kamu nggak salah denger.” Jawab Ibu. Aku langsung lemas seketika.
“Agas. Agas gimana, Bu?” Tanyaku pelan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Agas.
“Ya dia seperti itu, Rei.” Agas nggak baik-baik saja. Aku ingin pulang. “Ya udah ya, Rei. Kamu kirim doa buat Ibunya Angga dari sana saja ya? Nanti Angga biar Ibu yang nenangin.” Pesan Ibu. Tak lama berselang, panggilan terputus bersamaan dengan Pak Wira, dosenku pagi itu masuk kelas. Dan berakhir aku tidak bisa konsentrasi mengerjakan UTS.
Setelah kabar duka itu, aku tak berhenti memikirkan bagaimana keadaan Agas. Ingin rasanya untuk segera pulang, tapi tanggung jawabku menahanku di sini. Aku sudah mengirimkan pesan pada Agas, tapi tak pernah mendapat respon. Dan hari ini, berselang dua hari dari kabar duka itu, ulang tahun Agas. Karena aku sedang tidak ada kelas, ku putuskan untuk menelponnya.
“Halo.” Aku sedikit lega karena itu suara Agas, bukan operator.
“Agas?” Aku memastikan.
“Hai, Rei.” Ucapnya. Mendengar suaranya yang sedikit serak membuatku ingin menangis.
“Kamu baik-baik saja kan?” Tanyaku takut.
“Semoga.” Jawabnya singkat.
“Gas, maaf aku nggak bisa pulang.” Tanpa sadar air mataku sudah turun.
“Nggak pa-pa. Aku ngerti kok. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua ini, Rei.” Masih jelas ada kesedihan dalam suaranya. Kemudian hening.
“Gas, hari ini..” Belum sempat aku selesai berbicara, dia sudah memotong.
“Rei, aku nggak mau bahas apapun tentang hari ini, tanggal ini, bahkan bulan ini.” Ada emosi di sana. “April terlalu jahat, Rei. Dan kenapa aku lahir di bulan April? Apakah kado yang cocok buatku itu kesedihan dan kehilangan? Kenapa semuanya pergi di bulan April?” Aku mendengar isak pelan setelah ucapan itu.
“Semua sudah ada jalannya sendiri-sendiri, Gas. Semua yang terjadi ini udah ditakdirkan, termasuk waktu.” Aku mencoba menenangkan.
“Tapi kenapa harus April, Rei? Kenapa harus mereka?” Suara Agas semakin menyakitkan.
“Hanya Tuhan yang tahu, Gas.” Jawabku pelan. Kemudian kami sibuk menenagkan diri kami sendiri. Yang terdengar hanya isak pelan dan helaan nafas.
“Rei, nggak ada bulan April untukku. Nggak ada Saktiawan Anggaski yang lahir bulan April. Jadi, aku nggak mau mendengar apa-apa yang berhubungan dengan April, terlebih tanggal ini.” Ucap Agas ketika sudah lebih tenang.
“Tapi, Gas..” Tuuut. Panggilan terputus. Aku langsung mencoba menghubunginya lagi. Tapi nomor Agas sudah tidak aktif. Aku langsung menangis begitu saja. Entah untuk siapa aku menangis ini.
Kenapa seperti ini sih, Gas? Bayangan bagiamana bahagianya Agas kecil yang selalu menunggu bulan April datang. Karena pada bulan kelahirannya itu, ia akan mendapat mainan-mainan baru. Bagaimana Agas yang tak pernah berhenti tersenyum ketika sudah akhir Maret, karena April akan segera datang. Agas sangat menyukai April. Tapi sekarang, dia tak akan bisa seperti itu lagi, lebih tepatnya dia tak mau. Dia melarang orang lain mengingatkannya pada April. Ternyata hidup seperti ini ya, Gas, yang paling disukai bisa jadi yang paling menyakiti.
Seorang Saktiawan Anggaski tak pernah main-main dengan ucapannya, termasuk melarang semua orang mengingatkannya pada April. Mulai hari itu, tak ada lagi ucapan selamat ulang tahun untuk pertambahan umurnya. Tak ada lagi yang cerewet ketika sudah hari-hari terakhir Maret. Tapi aku tetap mengucapkan selamat ulang tahun untuk Agas, terlebih doa-doa untuk pertambahan umurnya. Meski tak pernah sampai ke telinganya.
Begitu juga tahun ini, tahun kedua setelah kejadian itu. Di bulan yang sama, tanggal yang sama, dan nama yang sama, aku mengucapkan selamat ulang tahun beserta harapan dan doa. Tanpa sepengetahuan dia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Selamat ulang tahun, Agas. Doaku selalu yang terbaik untukmu. Tak ada yang salah dengan bulan kelahiranmu. Karena kelahiranmu adalah kebahagiaan tersendiri untuk keluargamu. Tetap menjadi Angga, Sakti maupun Agas yang semua orang kenal. Jangan bersedih berkepanjangan, karena kamu juga pantas bahagia. Semoga tambah dewasa dan selalu baik-baik saja. Selamat ulang tahun, temanku.
--Triana Febri--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar