APRIL
“Terkadang
yang paling disukai, bisa jadi yang paling menyakiti.”
***
***
Saktiawan Anggaski. Dia
Mas Angga bagi adik dan keluarganya. Dia Sakti bagi teman-temannya. Dan dia
Agas ketika sendiri.
Dari ketiga versi itu,
aku lebih suka memanggilnya Agas. Bukan Mas Angga yang selalu menyayangi si
kecil Zahra dan menjadi kebanggan keluarganya. Bukan juga Sakti yang akan
selalu tertawa dengan segala tingkah lakunya. Tapi hanya seorang Agas dengan
segala cerita tentang April-nya.
Suatu hari di akhir Maret
dengan cuaca yang cerah. Dua puluh menit berlalu dengan aku yang sibuk pada bukuku,
dan Agas yang hanya duduk di depanku. Kegiatan seperti ini sudah sering kami
lakukan. Sepulang sekolah, duduk di taman, dengan aku yang mengerjakan tugas
dan Agas yang memaksa menemani.
“Kalau bosan, kenapa kamu
tak pulang duluan?” Aku pernah bertanya seperti itu, ketika kami masih
berseragam putih biru.
“Ya, dengan berakhir kamu
bakal menyusahkan semua orang untuk mencarimu?” Jawabnya waktu itu. “Kamu itu
ceroboh, Rei. Dulu aja waktu aku sakit dan nggak masuk sekolah, kamu sok-sokan
mau pulang sendiri dan berakhir tersesat. Seharusnya kamu bersyukur aku masih
mau menunggumu, bukan terus mengusirku.” Gerutunya.
“Namanya juga anak SD.”
Jawabku masih tak terima ketika Agas mengungkit kejadian aku tersesat waktu
pulang sekolah bertahun-tahun silam.
“Udahlah, segera
selesaikan tugasmu. Trus kita pulang.” Ucapnya sambil menelungkupkan kepalanya
di meja dengan malas.
Jika kalian bertanya, apa
hubunganku dengan Agas? Kita teman. Dia teman kecilku lebih tepatnya. Rumah
kita sebelahan dan kita mulai masuk taman kanak-kanak di tahun yang sama. Ya,
seklasik itu alasannya.
“Ah, sebentar lagi
April.” Ucapnya tiba-tiba.
“Iya tahu. Sebentar lagi
April, dan kamu ulang tahun. Mau kado apa dariku?” Tanya tanpa mengalihkan
pandanganku dari deretan tulisan di buku tugasku.
“Nggak.” Jawabnya
singkat.
“Tumben.” Ucapku tak
percaya. “Bukannya kamu ngomong gitu ngasih kode buat dikasih kado?” Tanyaku
sudah hafal dengan sifat orang yang sudah 18 tahun bersamaku ini.
“Hem.” Gumamnya membuatku
mengalihkan pandangan dari berlembar-lembar tugas di depanku. Dan yang ku lihat
wajah Agas yang lesu. Tidak ada senyum jail yang selalu identik dengan seorang
Saktiawan Anggaski.
“Kenapa, Gas?” Tanyaku to the point.
“Kenapa apanya? Tugasmu
udah selesai?” Pengalihan. Dan itu membuatku yakin kalau ada apa-apa dengan
Agas.
“Gas, kamu kenapa sih?”
Aku sudah tidak tahan lagi dengan Agas yang tiba-tiba badmood seperti ini.
“Aku nggak papa, Rei.
Cuma aku keinget, April tahun ini sudah satu tahun Kakek pergi.” Ucapnya. Blam.
Aku langsung teringat satu fakta. Ya, tahun ini satu tahun kepergian Kakeknya
Agas. Salah satu orang yang sangat Agas sayangi. Aku langsung membodohkan
diriku sendiri, kenapa aku lupa dengan fakta itu.
“Ya udah ya, Kakek kan
udah tenang di sana. Nggak usah sedih gitu dong, Gas.” Ucapku pelan. Bayangan
gimana terpukulnya Agas dulu melintas begitu saja.
“Ah..” Agas hanya mengela
nafas. Kemudian dia mendongak menatapku. “Pulang yuk, Rei. Laper aku.” Ajaknya.
Dan aku tak ada pilihan selain mengikutinya. Agas yang seperti ini tidak akan
dia tunjukan ketika dia menjadi Mas Angga ataupun Sakti.
Lima belas hari
setelahnya. Awal April, tanggal kelahiran Agas. Tak ada yang spesial, seperti
perayaan besar-besaran atau kado-kado yang berdatangan. Hanya sekedar ucapan “Hbd,
Sak.” dari teman-teman kelas Agas. Hal tersebut yang Agas ceitakan, ketika aku
bertanya bagaimana ulang tahunnya hari ini.
“Ya udah, sekarang giliran
aku. Selamat ulang tahun, Agas. Doanya sama tahun-tahun kemarin ya.” Ucapku,
sepulang sekolah di tempat biasanya.
“Kadonya?” Ucapnya sambil
mengulurkan tangannya.
“Kan katanya kemarin
nggak mau kado.” Jawabku sambil menampis telapak tangannya lumayan keras.
“Iya iya, bercanda.”
Jawabnya. “Makasih ya, Rei.” Imbuhnya.
“Eh tapi, Gas. Aku punya
kabar baik, semoga bisa jadi kado.” Kataku teringat sesuatu yang baru aku
dengar pagi tadi di ruang guru.
“Apa? Kamu punya pacar?”
Tanyanya dengan tebakan asalnya. Spontan aku langsung memukul lengannya.
“Ngaco.” Protesku tak
terima. “Jadi gini, Gas, tadi pagi aku dipanggil sama Bu Desi. Kata Bu Desi aku
dapat beasiswa ngelanjutin kuliah di salah satu kampus ternama. Kamu inget kan
aku pernah ngomong, kalau aku pengen banget kuliah di kampus yang di luar kota
itu? Nah, aku iseng ikut seleksinya, dan aku berhasil diterima di sana, Gas.”
Ceritaku dengan semangatnya, sampai aku tak menyadari kalau Agas hanya diam.
“Gas, kamu dengerin aku
kan?” Tanyaku memastikan.
“Iya, Rei. Aku denger.
Selamat ya.” Ucapnya datar dengan senyum yang dipaksakan. Aku tak meresponnya.
Masih mengamati perubahan Agas. Apa kabar baik ini salah? Apakah aku salah
bicara lagi?
“Jadi, kamu berangkat
kapan?” Tanyanya memecah keheningan. Aku kira Agas akan tetap diam. Aku sedikit
lega.
“Setelah ujian nasional,
akhir April. Kenapa?” Ya, itu informasi yang aku dapat dari Bu Desi. Tepat
setelah ujian nasional, aku harus segera mengurus administrasi di kampus itu.
Karena kampus itu di luar kota, itu artinya aku juga sudah mulai menetap di sana.
“Rei, harus kampus itu? Itu
luar kota, Rei. Kenapa harus April?” Tanya Agas bertubi-tubi dengan suara yang
pelan.
“Hah?” Jujur, aku tak
paham dengan pertanyaan Agas. Dia kenapa tiba-tiba seperti ini. Dia tahu kalau aku
sangat ingin masuk kampus itu. Dan apa yang salah dengan keberangkatanku yang
bulan April?
“Kamu nggak bisa cari
kampus lain gitu? Jangan di sana, Rei.” Pintanya dengan pandangan yang bisa
dikatakan memohon.
“Gas, kamu sendiri tahu
kan kalau aku pengen banget masuk kampus itu? Itu salah satu cita-citaku. Dan
perasaan kemarin kamu setuju-setuju saja. Kenapa sekarang seperti ini?” Aku
semakin tak paham apa yang sedang terjadi pada Agas.
“Tapi kenapa harus April
sih, Rei?” Agas mengacak rambutnya frustasi.
“Apa bedanya dengan bulan
lainnya?” Sumpah, aku belum pernah menemui Agas yang seperti ini. “Gas, kamu
sebenernya kenapa sih? Ngomong yang jelas. Jangan buat aku bingung!” Ucapku.
“Kenapa harus April?
Kenapa semuanya pergi di bulan yang seharusnya bikin aku bahagia. Tahun kemarin
Kakek, sekarang kamu. Kenapa harus April?” Agas sudah mulai emosi. Aku
merasakan itu dari nada bicaranya.
“Gas, aku pergi buat
kuliah. Aku juga pasti pulang. Atau nggak kamu juga daftar di kampus itu.” Aku
mencoba menjelaskannya dan memberikan opsi.
“Nggak bisa.” Ucapnya
lirih, Belum sempat aku menyanggahnya, dia sudah melanjutkan bicaranya. “Ah
sudahlah. Yuk pulang. Aku capek.” Ucapnya masih dengan pelan, dan langsung
berjalan begitu saja ke parkiran sekolah. Aku hanya mengikutinya dalam diam.
Hari setelahnya, dia sudah
tidak emosi seperti sore itu. Dia tetap tertawa dengan teman-temannya. Kami
juga tetap pulang bersama. Masih ngobrol seperti biasanya. Tapi, aku merasa
Agas sedikit menjadi pendiam atau tak pernah membahas masalah rencana kuliahku.
Sampai hari ujian nasional. Sampai aku harus berangkat ke perantauan. Agas
tetap sama. Dia juga mengantarkanku ke stasiun.
“Hati-hati, Rei.” Hanya
pesan untuk berhati-hati yang dia ucapkan. Dan aku langsung mengiyakannya.
Sampai di kota tujuan,
aku langsung disibukan dengan pengurusan administrasi pendaftaran. Kemudian
kegiatan-kegiatan penerimaan mahasiswa baru. Hari-hari pengenalan kampus.
Sampai tak terasa waktu terus berjalan dengan begitu cepat, sampai tahun sudah
berganti.
Selain kesibukan dan jam
istirahat yang berubah, selebihnya tak ada yang berubah. Aku masih
berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temanku dulu, termasuk Agas. Dia
akhirnya memutuskan untuk kuliah di kota kelahiran kami. Tahun baru kemarin,
aku juga menyempatkan untuk pulang.
Tak terasa aku sudah
bertemu dengan April lagi. Berdasarkan informasi dari dosen jauh-jauh hari
sebelumnya, Aprilku tahun ini diisi dengan UTS. Tapi selain itu yang paling
terpenting, April bulannya Agas. Kado apa yang akan aku berikan padanya tahun
ini? Pertanyaan itu terus berputar di pikiranku, sampai sebuah panggilan dari
Ibu yang tiba-tiba menghubungiku. Padahal tadi malam, aku sudah berbicang
dengan Ibu sampai hampir dua jam.
“Ya, Bu. Ada apa?”
Tanyaku ketika sudah bertukar salam dengan Ibu.
“Kamu sudah di kampus,
Rei?” Tanya Ibu.
“Sudah, Bu. Ini lagi
nunggu dosen. Ada sesuatu yang terjadi di rumah, Bu?” Entah kenapa perasaanku
tiba-tiba saja tidak enak.
“Rumah baik-baik saja.”
Ucap Ibu cepat. “Rei, Ibu cuma mau mengabarkan, Ibunya Angga meninggal dunia
subuh tadi.” Blam. Tiba-tiba seperti ada yang memukulku tepat di jantung.
“Bu, Rei salah denger
kan? Ibunya Agas baik-baik aja kan?” Aku berharap aku hanya salah dengar.
“Nggak, Rei. Kamu nggak
salah denger.” Jawab Ibu. Aku langsung lemas seketika.
“Agas. Agas gimana, Bu?”
Tanyaku pelan. Aku tak bisa membayangkan bagaimana keadaan Agas.
“Ya dia seperti itu, Rei.”
Agas nggak baik-baik saja. Aku ingin pulang. “Ya udah ya, Rei. Kamu kirim doa
buat Ibunya Angga dari sana saja ya? Nanti Angga biar Ibu yang nenangin.” Pesan
Ibu. Tak lama berselang, panggilan terputus bersamaan dengan Pak Wira, dosenku
pagi itu masuk kelas. Dan berakhir aku tidak bisa konsentrasi mengerjakan UTS.
Setelah kabar duka itu,
aku tak berhenti memikirkan bagaimana keadaan Agas. Ingin rasanya untuk segera
pulang, tapi tanggung jawabku menahanku di sini. Aku sudah mengirimkan pesan
pada Agas, tapi tak pernah mendapat respon. Dan hari ini, berselang dua hari
dari kabar duka itu, ulang tahun Agas. Karena aku sedang tidak ada kelas, ku
putuskan untuk menelponnya.
“Halo.” Aku sedikit lega
karena itu suara Agas, bukan operator.
“Agas?” Aku memastikan.
“Hai, Rei.” Ucapnya.
Mendengar suaranya yang sedikit serak membuatku ingin menangis.
“Kamu baik-baik saja kan?”
Tanyaku takut.
“Semoga.” Jawabnya
singkat.
“Gas, maaf aku nggak bisa
pulang.” Tanpa sadar air mataku sudah turun.
“Nggak pa-pa. Aku ngerti
kok. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semua ini, Rei.” Masih jelas ada
kesedihan dalam suaranya. Kemudian hening.
“Gas, hari ini..” Belum
sempat aku selesai berbicara, dia sudah memotong.
“Rei, aku nggak mau bahas
apapun tentang hari ini, tanggal ini, bahkan bulan ini.” Ada emosi di sana. “April
terlalu jahat, Rei. Dan kenapa aku lahir di bulan April? Apakah kado yang cocok
buatku itu kesedihan dan kehilangan? Kenapa semuanya pergi di bulan April?” Aku
mendengar isak pelan setelah ucapan itu.
“Semua sudah ada jalannya
sendiri-sendiri, Gas. Semua yang terjadi ini udah ditakdirkan, termasuk waktu.”
Aku mencoba menenangkan.
“Tapi kenapa harus April,
Rei? Kenapa harus mereka?” Suara Agas semakin menyakitkan.
“Hanya Tuhan yang tahu,
Gas.” Jawabku pelan. Kemudian kami sibuk menenagkan diri kami sendiri. Yang
terdengar hanya isak pelan dan helaan nafas.
“Rei, nggak ada bulan
April untukku. Nggak ada Saktiawan Anggaski yang lahir bulan April. Jadi, aku
nggak mau mendengar apa-apa yang berhubungan dengan April, terlebih tanggal
ini.” Ucap Agas ketika sudah lebih tenang.
“Tapi, Gas..” Tuuut.
Panggilan terputus. Aku langsung mencoba menghubunginya lagi. Tapi nomor Agas
sudah tidak aktif. Aku langsung menangis begitu saja. Entah untuk siapa aku
menangis ini.
Kenapa seperti ini sih,
Gas? Bayangan bagiamana bahagianya Agas kecil yang selalu menunggu bulan April
datang. Karena pada bulan kelahirannya itu, ia akan mendapat mainan-mainan
baru. Bagaimana Agas yang tak pernah berhenti tersenyum ketika sudah akhir
Maret, karena April akan segera datang. Agas sangat menyukai April. Tapi
sekarang, dia tak akan bisa seperti itu lagi, lebih tepatnya dia tak mau. Dia
melarang orang lain mengingatkannya pada April. Ternyata hidup seperti ini ya,
Gas, yang paling disukai bisa jadi yang paling menyakiti.
Seorang Saktiawan
Anggaski tak pernah main-main dengan ucapannya, termasuk melarang semua orang
mengingatkannya pada April. Mulai hari itu, tak ada lagi ucapan selamat ulang
tahun untuk pertambahan umurnya. Tak ada lagi yang cerewet ketika sudah
hari-hari terakhir Maret. Tapi aku tetap mengucapkan selamat ulang tahun untuk
Agas, terlebih doa-doa untuk pertambahan umurnya. Meski tak pernah sampai ke
telinganya.
Begitu juga tahun ini,
tahun kedua setelah kejadian itu. Di bulan yang sama, tanggal yang sama, dan
nama yang sama, aku mengucapkan selamat ulang tahun beserta harapan dan doa.
Tanpa sepengetahuan dia. Hanya aku dan Tuhan yang tahu.
Selamat ulang tahun,
Agas. Doaku selalu yang terbaik untukmu. Tak ada yang salah dengan bulan
kelahiranmu. Karena kelahiranmu adalah kebahagiaan tersendiri untuk keluargamu.
Tetap menjadi Angga, Sakti maupun Agas yang semua orang kenal. Jangan bersedih
berkepanjangan, karena kamu juga pantas bahagia. Semoga tambah dewasa dan
selalu baik-baik saja. Selamat ulang tahun, temanku.
--Triana
Febri--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar