REHAT
"Capek itu pasti. Berhenti atau tidak
itu pilihan."
***
“Kita cukupkan sampai
disini. Terimakasih yang sudah menyempatkan datang. Aku minta kerjasamanya
sampai hari H nanti.” Ucap Reza sang ketua panitia mengakhiri rapat tepat
ketika jam dinding di ruang ini menunjukkan pukul 20.00.
Biar ku jelaskan terlebih
dulu. Rapat yang baru saja berakhir ini adalah rapat kepanitian acara yang
diselenggarakan oleh himpunan jurusanku. Bukan, aku sebenarnya bukan termasuk
pengurus himpunan mahasiswa di jurusanku. Hanya saja, aku terjebak di
kepanitiaan ini karena seseorang. Yang bahkan orang itu tak ku lihat sosoknya
di ruangan ini sejak rapat di mulai tadi.
“Arnes, Yuga kemana?”
Tanya Reza yang sudah berdiri di sampingku.
“Hah? Yuga? Nggak tau.”
Jawabku seadanya. Karena aku sendiri juga tak tahu dimana makhluk yang
memaksaku untuk ikut dalam kepanitiaan ini. Ya, dia Yuga.
“Gue duluan ya, Za.”
Pamitku pada Reza.
“Oh, iya. Terimakasih ya,
Nes.” Ucapnya yang hanya ku balas dengan anggukan.
Sebenarnya yang ku
harapkan pada masa kuliahku, ya cukup kuliah. Berangkat ketika ada kelas dan
pulang ketika kelas selesai. Hal yang memusingkan hanya tugas. Ya, sebut saja
mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang. Tidak ada niatan untuk masuk
organisasi atau sekedar kepanitiaan. Sampai dua bulan lalu seseorang merusak
harapanku itu. Ya, siapa lagi kalau bukan manusia bernama Yuga Arya Praditya. Dengan
segala bujuk rayunya, berakhirlah dengan aku yang ikut open recruitment dan masuk kepanitiaan.
Aku merasa ada yang
janggal disini. Maksudku, tidak seperti biasanya seorang Yuga absen dari rapat.
Ya, meskipun dia tipe yang suka seenaknya sendiri, tapi dia bukan tipe orang
yang meninggalkan kewajibannya. Dan menurutku rapat ini adalah kewajibannya
karena dia yang sudah memilih untuk ikut dalam kepanitiaan.
Setelah sadar akan
ketidakhadiran Yuga tadi saat rapat, saat itu juga aku langsung mengirimi pesan
dia dengan chat-chat yang menanyakan keberadaannya dan alasan ketidakhadirannya.
Nihil, tak ada respon sama sekali sampai detik ini aku meninggalkan ruangan
tempat rapat tadi. Bahkan panggilanku tidak dia terima. Kemana sih lo, Ga?
Diatas pukul 20.00 itu
artinya tidak ada jadwal perkuliahan lagi, yang artinya juga kampus sudah mulai
sepi kecuali anak-anak UKM yang biasanya ada latihan atau kegiatan malam. Dan
yang ku lakukan sekarang adalah jalan kaki dengan masih mencoba menghubungi
makhluk bernama Yuga.
“Udah cukup, Nes. Berisik
hp gue daritadi.” Sebuah suara membuatku langsung berhenti dan menoleh ke
sumber suara. Dengan santainya seorang Yuga duduk manis di atas motornya di
dekat pintu gerbang fakultasku.
“Masih hidup lo?” Tanyaku
langsung menghampirinya.
“Haha. Udah mati.”
Jawabnya sarkas.
“Kemana tadi?” Tanyaku
tanpa basa-basi. Karena percuma basa-basi sama Yuga.
“Makan yuk, Nes? Laper.”
Ajaknya tanpa menggubris pertanyaanku. Bukannya protes, aku justru mengangguk.
Mengenal Yuga sejak dua tahun yang lalu, membuatku tahu kalau Yuga yang
mengalihkan pertanyaan adalah Yuga yang sedang menyembunyikan sesuatu dan belum
siap membagikannya dengan orang lain.
Seperti yang ku bilang
tadi, ajakan makan hanya sebuah pengalihan Yuga. Buktinya, soto di depannya tak
disentuh sama sekali. Dia justru sedang asyik memainkan sedotan pada es tehnya.
Meskipun Yuga tipe orang yang cuek bahkan bisa dibilang kejam ketika memberi
komentar pada apapun, tapi dia bisa menjadi Yuga yang seperti saat ini. Dan aku
paham, Yuga yang seperti ini adalah Yuga yang sedang berperang dengan dirinya
sendiri, entah itu tentang apa. Dan Yuga yang sekarang, hanya butuh ditemani
bukan diintrogasi.
“Ga?” Panggilku membuat
pandangannya langsung mengarah ke arahku.
“Hah?” Dia gelagapan.
“Eh, Nes, gimana tadi rapat, bahas apa aja?” Dari 30 menit yang lalu kita
sampai tempat makan ini, pertanyaan itu pertanyaan pertama dari Yuga.
"Biasa, progress.” Jawabku singkat. Aku tahu dia
hanya basa-basi. “Lo tadi nggak ada kemana?” Yuga seperti kesulitan menjawab
pertanyaanku tadi. Padahal ketika dia jawab ketiduran, aku bakal percaya.
Karena dia sebegitu sukanya dengan tidur.
“Em..nggak kemana-mana.”
Jawabnya pelan. Kalau aku nggak inget ini tempat umum, aku pasti udah teriak.
Dan mungkin prasangka ku tadi soal ada yang janggal dengan Yuga itu benar. Yuga
bukan orang yang seperti ini.
“Trus kenapa nggak rapat,
Yuga?” Aku sedikit meninggikan intonasiku. Bikin ‘gemes’ juga ini Yuga.
“Nes, kalau gue serahkan
tugas gue ke orang lain gimana ya?” Dia berkata dengan santainya.
“Enteng banget tuh rahang
ngomong mau ngelimpahin tugas ke orang lain. Kenapa nggak lo sendiri yang
nyelesain tugas lo sendiri?” Rasanya pengen aku maki-maki Yuga saat ini juga.
“Gue mau berhenti, Nes.
Gue capek.” Jawabnya dengan emosinya yang tertahan.
“Capek bukan berarti lo
harus berhenti sepenuhnya, Ga. Asal lo tahu, nggak cuma lo yang capek disini,
gue juga capek, atau bahkan kita semua capek. Gue juga nggak minta lo buat
maksain diri lo seolah semuanya baik-baik saja. Tapi ketika lo milih berhenti saat
tugas lo belum selesai, sama aja lo melarikan diri, Ga. Dan seorang Yuga yang
gue kenal bukan orang sepengecut itu.” Entah apa yang keluar dari mulutku.
Jujur, aku sedikit kecewa dengan Yuga sampai dia punya pikiran untuk berhenti.
“Lo nggak paham, Nes. Lo
nggak nger-“
“Makanya jelasin kek biar
gue paham!” Untung tempat makan yang kita pilih sekarang, bukan tempat makan
yang bakal bikin jadi pusat perhatian kalau ada sedikit keributan.
“Sebenernya gue juga
nggak mau berhenti, Nes. Tapi keadaan yang maksa gue buat mundur aja. Daripada
gue tetep jalan justru berantakin, mending gue berhenti dari sekarang. Gue udah
nggak bisa kerja sama sama orang yang nggak paham apa itu kerja sama.” Jelas
dia menerawang.
“Siapa sih yang lo
maksud? Kenapa gue nggak ngerasain apa-apa. Gue fine-fine aja sama mereka.” Ini anatara aku yang nggak peka atau
dia yang kebanyakan berasumsi?
“Nggak semua orang di
sana seperti itu, Nes. Beberapa orang aja. Gue udah jengah dengan orang-orang
tanpa kontribusi. Mereka datang rapat cuma buat syarat cari nama. Padahal
mereka nggak pernah mikir sama sekali. Cari aman dengan nunjukin salah orang
lain. Gue udah males dengan orang-orang seperti itu, Nes.” Tidak ada nama yang
terlintas di kepalaku ketika mendengar penjelasan Yuga. Karena memang fokusku
hanya ke Yuga.
“Trus apa bedanya lo sama
mereka?” Spontan pertanyaan itu terlempar begitu saja.
“Hah?!” Aku sempet ragu,
apa benar yang duduk di depanku ini Yuga yang selalu dielu-elukan atas
pemikiran-pemikirannya itu?
“Saat lo milih berhenti
ninggalin tugas lo, apa bedanya lo sama mereka? Nggak ada, Ga, nggak ada asal
lo tahu. Kalau menurutku, mereka datang rapat aja itu kontribusi mereka,
meskipun saat rapat mereka terus membual, ya biarkan saja.” Aku megambil nafas.
“Disini yang lo nggak suka cuma beberapa orang, tapi kenapa lo mau ngorbanin
banyak orang? Yuga, jangan sampai seseorang yang lo benci itu membuat
keberadaan orang-orang yang butuh lo tertutupi. Inget, alasan lo ambil
keputusan ini apa, Ga.” Ucapku panjang lebar cukup buat dia semakin menunduk.
“Tapi lo tahu gue gimana
kan, Nes? Gue nggak bisa seolah baik-baik saja sama orang yang udah nggak ada respect dari gue. Trus, takut gue, itu
bakal menjalar ke hal yang lain, Nes.” Memang Yuga setransparan itu. Ketika dia
nggak suka sama sesuatu, bakal kelihatan dia nggak suka.
“Istirahat, Ga. Kalau
capek itu istirahat, bukan berhenti sepenuhnya. Gue nggak mau nuntun lo gimana
seharusnya bersikap. Lo udah bukan anak TK lagi, Ga. Gue cuma minta, jangan
bersikap seolah lo satu-satunya yang menderita disini. Semua sama, dengan porsi
masing-masing. Dan gue harap lo bisa berpikir dewasa.” Aku tak pernah
menyangsikan bagaimana cara kepala Yuga bekerja. Meskipun tindakannya kali ini
sedikit membuatku kecewa sebagai seorang teman yang sedikit banyak mengetahui
bagaimana kehidupannya.
“Nes, Arnes..” Dia hanya
menggumamkan namaku pelan.
“Udah, gak usah sok-sokan
ngilang. Kalau ketemu Reza bilang aja ketiduran. Kalau lo mau berhenti dengan
alasan semenye itu, dengan senang hati bakal gue hapus kontak lo dari segala
sosmed gue, dan gue bakal amnesia kalau punya temen namanya Yuga Arya Praditya.”
Yuga masih diam, tapi aku tahu dia sudah tidak sekalut tadi. “Ya udah, gue
balik ya?” Pamitku sambil meraih tasku.
“Gue anter, Nes.” Ucapnya
ingin ikut beranjak. Dengan sigap aku mencegahnya. Yuga masih butuh waktu buat
sendiri. Dan tempat umum seperti inilah yang pas untuknya.
“Nggak usah, gue udah
pesen ojek online kok.” Ucapku membuat Yuga langsung memasang wajah kesal.
“Ya udah, hati-hati.
Makasih, Nes.” Ucapnya dengan nada tanpa tenaga sedikitpun.
“Bilang makasihnya kalau
lo udah nentuin gimana keputusan lo kedepannya, Ga. Gue sangat berharap ketemu
lo di rapat minggu depan. Tolong diingat ya Saudara Yuga yang terhormat, lo
yang udah nyeret gue buat masuk kepanitian itu, masa lo mau ninggalin gue
sendirian di sana.” Dia hanya ketawa merespon ucapanku. Dan setelah menepuk
bahunya beberapa kali, aku meninggalkan Yuga di tempat makan itu.
Secapek itukah Yuga?
Bahkan sampai dia mengeluh. Aku berharap dia bisa menyembuhkan dirinya
secepatnya. Dan kembali menjadi Yuga dengan segala pemikiran-pemikiran
bijaknya, bukan Yuga yang dengan mudah dilumpuhkan oleh egonya. Cepat sembuh,
Yuga. Dan kita berproses lagi bersama.
--Triana Febri--

Tidak ada komentar:
Posting Komentar