Senin, 26 Maret 2018

[CERPEN] REHAT


REHAT

"Capek itu pasti. Berhenti atau tidak itu pilihan."

***

“Kita cukupkan sampai disini. Terimakasih yang sudah menyempatkan datang. Aku minta kerjasamanya sampai hari H nanti.” Ucap Reza sang ketua panitia mengakhiri rapat tepat ketika jam dinding di ruang ini menunjukkan pukul 20.00.
Biar ku jelaskan terlebih dulu. Rapat yang baru saja berakhir ini adalah rapat kepanitian acara yang diselenggarakan oleh himpunan jurusanku. Bukan, aku sebenarnya bukan termasuk pengurus himpunan mahasiswa di jurusanku. Hanya saja, aku terjebak di kepanitiaan ini karena seseorang. Yang bahkan orang itu tak ku lihat sosoknya di ruangan ini sejak rapat di mulai tadi.
“Arnes, Yuga kemana?” Tanya Reza yang sudah berdiri di sampingku.
“Hah? Yuga? Nggak tau.” Jawabku seadanya. Karena aku sendiri juga tak tahu dimana makhluk yang memaksaku untuk ikut dalam kepanitiaan ini. Ya, dia Yuga.
“Gue duluan ya, Za.” Pamitku pada Reza.
“Oh, iya. Terimakasih ya, Nes.” Ucapnya yang hanya ku balas dengan anggukan.
Sebenarnya yang ku harapkan pada masa kuliahku, ya cukup kuliah. Berangkat ketika ada kelas dan pulang ketika kelas selesai. Hal yang memusingkan hanya tugas. Ya, sebut saja mahasiswa kupu-kupu, kuliah pulang kuliah pulang. Tidak ada niatan untuk masuk organisasi atau sekedar kepanitiaan. Sampai dua bulan lalu seseorang merusak harapanku itu. Ya, siapa lagi kalau bukan manusia bernama Yuga Arya Praditya. Dengan segala bujuk rayunya, berakhirlah dengan aku yang ikut open recruitment dan masuk kepanitiaan.
Aku merasa ada yang janggal disini. Maksudku, tidak seperti biasanya seorang Yuga absen dari rapat. Ya, meskipun dia tipe yang suka seenaknya sendiri, tapi dia bukan tipe orang yang meninggalkan kewajibannya. Dan menurutku rapat ini adalah kewajibannya karena dia yang sudah memilih untuk ikut dalam kepanitiaan.
Setelah sadar akan ketidakhadiran Yuga tadi saat rapat, saat itu juga aku langsung mengirimi pesan dia dengan chat-chat yang menanyakan keberadaannya dan alasan ketidakhadirannya. Nihil, tak ada respon sama sekali sampai detik ini aku meninggalkan ruangan tempat rapat tadi. Bahkan panggilanku tidak dia terima. Kemana sih lo, Ga?
Diatas pukul 20.00 itu artinya tidak ada jadwal perkuliahan lagi, yang artinya juga kampus sudah mulai sepi kecuali anak-anak UKM yang biasanya ada latihan atau kegiatan malam. Dan yang ku lakukan sekarang adalah jalan kaki dengan masih mencoba menghubungi makhluk bernama Yuga.
“Udah cukup, Nes. Berisik hp gue daritadi.” Sebuah suara membuatku langsung berhenti dan menoleh ke sumber suara. Dengan santainya seorang Yuga duduk manis di atas motornya di dekat pintu gerbang fakultasku.
“Masih hidup lo?” Tanyaku langsung menghampirinya.
“Haha. Udah mati.” Jawabnya sarkas.
“Kemana tadi?” Tanyaku tanpa basa-basi. Karena percuma basa-basi sama Yuga.
“Makan yuk, Nes? Laper.” Ajaknya tanpa menggubris pertanyaanku. Bukannya protes, aku justru mengangguk. Mengenal Yuga sejak dua tahun yang lalu, membuatku tahu kalau Yuga yang mengalihkan pertanyaan adalah Yuga yang sedang menyembunyikan sesuatu dan belum siap membagikannya dengan orang lain.
Seperti yang ku bilang tadi, ajakan makan hanya sebuah pengalihan Yuga. Buktinya, soto di depannya tak disentuh sama sekali. Dia justru sedang asyik memainkan sedotan pada es tehnya. Meskipun Yuga tipe orang yang cuek bahkan bisa dibilang kejam ketika memberi komentar pada apapun, tapi dia bisa menjadi Yuga yang seperti saat ini. Dan aku paham, Yuga yang seperti ini adalah Yuga yang sedang berperang dengan dirinya sendiri, entah itu tentang apa. Dan Yuga yang sekarang, hanya butuh ditemani bukan diintrogasi.
“Ga?” Panggilku membuat pandangannya langsung mengarah ke arahku.
“Hah?” Dia gelagapan. “Eh, Nes, gimana tadi rapat, bahas apa aja?” Dari 30 menit yang lalu kita sampai tempat makan ini, pertanyaan itu pertanyaan pertama dari Yuga.
"Biasa, progress.” Jawabku singkat. Aku tahu dia hanya basa-basi. “Lo tadi nggak ada kemana?” Yuga seperti kesulitan menjawab pertanyaanku tadi. Padahal ketika dia jawab ketiduran, aku bakal percaya. Karena dia sebegitu sukanya dengan tidur.
“Em..nggak kemana-mana.” Jawabnya pelan. Kalau aku nggak inget ini tempat umum, aku pasti udah teriak. Dan mungkin prasangka ku tadi soal ada yang janggal dengan Yuga itu benar. Yuga bukan orang yang seperti ini.
“Trus kenapa nggak rapat, Yuga?” Aku sedikit meninggikan intonasiku. Bikin ‘gemes’ juga ini Yuga.
“Nes, kalau gue serahkan tugas gue ke orang lain gimana ya?” Dia berkata dengan santainya.
“Enteng banget tuh rahang ngomong mau ngelimpahin tugas ke orang lain. Kenapa nggak lo sendiri yang nyelesain tugas lo sendiri?” Rasanya pengen aku maki-maki Yuga saat ini juga.
“Gue mau berhenti, Nes. Gue capek.” Jawabnya dengan emosinya yang tertahan.
“Capek bukan berarti lo harus berhenti sepenuhnya, Ga. Asal lo tahu, nggak cuma lo yang capek disini, gue juga capek, atau bahkan kita semua capek. Gue juga nggak minta lo buat maksain diri lo seolah semuanya baik-baik saja. Tapi ketika lo milih berhenti saat tugas lo belum selesai, sama aja lo melarikan diri, Ga. Dan seorang Yuga yang gue kenal bukan orang sepengecut itu.” Entah apa yang keluar dari mulutku. Jujur, aku sedikit kecewa dengan Yuga sampai dia punya pikiran untuk berhenti.
“Lo nggak paham, Nes. Lo nggak nger-“
“Makanya jelasin kek biar gue paham!” Untung tempat makan yang kita pilih sekarang, bukan tempat makan yang bakal bikin jadi pusat perhatian kalau ada sedikit keributan.
“Sebenernya gue juga nggak mau berhenti, Nes. Tapi keadaan yang maksa gue buat mundur aja. Daripada gue tetep jalan justru berantakin, mending gue berhenti dari sekarang. Gue udah nggak bisa kerja sama sama orang yang nggak paham apa itu kerja sama.” Jelas dia menerawang.
“Siapa sih yang lo maksud? Kenapa gue nggak ngerasain apa-apa. Gue fine-fine aja sama mereka.” Ini anatara aku yang nggak peka atau dia yang kebanyakan berasumsi?
“Nggak semua orang di sana seperti itu, Nes. Beberapa orang aja. Gue udah jengah dengan orang-orang tanpa kontribusi. Mereka datang rapat cuma buat syarat cari nama. Padahal mereka nggak pernah mikir sama sekali. Cari aman dengan nunjukin salah orang lain. Gue udah males dengan orang-orang seperti itu, Nes.” Tidak ada nama yang terlintas di kepalaku ketika mendengar penjelasan Yuga. Karena memang fokusku hanya ke Yuga.
“Trus apa bedanya lo sama mereka?” Spontan pertanyaan itu terlempar begitu saja.
“Hah?!” Aku sempet ragu, apa benar yang duduk di depanku ini Yuga yang selalu dielu-elukan atas pemikiran-pemikirannya itu?
“Saat lo milih berhenti ninggalin tugas lo, apa bedanya lo sama mereka? Nggak ada, Ga, nggak ada asal lo tahu. Kalau menurutku, mereka datang rapat aja itu kontribusi mereka, meskipun saat rapat mereka terus membual, ya biarkan saja.” Aku megambil nafas. “Disini yang lo nggak suka cuma beberapa orang, tapi kenapa lo mau ngorbanin banyak orang? Yuga, jangan sampai seseorang yang lo benci itu membuat keberadaan orang-orang yang butuh lo tertutupi. Inget, alasan lo ambil keputusan ini apa, Ga.” Ucapku panjang lebar cukup buat dia semakin menunduk.
“Tapi lo tahu gue gimana kan, Nes? Gue nggak bisa seolah baik-baik saja sama orang yang udah nggak ada respect dari gue. Trus, takut gue, itu bakal menjalar ke hal yang lain, Nes.” Memang Yuga setransparan itu. Ketika dia nggak suka sama sesuatu, bakal kelihatan dia nggak suka.
“Istirahat, Ga. Kalau capek itu istirahat, bukan berhenti sepenuhnya. Gue nggak mau nuntun lo gimana seharusnya bersikap. Lo udah bukan anak TK lagi, Ga. Gue cuma minta, jangan bersikap seolah lo satu-satunya yang menderita disini. Semua sama, dengan porsi masing-masing. Dan gue harap lo bisa berpikir dewasa.” Aku tak pernah menyangsikan bagaimana cara kepala Yuga bekerja. Meskipun tindakannya kali ini sedikit membuatku kecewa sebagai seorang teman yang sedikit banyak mengetahui bagaimana kehidupannya.
“Nes, Arnes..” Dia hanya menggumamkan namaku pelan.
“Udah, gak usah sok-sokan ngilang. Kalau ketemu Reza bilang aja ketiduran. Kalau lo mau berhenti dengan alasan semenye itu, dengan senang hati bakal gue hapus kontak lo dari segala sosmed gue, dan gue bakal amnesia kalau punya temen namanya Yuga Arya Praditya.” Yuga masih diam, tapi aku tahu dia sudah tidak sekalut tadi. “Ya udah, gue balik ya?” Pamitku sambil meraih tasku.
“Gue anter, Nes.” Ucapnya ingin ikut beranjak. Dengan sigap aku mencegahnya. Yuga masih butuh waktu buat sendiri. Dan tempat umum seperti inilah yang pas untuknya.
“Nggak usah, gue udah pesen ojek online kok.” Ucapku membuat Yuga langsung memasang wajah kesal.
“Ya udah, hati-hati. Makasih, Nes.” Ucapnya dengan nada tanpa tenaga sedikitpun.
“Bilang makasihnya kalau lo udah nentuin gimana keputusan lo kedepannya, Ga. Gue sangat berharap ketemu lo di rapat minggu depan. Tolong diingat ya Saudara Yuga yang terhormat, lo yang udah nyeret gue buat masuk kepanitian itu, masa lo mau ninggalin gue sendirian di sana.” Dia hanya ketawa merespon ucapanku. Dan setelah menepuk bahunya beberapa kali, aku meninggalkan Yuga di tempat makan itu.
Secapek itukah Yuga? Bahkan sampai dia mengeluh. Aku berharap dia bisa menyembuhkan dirinya secepatnya. Dan kembali menjadi Yuga dengan segala pemikiran-pemikiran bijaknya, bukan Yuga yang dengan mudah dilumpuhkan oleh egonya. Cepat sembuh, Yuga. Dan kita berproses lagi bersama.
--Triana Febri--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar