Februari punya arti tersendiri bagi setiap
orang. Bagi sebagian orang, mungkin Februari saatnya menggunakan baju hangat
untuk menghalau udara dinginnya. Bagi sebagian orang lagi, Februari identik
dengan coklat dan merah muda, yang selalu disebut-sebut sebagai bulan kasih sayang.
Atau sebagian orang menganggap Februari hanya sebatas bulan kedua yang tak ada
bedanya dengan sebelas bulan lainnya.
Tak ada yang menyalahkan bagaimana
seseorang mengartikan Februari. Karena setiap orang diciptakan dengan
pemikirannya masing-masing. Mereka bebas mengutarakan pendapatnya. Ya, termasuk
tentang Februari. Begitu juga denganku.
Aku punya pendapat tersendiri mengenai
Februari. Bukan hanya sebatas bulan kedua, tapi juga tak se-special merah muda. Bagiku, diantara 28
harinya, Februari itu tak ubahnya sebuah pengingat.
Tahun kemarin, di Februari, ada hal yang
tak mungkin bisa ku lupakan. Aku diingatkan tentang sebuah kehidupan. Yang tak
mengenal kata abadi. Yang dipenuhi pergantian datang dan pergi. Aku diajarkan
bagaimana merelakan. Merelakan seseorang, merelakan kenangan dan merelakan
waktu yang tak akan pernah bisa terulang. Dan Februari kemarin, aku
menyambutnya dengan duka.
Februari kali ini, aku dihadapkan pada
deretan chat masuk yang tak ada habisnya. Aku meliriknya sebentar. Nama-nama
grup chat terpampang disana. Dari grup yang penting, sampai grup yang hanya
main-main, menampilkan pesan yang sengaja ku tumpuk. Dan aku tak mungkin
membiarkannya menumpuk lebih banyak lagi, jadi ku putuskan membukanya satu
persatu.
“Bentar lagi masuk kuliah, jangan lupa krs-an.”
Itu chat dari grup kelasku diikuti beberapa respon dari teman-temanku. Ya,
kuliahku akan segera di mulai.
“Besok rapat, jangan lupa.” Itu chat dari
grup organisasiku. Jika kuliahku di mulai Februari, maka kegiatan organisasiku
juga di mulai Februari. Banyak respon setelah chat tentang rapat. Dengan
bermacam-macam jawaban. Dari yang mengiyakan sampai yang menyampaikan
ketidakhadiran. Dari yang ada kegiatan sampai yang belum kembali dari kampung
halaman. Selamat datang kesibukan.
“Liburan udah selesai teman-teman, saatnya
kembali ke perkuliahan.” Chat yang berasal dari grup yang berisi orang-orang
kurang kerjaan. Disusul rentetan balasan yang menginginkan waktu liburan
diperpanjang.
Dan chat-chat yang lain yang
mengingatkanku bahwa waktu istirahatku sudah selesai. Mengingatkanku untuk
menjalankan apa yang sudah disepakatkan. Dan mengingatkan bahwa hari-hariku
akan dipenuhi tugas yang mengular.
Februari itu istimewa. Pengingat setia bahwa
aku bertambah usia. Yang dituntut bisa bersikap dewasa, bukan lagi remaja yang
hanya memikirkan hura-hura.
Bahkan sampai Februari akan usai, ia tetap
sebagai pengingat. Ada kegiatan besar yang harus dikerjakan. Pekan Pendidikan.
Sampai bertemu rapat, rapat dan rapat.
Ah, Februari akan tergantikan dengan
Maret. Butuh dua belas bulan, aku bisa bertemu dengannya lagi. Entah apa yang
akan dia ingatkan untuk tahun depan.
Februari,
Terimakasih sudah menjadi pengingat.
Terimakasih sudah menjadi bulan yang menyambutku di dunia ini dan mengucapkan
selamat. Terimaksih.
Tertanda,
Febri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar