Rabu, 28 Februari 2018

[CATATAN] FEBRUARI

Teruntuk Februari,

Februari punya arti tersendiri bagi setiap orang. Bagi sebagian orang, mungkin Februari saatnya menggunakan baju hangat untuk menghalau udara dinginnya. Bagi sebagian orang lagi, Februari identik dengan coklat dan merah muda, yang selalu disebut-sebut sebagai bulan kasih sayang. Atau sebagian orang menganggap Februari hanya sebatas bulan kedua yang tak ada bedanya dengan sebelas bulan lainnya.

Tak ada yang menyalahkan bagaimana seseorang mengartikan Februari. Karena setiap orang diciptakan dengan pemikirannya masing-masing. Mereka bebas mengutarakan pendapatnya. Ya, termasuk tentang Februari. Begitu juga denganku.

Aku punya pendapat tersendiri mengenai Februari. Bukan hanya sebatas bulan kedua, tapi juga tak se-special merah muda. Bagiku, diantara 28 harinya, Februari itu tak ubahnya sebuah pengingat.

Tahun kemarin, di Februari, ada hal yang tak mungkin bisa ku lupakan. Aku diingatkan tentang sebuah kehidupan. Yang tak mengenal kata abadi. Yang dipenuhi pergantian datang dan pergi. Aku diajarkan bagaimana merelakan. Merelakan seseorang, merelakan kenangan dan merelakan waktu yang tak akan pernah bisa terulang. Dan Februari kemarin, aku menyambutnya dengan duka.

Februari kali ini, aku dihadapkan pada deretan chat masuk yang tak ada habisnya. Aku meliriknya sebentar. Nama-nama grup chat terpampang disana. Dari grup yang penting, sampai grup yang hanya main-main, menampilkan pesan yang sengaja ku tumpuk. Dan aku tak mungkin membiarkannya menumpuk lebih banyak lagi, jadi ku putuskan membukanya satu persatu.

“Bentar lagi masuk kuliah, jangan lupa krs-an.” Itu chat dari grup kelasku diikuti beberapa respon dari teman-temanku. Ya, kuliahku akan segera di mulai.

“Besok rapat, jangan lupa.” Itu chat dari grup organisasiku. Jika kuliahku di mulai Februari, maka kegiatan organisasiku juga di mulai Februari. Banyak respon setelah chat tentang rapat. Dengan bermacam-macam jawaban. Dari yang mengiyakan sampai yang menyampaikan ketidakhadiran. Dari yang ada kegiatan sampai yang belum kembali dari kampung halaman. Selamat datang kesibukan.

“Liburan udah selesai teman-teman, saatnya kembali ke perkuliahan.” Chat yang berasal dari grup yang berisi orang-orang kurang kerjaan. Disusul rentetan balasan yang menginginkan waktu liburan diperpanjang.

Dan chat-chat yang lain yang mengingatkanku bahwa waktu istirahatku sudah selesai. Mengingatkanku untuk menjalankan apa yang sudah disepakatkan. Dan mengingatkan bahwa hari-hariku akan dipenuhi tugas yang mengular.

Februari itu istimewa. Pengingat setia bahwa aku bertambah usia. Yang dituntut bisa bersikap dewasa, bukan lagi remaja yang hanya memikirkan hura-hura.

Bahkan sampai Februari akan usai, ia tetap sebagai pengingat. Ada kegiatan besar yang harus dikerjakan. Pekan Pendidikan. Sampai bertemu rapat, rapat dan rapat.

Ah, Februari akan tergantikan dengan Maret. Butuh dua belas bulan, aku bisa bertemu dengannya lagi. Entah apa yang akan dia ingatkan untuk tahun depan.

Februari,
Terimakasih sudah menjadi pengingat. Terimakasih sudah menjadi bulan yang menyambutku di dunia ini dan mengucapkan selamat. Terimaksih.

Tertanda,
Febri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar