Sabtu, 30 September 2017

[CERPEN] SEPTEMBER



SEPTEMBER
"Kesunyian dalam ketenangan."
***


Malam dan musik. Aku menyukai keduanya. Aku suka malam karena dia sunyi. Aku suka musik karena dia menenangkan. Ketika sang malam datang dan musik menemaniku, aku seperti menemukan duniaku. Seperti malam ini.
Suara lagu sendu menemaniku malam ini. Entah apa judulnya ataupun penyanyinya. Aku tak pernah peduli. Aku langsung menikmatinya begitu saja setelah sang penyiar radio memutarnya pada detik pertama. Dan kalau kalian ingin tahu, lagu ini sangat cocok dengan suasana malam ini. Sunyi tapi menenangkan.
Malam di penghujung September. Tak ada bintang, karena langit terlapisi awan abu-abunya. Tak terdengar deru kendaraan yang bising, mungkin semua orang sedang malas keluar karena hujan yang mungkin akan turun. Yang tersisa hanya sorot lampu perumahan di kejauhan dan suara angin yang berhembus dengan perlahan. Lagu syahdu itu sudah berganti dengan dentingan piano tanpa lirik. Ah, aku semakin menikmatinya.
“Jev!” Sebuah suara berhasil masuk diantara dentingan piano itu. Langsung ku lepas earphoneku dan menoleh ke pemanggil namaku.
“Balik sekarang ya?” Pintanya pelan dengan senyum manisnya.
“Bentar lagi ya? Please.” Ucapku memohon.
“Nggak untuk kali ini, Jev! Kamu udah 30 menit di sini. Dan sekarang kamu harus masuk. Oke?” Bujuknya. Aku masih belum beranjak.
“Ayolah. Kapan lagi aku bisa menikmati seperti ini? Hitung-hitung ini sebagai perpisahanku.” Kataku mengalihkan pandanganku padanya.
“Kalau kamu sekarang nurut sama aku, aku janji besuk, lusa bahkan kapanpun, kamu masih bisa menikmati ini semua.” Jelasnya.
“Jangan memberi janji yang nggak bisa kamu tepati. Nggak ada besuk, lusa bahkan kapanpun itu buat aku.” Aku tiba-tiba membenci diriku sendiri.
“Apa yang kamu bilang? Kamu masih bisa menikmati malam, musik dan yang lain. Aku juga bakal nemenin kamu.” Dia masih bersikukuh dengan kebohongannya. Tiba-tiba ada sakit yang menjalar dalam dadaku. Ku tahan sebisa mungkin.
“Sudahlah, jangan bohong. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu waktuku tidak lama lagi. Aku hanya ingin menikmati malam terakhirku. Itu saja.” Ucapku dengan sakit yang sudah mau merobek dadaku.
“JEVIAN! Jangan bicara aneh-aneh!” Teriaknya. Aku tak bisa membalas ucapannya lagi.
Sakit. Sungguh ini sakit. Sepertinya saatnya telah tiba untukku berpisah dengan semua kesukaanku. Aku sudah tak bisa menahannya. Ku tekan dadaku, berharap sakitnya berkurang. Dan kakiku sudah tak mampu menahan tubuhku.
“JEVIAN! JEV..tetep sadar oke!” Suaranya panik sambil menahan tubuhku yang sekarang sudah bertumpu sepenuhnya padanya. Dan sekarang mungkin jas putihnya sudah kotor, karena yang ku ingat tanah taman ini tadi basah.
“Ma..af.” Ucapku terbata-bata.
“Jev, tenang ya, kamu bakal baik-baik saja. Percaya sama aku.” Ucapnya dengan airmata yang terus keluar.
Aku tak bisa menjawab apa-apa. Suaraku tak mau keluar. Aku mencoba tersenyum setenang mungkin sambil menggenggam tangannya. Kemudian dengan perlahan, pandanganku mulai kabur, buram kemudian hitam.
Dan di penghujung September, Jevian menikmati malam dan musik untuk terakhir kalinya.
~~Febriaz~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar