"Kesunyian dalam ketenangan."
***
Malam
dan musik. Aku menyukai keduanya. Aku suka malam karena dia sunyi. Aku suka musik
karena dia menenangkan. Ketika sang malam datang dan musik menemaniku, aku
seperti menemukan duniaku. Seperti malam ini.
Suara
lagu sendu menemaniku malam ini. Entah apa judulnya ataupun penyanyinya. Aku
tak pernah peduli. Aku langsung menikmatinya begitu saja setelah sang penyiar
radio memutarnya pada detik pertama. Dan kalau kalian ingin tahu, lagu ini
sangat cocok dengan suasana malam ini. Sunyi tapi menenangkan.
Malam
di penghujung September. Tak ada bintang, karena langit terlapisi awan
abu-abunya. Tak terdengar deru kendaraan yang bising, mungkin semua orang sedang
malas keluar karena hujan yang mungkin akan turun. Yang tersisa hanya sorot
lampu perumahan di kejauhan dan suara angin yang berhembus dengan perlahan. Lagu
syahdu itu sudah berganti dengan dentingan piano tanpa lirik. Ah, aku semakin
menikmatinya.
“Jev!”
Sebuah suara berhasil masuk diantara dentingan piano itu. Langsung ku lepas
earphoneku dan menoleh ke pemanggil namaku.
“Balik
sekarang ya?” Pintanya pelan dengan senyum manisnya.
“Bentar
lagi ya? Please.” Ucapku memohon.
“Nggak
untuk kali ini, Jev! Kamu udah 30 menit di sini. Dan sekarang kamu harus masuk.
Oke?” Bujuknya. Aku masih belum beranjak.
“Ayolah.
Kapan lagi aku bisa menikmati seperti ini? Hitung-hitung ini sebagai
perpisahanku.” Kataku mengalihkan pandanganku padanya.
“Kalau
kamu sekarang nurut sama aku, aku janji besuk, lusa bahkan kapanpun, kamu masih
bisa menikmati ini semua.” Jelasnya.
“Jangan
memberi janji yang nggak bisa kamu tepati. Nggak ada besuk, lusa bahkan
kapanpun itu buat aku.” Aku tiba-tiba membenci diriku sendiri.
“Apa
yang kamu bilang? Kamu masih bisa menikmati malam, musik dan yang lain. Aku
juga bakal nemenin kamu.” Dia masih bersikukuh dengan kebohongannya. Tiba-tiba
ada sakit yang menjalar dalam dadaku. Ku tahan sebisa mungkin.
“Sudahlah,
jangan bohong. Aku bukan anak kecil lagi. Aku tahu waktuku tidak lama lagi. Aku
hanya ingin menikmati malam terakhirku. Itu saja.” Ucapku dengan sakit yang
sudah mau merobek dadaku.
“JEVIAN!
Jangan bicara aneh-aneh!” Teriaknya. Aku tak bisa membalas ucapannya lagi.
Sakit.
Sungguh ini sakit. Sepertinya saatnya telah tiba untukku berpisah dengan semua
kesukaanku. Aku sudah tak bisa menahannya. Ku tekan dadaku, berharap sakitnya
berkurang. Dan kakiku sudah tak mampu menahan tubuhku.
“JEVIAN!
JEV..tetep sadar oke!” Suaranya panik sambil menahan tubuhku yang sekarang
sudah bertumpu sepenuhnya padanya. Dan sekarang mungkin jas putihnya sudah
kotor, karena yang ku ingat tanah taman ini tadi basah.
“Ma..af.”
Ucapku terbata-bata.
“Jev,
tenang ya, kamu bakal baik-baik saja. Percaya sama aku.” Ucapnya dengan airmata
yang terus keluar.
Aku
tak bisa menjawab apa-apa. Suaraku tak mau keluar. Aku mencoba tersenyum
setenang mungkin sambil menggenggam tangannya. Kemudian dengan perlahan,
pandanganku mulai kabur, buram kemudian hitam.
Dan
di penghujung September, Jevian menikmati malam dan musik untuk terakhir
kalinya.
~~Febriaz~~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar