Sabtu, 12 Agustus 2017

[CERPEN] BE OVER



BE OVER 

"Ketika ‘kita’ tak lagi bermakna, maka yang ada hanya ‘aku’ dan ‘kamu’."
***
 
Banyak yang bilang perbedaan itu indah. Tapi menurutku, berbeda itu tidak ada yang indah. Berbeda ya berbeda. Meski dipaksa dijadikan satu, masih akan terlihat perbedaannya. Seperti halnya minyak dan air. Tak akan pernah bisa bersatu meski berada dalam wadah yang sama. Begitu juga antara aku dan dia.
Dari awal memang seharusnya aku sadar, bahwa aku dengan dia itu berbeda. Seharusnya aku tak perlu mamaksakan keadaan. Atau seharusnya rasa ini tak perlu ada untuk dia. Ketika seharusnya hubungan kita sekarang membuatku bahagia, namun justru yang ku rasakan semakin terluka.
Dia, Kenzo Rakarsya. Sosok yang tak seharusnya ku masuki hidupnya. Ya, jika saja aku tahu aku akan berakhir seperti ini. Bukan, dia bukan orang yang buruk. Dia justru terlalu sempurna jika disandingkan denganku. Dan seperti yang ku bilang tadi, kita berbeda. Bagaimanapun aku mencoba mengesampingkan hal itu, justru perbedaan itu semakin jelas.
Ketika aku tipe orang yang ingin selalu diperhatikan, dia tipe orang yang dengan kepercayaan saja cukup. Aku penyuka hujan, dia benci dengan air langit. Aku menyukai musik untuk membantukku konsentrasi, dia membenci semua hal yang menganggu konsetrasinya. Aku yang tidak pernah tahan jika harus minum kopi, dia justru sangat menyukai minuman berwarna hitam itu. Aku yang paling membenci dengan hal-hal  yang berhubungan dengan angka dan rumus, dia justru akan betah jika berhadapan dengan sekumpulan angka-angka. Dan perbedaan-perbedaan lainnya yang terlalu banyak jika disebutkan semua.
‘Bukankah justru kalian bisa saling melengkapi?’ Ucapan seperti itu sudah sering aku dengar. Tapi, jika bisa saling melengkapi kenapa setelah dia berkata ‘kita bisa lebih dari teman’, justru yang ku rasakan sikap anehnya. Tidak. Aku tidak langsung memintanya untuk mengakhiri hubungan ini. Aku masih berusaha bertahan dan berharap jika dia bisa berubah sedikit saja.
“Ken, kemarin kemana?” Tanyaku hari ini ketika aku baru bisa bertemu dengannya setelah kemarin tidak ada kabar darinya.
“Aku sibuk, Syil.” Jawabnya kelewat santai.
“Sesibuk apa kamu, sampai balas pesanku saja tidak bisa?” Hah, sibuk alasan macam apa itu.
“Maaf, aku benar-benar sibuk akhir-akhir ini. Jadi, aku tak sempat hanya untuk mengecek ponsel.” Alasannya. Aku menghela nafasku lelah. Mencoba menahan emosiku.
“Ken, kamu anggap aku apa sih?” Tanyaku pelan. Jujur, pertanyaan itu yang mengangguku akhir-akhir ini.
“Syila, kamu tanya apa sih? Ya jelaskan, kamu pacarku. Nggak usah mikir aneh-aneh deh.” Ucapnya.
“Kok kayaknya cuma aku yang berjuang disini ya, Ken?” Ucapku sakartis.
“Maksud kamu apa sih?” Dia fokus menatapku.
“Kali ini aku mau jadi cewek egois, Ken. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Yang kamu perhatikan, kamu prioritaskan, bahkan kamu perjuangkan. Jika dulu aku setuju untuk cukup mempercayaimu bahwa kamu juga menyanyangiku, maka sekarang aku tak bisa. Aku sama seperti cewek-cewek lain yang butuh bukti bukan janji, Ken.” Kalimat itu keluar begitu saja. Mungkin sekarang waktunya untuk memperjelas semuanya.
“Kamu mau bukti seperti apa sih, Syil? Jika kamu meminta aku yang harus menghubungimu setiap saat, atau harus selalu membalas pesan dan panggilanmu, kamu tahu kan aku bukan orang yang seperti itu? Jika definisi bukti sayang seperti itu, maka aku punya definisi sayang sendiri. Cukup saling percaya, itu sudah cukup untukku.” Jelasnya perlahan.
“Ya, seharusnya akau sadar ini dari dulu. Kita berbeda, Ken. Meski aku selalu berusaha tak menganggap perbedaan itu, tapi nyatanya aku tak akan pernah bisa sembunyi dari kenyataan. Kita berbeda, terlalu jauh berbeda. Kita itu seperti sepatu, Ken. Selama ini bersama, tapi sebenarnya kita tidak bisa melangkah bersama.” Ujarku sebisa mungkin menahan air mataku.
“Kita bisa saling melengkapi, Syil.” Ucapnya pelan, seperti tanpa keyakinan.
“Melengkapi bagaimana yang kamu maksud?” Aku menghapus kasar air mataku. “ Kamu dengan duniamu sudah berjalan jauh di depan, Ken. Sedangkan aku dengan duniaku tidak mampu menyusulmu. Dan kamu sudah terlalu sempurna, untuk ku lengkapi.” Sial. Kenapa air mata ini tak mau berhenti?
“Syila, kamu bilang apa sih? Maaf, aku janji aku yang akan berubah.” Ucapnya. Tangannya sudah mau mengusap air mataku, tapi aku justru sedikit menjauh darinya.
“Nggak. Kamu nggak perlu berubah, Ken. Mungkin memang saat ini waktunya untuk kita kembali ke dunia kita masing-masing. Kamu berjuang di duniamu, dan aku berjuang di duniaku.” Ada rasa sakit yang ikut serta dengan kalimat yang keluar dari mulutku.
“Nggak, Syil. Kita akan baik-baik saja seperti ini?” Tangannya sudah menggenggam tanganku. Aku melepaskannya perlahan.
“Terima kasih, Ken. Terimakasih sudah mengijinkanku mengenal seorang Kenzo meskipun tak lama.” Ucapku sambil berusaha tersenyum. Tak ada jawaban darinya. Dia hanya diam. Menatapku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan. Tanpa menunggu lebih lama, aku melangkah menjauh darinya. Menciptakan jarak yang semakin lebar. Meski rasa sakit ini semakin menyiksaku, tapi hanya ini yang bisa ku lakukan.
Ken, ketika ‘kita’ tak lagi bermakna, maka yang ada sekarang hanya ‘aku’ dan ‘kamu’. Selamat berjuang di duniamu dengan caramu sendiri. tak perlu merasa bersalah, mungkin seperti inilah caraku memaafkanmu. Aku tak pernah membencimu. Dan cinta, tak seharusnya membuat terluka.
~Febriaz~
Note: Cerita ini buat seseorang yang selalu mengeluh tentang kisah cintanya. Aku tak memintamu untuk seperti Syila. Kamu bisa menyelesaikan sendiri dengan caramu. Dan, untuk Farida yang sudah mau membuatkan moodboard-nya, terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar