BE OVER
"Ketika
‘kita’ tak lagi bermakna, maka yang ada hanya ‘aku’ dan ‘kamu’."
***
Banyak yang bilang
perbedaan itu indah. Tapi menurutku, berbeda itu tidak ada yang indah. Berbeda
ya berbeda. Meski dipaksa dijadikan satu, masih akan terlihat perbedaannya.
Seperti halnya minyak dan air. Tak akan pernah bisa bersatu meski berada dalam
wadah yang sama. Begitu juga antara aku dan dia.
Dari awal memang
seharusnya aku sadar, bahwa aku dengan dia itu berbeda. Seharusnya aku tak
perlu mamaksakan keadaan. Atau seharusnya rasa ini tak perlu ada untuk dia. Ketika
seharusnya hubungan kita sekarang membuatku bahagia, namun justru yang ku
rasakan semakin terluka.
Dia, Kenzo Rakarsya.
Sosok yang tak seharusnya ku masuki hidupnya. Ya, jika saja aku tahu aku akan
berakhir seperti ini. Bukan, dia bukan orang yang buruk. Dia justru terlalu
sempurna jika disandingkan denganku. Dan seperti yang ku bilang tadi, kita
berbeda. Bagaimanapun aku mencoba mengesampingkan hal itu, justru perbedaan itu
semakin jelas.
Ketika aku tipe orang
yang ingin selalu diperhatikan, dia tipe orang yang dengan kepercayaan saja
cukup. Aku penyuka hujan, dia benci dengan air langit. Aku menyukai musik untuk
membantukku konsentrasi, dia membenci semua hal yang menganggu konsetrasinya.
Aku yang tidak pernah tahan jika harus minum kopi, dia justru sangat menyukai
minuman berwarna hitam itu. Aku yang paling membenci dengan hal-hal yang berhubungan dengan angka dan rumus, dia
justru akan betah jika berhadapan dengan sekumpulan angka-angka. Dan
perbedaan-perbedaan lainnya yang terlalu banyak jika disebutkan semua.
‘Bukankah justru kalian
bisa saling melengkapi?’ Ucapan seperti itu sudah sering aku dengar. Tapi, jika
bisa saling melengkapi kenapa setelah dia berkata ‘kita bisa lebih dari teman’,
justru yang ku rasakan sikap anehnya. Tidak. Aku tidak langsung memintanya
untuk mengakhiri hubungan ini. Aku masih berusaha bertahan dan berharap jika
dia bisa berubah sedikit saja.
“Ken, kemarin kemana?”
Tanyaku hari ini ketika aku baru bisa bertemu dengannya setelah kemarin tidak
ada kabar darinya.
“Aku sibuk, Syil.”
Jawabnya kelewat santai.
“Sesibuk apa kamu,
sampai balas pesanku saja tidak bisa?” Hah, sibuk alasan macam apa itu.
“Maaf, aku benar-benar
sibuk akhir-akhir ini. Jadi, aku tak sempat hanya untuk mengecek ponsel.”
Alasannya. Aku menghela nafasku lelah. Mencoba menahan emosiku.
“Ken, kamu anggap aku
apa sih?” Tanyaku pelan. Jujur, pertanyaan itu yang mengangguku akhir-akhir
ini.
“Syila, kamu tanya apa
sih? Ya jelaskan, kamu pacarku. Nggak usah mikir aneh-aneh deh.” Ucapnya.
“Kok kayaknya cuma aku
yang berjuang disini ya, Ken?” Ucapku sakartis.
“Maksud kamu apa sih?”
Dia fokus menatapku.
“Kali ini aku mau jadi
cewek egois, Ken. Aku ingin memilikimu seutuhnya. Yang kamu perhatikan, kamu
prioritaskan, bahkan kamu perjuangkan. Jika dulu aku setuju untuk cukup
mempercayaimu bahwa kamu juga menyanyangiku, maka sekarang aku tak bisa. Aku
sama seperti cewek-cewek lain yang butuh bukti bukan janji, Ken.” Kalimat itu
keluar begitu saja. Mungkin sekarang waktunya untuk memperjelas semuanya.
“Kamu mau bukti seperti
apa sih, Syil? Jika kamu meminta aku yang harus menghubungimu setiap saat, atau
harus selalu membalas pesan dan panggilanmu, kamu tahu kan aku bukan orang yang
seperti itu? Jika definisi bukti sayang seperti itu, maka aku punya definisi
sayang sendiri. Cukup saling percaya, itu sudah cukup untukku.” Jelasnya
perlahan.
“Ya, seharusnya akau
sadar ini dari dulu. Kita berbeda, Ken. Meski aku selalu berusaha tak
menganggap perbedaan itu, tapi nyatanya aku tak akan pernah bisa sembunyi dari
kenyataan. Kita berbeda, terlalu jauh berbeda. Kita itu seperti sepatu, Ken.
Selama ini bersama, tapi sebenarnya kita tidak bisa melangkah bersama.” Ujarku
sebisa mungkin menahan air mataku.
“Kita bisa saling
melengkapi, Syil.” Ucapnya pelan, seperti tanpa keyakinan.
“Melengkapi bagaimana
yang kamu maksud?” Aku menghapus kasar air mataku. “ Kamu dengan duniamu sudah
berjalan jauh di depan, Ken. Sedangkan aku dengan duniaku tidak mampu
menyusulmu. Dan kamu sudah terlalu sempurna, untuk ku lengkapi.” Sial. Kenapa air
mata ini tak mau berhenti?
“Syila, kamu bilang apa
sih? Maaf, aku janji aku yang akan berubah.” Ucapnya. Tangannya sudah mau
mengusap air mataku, tapi aku justru sedikit menjauh darinya.
“Nggak. Kamu nggak
perlu berubah, Ken. Mungkin memang saat ini waktunya untuk kita kembali ke
dunia kita masing-masing. Kamu berjuang di duniamu, dan aku berjuang di
duniaku.” Ada rasa sakit yang ikut serta dengan kalimat yang keluar dari
mulutku.
“Nggak, Syil. Kita akan
baik-baik saja seperti ini?” Tangannya sudah menggenggam tanganku. Aku
melepaskannya perlahan.
“Terima kasih, Ken.
Terimakasih sudah mengijinkanku mengenal seorang Kenzo meskipun tak lama.”
Ucapku sambil berusaha tersenyum. Tak ada jawaban darinya. Dia hanya diam.
Menatapku dengan pandangan yang tak bisa ku artikan. Tanpa menunggu lebih lama,
aku melangkah menjauh darinya. Menciptakan jarak yang semakin lebar. Meski rasa
sakit ini semakin menyiksaku, tapi hanya ini yang bisa ku lakukan.
Ken, ketika ‘kita’ tak
lagi bermakna, maka yang ada sekarang hanya ‘aku’ dan ‘kamu’. Selamat berjuang
di duniamu dengan caramu sendiri. tak perlu merasa bersalah, mungkin seperti
inilah caraku memaafkanmu. Aku tak pernah membencimu. Dan cinta, tak seharusnya membuat terluka.
~Febriaz~
Note: Cerita ini buat seseorang yang selalu mengeluh tentang kisah cintanya. Aku tak memintamu untuk seperti Syila. Kamu bisa menyelesaikan sendiri dengan caramu. Dan, untuk Farida yang sudah mau membuatkan moodboard-nya, terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar