PERGI
Setiap yang datang,
pasti akan pergi. Setiap yang dimulai, pasti akan diakhiri. Tapi apakah harus
secepat ini?
“Aku akan pergi.”
Ucapmu tiba-tiba tanpa basa-basi.
“Kau akan pergi kemana?
Bukankah rumahmu di sini?” Aku masih menanggapimu dengan santai.
“Aku serius. Aku akan
pergi. Di sini bukan rumahku. Tempat ini semacam pemberhentian. Tak akan ada yang
menetap di sini.” Jawabmu dengan mata yang menerawang memandang langit malam
yang gelap.
“Aku tahu itu. Aku
paham. Tapi apakah harus secepat ini? Meskipun kau bilang ini bukan rumah, tapi
bukannya di sini kau menemukan keluarga yang menemanimu di kota kecil ini?” Aku
masih tak paham dengan keputusannya.
“Memang. Bukannya aku
pernah bercerita padamu, tempat itu adalah yang paling aku inginkan dari dulu.
Namun, ternyata Tuhan membawaku ke sini, ke tempat ini.” Ya, dia memang sempat
bercerita tentang tempat impiannya.
“Itu artinya kau memang
ditakdirkan untuk di sini. Sudahlah, kau sudah nyaman di sini kan? Jadi lupakan
saja keinginanmu untuk pergi dan tetap tinggal di sini.” Jawabku realistis.
“Aku nggak bisa. Tempat
itu sudah memanggilku lagi. Dan kali ini Tuhan, memberiku kesempatan untuk ke
sana.” Ada kebahagian dari matanya.
“Ah, kau benar-benar
akan meninggalkan tempat ini? Meninggalkan keluarga di sini?” Aku memastikannya
kembali.
“Mungkin. Anggap saja
aku pergi merantau. Perantau memang sewajarnya meninggalkan keluarga kan?”
Ujarnya sedikit tersenyum. Bagaimana dia masih bisa tersenyum?
“Tapi perlu kau ingat,
perantau akan pulang ke kampung halamannya, bertemu keluarganya kembali. Dan
aku tak yakin kau akan kembali ke sini setelah kau berada di tempat barumu
nanti.” Ucapku menahan emosi.
“Jangan bilang begitu.”
Elaknya.
“Memangnya kau nanti
akan ke sini lagi?” Tanyaku meski aku tahu jawabannya.
“Em..entah..lah.” Ada
keraguan diucapannya.
“Bisa ku tebak itu.”
Sarkasku. Aku sangat mengenal dirinya.
“Ya sudah, sudah
waktunya aku pergi.” Dia beranjak.
“Kau tak ingin
berpamitan pada mereka? Keluargamu selain aku?” Tanyaku mengingatkan bahwa dia
belum berpamitan pada yang lain.
“Aku tak bisa
berpamitan pada mereka. Bisa kau sampaikan pada mereka?” Pintanya.
“Hei, kau yang pergi. Kenapa
harus aku yang mengucapkan pamitmu?” Langsung saja aku menolaknya.
“Ayolah. Aku tak tahu
apa yang harus aku ucapkan.” Dia merendahkan suaranya.
“Jika kau tak bisa
mengucapkan selamat tinggal, seharusnya kau tak pergi.” Ada rasa kesal
bercampur emosi di dalamnya.
“Aku akan tetap pergi,
meski tanpa berpamitan.” Jawabnya kembali santai. Aku semakin ragu, apa dia
sosok yang aku kenal selama ini.
“Sama saja kau ingin
kabur begitu saja? Mereka dulu mengucapkan ‘selamat datang’ padamu, bukannya lebih
baik sekarang kau seharusnya sekedar mengucapkan ‘sampai jumpa’?” Ucapku sambil
memicingkan mata.
“Aku nggak bisa.
Sebaiknya kau paham itu.” Dia sedikit menyentak pada kalimatnya.
“Terserah. Yang penting
aku tak akan mengucapkan pamitmu pada mereka, aku tak peduli jika kau dianggap
melarikan diri.” Ucapku akhirnya. Percuma berdebat dengannya.
Dia kemudian
menghembuskan nafasnya berat. “Aku pergi.” Hanya dua kata itu yang membawanya
menghilang begitu saja.
Seharusnya aku paham,
seberapapun aku menahannya dia akan tetap pergi. Dia tidak pernah membutuhkan
pendapat orang lain untuk semua keputusannya. Angin yang membawa sosoknya
pergi, tergantikan angin yang membawa perasaan kehilangan. Semarah apapun aku
pada sikapnya, itu tak akan membuatku lupa bahwa kita keluarga. Jika kemarin
aku memilih untuk mengenalnya, sekarang aku harus mau melepaskannya.
Untukmu yang sedang
berjalan pada tempat yang selalu ada dalam mimpimu, jika ucapanku tak bisa
menghentikanmu, maka doaku yang akan mengiringimu. Semoga tempatmu di sana
sesuai dengan keinginanmu. Namun, perlu kau ingat selalu, kau belum mengucap
pamitmu pada keluargamu yang mungkin sekarang menanyakan keberadaanmu.
~Febriaz~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar