Senin, 17 Juli 2017

[CERPEN] PERGI

PERGI


Setiap yang datang, pasti akan pergi. Setiap yang dimulai, pasti akan diakhiri. Tapi apakah harus secepat ini?

“Aku akan pergi.” Ucapmu tiba-tiba tanpa basa-basi.
“Kau akan pergi kemana? Bukankah rumahmu di sini?” Aku masih menanggapimu dengan santai.
“Aku serius. Aku akan pergi. Di sini bukan rumahku. Tempat ini semacam pemberhentian. Tak akan ada yang menetap di sini.” Jawabmu dengan mata yang menerawang memandang langit malam yang gelap.
“Aku tahu itu. Aku paham. Tapi apakah harus secepat ini? Meskipun kau bilang ini bukan rumah, tapi bukannya di sini kau menemukan keluarga yang menemanimu di kota kecil ini?” Aku masih tak paham dengan keputusannya.
“Memang. Bukannya aku pernah bercerita padamu, tempat itu adalah yang paling aku inginkan dari dulu. Namun, ternyata Tuhan membawaku ke sini, ke tempat ini.” Ya, dia memang sempat bercerita tentang tempat impiannya.
“Itu artinya kau memang ditakdirkan untuk di sini. Sudahlah, kau sudah nyaman di sini kan? Jadi lupakan saja keinginanmu untuk pergi dan tetap tinggal di sini.” Jawabku realistis.
“Aku nggak bisa. Tempat itu sudah memanggilku lagi. Dan kali ini Tuhan, memberiku kesempatan untuk ke sana.” Ada kebahagian dari matanya.
“Ah, kau benar-benar akan meninggalkan tempat ini? Meninggalkan keluarga di sini?” Aku memastikannya kembali.
“Mungkin. Anggap saja aku pergi merantau. Perantau memang sewajarnya meninggalkan keluarga kan?” Ujarnya sedikit tersenyum. Bagaimana dia masih bisa tersenyum?
“Tapi perlu kau ingat, perantau akan pulang ke kampung halamannya, bertemu keluarganya kembali. Dan aku tak yakin kau akan kembali ke sini setelah kau berada di tempat barumu nanti.” Ucapku menahan emosi.
“Jangan bilang begitu.” Elaknya.
“Memangnya kau nanti akan ke sini lagi?” Tanyaku meski aku tahu jawabannya.
“Em..entah..lah.” Ada keraguan diucapannya.
“Bisa ku tebak itu.” Sarkasku. Aku sangat mengenal dirinya.
“Ya sudah, sudah waktunya aku pergi.” Dia beranjak.
“Kau tak ingin berpamitan pada mereka? Keluargamu selain aku?” Tanyaku mengingatkan bahwa dia belum berpamitan pada yang lain.
“Aku tak bisa berpamitan pada mereka. Bisa kau sampaikan pada mereka?” Pintanya.
“Hei, kau yang pergi. Kenapa harus aku yang mengucapkan pamitmu?” Langsung saja aku menolaknya.
“Ayolah. Aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan.” Dia merendahkan suaranya.
“Jika kau tak bisa mengucapkan selamat tinggal, seharusnya kau tak pergi.” Ada rasa kesal bercampur emosi di dalamnya.
“Aku akan tetap pergi, meski tanpa berpamitan.” Jawabnya kembali santai. Aku semakin ragu, apa dia sosok yang aku kenal selama ini.
“Sama saja kau ingin kabur begitu saja? Mereka dulu mengucapkan ‘selamat datang’ padamu, bukannya lebih baik sekarang kau seharusnya sekedar mengucapkan ‘sampai jumpa’?” Ucapku sambil memicingkan mata.
“Aku nggak bisa. Sebaiknya kau paham itu.” Dia sedikit menyentak pada kalimatnya.
“Terserah. Yang penting aku tak akan mengucapkan pamitmu pada mereka, aku tak peduli jika kau dianggap melarikan diri.” Ucapku akhirnya. Percuma berdebat dengannya.
Dia kemudian menghembuskan nafasnya berat. “Aku pergi.” Hanya dua kata itu yang membawanya menghilang begitu saja.
Seharusnya aku paham, seberapapun aku menahannya dia akan tetap pergi. Dia tidak pernah membutuhkan pendapat orang lain untuk semua keputusannya. Angin yang membawa sosoknya pergi, tergantikan angin yang membawa perasaan kehilangan. Semarah apapun aku pada sikapnya, itu tak akan membuatku lupa bahwa kita keluarga. Jika kemarin aku memilih untuk mengenalnya, sekarang aku harus mau melepaskannya.
Untukmu yang sedang berjalan pada tempat yang selalu ada dalam mimpimu, jika ucapanku tak bisa menghentikanmu, maka doaku yang akan mengiringimu. Semoga tempatmu di sana sesuai dengan keinginanmu. Namun, perlu kau ingat selalu, kau belum mengucap pamitmu pada keluargamu yang mungkin sekarang menanyakan keberadaanmu.
~Febriaz~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar