AIRPORT
"Tentang aku, dia dan bandara."
***
Ah, akhirnya liburan.
Setelah berperang dengan soal ujian dan jadwal pulang yang hampir gagal, pesan
yang berisi ‘Ma, aku besok pulang’ bisa terkirim dengan tenang. Jangan salahkan
aku yang terlalu berlebihan untuk kepulangan kali ini. Salahkan kenapa waktu
ujian yang mepet dengan liburan, atau salahkan pesan ‘Aku bisa, tapi aku lupa
jalan ke bandara’ yang tiba-tiba masuk tadi malam. Yang merusak mood-ku untuk menikmati liburan di kota
kelahiranku.
Namun, di sinilah aku
sekarang. Duduk manis diboncengan belakang orang yang rela meluangkan waktunya
untuk mengantarkanku ke bandara. Bukan dia yang seharusnya mengantarkanku pagi
ini. Seharusnya yang berada di depanku adalah orang yang tadi malam mengirimkan
pesan kalau dia lupa jalan ke bandara. Dan itu langsung membuat pikiranku
berantakan. Bagaimana besok aku ke bandara?
Entah karena apa,
tiba-tiba pikiranku langsung tertuju pada nama seseorang. Dan orang itu lah
yang duduk di depanku sekarang. Memimpin perjalanan ke bandara. Ya, kalau mau
tahu dia orang yang sama dengan orang yang menjemputku di bandara waktu lalu.
Dan sekarang dia yang kembali mengantarku kembali ke bandara.
‘Besok sibuk?’ Aku
teringat pesanku tadi malam ke kontaknya.
‘Sore ada acara.
Kenapa?’ Aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasannya.
‘Kalau pagi jam 9
bisa?’
‘Aku pagi ada janji
sama temenku buat ngerjain tugas. Nggak tau jam 9 udah selesai apa belum. Emang
mau kemana?’ Setelah membaca pesannya, tanpa sadar aku menghela nafas kecewa.
‘Mau minta tolong
anterin ke bandara. Ya udah deh kalau nggak bisa. Sebenarnya ada kok yang
ngaterin, tapi masalahnya dia lupa jalan ke bandara.’
‘Yah, maaf ya.’
‘Nggak pa-pa kok.’
Tulisku di obrolan kami.
‘Sebenarnya bukan
tugasku sih. Aku suruh bantuin tugas temenku yang datelinenya besok.’
‘Ya udah ya udah.
Selamat nugas aja.’ Tidak ada lagi pesan yang ku tulis selain ucapan itu. Tak
ada lagi balasan darinya. Sepertinya aku harus ke bandara sendiri kali ini.
Tapi tiba-tiba aku
ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada semesta. Tanpa sadar
ujung bibirku terangkat dengan sendirinya membaca sederet pesan yang muncul
dibawah pesanku tadi, masih dinomor yang sama.
‘Kayaknya aku besok
bisa nganterin kamu ke bandara.’ Isi pesan itu. Aku tak bisa langsung senang
begitu saja, ketika teringat pesan dia beberapa waktu yang lalu tentang
rencananya mengerjakan tugas bersama temannya besok.
‘Kalau nggak bisa nggak
pa-pa. Kan katanya besok kamu ngerjain tugas sama temenmu. Nugas aja, aku besok
bisa berangkat sama yang lain kok.’ Balasku cepat-cepat. Tapi bukan
penjelasannya dengan serangkaian kalimat yang ku dapat. Screenshoot chatnya
dengan temannya lah yang ku dapat. Memang bukan dia yang membatalkan rencana
itu, tapi temannya yang ternyata sudah menyelesaikan tugasnya.
‘Besok jam 9 kan?’ Chatnya menyusul setelah itu.
‘Iya.’ Balasku.
‘Ya udah, aku besok ke
kosmu.’ Chatnya terakhir malam itu.
“Udah sampai.” Ucapnya
menyadarkanku. Membawa kesadaranku pada keramaian bandara. Aku segera turun.
Ketika aku ingin mengucapkan terima kasih, dia justru ikut turun. Aku sempat
terdiam. Aku kira dia akan langsung pulang begitu saja setelah mengantarkanku
sampai ke parkiran bandara.
“Masuk nggak?” Tanyanya
kembali menyadarkanku.
“Ya masuklah.” Ucapku.
Kemudian berjalan mendahuluinya masuk ke bandara.
“Ya udahlah kamu check-in dulu aja, atau tidur-tidur dulu
aja, masih lama juga kan?” Ucapnya ketika kita berdua sudah berdiri di dekat
petugas pengecek tiket. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa pelan yang hanya
berlangsung beberapa detik saja. Karena setelah itu, tawaku menguap begitu saja
dan tergantikan keheningan diantara kita berdua. Kalau di film-film, keadaan
seperti ini terjadi ketika sepasang kekasih yang enggan berpisah. Aku yang tak
rela untuk meninggalkan, atau dia yang masih enggan melepaskan. Tapi sayangnya,
kita bukan sepasang kekasih. Dan keadaan ini karena aku tak tahu bagaimana
harus mengucapkan salam perpisahan untuk saat ini.
“Em..ya udah ya, aku
masuk.” Ucapku bertepatan ketika dia juga ingin mengucapkan sesuatu. Tapi, ia
urungkan lagi, karena aku mendahuluinya.
“Oh. Iya. Hati-hati.”
Jawabnya. Aku mengangguk pelan, kemudian segera melangkah mendekati petugas
yang berjaga, menyerahkan tiket dan masuk ke ruang tunggu. Antara pelupa atau
kurang ajar, aku melupakan hal terpenting yang seharusnya aku ucapkan padanya.
Terimakasih. Aku kembali menoleh pada tempat dimana dia tadi berdiri. Aku ingin
meneriakkan ucapan terimakasihku. Tapi tak ku dapati dia berdiri di sana.
Sepertinya dia sudah melangkah keluar bandara. Aku hanya bisa menghela nafas
pelan.
Ku pustuskan untuk
duduk di sebuah kursi panjang. Ku edarkan pandanganku pada keadaan sekitarku
pagi ini. Bandara yang ramai, aku yang duduk sendiri, dan sebuah fakta yang
membuatku mau tak mau tertawa. Fakta yang terjadi tanpa kesengajaan, yaitu
fakta tentang aku, dia dan bandara. Aku tertawa pelan sambil mengirim
‘terimakasih’ ke kontaknya.
~Febriaz~

Tidak ada komentar:
Posting Komentar