Jumat, 07 Juli 2017

[CERPEN] AIRPORT



AIRPORT

 "Tentang aku, dia dan bandara."
***

Ah, akhirnya liburan. Setelah berperang dengan soal ujian dan jadwal pulang yang hampir gagal, pesan yang berisi ‘Ma, aku besok pulang’ bisa terkirim dengan tenang. Jangan salahkan aku yang terlalu berlebihan untuk kepulangan kali ini. Salahkan kenapa waktu ujian yang mepet dengan liburan, atau salahkan pesan ‘Aku bisa, tapi aku lupa jalan ke bandara’ yang tiba-tiba masuk tadi malam. Yang merusak mood-ku untuk menikmati liburan di kota kelahiranku.
Namun, di sinilah aku sekarang. Duduk manis diboncengan belakang orang yang rela meluangkan waktunya untuk mengantarkanku ke bandara. Bukan dia yang seharusnya mengantarkanku pagi ini. Seharusnya yang berada di depanku adalah orang yang tadi malam mengirimkan pesan kalau dia lupa jalan ke bandara. Dan itu langsung membuat pikiranku berantakan. Bagaimana besok aku ke bandara?
Entah karena apa, tiba-tiba pikiranku langsung tertuju pada nama seseorang. Dan orang itu lah yang duduk di depanku sekarang. Memimpin perjalanan ke bandara. Ya, kalau mau tahu dia orang yang sama dengan orang yang menjemputku di bandara waktu lalu. Dan sekarang dia yang kembali mengantarku kembali ke bandara.
‘Besok sibuk?’ Aku teringat pesanku tadi malam ke kontaknya.
‘Sore ada acara. Kenapa?’ Aku tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan balasannya.
‘Kalau pagi jam 9 bisa?’
‘Aku pagi ada janji sama temenku buat ngerjain tugas. Nggak tau jam 9 udah selesai apa belum. Emang mau kemana?’ Setelah membaca pesannya, tanpa sadar aku menghela nafas kecewa.
‘Mau minta tolong anterin ke bandara. Ya udah deh kalau nggak bisa. Sebenarnya ada kok yang ngaterin, tapi masalahnya dia lupa jalan ke bandara.’
‘Yah, maaf ya.’
‘Nggak pa-pa kok.’ Tulisku di obrolan kami.
‘Sebenarnya bukan tugasku sih. Aku suruh bantuin tugas temenku yang datelinenya besok.’
‘Ya udah ya udah. Selamat nugas aja.’ Tidak ada lagi pesan yang ku tulis selain ucapan itu. Tak ada lagi balasan darinya. Sepertinya aku harus ke bandara sendiri kali ini.
Tapi tiba-tiba aku ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada semesta. Tanpa sadar ujung bibirku terangkat dengan sendirinya membaca sederet pesan yang muncul dibawah pesanku tadi, masih dinomor yang sama.
‘Kayaknya aku besok bisa nganterin kamu ke bandara.’ Isi pesan itu. Aku tak bisa langsung senang begitu saja, ketika teringat pesan dia beberapa waktu yang lalu tentang rencananya mengerjakan tugas bersama temannya besok.
‘Kalau nggak bisa nggak pa-pa. Kan katanya besok kamu ngerjain tugas sama temenmu. Nugas aja, aku besok bisa berangkat sama yang lain kok.’ Balasku cepat-cepat. Tapi bukan penjelasannya dengan serangkaian kalimat yang ku dapat. Screenshoot chatnya dengan temannya lah yang ku dapat. Memang bukan dia yang membatalkan rencana itu, tapi temannya yang ternyata sudah menyelesaikan tugasnya.
‘Besok jam 9 kan?’ Chatnya menyusul setelah itu.
‘Iya.’ Balasku.
‘Ya udah, aku besok ke kosmu.’ Chatnya terakhir malam itu.
“Udah sampai.” Ucapnya menyadarkanku. Membawa kesadaranku pada keramaian bandara. Aku segera turun. Ketika aku ingin mengucapkan terima kasih, dia justru ikut turun. Aku sempat terdiam. Aku kira dia akan langsung pulang begitu saja setelah mengantarkanku sampai ke parkiran bandara.
“Masuk nggak?” Tanyanya kembali menyadarkanku.
“Ya masuklah.” Ucapku. Kemudian berjalan mendahuluinya masuk ke bandara.
“Ya udahlah kamu check-in dulu aja, atau tidur-tidur dulu aja, masih lama juga kan?” Ucapnya ketika kita berdua sudah berdiri di dekat petugas pengecek tiket. Aku hanya menanggapinya dengan tertawa pelan yang hanya berlangsung beberapa detik saja. Karena setelah itu, tawaku menguap begitu saja dan tergantikan keheningan diantara kita berdua. Kalau di film-film, keadaan seperti ini terjadi ketika sepasang kekasih yang enggan berpisah. Aku yang tak rela untuk meninggalkan, atau dia yang masih enggan melepaskan. Tapi sayangnya, kita bukan sepasang kekasih. Dan keadaan ini karena aku tak tahu bagaimana harus mengucapkan salam perpisahan untuk saat ini.
“Em..ya udah ya, aku masuk.” Ucapku bertepatan ketika dia juga ingin mengucapkan sesuatu. Tapi, ia urungkan lagi, karena aku mendahuluinya.
“Oh. Iya. Hati-hati.” Jawabnya. Aku mengangguk pelan, kemudian segera melangkah mendekati petugas yang berjaga, menyerahkan tiket dan masuk ke ruang tunggu. Antara pelupa atau kurang ajar, aku melupakan hal terpenting yang seharusnya aku ucapkan padanya. Terimakasih. Aku kembali menoleh pada tempat dimana dia tadi berdiri. Aku ingin meneriakkan ucapan terimakasihku. Tapi tak ku dapati dia berdiri di sana. Sepertinya dia sudah melangkah keluar bandara. Aku hanya bisa menghela nafas pelan.
Ku pustuskan untuk duduk di sebuah kursi panjang. Ku edarkan pandanganku pada keadaan sekitarku pagi ini. Bandara yang ramai, aku yang duduk sendiri, dan sebuah fakta yang membuatku mau tak mau tertawa. Fakta yang terjadi tanpa kesengajaan, yaitu fakta tentang aku, dia dan bandara. Aku tertawa pelan sambil mengirim ‘terimakasih’ ke kontaknya.
 
~Febriaz~


Tidak ada komentar:

Posting Komentar