JUST RAIN
"Biarlah hujan malam ini yang menjadi bukti."
***
Aku menghentakkan
kakiku tak sabar. Pelukanku pada tubuhku juga ku pererat. Ah, lama sekali dia.
Entah sudah ke berapa kalinya aku menoleh pada pintu masuk bandara. Berharap
dia segera datang, menyelamatkanku dari tempat ini. Tidak, aku tidak benci
bandara. Yang ku benci adalah kesendirian. Lihat saja di sekelilingku, mereka
tidak ada yang sendiri. Ya, hanya aku yang di sini sendiri.
Ku lihat kembali jam
yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jarumnya terus saja bergerak.
Ternyata sudah lumayan lama, sejak chatnya yang ‘tunggu aku 30 menit’ masuk ke whatsapp-ku. Pandanganku beralih pada
jendela besar di dekat pintu masuk. Dapat ku lihat air langit menghiasi malam
ini lumayan lebat. Apakah dia kejebak hujan? Mungkin. Aku mencoba positive
thinking kalau dia tidak melupakan janjinya untuk menjemputku, tapi mungkin
sekarang dia sedang berteduh di suatu tempat dan terlambat menjemputku.
Di tengah menikmati
hujan, ku rasakan getaran ponsel di saku jaketku. Sebuah panggilan masuk, dan
nama orang yang sedang ku tunggu muncul di sana. Aku segera mengusap tombol
hijau di layar ponselku.
“Dimana?” Itu suara
yang ku dengar pertama dengan suara hujan yang sangat jelas.
“Aku di dalam. Kamu
dimana?” Tanyaku balik. Takutnya, dia beneran masih berteduh di suatu tempat.
“Aku di luar. Di depan
toko deket pintu masuk.” Jawabnya sedikit berteriak. Oh, ternyata dia sudah di
sini.
“Ya udah aku ke situ.”
Ucapku. Kemudian panggilan terputus. Aku segera melangkah menghampirinya. Dan
benar saja, ku lihat dia sudah berdiri sambil memeluk tubuhnya di depan toko
yang di sebut tadi.
“Hei.” Sapaku. Dia
menoleh.
“Maaf lama.” Ucapnya
merasa bersalah.
“Nggak pa-pa. Lagian
hujan juga kan? Eh, tadi dari rumah udah hujan?” Ujarku. Meskipun tadi sempat
kesal juga.
“Iya. Tadi dari rumah
udah hujan. Lha ini basah semua. Hampir jatuh juga tadi.” Ceritanya sambil
mengamati hujan yang masih mengguyur kota kelahirannya ini.
“Kok nggak berteduh
dulu sih?” Ucapku sedikit kesal karena tindakannya itu. Untungnya tadi cuma hampir
jatuh, nggak jatuh beneran. Lha kalau iya? Nggak bisa bayangin kelanjutannya
gimana.
“Nggak ah. Kamu juga
udah nunggu lama kan? Lagian udah biasa kok.” Jawabnya enteng. Aku hanya bisa
mendengus sebal. Ini yang tak ku suka dari sifatnya, terlalu menyepelekan
sesuatu.
“Nunggu hujan reda dulu
ya?” Ucapnya mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Iya.” Aku mengiyakan.
Ku lirik jam tanganku, 20.30. Kemudian hening, tanpa percakapan lagi.
Ah, hujan. Kenapa hujan
yang menyambutku ketika aku kembali ke kota ini. Aku yang biasanya suka
menikmati hujan, tapi untuk kali ini aku sedikit tak suka dengan kedatangannya.
Karena kalau boleh jujur, aku ingin cepat pulang dan segera bertemu dengan
seperangkat alat tidurku di kamar kosku, yang sudah ku tinggal 4 hari yang
lalu.
Aku menoleh ke samping,
tempat dimana dia berdiri. Dia sedang sibuk dengan ponselnya, tapi sesekali
mendongak melihat hujan. Dia sepertinya tenang-tenang saja kalau harus pulang
malam. Padahal aku tahu, rumahnya sangat jauh dari kosku. Aku semakin tak enak
untuk mengajaknya menerobos hujan sekarang, ketika melihat jaketnya yang masih
basah. Okelah, nunggu reda aja. Kasihan juga kalau dia sampai sakit.
“Udah lumayan reda nih,
sekarang aja gimana? Keburu hujan lagi nanti.” Ucapnya. Aku mengamati keadaan
sebentar.
“Ya udah sekarang aja.”
Jawabku. Dia pun segera menuju ke motornya. Dan aku mengikutinya.
“Langsung ke kos?”
Tanyanya sambil memakai helmnya.
“Ya iyalah. Udah malem
juga.” Jawabku, segera naik ke boncengan motornya.
Setelah itu, tak ada
pertanyaan lagi. Dia segera membawaku menyusuri jalanan malam. Air langit masih
terasa, meskipun hanya gerimis. Lebih baik begini, daripada tetap menunggu tak
tahu sampai kapan.
“Yang itu.” Ucapku
menunjukkan kosku. Dia langsung memberhentikan motornya tepat di depan pintu
pagar kosku. Aku segera turun.
“Makasih ya. Maaf udah
ngrepotin.” Ucapan terima kasihku sekaligus permintaan maafku.
“Santai aja.” Jawabnya.
“Aku pulang ya?” Pamitnya.
“Ya. Hati-hati.”
Jawabku. Dia hanya mengangguk. Setelah memutar arah motornya, dia langsung
pergi.
Sedangkan aku masih
belum beranjak. Mengamati punggungnya sampai menghilang di belokan gang.
Pandanganku beralih pada pintu pagar kosku yang menjulang tinggi. Ah, liburan
sudah selesai. Saatnya melanjutkan apa yang aku tinggalkan di kota ini kemarin.
Dan hujan malam ini, biarlah menjadi bukti bahwa aku pernah mengenal sosok
teman seperti dia.
~Febriaz~
Note: Maaf, cerita kalian terlalu sayang buat dilupakan gitu aja. Jangan salahkan aku, salahkan ide yang tiba-tiba muncul.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar