Selasa, 30 Mei 2017

[CERPEN] JUST RAIN

JUST RAIN


"Biarlah hujan malam ini yang menjadi bukti."
***

Aku menghentakkan kakiku tak sabar. Pelukanku pada tubuhku juga ku pererat. Ah, lama sekali dia. Entah sudah ke berapa kalinya aku menoleh pada pintu masuk bandara. Berharap dia segera datang, menyelamatkanku dari tempat ini. Tidak, aku tidak benci bandara. Yang ku benci adalah kesendirian. Lihat saja di sekelilingku, mereka tidak ada yang sendiri. Ya, hanya aku yang di sini sendiri.

Ku lihat kembali jam yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Jarumnya terus saja bergerak. Ternyata sudah lumayan lama, sejak chatnya yang ‘tunggu aku 30 menit’ masuk ke whatsapp-ku. Pandanganku beralih pada jendela besar di dekat pintu masuk. Dapat ku lihat air langit menghiasi malam ini lumayan lebat. Apakah dia kejebak hujan? Mungkin. Aku mencoba positive thinking kalau dia tidak melupakan janjinya untuk menjemputku, tapi mungkin sekarang dia sedang berteduh di suatu tempat dan terlambat menjemputku.
Di tengah menikmati hujan, ku rasakan getaran ponsel di saku jaketku. Sebuah panggilan masuk, dan nama orang yang sedang ku tunggu muncul di sana. Aku segera mengusap tombol hijau di layar ponselku.
“Dimana?” Itu suara yang ku dengar pertama dengan suara hujan yang sangat jelas.
“Aku di dalam. Kamu dimana?” Tanyaku balik. Takutnya, dia beneran masih berteduh di suatu tempat.
“Aku di luar. Di depan toko deket pintu masuk.” Jawabnya sedikit berteriak. Oh, ternyata dia sudah di sini.
“Ya udah aku ke situ.” Ucapku. Kemudian panggilan terputus. Aku segera melangkah menghampirinya. Dan benar saja, ku lihat dia sudah berdiri sambil memeluk tubuhnya di depan toko yang di sebut tadi.
“Hei.” Sapaku. Dia menoleh.
“Maaf lama.” Ucapnya merasa bersalah.
“Nggak pa-pa. Lagian hujan juga kan? Eh, tadi dari rumah udah hujan?” Ujarku. Meskipun tadi sempat kesal juga.
“Iya. Tadi dari rumah udah hujan. Lha ini basah semua. Hampir jatuh juga tadi.” Ceritanya sambil mengamati hujan yang masih mengguyur kota kelahirannya ini.
“Kok nggak berteduh dulu sih?” Ucapku sedikit kesal karena tindakannya itu. Untungnya tadi cuma  hampir jatuh, nggak jatuh beneran. Lha kalau iya? Nggak bisa bayangin kelanjutannya gimana.
“Nggak ah. Kamu juga udah nunggu lama kan? Lagian udah biasa kok.” Jawabnya enteng. Aku hanya bisa mendengus sebal. Ini yang tak ku suka dari sifatnya, terlalu menyepelekan sesuatu.
“Nunggu hujan reda dulu ya?” Ucapnya mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Iya.” Aku mengiyakan. Ku lirik jam tanganku, 20.30. Kemudian hening, tanpa percakapan lagi.
Ah, hujan. Kenapa hujan yang menyambutku ketika aku kembali ke kota ini. Aku yang biasanya suka menikmati hujan, tapi untuk kali ini aku sedikit tak suka dengan kedatangannya. Karena kalau boleh jujur, aku ingin cepat pulang dan segera bertemu dengan seperangkat alat tidurku di kamar kosku, yang sudah ku tinggal 4 hari yang lalu.
Aku menoleh ke samping, tempat dimana dia berdiri. Dia sedang sibuk dengan ponselnya, tapi sesekali mendongak melihat hujan. Dia sepertinya tenang-tenang saja kalau harus pulang malam. Padahal aku tahu, rumahnya sangat jauh dari kosku. Aku semakin tak enak untuk mengajaknya menerobos hujan sekarang, ketika melihat jaketnya yang masih basah. Okelah, nunggu reda aja. Kasihan juga kalau dia sampai sakit.
“Udah lumayan reda nih, sekarang aja gimana? Keburu hujan lagi nanti.” Ucapnya. Aku mengamati keadaan sebentar.
“Ya udah sekarang aja.” Jawabku. Dia pun segera menuju ke motornya. Dan aku mengikutinya.
“Langsung ke kos?” Tanyanya sambil memakai helmnya.
“Ya iyalah. Udah malem juga.” Jawabku, segera naik ke boncengan motornya.
Setelah itu, tak ada pertanyaan lagi. Dia segera membawaku menyusuri jalanan malam. Air langit masih terasa, meskipun hanya gerimis. Lebih baik begini, daripada tetap menunggu tak tahu sampai kapan.
“Yang itu.” Ucapku menunjukkan kosku. Dia langsung memberhentikan motornya tepat di depan pintu pagar kosku. Aku segera turun.
“Makasih ya. Maaf udah ngrepotin.” Ucapan terima kasihku sekaligus permintaan maafku.
“Santai aja.” Jawabnya. “Aku pulang ya?” Pamitnya.
“Ya. Hati-hati.” Jawabku. Dia hanya mengangguk. Setelah memutar arah motornya, dia langsung pergi.
Sedangkan aku masih belum beranjak. Mengamati punggungnya sampai menghilang di belokan gang. Pandanganku beralih pada pintu pagar kosku yang menjulang tinggi. Ah, liburan sudah selesai. Saatnya melanjutkan apa yang aku tinggalkan di kota ini kemarin. Dan hujan malam ini, biarlah menjadi bukti bahwa aku pernah mengenal sosok teman seperti dia.
~Febriaz~ 
Note: Maaf, cerita kalian terlalu sayang buat dilupakan gitu aja. Jangan salahkan aku, salahkan ide yang tiba-tiba muncul.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar