Senin, 11 Januari 2016

FANFICTION V-KOOK (BTS)

Mencoba membuat sebuah cerita dari couple alien di dunia BTS. Meski dengan nama yang berbeda tapi sifat sebisa mungkin sama. Bromance and family.
Cast: Kim Taehyung as Jevin, Joen Jungkook as Arka
Other Cast: Junhoe (iKON) as Juno, Yugyoem (GOT7) as Yogi

~Happy Reading~

IT’S OKAY





 “Eh, lo yang namanya Arka kan?” Segerombolan anak menghampiri seorang anak yang mereka panggil Arka.
“I..iya, Kak. Ada apa ya?” Anak yang bernama Arka menjawab dengan takut. Karena yang dihadapannya sekarang kakak-kakak kelasnya tingkat 3 yang terkenal di SMA ini. Seingatnya ia tak pernah buat masalah dengan mereka.
“Eh, gue bilangin ya, lo itu jangan sok kecakepan. Baru kelas 1 aja udah tebar pesona.” Ucap salah satu dari geng itu. Yang kelihatannya pimpinan dari geng itu. Juno, itu yang tertera di badge namanya.
“Maaf, Kak. Maksud kakak apa? Seinget saya, saya nggak pernah tebar pesona atau apa.” Jawab Arka seberani mungkin. Seperti inilah yang paling ia benci dari namanya sekolah. Setiap ia menjadi kelas 1, ia selalu mendapatkan ucapan selamat datang seperti ini.
“Bos, berani juga nih anak.” Celetuk anggota geng itu.
“Apa perlu kita kasih pelajaran Bos? Biar dia tahu siapa kita.” Usul anggota yang lain. Arka hanya diam. Dalam hatinya ia terus memanggil nama seseorang. Orang yang akan selalu membantunya disaat-saat seperti ini.
“Woi! Jangan ganggu dia!” Teriak seseorang yang membuat mereka menoleh.
“Kak Jevin.” Ucap Arka pelan.
“Mending lo nggak usah ikut campur deh, Vin.” Saran Juno sambil tertawa.
“Sorry, Kak. Biasanya gue juga males ikut campur urusan lo sama geng lo itu, tapi kali ini gue harus ikut campur. Karena gue nggak ngebiarin lo nyentuh bahkan ganggu adek gue.” Ucap Jevin. Ia sudah berdiri di depan Arka.
“Gue nggak salah denger? Dia adek lo? Trus gue peduli gitu? Nggak! Gini Vin, mending lo minggir aja. Gue urusannya sama dia bukan lo.” Ucap Juno tajam.
“Urusan lo sama Arka, itu juga berarti lo urusan sama gue. Gue hargai lo sebagai kakak kelas gue, tapi gue nggak takut sama lo meskipun lo geng disini.” Jevin tak kalah tajam.
“Udah, Kak. Nggak usah diladenin.” Bisik Arka mencoba menenangkan Jevin.
“Udah lo tenang aja. Biar mereka nggak ganggu lo lagi.” Ucap Jevin. Tapi tanpa sepengetahuan Jevin, sebuah tinju sudah menghampiri tengkuknya. Dan itu membuat Jevin jatuh tersungkur. Namun, itu tak membuatnya lemah, Jevin langsung berdiri. Kesabarannya udah benar-benar habis.
“Lo ternyata suka main belakang ya Kak? Nggak gentle banget lo.” Jevin masih sempat mengejek lawannya.
Tanpa banyak babibu lagi, baku hantam terjadi. Dengan kubu yang tak seimbang. Jevin sendiri berhadapan dengan 4 orang. Tapi itu tak membuat Jevin terjatuh begitu saja. Baginya Arka harga mati untuknya. Siapa yang berani mengganggu Arka, harus berhadapan dengan seorang Jevin.
Ketika sang kakak sedang bergulat, Arka hanya bisa melihatnya dengan takut. Ia selalu takut ketika melihat kakaknya berkelahi. Meskipun itu untuk membelanya ia tetap saja takut apalagi perkelahian itu tepat di depan matanya. Ya, seperti siang ini.
Arka sudah tak mampu untuk melihat Jevin yang semakin melemah. Ia ingin minta bantuan. Tapi pada siapa? Keadaan sekolah sudah sepi. Ditambah sekarang mereka berada di koridor sekolah bagian belakang. Arka terus mencari cara. Akhirnya, perlahan dia berjalan ke ujung koridor yang menghubungkan dengan koridor lain.
“Pak..Pak Beni..Pak..Ada yang berkelahi, Pak..” Teriak Arka sekencang mungkin meskipun dia masih ketakutan.
Mendengar teriakan Arka, Juno dan gengnya langsung melarikan diri dari koridor itu. Dan disana tinggal Jevin yang bersandar pada dinding. Arka langsung menghampiri kakaknya. Raut wajahnya sangat menggambarkan kekhawatiran. Sedangkan Jevin, ia masih bisa tersenyum melihat adiknya mengkhawatirkannya.
“Lo bohong ya?” Ucap Jevin. Arka hanya mengangguk. Jevin sangat hafal sifat adiknya.
“Pulang yuk!” Ajak Jevin sambil beranjak berdiri.
“Tapi, itu kak?” Arka menunjuk luka di wajah Jevin.
“Nggak pa-pa. Gampang nanti.” Ucap Jevin sambil tersenyum. Arka selalu luluh dengan senyum Jevin yang seolah-olah mengisyaratkan ‘nggak pa-pa’. Merekapun melangkah meninggalkan koridor itu. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi di rumah nanti.
***
“Ma, kita pulang.” Ucap Arka saat dia dan Jevin sudah masuk ke rumahnya. Tapi sang Mama, Nyonya Pradika tak juga kelihatan keberadaannya.
“Kak, duduk di sofa dulu. Arka ambil kotak P3K.” Ucap Arka sambil mendudukkan Jevin di sofa.
“Nggak usahlah, Ka. Gue langsung ke kamar aja.”
“Kali ini nurut sama Arka, Kak. Sebelum Mama pulang.” Arka tetep kekeh.
Tanpa menunggu persetujuan lagi dari kakaknya, Arka langsung melesat mencari kotak P3K. Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Arka kembali duduk di depan Jevin. Dengan cekatan ia langsung mengobati Jevin. Ini bukan pertama kalinya pemandangan seperti ini. Dari dulu, setiap Jevin habis berkelahi atau Jevin terluka, Arka yang selalu mengobatinya. Jevin meringis perih.
“Tahan bentar lagi, Kak.” Ucap Arka yang masih sibuk menempelkan plester di bekas luka Jevin.
“Makasih ya, Ka.” Ucap Jevin setelah lukanya selesai diobati Arka. Arka hanya mengangguk pelan.
“Lo emang adek gue yang paling pinter.” Ucap Jevin sambil tersenyum tak lupa juga tangannya yang mengacak rambut Arka pelan. Melihat senyum Jevin,Arka juga ikut tersenyum.
Kalau Arka harga mati untuk Jevin, begitu juga Jevin segalanya untuk Arka. Bagi Arka tak ada orang yang seperti kakaknya, Jevin. Kakak yang sangat menyayanginya, kakak yang juga super hero baginya, kakak yang selalu membuatnya percaya dengan senyum’baik-baik saja’-nya, kakak yang selalu rela melakukan apapun untuk seorang Arka. Begitu juga Jevin, meskipun kini Arka sudah tumbuh menjadi anak SMA seperti dirinya, namun baginya Arka tetap adik kecilnya dulu yang butuh perlindungannya.
Namun, meskipun Arka dan Jevin saudara sedarah daging, ada juga yang membuat mereka tak sama. Jevin adalah tipe orang yang langsung bertindak sesuai kata hatinya tanpa berpikir dulu. Tapi ia juga makhluk yang lebih memilih menyembunyikan sesuatu di balik senyumnya daripada membuat khawatir orang lain. Game adalah dunianya.
Berbeda dengan Jevin, Arka selalu bertindak dengan pemikiran yang rasional. Ia bintang akademis di sekolahnya. Si pendiam yang membuat semua orang tua ingin punya anak seperti Arka. Sebenarnya Arka terpaut dua tahun dengan Jevin, tapi karena kemampuan Arka, ia bisa sekolah satu tahun lebih cepat. Jika Jevin memilih game sebagai dunia keduanya, sang adik selalu dikelilingi buku-buku tebal.
***
Beginilah suasana makan malam di rumah Keluarga Pradika, hening yang terdengar hanya dentingan sendok dan piring. Kadang helaan nafaspun terdengar. Sibuknya Tuan dan Nyonya Pradika dalam mengurusi bisnisnya, membuat hubungan mereka dengan kedua anaknya, Jevin dan Arka seperti ada jarak. Terlebih lagi dengan Jevin. Kalau dengan Arka mereka masih perhatian, karena nama Pradika masih dipandang terhormat dengan semua prestasi Arka.
“Bagaimana sekolah kamu, Ka?” Tuan Pradika akhirnya membuka suara.
“Baik, Pa. Ini baru persiapan buat Olimpiade Sains bulan depan.” Jawab Arka.
“Harus menang, Ka. Jangan sampai bikin malu nama Pradika. Jangan seperti Kakakmu itu.” Ucap Nyonya Pradika. Arka menoleh Jevin yang duduk di sebelahnya. Jevin menatap piringnya kosong.
“Vin..Jevin?” Suara Tuan Pradika membuat Jevin mengangkat kepalanya.
“Iya, Pa.” Jawabnya pelan.
“Kenapa lagi tuh muka kamu? Berantem lagi? Kamu itu sebenarnya niat sekolah apa nggak?” Pertanyaan beruntun Tuan Pradika. Jevin hanya diam. Karena menurutnya pertanyaan itu tak perlu ia jawab. Toh, Papanya pasti sudah tahu jawabannya.
“Udahlah Pa, ngapain masih ngurusin Jevin. Biarin saja dia mau sekolah apa nggak. Yang penting kewajiban kita sebagai orang tua sudah kita laksanakan.” Nyonya Pradika berkata santai seolah-olah kewajibannya sebagai orang tua hanya masalah uang.
“Tapi Ma, percuma kita bekerja siang malam, kalau Jevin kerjaannya cuma berantem, game, berantem, game, mau ditaruh dimana nama Pradika?” Seperti inilah sikap Tuan Pradika jika ada kelakuan anaknya yang menyangkut nama Pradika.
“Ma, Pa, tadi itu Kak Jevin cuma nolong Arka. Kak Jevin tadi dikroyok, Pa.” Arka akhirnya angkat bicara. Ia sudah tak tega melihat kakaknya terus dipojokkan oleh Mama Papanya.
“Arka, diam! Kamu nggak usah belain Kakak kamu. Kalau dia tadi nolongin kamu, seharusnya dia bisa cari cara selain berantem. Tapi yang ada dipikirannya cuma berantem dan berantem. Mau jadi apa kamu nanti, Vin?”
“Tapi, Pa..” Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya, Jevin sudah menahannya. Ia menggeleng pelan. Meminta Arka untuk tak membelanya lagi.
“Ma, Pa, kalau kelakuan Jevin masih saja salah, Jevin minta maaf.” Ucap Jevin kemudian meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
“Arka ke kamar dulu, Ma, Pa.” Arka juga mengakhiri makan malamnya dan menyusul Jevin.
“Kak?” Panggil Arka sambil melongokan kepalanya ke kamar Jevin. Dan ia temukan Jevin berada di meja belajarnya dengan buku di depannya.
“Kak Jevin?” Panggil Arka lagi, sekarang lebih keras. Jevin akhirnya menoleh.
“Eh..lo, Ka. Masuk aja.” Ucap Jevin. Arka melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sangat bertolak belakang dengan kamarnya.
“Sibuk, Kak?” Tanya Arka sambil duduk di tempat tidur Jevin.
“Nggak kok. Cuma buka-buka aja. Lo nggak belajar, Ka?” Jevin memutar kursi belajarnya sehingga menghadap Arka.
“Bentar lagi, Kak. Kak, maafin Arka ya?” Ucap Arka tertunduk.
“Untuk?”
“Karena Arka, Kak Jevin selalu dimarahi Mama Papa. Meskipun itu awalnya kesalahan Arka, tapi terus saja Kak Jevin yang nerima kemarahan Mama Papa.” Jelas Arka pelan.
“Lo itu ngomong apa sih, Ka? Lo itu adek gue. Udah jadi kewajiban gue buat njaga lo. Paham?”
“Tapi, Kak..”
“Ka, gue nggak mau denger lo minta maaf lagi. Apalagi lo ngerasa bersalah. Gue nggak pa-pa. Lo harus percaya itu. Sekarang, lo belajar. Focus buat Olimpiade Sains bulan depan.” Jevin terus meyakinkan Arka. Ia tak mau Arka merasa bersalah padanya. Pelan, Arka pun mengangguk.
“Ya udah Kak, Arka ke kamar dulu.” Ucap Arka beranjak berdiri. Jevin hanya tersenyum sambil mengangguk. Sampai di ambang pintu, Arka berbalik. Mendapati kakaknya yang masih tersenyum padanya.
“Kak, pelan-pelan aja. Jangan terlalu dipaksain.” Ucap Arka terakhir kali. Kemudian ia menghilang di balik pintu kamar Jevin. Sedangkan Jevin, membeku dengan ucapan Arka. Apa mungkin Arka sudah tahu?
***
Lagi, lagi dan lagi. Arka selalu terbangun tengah malam setelah mendengar suara-suara dari kamar sebelahnya. Kamar Jevin. Awalnya Arka penasaran apa yang terjadi dengan kakaknya. Ia ingin melihat sang kakak, tapi ia juga takut. Sampai suatu saat, ia mengetahui suatu kebenaran yang menyakitkan. Yang membuat hati Arka teriris setiap mendengar rintihan Jevin.
Begitu juga malam ini. Arka kembali mendengar rintihan pelan Jevin. Arka memejamkan matanya. Ikut merasakan apa yang Jevin rasakan. Dan ia benar-benar tak kuat. Arka tak habis pikir, bagaimana kakaknya kuat menghadapi semua ini sendirian dan menyembunyikan dengan rapat dari dirinya? Ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran seorang Jevin. Orang yang terlihat kuat dari luar, ternyata sangat lemah.
Perlahan Arka menuruni tempat tidurnya, bermaksud melangkah menuju kamar Jevin. Rumah tampak sepi, karena ini sudah benar-benar larut malam. Setelah sampai di depan kamar Jevin, Arka membuka pintu kamar Jevin pelan. Sebisa mungkin tak mengeluarkan suara. Arka kemudian mengintip ke dalam. Mencari keberadaan kakaknya. Dan betapa terkejutnya Arka, ketika matanya menemukan sosok pelindungnya sedang terduduk lemas di dekat meja belajarnya dengan buku-buku berserakan di depan sosok itu. Arka tak mampu melihatnya lagi. Ia kembali menutup pintu kamar Jevin dan menuju kamarnya. Airmata sudah mengalir dari mata bening Arka.
Diskelsia. Ya, itu yang Jevin derita. Penyakit gangguan saraf yang menyerang anak yang lahir premature atau otaknya kekurangan oksigen saat lahir. Dan itu membuat penderitanya tidak bisa menulis, membaca ataupun mengeja dengan benar. Seorang Jevin menghadapi semua itu sendiri. Tak ada yang tahu atau lebih tepat ia tak berniat memberi tahu orang lain. Tapi, tanpa Jevin sadar, seseorang mengetahui itu.
Dan malam ini, seperti malam-malam sebelumnya sejak Jevin divonis mengidap disleksia, ia terus mencoba melatih kemampuannya untuk membaca atau apapun. Meskipun belum bisa dikatakan berhasil, ia sudah sangat bersyukur bisa bertahan di kehidupan yang disebut sekolah sampai saat ini. Jevin kadang iri melihat Arka belajar atau menerima materi dengan lancar sehingga kemampuannya diatas rata-rata. Ia ingin seperti Arka, tapi ia sadar ia tak bisa dan tak akan pernah bisa. Jevin menatap buku di depannya nanar. Jevin, lo harus bisa!
 ***
Pagi ini, Arka dan Jevin serasa seperti seorang selebritis. Bagaimana tidak, sejak mereka masuk gerbang dan berjalan di sepanjang koridor, semua mata tertuju padanya. Seluruh peenghuni SMA itu masih belum percaya jika dua makhluk yang sedang jadi objek perhatian adalah saudara. Tapi, nama besar ‘Pradika’ yang berada dibelakang nama Arka dan Jevin yang membuat semua orang harus percaya.
Merasa jadi objek perhatian, Arka semakin mendekat pada kakaknya yang berjalan santai. Berbeda dengan reaksi Arka yang sedikit takut bahkan risih dengan tatapan-tatapan itu, Jevin justru terlihat santai. Dalam benak Jevin, ia ingin memperlihatkan pada semua orang bahwa si troble seperti dirinya mempunyai adik si genius Arka.
“Kak, mereka kok ngeliatin kita terus ya? Emang ada yang aneh dari penampilan kita?” Bisik Arka. Jevin yang mendengarnya tertawa pelan.
“Santai aja, Ka. Nggak ada yang aneh kok dari penampilan kita. Mereka cuma heran aja ngelihat si trouble jalan bareng si genius. Mereka belum bisa menerima kenyataan bahwa kita saudara.” Jelas Jevin sambil merangkul Arka.
“Kenapa sih Kak, dari SD sampai sekarang selalu saja ada orang-orang seperti mereka? Nggak capek apa ngelihatin orang sampai segitunya?” Gerutu Arka.
“Udahlah Ka, cuekin aja. Nanti kalau udah capek juga bakal berhenti sendiri.” Ucap Jevin. Arka mengangguk setuju.
“Ya udah, lo ke kelas gih. Beranikan ke kelas sendiri? Apa perlu gue anter?” Tawar Jevin menggoda sang adik.
“Nggak usah, Kak. Arka bisa ke kelas sendiri. Arka bukan anak kecil lagi, Kak.” Jawab Arka tak setuju dengan tawaran sang kakak.
“Ya udah..ya udah, cepet sana ke kelas. Keburu bel. Belajar yang bener, Ka.” Ucap Jevin sambil mendorong Arka ke koridor menuju kelas Arka.
“Iya..iya.” Jawab Arka melangkah menuju ke kelasnya. Jevinpun juga mengikuti berbelok ke koridor yang menuju kelasnya.
***
“Ka, Arka?!” Panggil seseorang menyadarkan Arka dari kesibukannya menggambar sesuatu dibukunya. Arka menoleh ke sumber suara. Ia menemukan teman semejanya, Yogi berdiri di sampingnya.
“Ada apa, Gi?” Tanya Arka sambil mengistirahatkan sebentar hobinya.
“Tadi gue lihat orang tua lo.” Berita dari Yogi berhasil membuat Arka melepaskan pensil gambarnya. Sesuatu yang menyangkut orang tuanya selalu berarti tak baik. Nama sang kakakpun langsung terbesit dipikirannya.
“Dimana?” Tanya Arka penasaran.
“Kayaknya sih tadi menuju Ruang Konseling. Sepertinya menyangkut masalah kakak lo deh.” Jelas Yogi. Tanpa banyak pikir lagi, Arka langsung berdiri dari duduknya. Ia akan memastikan sendiri, untuk apa orang tuanya ke sekolah.
“Bentar lagi masuk, Ka.” Teriak Yogi. Tapi Arka tak lagi menggubrisnya. Yang terpenting sekarang ia harus mencari Jevin terlebih dahulu.
Arka berlari dan terus berlari. Sekarang ia menuju kelas Jevin. Ia tak peduli lagi dengan tatapan kakak-kakak kelasnya karena ia berlarian di wilayah kelas 2. Sesampainya di kelas sang kakak, Arka langsung masuk begitu saja. Ia langsung menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Tapi tak dilihatnya makhluk yang bernama Jevin. Ia langsung pergi lagi. Tujuannya sekarang tinggal satu, Ruang Konseling. Ya, pasti Jevin sudah di sana.
“Apa yang sudah anak ini lakukan lagi, Pak?” Suara sang Papa membuat Arka menghentikan langkahnya di luar Ruang Konseling. Dapat dilihatnya denga jelas, kedua orang tuanya sedang duduk berhadapan dengan Pak Beni, guru konseling. Dan kakaknya duduk tak jauh dengan wajah tertunduk.
“Sabar dulu, Pak Pradika. Pihak sekolah mengundang Bapak dan Ibu ke sini, bukan untuk memarahi Jevin, tapi Kami ingin membicarakan tindakan lebih lanjut mengenai Jevin.” Jelas Pak Beni dengan tenang.
“Terserah Bapak akan melakukan tindakan apa untuk anak ini. Saya juga sudah lelah dengan dia. Kalau Bapak mau mengeluarkan dia sekalipun, Saya sudah tidak peduli.” Kata-kata Tuan Pradika keluar begitu tajam. Ia tak lagi memikirkan bagaimana perasaan Jevin saat itu. Arka yang diluar ruanganpun, miris mendengar perkataan Papanya.
“Sekolah tidak bisa mengeluarkan Jevin begitu saja. Sebenarnya Jevin itu hanya perlu sedikit bantuan dari orang-orang disekitarnya, terlebih khusunya dari keluarganya. Dan Kami dari pihak sekolah meminta kerjasamanya dengan Bapak dan Ibu untuk ikut membimbing Jevin.” Pak Beni masih berbicara dengan tenang.
“Dia itu memang sudah pemalas, Pak. Percuma membimbing anak seperti dia. Kami sebagai orang tua sudah tak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatnya seperti adiknya, Arka.” Sekarang Nyonya Pradika yang angkat bicara.
“Bu, dia Jevin. Jangan paksakan dia untuk menjadi seperti Arka. Biarkan dia menjadi Jevin.” Pak Beni tak mengerti bagaimana jalan pemikiran orang tua siswanya yang sekarang berada di hadapannya.
“Terserah apa kata Bapak saja. Yang jelas sekarang Kami sudah ditunggu untuk meeting. Kami permisi.” Tuan dan Nyonya Pradika langsung beranjak dari duduknya. Pak Beni pun tak bisa menahannya.
“Terimakasih untuk waktunya.” Ucap Pak Beni sambil bersalaman dengan Tuan dan Nyonya Pradika yang hanya dibalas anggukan kecil dan senyum paksaan.
Pak Beni mengantarkan kedua tamunya keluar dari ruangannya. Jevin juga mengikuti kedua orang tuanya masih dalam diam. Arka masih diam di tempatnya, ketika orang tuanya sudah keluar dari Ruangan Konseling bersama kakaknya yang masih tertunduk.
“Bukannya udah jam pelajaran, Ka? Ngapain di sini?” Tanya Tuan Pradika menatap tajam Arka. Arka masih diam, tak tahu mau menjawab apa.
“Jangan bilang kamu khawatir sama kakakmu? Dia, nggak perlu untuk kamu khawatirin. Yang perlu kamu khawatirin nilai-nilai kamu. Jangan sampai ada yang turun. Paham? Sekarang kamu kembali ke kelas!” Perintah tegas Tuan Pradika.
Arka melihat Jevin sebentar. Jevin mengangguk pelan dan tersenyum. Mengisyaratkan pada Arka bahwa dia tidak apa-apa. Arka pun melangkah pergi ke kelasnya. Jevin juga ke kelasnya setelah orang tuanya meninggalkan sekolah.
***
“Ini! Lihat ini!” Ucap Tuan Pradika sambil melemparkan sebuah amplop ke hadapan Jevin. Jevin memungutnya tanpa ada niat untuk membukanya. Karena ia sudah tahu apa isi dari amplop itu.
Keluarga Pradika sedang berkumpul di ruang keluarga. Suasana benar-benar mencekam. Tatapan tajam dari Tuan Pradika mengisyaratkan  bahwa ia benar-benar marah. Sikap diam Nyonya Pradika membuat suasana semakin mematikan. Jevin tetap tertunduk. Sedangkan Arka hanya diam. Ia terus melirik kakaknya. Merasa Arka terus melihatnya, Jevin menoleh dan lagi-lagi mengeluarkan senyum ‘baik-baik saja’nya.
“Untung sekolah hanya menskors kamu. Kalau kamu benar-benar di keluarkan, mau ditaruh dimana nama Pradika? Apa kamu mau tanggungjawab?” Lanjut Tuan Pradika. Hanya nama besar Pradika yang ia pikirkan. Perasaan anaknya tak pernah ia perhitungkan.
“Udahlah, Pa. Percuma marah-marah.” Nyonya Pradika angkat suara.
“Selama masa skors, kamu dilarang keluar rumah! Nggak ada alasan apapun. Paham?” Itu hukuman dari Tuan Pradika.
“Iya, Pa.” Jawab Jevin pelan. Kemudian Tuan dan Nyonya Pradika meninggalkan ruang keluarga. Begitu juga Arka dan Jevin mengikuti pergi ke kamar masing-masing.
Namun saat berada di depan kamar Jevin, Arka mengurungkan niatnya untuk segera ke kamarnya sendiri. Ia membelokkan kakinya ke kamar kakaknya. Saat ia membuka pintu kamar Jevin, ia menangkap sosok Jevin sedang duduk tertunduk di ujung tempat tidur. Dari raut wajahnya, terlihat jelas dia sedang menahan banyak beban dipikirannya.
Merasa sedang diperhatikan seseorang, Jevin menoleh ke pintu kemarnya dan ia menemukan sang adik berdiri disana. Dia langsung mengubah raut wajahnya. Ia pun lagi-lagi memasang senyumnya. Jevin ingin Arka tak kahwatir padanya.
“Ngapian berdiri di situ, Ka? Nggak mau masuk?” Ucap Jevin. Arka melangkah masuk ke kamar yang lebih membuatnya nyaman daripada kamarnya sendiri. Ia langsung duduk di samping kakaknya. Kemudian hening menyelimuti mereka berdua.
“Kak Jevin bahagia?” Ucap Arka tiba-tiba. Jevin mrenoleh orang yang paling disayanginya.
“Ya, bahagialah.” Jawab Jevin tersenyum.
“Meskipun dengan semua perlakuan yang nggak adil? Kak Jevin tetep bahagia?” Jevin mengangguk mantap.
“Ka, gue tetep bahagia meskipun hidup gue seperti ini. Gue nggak masalah diperlakukan nggak adil, nggak diperhatiin Mama Papa, selalu dimarahin Mama Papa, asal lo tetep di samping gue. Lo tetep jadi adek gue yang bisa ngewakilin gue buat bikin Mama Papa bangga. Gue udah bahagia dengan itu, Ka.” Jawab Jevin tenang. Arka semakin kagum dengan seorang Jevin.
“Kak, Arka tahu dan percaya Kak Jevin itu orang yang kuat. Tapi, jangan sok kuat, Kak. Kalau butuh bantuan bilang aja sama Arka. Nggak usah disembunyiin lagi dari Arka. Arka sudah tahu, Kak.” Giliran Jevin yang terkejut dengan ucapan Arka.
“Lo tahu tentang apa?”
“Tentang sesuatu yang Kakak sembunyiin dari Arka. Seuatu yang Kakak coba ngadepin semua itu sendiri.” Jelas Arka. Arka mencoba menahan tangisnya. Jika ia ingin membantu kakaknya, ia juga harus kuat seperti sang kakak. Itu yang diyakini Arka.
“Sejak kapan, Ka?” Tanya Jevin pelan.
“Udah lupa Kak, sejak kapan. Kenapa disembunyiin, Kak?”
“Gue takut kalau lo atau Mama Papa tahu bakal khawatir atau bahkan bisa merusak nama Pradika.”
“Tapi Kak Jevin harus berjuang sendirian, apa itu nggak berat?”
“Nggak kok. Karena ada lo sebagai semangat gue. Buktinya gue bertahan sampai sekarang.” Jawab Jevin sambil mengacak rambut Arka. Ia ingin meyakinkan Arka bahwa ia masih Jevin yang kuat. Kakak yang bisa untuk tempat berlindungnya.
“Sekarang, mending lo balik ke kamar. Istirahat.” Kata Jevin perhatian.
Sebenarnya Arka masih ingin bersama Jevin, tapi ia tahu kalau Jevin membutuhkan waktu untuk sendiri. Arka pun mengangguk dan melangkah menuju pintu kamar Jevin. Ia kembali menoleh dan tersenyum pada Jevin sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar Jevin.
Jevin masih menatap pintu kamarnya meskipun Arka sudah tak berdiri di sana. Ia masih tak menyangka adiknya tahu tentang rahasianya. Dan adiknya tak mempermasalahkan itu. Bahkan ia mengulurkan tangan untuknya. Jevin benar-benar beruntung mempunyai seorang Arka di dalam hidupnya. Dalam hatinya, Jevin berjanji tak ada lagi kesedihan bahkan keputusasaan demi Arka. Ia akan tetap menjadi pelindung Arka. Ia tak ingin Arka mengkhawatirkan dirinya lagi.
***
Sore ini, Arka terpaksa melintasi koridor sendiri. Jevin yang masih dalam masa hukuman dan jam tambahan untuk persiapan Olimpiade membuatnya pulang sendiri. Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika seseorang atau tepatnya beberapa orang telah menghadangnya.
“Pulang sendiri, Ka? Kakak lo mana?” Suara itu sangat Arka kenal.
“Kak Juno?” Arka memastikan setelah ia menoleh ke orang yang menghadangnya. Memang dia baru berhadapan dengan Juno sekali ketika ia awal-awal kelas 1. Dan setelah Jevin memperkenalkan dirinya sebagai kakaknya Arka, kakak-kakak kelasnya itu tak lagi mengganggunya. Tapi sekarang mereka muncul lagi.
“Iya ini gue. Lama nggak ketemu. Gimana kabar lo?” Tanya Juno berbasa-basi. Arka diam. Ia tahu ini hanya permainan Juno.
“Lo masih ingatkan urusan kita belum selesai?” Ucap Juno diiringi tawa iblisnya.
“Sebenarnya masalah kakak dengan saya apa? Bukan hanya dengan alasan konyol seperti yang dulu pernah kakak katakan kan?” Arka berusaha seberani mungkin.
“Pinter juga lo. O iya, lo kan si genius Arka. Asal lo tahu aja, ini semua gara-gara kakak lo. Si sampah Jevin. Gue heran, kok bisa ya adeknya genius tapi kakaknya sampah?” Ucap Juno menekankan kata ‘sampah’ di telinga Arka. Arka tak terima dengan ucapan Juno untuk kakaknya. Tapi ia tak bisa apa-apa. Ia hanya diam menatap Juno tajam.
“Nggak terima kakak lo gue panggil sampah? Mau marah? Pengen mukul gue? Sini..sini pukul gue.” Ucap Juno sembil menunjukkan wajahnya. Karena Juno yakin, makhluk di depannya tak akan berani mengangkat kepalannya. Kesabaran Arka sudah benar-benar habis. Dengan semua keberaniannya, ia langsung melayangkan pukulannya ke rahang Juno. Mungkin ini pukulan pertama Arka.
“Berani juga lo.” Ucap salah satu anak buah Juno mencengkeram kerah seragam Arka. Tapi Juno memberi isyarat untuk melepaskannya.
“Wow..ini diluar perkiraan gue. Tangan yang gue kira hanya bisa lo buat pegang pensil, ternyata juga bisa buat mukul orang?” Tanya Juno sinis.
“Dan lo sadar, lo udah ngibarin bendera perang dengan pukulan lo tadi. Bisa saja saat ini juga gue bisa buat lukisan di wajah cakep lo ini. Atau gue patahin aja tangan apa kaki lo, biar si genius Arka ada cacatnya juga. Ditambah lagi, hari ini lo sendiri. Nggak ada Jevin sang pahlawan lo.” Kata-kata tajam keluar dari mulut Juno. Dalam hati, Arka terus memanggil nama Jevin. Meski ia tahu apa yang dikatakan Juno benar, Jevin tak akan datang.
***
Di kamar Jevin, ia tiduran tak tenang. Ia terus kepikiran Arka. Jevin sudah mencoba menghubungi Arka, tapi tak ada jawaban sama sekali. Ini sudah waktunya pulang, tapi belum ada tanda-tanda Arka di rumah. Ia merasa sesuatu sedang terjadi dengan Arka. Jevin tak bisa seperti ini. Ia harus mencari Arka. Memastikan bahwa Arka tetap baik-baik saja.
Tak peduli lagi dengan hukuman dari Papanya, Jevin langsung berlari keluar kamarnya. Diluar, kebetulan ia bertemu dengan Pak Tino, sopir kantor Papanya.
“Pak anterin saya!” Perintah Jevin.
“Tapi, Bapak harus cepet balik lagi ke kantor. Ini dokumennya udah ditunggu.” Jelas Pak Tino.
“Pokoknya sekarang antar saya ke sekolah dulu.” Ucap Jevin sambil masuk ke mobil. Mau tak mau Pak Tino menuruti perintah anak bosnya.
“Makasih, Pak.” Ucap Jevin ketika mobilnya sudah berhenti di depan sekolahnya.
“Bapak langsung ke kantor.” Ucap Pak Tino hanya dijawab anggukan Jevin.
Jevin langsung berlari masuk ke halaman sekolahnya. Ia harus menemukan Arka. Sekolah sudah sepi, jadi tak ada yang bisa ia tanyai dimana keberadaan adiknya. Ia langsung menuju kelas Arka. Nihil. Arka tak berada di sana. Ia kembali berlari. Sampai akhirnya langkahnya terhenti. Pemandangan di depannya membuat darahnya naik. Pemandangan Arka yang sedang berhadapan dengan gengnya Juno. Tanpa berpikir panjang lagi, Jevin langsung menghampirinya.
BUKK!
Jevin menghantam anak buah Juno yang berdiri paling belakang sampai terjatuh. Dan itu berhasil membuat geng Juno maupun Arka menoleh. Dan Jevin memasang wajah iblisnya.
“Hallo Kak, udah selesai main-mainnya sama adek gue?” Ucap Jevin sinis.
“Sang pahlawan akhirnya datang. Peka juga lo.” Ucap Juno tak kalah sinis. Juno sekarang berhadpan dengan Jevin. Karena sebenarnya sasarannya Jevin, dan Arka hanya sebagai umpan. Dan sekarang sang objek sudah didepannya.
“Kak, eh terlalu bagus gue panggil lo kakak. Juno, gue udah pernah bilang, jangan pernah nyentuh adek gue.”
“Apa?! Gue nyentuh adek lo? Nggak salah? Lihat ini! Sebelum lo datang, dia udah ngibarin bendera perang dengan ini.” Juno menunjukkan bekas pukulan Arka. Jevin menoleh Arka sekilas, Arka hanya menunduk. Arka tahu, kakaknya tak akan suka dengan tindakannya tadi.
“Masalah lo sama gue kan? Kenapa lo libatin Arka?”
“Karena gue tahu, dia kunci lo.”
“Kalau lo mikir lo bisa ngalahin gue dengan Arka? Lo salah. Sekarang kita selesain disini.” Ucap Jevin. Juno menjawabnya dengan senyum meremehkan.
Setelah mendapat intruksi dari sang ketua, anak buah Juno menyerang Jevin satu persatu. Arka masih berdiri ditempatnya. Didepan matanya lagi-lagi sang kakak mengotori tangannya. Meski ia tahu kakaknya seorang jagoan, tapi ia juga tahu tenaga seorang diri tak sebanding dengan 4 orang. Arka tak ingin hanya melihat, kali ini ia ingin membantu Jevin.
Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, Arka bergerak mendekati salah satu anak buah Juno yang terdekat. Dengan gerakan yang dia pelajari diam-diam dari Jevin, Arka menghantam salah satu anak buah Juno sampai terjatuh. Merasa ditantang, anak buah Juno itu langsung bangkit. Ia menatap Arka tajam. Tanpa membuang waktu, Arka sudah dihadiahi pembalasan, tapi Arka masih sempat berkelit. Tapi kemampuan Arka tak seberapa dibandingkan dengan geng sekolah itu. Anak buah Juno mengayunkan kakinya dan menendangkannya tepat diperut Arka. Arka terdorong sampai ia jatuh membentur tempat sampah yang ada dibelakangnya.
Melihat Arka yang terjatuh, membuat Jevin sedikit tak focus. Akibatnya pertahanannya sedikit kendor. Tenaganya pun juga sudah mulai melemah untuk menghadapi 4 orang sekaligus. Akhirnya pergerakan Juno dan gengnya terjadi begitu cepat membuat Jevin jadi bulan-bulanan. Arka hanya mampu melihatnya miris. Melihat kakaknya berjuang sendirian. Dan yang dilihat Arka kemudian, Jevin berhenti melawan dan perlahan-lahan roboh. Benteng terkuat Arka roboh didepan matanya.
“Itu hadiah buat lo, Vin. Ternyata lo tak sekuat gaya lo.” Ucap Juno terakhir kali sebelum ia pergi meninggalkan tubuh korbannya.
Arka kembali mengumpulkan sisa tenaganya. Perlahan, ia menghampiri sang kakak yang sudah tak berdaya. Ia membalik tubuh Jevin dan merengkuhnya. Jevin masih setengah sadar. Ia masih bisa tersenyum melihat Arka. Airmata Arka sudah membasahi wajahnya yang lebam.
“Kak Jevin?” Ucap Arka pelan.
“Lo..nggak..pa..pa?” Tanya Jevin terbata-bata.
“Arka nggak pa-pa, Kak.” Jawab Arka. Setelah mendengar Arka tidak apa-apa, perlahan mata Jevin terpejam. Jevin tak sadarkan diri.
“Kak..Kak Jevin..bangun..” Arka berusaha menyadarkan kakaknya. Tapi sia-sia. Jevin tak mau membuka matanya.
“Siapa disana?” Sebuah suara terdengar. Arka menoleh ke sumber suara. Ia melihat Pak Agung, satpam sekolahnya sedang beroperasi.
“Pak?” Panggil Arka lemah. Pak Agung itu langsung menghampiri Arka. pandangannya tertuju pada Jevin yang tak sadarkan diri dengan luka-luka.
“Pak..tolong.” Ucap Arka lagi. Seperti tersadar dari pengamatannya, Pak Agung itu mengangguk. Ia langsung mengangkat tubuh Jevin.
“Kamu masih bisa berjalan sendiri kan?” Tanya Pak Agung. Arka mengangguk.
“Ya sudah, sekarang Bapak anter ke Rumah Sakit kebetulan ada mobil sekolah.” Jelas Pak Agung.
“Makasih, Pak.” Ucap Arka pelan hanya dibalas anggukan oleh Pak Agung.
***
“Arka?!” Suara Nyonya Pradika membelah lorong Rumah Sakit. Arka menoleh dan menemukan Papa Mamanya berlari kearahnya.
“Ma?” Ucap Arka dan menghambur ke pelukan Mamanya yang sudah berada di sampingnya.
“Kamu nggak pa-pa, Ka?” Tanya Nyonya Pradika sambil mengamati putra keduanya itu.
“Arka nggak pa-pa. Tapi Kak Jevin, Ma.” Ucap Arka menunjukkan ruang di depannya. Ruang ICU.
“Seperti ini hasilnya kalau dia berantem dan berantem terus. Ulah apa lagi yang dia buat sekarang sampai akhirnya ia masuk tempat ini.” Tuan Pradika tetap dengan sifat kerasnya. Saat Arka akan membantah presepsi Papanya, seorang dokter keluar dari ICU. Arka langsung menghampiri dokter itu.
“Bagaimana keadaan Kak Jevin, Dok?” Tanya Arka langsung.
“Kakak kamu sedang ditangani Dokter yang lain. Ini keluarga Jevin?” Tanya Dokter yang bernama Wira itu.
“Iya. Saya Papanya dan ini Mamanya.” UcapTuan Pradika sambil menjabat tangan Dokter Wira diikuti Nyonya Pradika.
“Apa yang terjadi dengan Jevin, Dok?” Tanya Nyonya Pradika.
“Saya juga belum tahu. Sekarang masih dalam proses penanganan. Kalau boleh saya tanya, bagaimana perkembangan Jevin selama ini?” Pertanyaan DokterWira membuat Tuan dan Nyonya Pradika saling pandang.
“Kak Jevin masih terus belajar melatih kemampuannya, Dok.” Jawab Arka yang tahu apa maksud pertanyaan Dokter Wira.
“Bentar..bentar, sebenarnya yang Dokter bicarakan apa? Jevin kenapa?” Tanya Tuan Pradika.
“Lho, Bapak sama Ibu tidak tahu? Jevin mengidap disleksia.” Jawab Dokter Wira lagi-lagi membuat kedua orangutan yang sibuk bekerja itu shock. Ini adalah pertama kalinya mereka dengar kalau seorang Jevin sakit.
“Dok?” Seorang Suster memanggil Dokter Wira.
“Oh..maaf, saya harus kembali ke dalam.” Pamit Dokter Wira. Tinggal keluarga Pradika dengan keheningan.
“Kamu tahu, Ka?” Tanya Nyonya Pradika. Arka mengangguk.
“Kenapa kamu tidak bilang ke Mama atau Papa? Kenapa kalian menyembunyikannya?” Ini baru pertama kali Arka mendengar suara Mamanya yang sangat khawatir.
“Memang Mama peduli? Toh Mama sama Papa lebih sibuk dengan perusahaan daripada ngasih perhatian ke anaknya sendiri.” Jawab Arka dingin.
“Kata siapa kami tidak merhatiin anaknya?” Papa ikut angkat bicara.
“Ya, perhatian tapi cuma sama Arka. Sama Kak Jevin?” Perkataan Arka membuat orang tuanya terdiam.
“Ma, Pa, Kak Jevin nggak bodoh atau idiot. Ya, seperti kata Dokter Wira tadi, Kak Jevin mengidap disleksia. Gangguan syaraf yang membuat Kak Jevin sedikit lambat dari anak normal lainnya. Dia sulit membaca, menulis atau memahami itulah sebabnya Kak Jevin selalu diurutan terakhir. Tapi, Kak Jevin orang terkuat yang pernah Arka tahu. Ia tak menyerah. Setiap malam, Kak Jevin selalu belajar sendiri sampai dia merintih kesakitan.” Jelas Arka panjang lebar sambil  membayangkan perjuangan sang kakak. Dan tanpa Arka sadari ia menangis mengingat kakak terkuatnya sedang berbaring lemah tak berdaya.
“Tapi Jevin terlihat baik-baik saja.” Nyonya Pradika berkata pelan.
“Kak Jevin itu penipu ulung. Ia selalu menyembunyikan semuanya dibalik senyum baik-baik sajanya. Dan dia menjadi sedikit pemberontak untuk menutupi kelemahannya. Ia selalu berkelahi bukan tanpa alasan. Kak Jevin berkelahi untuk Arka.” Semua yang diutarakan Arka keluar begitu saja dari hatinya.
“Jevin..” Panggil Nyonya Pradika pelan. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Menyembunyikan tangisnya yang pertama untuk Jevin-nya. Sedangkan Tuan Pradika memukul dinding. Melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri. Orang tua macam apa mereka, sampai tak tahu anaknya membutuhkannya.
“Mungkin salah satu dari kita perlu sakit dulu, agar Mama Papa menyadari adanya kita. Terlebih Kak Jevin.” Ucap Arka miris. Orang tuanya tak bisa membalas lagi.
“Ma, Pa, meskipun orang lain berkata Arka yang genius, tapi menurut Arka, Kak Jevin yang genius. Ia mampu bertahan sampai sekarang dengan seluruh perjuangannya sendiri. Itu yang membuat Arka mengidolakan seorang Kak Jevin.” Imbuh Arka sebelum suasana berubah hening. Arka tertunduk tapi telinganya mendengar isakan dari Mamanya untuk pertama kali.
Saat semua sedang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, tiba-tiba pintu ICU terbuka dan keluarlah seorang dokter dan beberapa suster. Keluarga Pradika langsung menghampiri dokter itu.
“Bagaimana keadaan Jevin, Dok?” Tanya Tuan Pradika.
“Luka-lukanya sudah kami tangani dan tidak ada luka yang serius. Sekarang hanya menunggunya untuk siuman.” Ucap dokter itu sambil tersenyum. Kemudian terdengar helaan nafas lega dari keluarga Pradika.
“Kita sudah boleh melihatnya, Dok?” Tanya Nyonya Pradika.
“Oh, silahkan. Saya permisi dulu.” Pamit dokter itu kemudian melangkah pergi.
Arka langsung berlari masuk. Ia tak sabar melihat sang kakak. Dan ia lihat seorang Jevin yang biasanya berdiri dengan gagahnya sebagai tamengnya, sekarang tertidur lemah di ranjang putih itu. Arka langsung duduk di sebelah ranjang Jevin. Meskipun dokter tadi berkata Jevin tak apa-apa, namun ia belum sepenuhnya lega sebelum ia melihat Jevin membuka matanya dan tersenyum padanya. Arka melihat sebentar orang tuanya yang berdiri tak jauh darinya.
“Kak bangun..” Ucap Arka pelan. Tapi yang dipanggil, tak juga menyahut. Jevin seperti masih ingin lebih lama memejamkan mata.
“Kak Jevin bohong. Ternyata Kak Jevin nggak sekuat yang Arka kira. Mana Kak Jevin yang berdiri gagah di depan Arka? Mana Kak Jevin kakak Arka?” Ucap Arka frustasi. Arka menelungkupkan kepalanya di atas tangan Jevin yang dari tadi digenggamnya.
“Gue nggak bohong dan nggak akan pernah bohong sama lo.” Suara lirih yang dipaksakan tertangkap telinga Arka. Arka segera menegakkan kepalanya lagi. Dan senyum khas Jevin sudah menyambutnya.
“Kak Jevin?” Arka memastikan bahwa yang sedang menatapnya sekarang bukan hanya ilusinya.
“Iya, ini gue Jevin kakak lo.” Jawab Jevin pelan sambil tersenyum. Jevin mencoba untuk duduk.
Spontan Arka langsung memeluk tubuh kakaknya. Mungkin baru beberapa jam yang lalu ia terakhir melihat Jevin. Tapi rasanya Arka sudah lama tak melihat kakaknya. Arka terlalu bahagia melihat superheronya bangun dari tidurnya.
“Ka, gue nggak bisa nafas.” Rintihan Jevin membuat Arka melepaskan pelukannya.
“Maaf, Kak.” Ucap Arka menhapus airmatanya.
“Lo nangis? Adek gue nangis? Jelek lo.” Cibir Jevin.
“Habisnya Kak Jevin tidurnya lama kan Arka takut.” Alasan Arka membuat Jevin mengacak pelan rambut adiknya.
“Gue capek. Gue pengen istirahat sebentar. Tapi ternyata itu ngebuat adek gue khawatir. Maafin gue ya?” Ucap Jevin penuh kasih sayang.
“Mulai sekarang nggak usah terlalu dipaksain. Kalau capek ya istirahat sebentar. Nggak boleh berjuang sendiri lagi. Kita berjuang bersama ya, Kak.” Jevin mengangguk setuju mendengar perkataan Arka.
Tiba-tiba tatapan Jevin bertemu dengan tatapan kedua orang tuanya. Tatapan yang pertama kali ia lihat selama hidupnya. Tatapan teduh orang tua yang sangat ia inginkan sejak dulu. Jevin beralih menatap Arka. Dan sang adik hanya tersenyum.
“Ma, Pa?” Ucap Jevin pelan.
“Jevin..” Nyonya Pradika langsung memeluk Jevin. Jevin merasakan kehangatan dalam dekapan sang Mama entah kapan terakhir kalinya ia merasakan dekapan yang sama. Nyonya Pradika melepaskan peluakannya dan berganti mengusap pelan wajah anaknya.
“Jagoan Papa akhirnya bangun.” Suara berat Papanya membuat Jevin menoleh. Dan yang ia temukan bukan lagi tatapan marah Papanya melainkan senyum bangga yang sudah lama tak ia dapatkan.
Bukannya merespon, Jevin hanya menatap satu persatu keluarganya. Arka yang masih tersenyum padanya, Mama yang masih mendekapnya dan Papa yang masih tersenyum bangga. Ia berharap ini semua bukan hanya bayangan. Apakah ia belum sepenuhnya sadar? Apakah ia masih bermimpi? Kalau toh ia bermimpi, ia rela tak bangun selamanya.
“Kak?” Suara Arka menyadarkannya. Dan ia masih melihat pemandangan yang sama. Itu artinya ini semua nyata. Perlahan senyum Jevin terukir diwajahnya.
“Apa?” Tanya Jevin.
“Kakak kenapa?”
“Enggak. Gue nggak kenapa-napa.” Jawab Jevin tak lupa dengan senyum khasnya.
“Vin, kita mulai semuanya dari awal ya?” Ucap Nyonya Pradika lembut. Meski ia mengidap disleksia, tapi Jevin mampu mengerti maksud Mamanya.
“Iya, Ma. Kita mulai semuanya dengan nama keluarga.” Jawab Jevin pelan.
Meski dengan perjalanan yang tak mudah. Meski sempat berjuang sendiri. Meski harus menjadi orang terkuat walau jiwanya rapuh. Meski harus terus memasang senyum ‘baik-baik saja’nya. Itulah seorang Jevin. Dia pernah terluka. Tapi sekarang, meski harus dengan luka, ia bahagia. Ia benar-benar bahagia. Bukan bahagia seperti saat ia mampu menyelesaikan buku bacaannya. Tapi sekarang ia bahagia karena Papa, Mama dan Arka-nya sudah berada disampingnya. Yang tak akan membiarkan dirinya berjalan sendiri lagi nantinya.


##FEBRIAZ10##

Terimakasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typo.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar