Cast: Kim Taehyung as Jevin, Joen Jungkook as Arka
Other Cast: Junhoe (iKON) as Juno, Yugyoem (GOT7) as Yogi
~Happy Reading~
IT’S OKAY
“Eh, lo yang namanya Arka kan?” Segerombolan
anak menghampiri seorang anak yang mereka panggil Arka.
“I..iya, Kak.
Ada apa ya?” Anak yang bernama Arka menjawab dengan takut. Karena yang
dihadapannya sekarang kakak-kakak kelasnya tingkat 3 yang terkenal di SMA ini.
Seingatnya ia tak pernah buat masalah dengan mereka.
“Eh, gue
bilangin ya, lo itu jangan sok kecakepan. Baru kelas 1 aja udah tebar pesona.”
Ucap salah satu dari geng itu. Yang kelihatannya pimpinan dari geng itu. Juno,
itu yang tertera di badge namanya.
“Maaf, Kak.
Maksud kakak apa? Seinget saya, saya nggak pernah tebar pesona atau apa.” Jawab
Arka seberani mungkin. Seperti inilah yang paling ia benci dari namanya
sekolah. Setiap ia menjadi kelas 1, ia selalu mendapatkan ucapan selamat datang
seperti ini.
“Bos, berani
juga nih anak.” Celetuk anggota geng itu.
“Apa perlu kita
kasih pelajaran Bos? Biar dia tahu siapa kita.” Usul anggota yang lain. Arka
hanya diam. Dalam hatinya ia terus memanggil nama seseorang. Orang yang akan
selalu membantunya disaat-saat seperti ini.
“Woi! Jangan
ganggu dia!” Teriak seseorang yang membuat mereka menoleh.
“Kak Jevin.”
Ucap Arka pelan.
“Mending lo
nggak usah ikut campur deh, Vin.” Saran Juno sambil tertawa.
“Sorry, Kak.
Biasanya gue juga males ikut campur urusan lo sama geng lo itu, tapi kali ini
gue harus ikut campur. Karena gue nggak ngebiarin lo nyentuh bahkan ganggu adek
gue.” Ucap Jevin. Ia sudah berdiri di depan Arka.
“Gue nggak salah
denger? Dia adek lo? Trus gue peduli gitu? Nggak! Gini Vin, mending lo minggir
aja. Gue urusannya sama dia bukan lo.” Ucap Juno tajam.
“Urusan lo sama
Arka, itu juga berarti lo urusan sama gue. Gue hargai lo sebagai kakak kelas
gue, tapi gue nggak takut sama lo meskipun lo geng disini.” Jevin tak kalah
tajam.
“Udah, Kak.
Nggak usah diladenin.” Bisik Arka mencoba menenangkan Jevin.
“Udah lo tenang
aja. Biar mereka nggak ganggu lo lagi.” Ucap Jevin. Tapi tanpa sepengetahuan
Jevin, sebuah tinju sudah menghampiri tengkuknya. Dan itu membuat Jevin jatuh
tersungkur. Namun, itu tak membuatnya lemah, Jevin langsung berdiri.
Kesabarannya udah benar-benar habis.
“Lo ternyata
suka main belakang ya Kak? Nggak gentle banget lo.” Jevin masih sempat mengejek
lawannya.
Tanpa banyak
babibu lagi, baku hantam terjadi. Dengan kubu yang tak seimbang. Jevin sendiri
berhadapan dengan 4 orang. Tapi itu tak membuat Jevin terjatuh begitu saja.
Baginya Arka harga mati untuknya. Siapa yang berani mengganggu Arka, harus
berhadapan dengan seorang Jevin.
Ketika sang
kakak sedang bergulat, Arka hanya bisa melihatnya dengan takut. Ia selalu takut
ketika melihat kakaknya berkelahi. Meskipun itu untuk membelanya ia tetap saja
takut apalagi perkelahian itu tepat di depan matanya. Ya, seperti siang ini.
Arka sudah tak
mampu untuk melihat Jevin yang semakin melemah. Ia ingin minta bantuan. Tapi
pada siapa? Keadaan sekolah sudah sepi. Ditambah sekarang mereka berada di
koridor sekolah bagian belakang. Arka terus mencari cara. Akhirnya, perlahan
dia berjalan ke ujung koridor yang menghubungkan dengan koridor lain.
“Pak..Pak
Beni..Pak..Ada yang berkelahi, Pak..” Teriak Arka sekencang mungkin meskipun
dia masih ketakutan.
Mendengar
teriakan Arka, Juno dan gengnya langsung melarikan diri dari koridor itu. Dan
disana tinggal Jevin yang bersandar pada dinding. Arka langsung menghampiri
kakaknya. Raut wajahnya sangat menggambarkan kekhawatiran. Sedangkan Jevin, ia
masih bisa tersenyum melihat adiknya mengkhawatirkannya.
“Lo bohong ya?”
Ucap Jevin. Arka hanya mengangguk. Jevin sangat hafal sifat adiknya.
“Pulang yuk!”
Ajak Jevin sambil beranjak berdiri.
“Tapi, itu kak?”
Arka menunjuk luka di wajah Jevin.
“Nggak pa-pa.
Gampang nanti.” Ucap Jevin sambil tersenyum. Arka selalu luluh dengan senyum
Jevin yang seolah-olah mengisyaratkan ‘nggak pa-pa’. Merekapun melangkah
meninggalkan koridor itu. Mereka sudah tahu apa yang akan terjadi di rumah
nanti.
***
“Ma, kita
pulang.” Ucap Arka saat dia dan Jevin sudah masuk ke rumahnya. Tapi sang Mama,
Nyonya Pradika tak juga kelihatan keberadaannya.
“Kak, duduk di
sofa dulu. Arka ambil kotak P3K.” Ucap Arka sambil mendudukkan Jevin di sofa.
“Nggak usahlah,
Ka. Gue langsung ke kamar aja.”
“Kali ini nurut
sama Arka, Kak. Sebelum Mama pulang.” Arka tetep kekeh.
Tanpa menunggu
persetujuan lagi dari kakaknya, Arka langsung melesat mencari kotak P3K.
Setelah mendapatkan apa yang dibutuhkan, Arka kembali duduk di depan Jevin.
Dengan cekatan ia langsung mengobati Jevin. Ini bukan pertama kalinya
pemandangan seperti ini. Dari dulu, setiap Jevin habis berkelahi atau Jevin
terluka, Arka yang selalu mengobatinya. Jevin meringis perih.
“Tahan bentar
lagi, Kak.” Ucap Arka yang masih sibuk menempelkan plester di bekas luka Jevin.
“Makasih ya,
Ka.” Ucap Jevin setelah lukanya selesai diobati Arka. Arka hanya mengangguk
pelan.
“Lo emang adek
gue yang paling pinter.” Ucap Jevin sambil tersenyum tak lupa juga tangannya
yang mengacak rambut Arka pelan. Melihat senyum Jevin,Arka juga ikut tersenyum.
Kalau Arka harga
mati untuk Jevin, begitu juga Jevin segalanya untuk Arka. Bagi Arka tak ada
orang yang seperti kakaknya, Jevin. Kakak yang sangat menyayanginya, kakak yang
juga super hero baginya, kakak yang selalu membuatnya percaya dengan
senyum’baik-baik saja’-nya, kakak yang selalu rela melakukan apapun untuk
seorang Arka. Begitu juga Jevin, meskipun kini Arka sudah tumbuh menjadi anak
SMA seperti dirinya, namun baginya Arka tetap adik kecilnya dulu yang butuh
perlindungannya.
Namun, meskipun
Arka dan Jevin saudara sedarah daging, ada juga yang membuat mereka tak sama. Jevin
adalah tipe orang yang langsung bertindak sesuai kata hatinya tanpa berpikir
dulu. Tapi ia juga makhluk yang lebih memilih menyembunyikan sesuatu di balik
senyumnya daripada membuat khawatir orang lain. Game adalah dunianya.
Berbeda dengan
Jevin, Arka selalu bertindak dengan pemikiran yang rasional. Ia bintang
akademis di sekolahnya. Si pendiam yang membuat semua orang tua ingin punya
anak seperti Arka. Sebenarnya Arka terpaut dua tahun dengan Jevin, tapi karena
kemampuan Arka, ia bisa sekolah satu tahun lebih cepat. Jika Jevin memilih game
sebagai dunia keduanya, sang adik selalu dikelilingi buku-buku tebal.
***
Beginilah
suasana makan malam di rumah Keluarga Pradika, hening yang terdengar hanya
dentingan sendok dan piring. Kadang helaan nafaspun terdengar. Sibuknya Tuan
dan Nyonya Pradika dalam mengurusi bisnisnya, membuat hubungan mereka dengan
kedua anaknya, Jevin dan Arka seperti ada jarak. Terlebih lagi dengan Jevin.
Kalau dengan Arka mereka masih perhatian, karena nama Pradika masih dipandang
terhormat dengan semua prestasi Arka.
“Bagaimana
sekolah kamu, Ka?” Tuan Pradika akhirnya membuka suara.
“Baik, Pa. Ini
baru persiapan buat Olimpiade Sains bulan depan.” Jawab Arka.
“Harus menang,
Ka. Jangan sampai bikin malu nama Pradika. Jangan seperti Kakakmu itu.” Ucap
Nyonya Pradika. Arka menoleh Jevin yang duduk di sebelahnya. Jevin menatap
piringnya kosong.
“Vin..Jevin?”
Suara Tuan Pradika membuat Jevin mengangkat kepalanya.
“Iya, Pa.”
Jawabnya pelan.
“Kenapa lagi tuh
muka kamu? Berantem lagi? Kamu itu sebenarnya niat sekolah apa nggak?”
Pertanyaan beruntun Tuan Pradika. Jevin hanya diam. Karena menurutnya
pertanyaan itu tak perlu ia jawab. Toh, Papanya pasti sudah tahu jawabannya.
“Udahlah Pa,
ngapain masih ngurusin Jevin. Biarin saja dia mau sekolah apa nggak. Yang
penting kewajiban kita sebagai orang tua sudah kita laksanakan.” Nyonya Pradika
berkata santai seolah-olah kewajibannya sebagai orang tua hanya masalah uang.
“Tapi Ma,
percuma kita bekerja siang malam, kalau Jevin kerjaannya cuma berantem, game,
berantem, game, mau ditaruh dimana nama Pradika?” Seperti inilah sikap Tuan
Pradika jika ada kelakuan anaknya yang menyangkut nama Pradika.
“Ma, Pa, tadi
itu Kak Jevin cuma nolong Arka. Kak Jevin tadi dikroyok, Pa.” Arka akhirnya
angkat bicara. Ia sudah tak tega melihat kakaknya terus dipojokkan oleh Mama
Papanya.
“Arka, diam!
Kamu nggak usah belain Kakak kamu. Kalau dia tadi nolongin kamu, seharusnya dia
bisa cari cara selain berantem. Tapi yang ada dipikirannya cuma berantem dan
berantem. Mau jadi apa kamu nanti, Vin?”
“Tapi, Pa..”
Belum sempat Arka menyelesaikan kalimatnya, Jevin sudah menahannya. Ia
menggeleng pelan. Meminta Arka untuk tak membelanya lagi.
“Ma, Pa, kalau
kelakuan Jevin masih saja salah, Jevin minta maaf.” Ucap Jevin kemudian
meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
“Arka ke kamar
dulu, Ma, Pa.” Arka juga mengakhiri makan malamnya dan menyusul Jevin.
“Kak?” Panggil
Arka sambil melongokan kepalanya ke kamar Jevin. Dan ia temukan Jevin berada di
meja belajarnya dengan buku di depannya.
“Kak Jevin?”
Panggil Arka lagi, sekarang lebih keras. Jevin akhirnya menoleh.
“Eh..lo, Ka.
Masuk aja.” Ucap Jevin. Arka melangkahkan kakinya memasuki kamar yang sangat
bertolak belakang dengan kamarnya.
“Sibuk, Kak?”
Tanya Arka sambil duduk di tempat tidur Jevin.
“Nggak kok. Cuma
buka-buka aja. Lo nggak belajar, Ka?” Jevin memutar kursi belajarnya sehingga
menghadap Arka.
“Bentar lagi,
Kak. Kak, maafin Arka ya?” Ucap Arka tertunduk.
“Untuk?”
“Karena Arka,
Kak Jevin selalu dimarahi Mama Papa. Meskipun itu awalnya kesalahan Arka, tapi
terus saja Kak Jevin yang nerima kemarahan Mama Papa.” Jelas Arka pelan.
“Lo itu ngomong
apa sih, Ka? Lo itu adek gue. Udah jadi kewajiban gue buat njaga lo. Paham?”
“Tapi, Kak..”
“Ka, gue nggak
mau denger lo minta maaf lagi. Apalagi lo ngerasa bersalah. Gue nggak pa-pa. Lo
harus percaya itu. Sekarang, lo belajar. Focus buat Olimpiade Sains bulan
depan.” Jevin terus meyakinkan Arka. Ia tak mau Arka merasa bersalah padanya.
Pelan, Arka pun mengangguk.
“Ya udah Kak,
Arka ke kamar dulu.” Ucap Arka beranjak berdiri. Jevin hanya tersenyum sambil
mengangguk. Sampai di ambang pintu, Arka berbalik. Mendapati kakaknya yang
masih tersenyum padanya.
“Kak,
pelan-pelan aja. Jangan terlalu dipaksain.” Ucap Arka terakhir kali. Kemudian
ia menghilang di balik pintu kamar Jevin. Sedangkan Jevin, membeku dengan
ucapan Arka. Apa mungkin Arka sudah tahu?
***
Lagi, lagi dan
lagi. Arka selalu terbangun tengah malam setelah mendengar suara-suara dari
kamar sebelahnya. Kamar Jevin. Awalnya Arka penasaran apa yang terjadi dengan
kakaknya. Ia ingin melihat sang kakak, tapi ia juga takut. Sampai suatu saat,
ia mengetahui suatu kebenaran yang menyakitkan. Yang membuat hati Arka teriris
setiap mendengar rintihan Jevin.
Begitu juga
malam ini. Arka kembali mendengar rintihan pelan Jevin. Arka memejamkan
matanya. Ikut merasakan apa yang Jevin rasakan. Dan ia benar-benar tak kuat.
Arka tak habis pikir, bagaimana kakaknya kuat menghadapi semua ini sendirian
dan menyembunyikan dengan rapat dari dirinya? Ia benar-benar tak mengerti
dengan jalan pikiran seorang Jevin. Orang yang terlihat kuat dari luar,
ternyata sangat lemah.
Perlahan Arka
menuruni tempat tidurnya, bermaksud melangkah menuju kamar Jevin. Rumah tampak
sepi, karena ini sudah benar-benar larut malam. Setelah sampai di depan kamar
Jevin, Arka membuka pintu kamar Jevin pelan. Sebisa mungkin tak mengeluarkan
suara. Arka kemudian mengintip ke dalam. Mencari keberadaan kakaknya. Dan
betapa terkejutnya Arka, ketika matanya menemukan sosok pelindungnya sedang
terduduk lemas di dekat meja belajarnya dengan buku-buku berserakan di depan
sosok itu. Arka tak mampu melihatnya lagi. Ia kembali menutup pintu kamar Jevin
dan menuju kamarnya. Airmata sudah mengalir dari mata bening Arka.
Diskelsia. Ya,
itu yang Jevin derita. Penyakit gangguan saraf yang menyerang anak yang lahir
premature atau otaknya kekurangan oksigen saat lahir. Dan itu membuat
penderitanya tidak bisa menulis, membaca ataupun mengeja dengan benar. Seorang
Jevin menghadapi semua itu sendiri. Tak ada yang tahu atau lebih tepat ia tak
berniat memberi tahu orang lain. Tapi, tanpa Jevin sadar, seseorang mengetahui
itu.
Dan malam ini,
seperti malam-malam sebelumnya sejak Jevin divonis mengidap disleksia, ia terus
mencoba melatih kemampuannya untuk membaca atau apapun. Meskipun belum bisa
dikatakan berhasil, ia sudah sangat bersyukur bisa bertahan di kehidupan yang
disebut sekolah sampai saat ini. Jevin kadang iri melihat Arka belajar atau
menerima materi dengan lancar sehingga kemampuannya diatas rata-rata. Ia ingin
seperti Arka, tapi ia sadar ia tak bisa dan tak akan pernah bisa. Jevin menatap
buku di depannya nanar. Jevin, lo harus bisa!
***
Pagi ini, Arka dan
Jevin serasa seperti seorang selebritis. Bagaimana tidak, sejak mereka masuk
gerbang dan berjalan di sepanjang koridor, semua mata tertuju padanya. Seluruh
peenghuni SMA itu masih belum percaya jika dua makhluk yang sedang jadi objek
perhatian adalah saudara. Tapi, nama besar ‘Pradika’ yang berada dibelakang
nama Arka dan Jevin yang membuat semua orang harus percaya.
Merasa jadi
objek perhatian, Arka semakin mendekat pada kakaknya yang berjalan santai. Berbeda
dengan reaksi Arka yang sedikit takut bahkan risih dengan tatapan-tatapan itu,
Jevin justru terlihat santai. Dalam benak Jevin, ia ingin memperlihatkan pada
semua orang bahwa si troble seperti dirinya mempunyai adik si genius Arka.
“Kak, mereka kok
ngeliatin kita terus ya? Emang ada yang aneh dari penampilan kita?” Bisik Arka.
Jevin yang mendengarnya tertawa pelan.
“Santai aja, Ka.
Nggak ada yang aneh kok dari penampilan kita. Mereka cuma heran aja ngelihat si
trouble jalan bareng si genius. Mereka belum bisa menerima kenyataan bahwa kita
saudara.” Jelas Jevin sambil merangkul Arka.
“Kenapa sih Kak,
dari SD sampai sekarang selalu saja ada orang-orang seperti mereka? Nggak capek
apa ngelihatin orang sampai segitunya?” Gerutu Arka.
“Udahlah Ka,
cuekin aja. Nanti kalau udah capek juga bakal berhenti sendiri.” Ucap Jevin.
Arka mengangguk setuju.
“Ya udah, lo ke
kelas gih. Beranikan ke kelas sendiri? Apa perlu gue anter?” Tawar Jevin
menggoda sang adik.
“Nggak usah,
Kak. Arka bisa ke kelas sendiri. Arka bukan anak kecil lagi, Kak.” Jawab Arka
tak setuju dengan tawaran sang kakak.
“Ya udah..ya
udah, cepet sana ke kelas. Keburu bel. Belajar yang bener, Ka.” Ucap Jevin
sambil mendorong Arka ke koridor menuju kelas Arka.
“Iya..iya.”
Jawab Arka melangkah menuju ke kelasnya. Jevinpun juga mengikuti berbelok ke koridor
yang menuju kelasnya.
***
“Ka, Arka?!”
Panggil seseorang menyadarkan Arka dari kesibukannya menggambar sesuatu
dibukunya. Arka menoleh ke sumber suara. Ia menemukan teman semejanya, Yogi
berdiri di sampingnya.
“Ada apa, Gi?”
Tanya Arka sambil mengistirahatkan sebentar hobinya.
“Tadi gue lihat
orang tua lo.” Berita dari Yogi berhasil membuat Arka melepaskan pensil
gambarnya. Sesuatu yang menyangkut orang tuanya selalu berarti tak baik. Nama
sang kakakpun langsung terbesit dipikirannya.
“Dimana?” Tanya Arka
penasaran.
“Kayaknya sih
tadi menuju Ruang Konseling. Sepertinya menyangkut masalah kakak lo deh.” Jelas
Yogi. Tanpa banyak pikir lagi, Arka langsung berdiri dari duduknya. Ia akan
memastikan sendiri, untuk apa orang tuanya ke sekolah.
“Bentar lagi masuk,
Ka.” Teriak Yogi. Tapi Arka tak lagi menggubrisnya. Yang terpenting sekarang ia
harus mencari Jevin terlebih dahulu.
Arka berlari dan
terus berlari. Sekarang ia menuju kelas Jevin. Ia tak peduli lagi dengan
tatapan kakak-kakak kelasnya karena ia berlarian di wilayah kelas 2. Sesampainya
di kelas sang kakak, Arka langsung masuk begitu saja. Ia langsung menyapukan
pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Tapi tak dilihatnya makhluk yang bernama
Jevin. Ia langsung pergi lagi. Tujuannya sekarang tinggal satu, Ruang
Konseling. Ya, pasti Jevin sudah di sana.
“Apa yang sudah
anak ini lakukan lagi, Pak?” Suara sang Papa membuat Arka menghentikan
langkahnya di luar Ruang Konseling. Dapat dilihatnya denga jelas, kedua orang
tuanya sedang duduk berhadapan dengan Pak Beni, guru konseling. Dan kakaknya
duduk tak jauh dengan wajah tertunduk.
“Sabar dulu, Pak
Pradika. Pihak sekolah mengundang Bapak dan Ibu ke sini, bukan untuk memarahi
Jevin, tapi Kami ingin membicarakan tindakan lebih lanjut mengenai Jevin.”
Jelas Pak Beni dengan tenang.
“Terserah Bapak
akan melakukan tindakan apa untuk anak ini. Saya juga sudah lelah dengan dia.
Kalau Bapak mau mengeluarkan dia sekalipun, Saya sudah tidak peduli.” Kata-kata
Tuan Pradika keluar begitu tajam. Ia tak lagi memikirkan bagaimana perasaan
Jevin saat itu. Arka yang diluar ruanganpun, miris mendengar perkataan Papanya.
“Sekolah tidak
bisa mengeluarkan Jevin begitu saja. Sebenarnya Jevin itu hanya perlu sedikit
bantuan dari orang-orang disekitarnya, terlebih khusunya dari keluarganya. Dan
Kami dari pihak sekolah meminta kerjasamanya dengan Bapak dan Ibu untuk ikut
membimbing Jevin.” Pak Beni masih berbicara dengan tenang.
“Dia itu memang
sudah pemalas, Pak. Percuma membimbing anak seperti dia. Kami sebagai orang tua
sudah tak tahu harus bagaimana lagi untuk membuatnya seperti adiknya, Arka.”
Sekarang Nyonya Pradika yang angkat bicara.
“Bu, dia Jevin.
Jangan paksakan dia untuk menjadi seperti Arka. Biarkan dia menjadi Jevin.” Pak
Beni tak mengerti bagaimana jalan pemikiran orang tua siswanya yang sekarang
berada di hadapannya.
“Terserah apa
kata Bapak saja. Yang jelas sekarang Kami sudah ditunggu untuk meeting. Kami
permisi.” Tuan dan Nyonya Pradika langsung beranjak dari duduknya. Pak Beni pun
tak bisa menahannya.
“Terimakasih
untuk waktunya.” Ucap Pak Beni sambil bersalaman dengan Tuan dan Nyonya Pradika
yang hanya dibalas anggukan kecil dan senyum paksaan.
Pak Beni
mengantarkan kedua tamunya keluar dari ruangannya. Jevin juga mengikuti kedua
orang tuanya masih dalam diam. Arka masih diam di tempatnya, ketika orang
tuanya sudah keluar dari Ruangan Konseling bersama kakaknya yang masih
tertunduk.
“Bukannya udah
jam pelajaran, Ka? Ngapain di sini?” Tanya Tuan Pradika menatap tajam Arka.
Arka masih diam, tak tahu mau menjawab apa.
“Jangan bilang
kamu khawatir sama kakakmu? Dia, nggak perlu untuk kamu khawatirin. Yang perlu
kamu khawatirin nilai-nilai kamu. Jangan sampai ada yang turun. Paham? Sekarang
kamu kembali ke kelas!” Perintah tegas Tuan Pradika.
Arka melihat
Jevin sebentar. Jevin mengangguk pelan dan tersenyum. Mengisyaratkan pada Arka
bahwa dia tidak apa-apa. Arka pun melangkah pergi ke kelasnya. Jevin juga ke
kelasnya setelah orang tuanya meninggalkan sekolah.
***
“Ini! Lihat
ini!” Ucap Tuan Pradika sambil melemparkan sebuah amplop ke hadapan Jevin.
Jevin memungutnya tanpa ada niat untuk membukanya. Karena ia sudah tahu apa isi
dari amplop itu.
Keluarga Pradika
sedang berkumpul di ruang keluarga. Suasana benar-benar mencekam. Tatapan tajam
dari Tuan Pradika mengisyaratkan bahwa
ia benar-benar marah. Sikap diam Nyonya Pradika membuat suasana semakin
mematikan. Jevin tetap tertunduk. Sedangkan Arka hanya diam. Ia terus melirik
kakaknya. Merasa Arka terus melihatnya, Jevin menoleh dan lagi-lagi
mengeluarkan senyum ‘baik-baik saja’nya.
“Untung sekolah
hanya menskors kamu. Kalau kamu benar-benar di keluarkan, mau ditaruh dimana
nama Pradika? Apa kamu mau tanggungjawab?” Lanjut Tuan Pradika. Hanya nama
besar Pradika yang ia pikirkan. Perasaan anaknya tak pernah ia perhitungkan.
“Udahlah, Pa.
Percuma marah-marah.” Nyonya Pradika angkat suara.
“Selama masa
skors, kamu dilarang keluar rumah! Nggak ada alasan apapun. Paham?” Itu hukuman
dari Tuan Pradika.
“Iya, Pa.” Jawab
Jevin pelan. Kemudian Tuan dan Nyonya Pradika meninggalkan ruang keluarga.
Begitu juga Arka dan Jevin mengikuti pergi ke kamar masing-masing.
Namun saat
berada di depan kamar Jevin, Arka mengurungkan niatnya untuk segera ke kamarnya
sendiri. Ia membelokkan kakinya ke kamar kakaknya. Saat ia membuka pintu kamar
Jevin, ia menangkap sosok Jevin sedang duduk tertunduk di ujung tempat tidur.
Dari raut wajahnya, terlihat jelas dia sedang menahan banyak beban
dipikirannya.
Merasa sedang
diperhatikan seseorang, Jevin menoleh ke pintu kemarnya dan ia menemukan sang
adik berdiri disana. Dia langsung mengubah raut wajahnya. Ia pun lagi-lagi
memasang senyumnya. Jevin ingin Arka tak kahwatir padanya.
“Ngapian berdiri
di situ, Ka? Nggak mau masuk?” Ucap Jevin. Arka melangkah masuk ke kamar yang
lebih membuatnya nyaman daripada kamarnya sendiri. Ia langsung duduk di samping
kakaknya. Kemudian hening menyelimuti mereka berdua.
“Kak Jevin
bahagia?” Ucap Arka tiba-tiba. Jevin mrenoleh orang yang paling disayanginya.
“Ya,
bahagialah.” Jawab Jevin tersenyum.
“Meskipun dengan
semua perlakuan yang nggak adil? Kak Jevin tetep bahagia?” Jevin mengangguk
mantap.
“Ka, gue tetep
bahagia meskipun hidup gue seperti ini. Gue nggak masalah diperlakukan nggak
adil, nggak diperhatiin Mama Papa, selalu dimarahin Mama Papa, asal lo tetep di
samping gue. Lo tetep jadi adek gue yang bisa ngewakilin gue buat bikin Mama
Papa bangga. Gue udah bahagia dengan itu, Ka.” Jawab Jevin tenang. Arka semakin
kagum dengan seorang Jevin.
“Kak, Arka tahu
dan percaya Kak Jevin itu orang yang kuat. Tapi, jangan sok kuat, Kak. Kalau
butuh bantuan bilang aja sama Arka. Nggak usah disembunyiin lagi dari Arka.
Arka sudah tahu, Kak.” Giliran Jevin yang terkejut dengan ucapan Arka.
“Lo tahu tentang
apa?”
“Tentang sesuatu
yang Kakak sembunyiin dari Arka. Seuatu yang Kakak coba ngadepin semua itu
sendiri.” Jelas Arka. Arka mencoba menahan tangisnya. Jika ia ingin membantu
kakaknya, ia juga harus kuat seperti sang kakak. Itu yang diyakini Arka.
“Sejak kapan,
Ka?” Tanya Jevin pelan.
“Udah lupa Kak,
sejak kapan. Kenapa disembunyiin, Kak?”
“Gue takut kalau
lo atau Mama Papa tahu bakal khawatir atau bahkan bisa merusak nama Pradika.”
“Tapi Kak Jevin
harus berjuang sendirian, apa itu nggak berat?”
“Nggak kok.
Karena ada lo sebagai semangat gue. Buktinya gue bertahan sampai sekarang.”
Jawab Jevin sambil mengacak rambut Arka. Ia ingin meyakinkan Arka bahwa ia
masih Jevin yang kuat. Kakak yang bisa untuk tempat berlindungnya.
“Sekarang,
mending lo balik ke kamar. Istirahat.” Kata Jevin perhatian.
Sebenarnya Arka
masih ingin bersama Jevin, tapi ia tahu kalau Jevin membutuhkan waktu untuk
sendiri. Arka pun mengangguk dan melangkah menuju pintu kamar Jevin. Ia kembali
menoleh dan tersenyum pada Jevin sebelum ia benar-benar meninggalkan kamar
Jevin.
Jevin masih
menatap pintu kamarnya meskipun Arka sudah tak berdiri di sana. Ia masih tak
menyangka adiknya tahu tentang rahasianya. Dan adiknya tak mempermasalahkan
itu. Bahkan ia mengulurkan tangan untuknya. Jevin benar-benar beruntung
mempunyai seorang Arka di dalam hidupnya. Dalam hatinya, Jevin berjanji tak ada
lagi kesedihan bahkan keputusasaan demi Arka. Ia akan tetap menjadi pelindung
Arka. Ia tak ingin Arka mengkhawatirkan dirinya lagi.
***
Sore ini, Arka
terpaksa melintasi koridor sendiri. Jevin yang masih dalam masa hukuman dan jam
tambahan untuk persiapan Olimpiade membuatnya pulang sendiri. Namun langkahnya
tiba-tiba terhenti ketika seseorang atau tepatnya beberapa orang telah
menghadangnya.
“Pulang sendiri,
Ka? Kakak lo mana?” Suara itu sangat Arka kenal.
“Kak Juno?” Arka
memastikan setelah ia menoleh ke orang yang menghadangnya. Memang dia baru
berhadapan dengan Juno sekali ketika ia awal-awal kelas 1. Dan setelah Jevin
memperkenalkan dirinya sebagai kakaknya Arka, kakak-kakak kelasnya itu tak lagi
mengganggunya. Tapi sekarang mereka muncul lagi.
“Iya ini gue.
Lama nggak ketemu. Gimana kabar lo?” Tanya Juno berbasa-basi. Arka diam. Ia
tahu ini hanya permainan Juno.
“Lo masih
ingatkan urusan kita belum selesai?” Ucap Juno diiringi tawa iblisnya.
“Sebenarnya
masalah kakak dengan saya apa? Bukan hanya dengan alasan konyol seperti yang
dulu pernah kakak katakan kan?” Arka berusaha seberani mungkin.
“Pinter juga lo.
O iya, lo kan si genius Arka. Asal lo tahu aja, ini semua gara-gara kakak lo.
Si sampah Jevin. Gue heran, kok bisa ya adeknya genius tapi kakaknya sampah?”
Ucap Juno menekankan kata ‘sampah’ di telinga Arka. Arka tak terima dengan
ucapan Juno untuk kakaknya. Tapi ia tak bisa apa-apa. Ia hanya diam menatap
Juno tajam.
“Nggak terima
kakak lo gue panggil sampah? Mau marah? Pengen mukul gue? Sini..sini pukul
gue.” Ucap Juno sembil menunjukkan wajahnya. Karena Juno yakin, makhluk di
depannya tak akan berani mengangkat kepalannya. Kesabaran Arka sudah
benar-benar habis. Dengan semua keberaniannya, ia langsung melayangkan
pukulannya ke rahang Juno. Mungkin ini pukulan pertama Arka.
“Berani juga
lo.” Ucap salah satu anak buah Juno mencengkeram kerah seragam Arka. Tapi Juno
memberi isyarat untuk melepaskannya.
“Wow..ini diluar
perkiraan gue. Tangan yang gue kira hanya bisa lo buat pegang pensil, ternyata
juga bisa buat mukul orang?” Tanya Juno sinis.
“Dan lo sadar,
lo udah ngibarin bendera perang dengan pukulan lo tadi. Bisa saja saat ini juga
gue bisa buat lukisan di wajah cakep lo ini. Atau gue patahin aja tangan apa
kaki lo, biar si genius Arka ada cacatnya juga. Ditambah lagi, hari ini lo
sendiri. Nggak ada Jevin sang pahlawan lo.” Kata-kata tajam keluar dari mulut
Juno. Dalam hati, Arka terus memanggil nama Jevin. Meski ia tahu apa yang
dikatakan Juno benar, Jevin tak akan datang.
***
Di kamar Jevin,
ia tiduran tak tenang. Ia terus kepikiran Arka. Jevin sudah mencoba menghubungi
Arka, tapi tak ada jawaban sama sekali. Ini sudah waktunya pulang, tapi belum
ada tanda-tanda Arka di rumah. Ia merasa sesuatu sedang terjadi dengan Arka.
Jevin tak bisa seperti ini. Ia harus mencari Arka. Memastikan bahwa Arka tetap
baik-baik saja.
Tak peduli lagi
dengan hukuman dari Papanya, Jevin langsung berlari keluar kamarnya. Diluar,
kebetulan ia bertemu dengan Pak Tino, sopir kantor Papanya.
“Pak anterin
saya!” Perintah Jevin.
“Tapi, Bapak
harus cepet balik lagi ke kantor. Ini dokumennya udah ditunggu.” Jelas Pak
Tino.
“Pokoknya
sekarang antar saya ke sekolah dulu.” Ucap Jevin sambil masuk ke mobil. Mau tak
mau Pak Tino menuruti perintah anak bosnya.
“Makasih, Pak.” Ucap
Jevin ketika mobilnya sudah berhenti di depan sekolahnya.
“Bapak langsung
ke kantor.” Ucap Pak Tino hanya dijawab anggukan Jevin.
Jevin langsung
berlari masuk ke halaman sekolahnya. Ia harus menemukan Arka. Sekolah sudah
sepi, jadi tak ada yang bisa ia tanyai dimana keberadaan adiknya. Ia langsung
menuju kelas Arka. Nihil. Arka tak berada di sana. Ia kembali berlari. Sampai
akhirnya langkahnya terhenti. Pemandangan di depannya membuat darahnya naik.
Pemandangan Arka yang sedang berhadapan dengan gengnya Juno. Tanpa berpikir
panjang lagi, Jevin langsung menghampirinya.
BUKK!
Jevin menghantam
anak buah Juno yang berdiri paling belakang sampai terjatuh. Dan itu berhasil
membuat geng Juno maupun Arka menoleh. Dan Jevin memasang wajah iblisnya.
“Hallo Kak, udah
selesai main-mainnya sama adek gue?” Ucap Jevin sinis.
“Sang pahlawan
akhirnya datang. Peka juga lo.” Ucap Juno tak kalah sinis. Juno sekarang
berhadpan dengan Jevin. Karena sebenarnya sasarannya Jevin, dan Arka hanya
sebagai umpan. Dan sekarang sang objek sudah didepannya.
“Kak, eh terlalu
bagus gue panggil lo kakak. Juno, gue udah pernah bilang, jangan pernah nyentuh
adek gue.”
“Apa?! Gue
nyentuh adek lo? Nggak salah? Lihat ini! Sebelum lo datang, dia udah ngibarin
bendera perang dengan ini.” Juno menunjukkan bekas pukulan Arka. Jevin menoleh
Arka sekilas, Arka hanya menunduk. Arka tahu, kakaknya tak akan suka dengan
tindakannya tadi.
“Masalah lo sama
gue kan? Kenapa lo libatin Arka?”
“Karena gue
tahu, dia kunci lo.”
“Kalau lo mikir
lo bisa ngalahin gue dengan Arka? Lo salah. Sekarang kita selesain disini.”
Ucap Jevin. Juno menjawabnya dengan senyum meremehkan.
Setelah mendapat
intruksi dari sang ketua, anak buah Juno menyerang Jevin satu persatu. Arka
masih berdiri ditempatnya. Didepan matanya lagi-lagi sang kakak mengotori
tangannya. Meski ia tahu kakaknya seorang jagoan, tapi ia juga tahu tenaga
seorang diri tak sebanding dengan 4 orang. Arka tak ingin hanya melihat, kali
ini ia ingin membantu Jevin.
Dengan
mengumpulkan seluruh keberaniannya, Arka bergerak mendekati salah satu anak
buah Juno yang terdekat. Dengan gerakan yang dia pelajari diam-diam dari Jevin,
Arka menghantam salah satu anak buah Juno sampai terjatuh. Merasa ditantang,
anak buah Juno itu langsung bangkit. Ia menatap Arka tajam. Tanpa membuang
waktu, Arka sudah dihadiahi pembalasan, tapi Arka masih sempat berkelit. Tapi
kemampuan Arka tak seberapa dibandingkan dengan geng sekolah itu. Anak buah
Juno mengayunkan kakinya dan menendangkannya tepat diperut Arka. Arka terdorong
sampai ia jatuh membentur tempat sampah yang ada dibelakangnya.
Melihat Arka
yang terjatuh, membuat Jevin sedikit tak focus. Akibatnya pertahanannya sedikit
kendor. Tenaganya pun juga sudah mulai melemah untuk menghadapi 4 orang
sekaligus. Akhirnya pergerakan Juno dan gengnya terjadi begitu cepat membuat
Jevin jadi bulan-bulanan. Arka hanya mampu melihatnya miris. Melihat kakaknya
berjuang sendirian. Dan yang dilihat Arka kemudian, Jevin berhenti melawan dan
perlahan-lahan roboh. Benteng terkuat Arka roboh didepan matanya.
“Itu hadiah buat
lo, Vin. Ternyata lo tak sekuat gaya lo.” Ucap Juno terakhir kali sebelum ia
pergi meninggalkan tubuh korbannya.
Arka kembali
mengumpulkan sisa tenaganya. Perlahan, ia menghampiri sang kakak yang sudah tak
berdaya. Ia membalik tubuh Jevin dan merengkuhnya. Jevin masih setengah sadar.
Ia masih bisa tersenyum melihat Arka. Airmata Arka sudah membasahi wajahnya
yang lebam.
“Kak Jevin?”
Ucap Arka pelan.
“Lo..nggak..pa..pa?”
Tanya Jevin terbata-bata.
“Arka nggak
pa-pa, Kak.” Jawab Arka. Setelah mendengar Arka tidak apa-apa, perlahan mata
Jevin terpejam. Jevin tak sadarkan diri.
“Kak..Kak
Jevin..bangun..” Arka berusaha menyadarkan kakaknya. Tapi sia-sia. Jevin tak
mau membuka matanya.
“Siapa disana?”
Sebuah suara terdengar. Arka menoleh ke sumber suara. Ia melihat Pak Agung, satpam
sekolahnya sedang beroperasi.
“Pak?” Panggil
Arka lemah. Pak Agung itu langsung menghampiri Arka. pandangannya tertuju pada
Jevin yang tak sadarkan diri dengan luka-luka.
“Pak..tolong.”
Ucap Arka lagi. Seperti tersadar dari pengamatannya, Pak Agung itu mengangguk.
Ia langsung mengangkat tubuh Jevin.
“Kamu masih bisa
berjalan sendiri kan?” Tanya Pak Agung. Arka mengangguk.
“Ya sudah,
sekarang Bapak anter ke Rumah Sakit kebetulan ada mobil sekolah.” Jelas Pak
Agung.
“Makasih, Pak.”
Ucap Arka pelan hanya dibalas anggukan oleh Pak Agung.
***
“Arka?!” Suara
Nyonya Pradika membelah lorong Rumah Sakit. Arka menoleh dan menemukan Papa
Mamanya berlari kearahnya.
“Ma?” Ucap Arka
dan menghambur ke pelukan Mamanya yang sudah berada di sampingnya.
“Kamu nggak
pa-pa, Ka?” Tanya Nyonya Pradika sambil mengamati putra keduanya itu.
“Arka nggak
pa-pa. Tapi Kak Jevin, Ma.” Ucap Arka menunjukkan ruang di depannya. Ruang ICU.
“Seperti ini
hasilnya kalau dia berantem dan berantem terus. Ulah apa lagi yang dia buat
sekarang sampai akhirnya ia masuk tempat ini.” Tuan Pradika tetap dengan sifat
kerasnya. Saat Arka akan membantah presepsi Papanya, seorang dokter keluar dari
ICU. Arka langsung menghampiri dokter itu.
“Bagaimana
keadaan Kak Jevin, Dok?” Tanya Arka langsung.
“Kakak kamu
sedang ditangani Dokter yang lain. Ini keluarga Jevin?” Tanya Dokter yang
bernama Wira itu.
“Iya. Saya
Papanya dan ini Mamanya.” UcapTuan Pradika sambil menjabat tangan Dokter Wira
diikuti Nyonya Pradika.
“Apa yang
terjadi dengan Jevin, Dok?” Tanya Nyonya Pradika.
“Saya juga belum
tahu. Sekarang masih dalam proses penanganan. Kalau boleh saya tanya, bagaimana
perkembangan Jevin selama ini?” Pertanyaan DokterWira membuat Tuan dan Nyonya
Pradika saling pandang.
“Kak Jevin masih
terus belajar melatih kemampuannya, Dok.” Jawab Arka yang tahu apa maksud
pertanyaan Dokter Wira.
“Bentar..bentar,
sebenarnya yang Dokter bicarakan apa? Jevin kenapa?” Tanya Tuan Pradika.
“Lho, Bapak sama
Ibu tidak tahu? Jevin mengidap disleksia.” Jawab Dokter Wira lagi-lagi membuat
kedua orangutan yang sibuk bekerja itu shock. Ini adalah pertama kalinya mereka
dengar kalau seorang Jevin sakit.
“Dok?” Seorang
Suster memanggil Dokter Wira.
“Oh..maaf, saya
harus kembali ke dalam.” Pamit Dokter Wira. Tinggal keluarga Pradika dengan
keheningan.
“Kamu tahu, Ka?”
Tanya Nyonya Pradika. Arka mengangguk.
“Kenapa kamu
tidak bilang ke Mama atau Papa? Kenapa kalian menyembunyikannya?” Ini baru
pertama kali Arka mendengar suara Mamanya yang sangat khawatir.
“Memang Mama
peduli? Toh Mama sama Papa lebih sibuk dengan perusahaan daripada ngasih
perhatian ke anaknya sendiri.” Jawab Arka dingin.
“Kata siapa kami
tidak merhatiin anaknya?” Papa ikut angkat bicara.
“Ya, perhatian
tapi cuma sama Arka. Sama Kak Jevin?” Perkataan Arka membuat orang tuanya
terdiam.
“Ma, Pa, Kak
Jevin nggak bodoh atau idiot. Ya, seperti kata Dokter Wira tadi, Kak Jevin
mengidap disleksia. Gangguan syaraf yang membuat Kak Jevin sedikit lambat dari
anak normal lainnya. Dia sulit membaca, menulis atau memahami itulah sebabnya
Kak Jevin selalu diurutan terakhir. Tapi, Kak Jevin orang terkuat yang pernah
Arka tahu. Ia tak menyerah. Setiap malam, Kak Jevin selalu belajar sendiri
sampai dia merintih kesakitan.” Jelas Arka panjang lebar sambil membayangkan perjuangan sang kakak. Dan tanpa
Arka sadari ia menangis mengingat kakak terkuatnya sedang berbaring lemah tak
berdaya.
“Tapi Jevin
terlihat baik-baik saja.” Nyonya Pradika berkata pelan.
“Kak Jevin itu
penipu ulung. Ia selalu menyembunyikan semuanya dibalik senyum baik-baik
sajanya. Dan dia menjadi sedikit pemberontak untuk menutupi kelemahannya. Ia
selalu berkelahi bukan tanpa alasan. Kak Jevin berkelahi untuk Arka.” Semua
yang diutarakan Arka keluar begitu saja dari hatinya.
“Jevin..”
Panggil Nyonya Pradika pelan. Ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Menyembunyikan tangisnya yang pertama untuk Jevin-nya. Sedangkan Tuan Pradika
memukul dinding. Melampiaskan kemarahannya pada dirinya sendiri. Orang tua
macam apa mereka, sampai tak tahu anaknya membutuhkannya.
“Mungkin salah
satu dari kita perlu sakit dulu, agar Mama Papa menyadari adanya kita. Terlebih
Kak Jevin.” Ucap Arka miris. Orang tuanya tak bisa membalas lagi.
“Ma, Pa, meskipun
orang lain berkata Arka yang genius, tapi menurut Arka, Kak Jevin yang genius.
Ia mampu bertahan sampai sekarang dengan seluruh perjuangannya sendiri. Itu
yang membuat Arka mengidolakan seorang Kak Jevin.” Imbuh Arka sebelum suasana
berubah hening. Arka tertunduk tapi telinganya mendengar isakan dari Mamanya
untuk pertama kali.
Saat semua
sedang sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri, tiba-tiba pintu ICU terbuka dan
keluarlah seorang dokter dan beberapa suster. Keluarga Pradika langsung
menghampiri dokter itu.
“Bagaimana
keadaan Jevin, Dok?” Tanya Tuan Pradika.
“Luka-lukanya
sudah kami tangani dan tidak ada luka yang serius. Sekarang hanya menunggunya
untuk siuman.” Ucap dokter itu sambil tersenyum. Kemudian terdengar helaan
nafas lega dari keluarga Pradika.
“Kita sudah
boleh melihatnya, Dok?” Tanya Nyonya Pradika.
“Oh, silahkan.
Saya permisi dulu.” Pamit dokter itu kemudian melangkah pergi.
Arka langsung
berlari masuk. Ia tak sabar melihat sang kakak. Dan ia lihat seorang Jevin yang
biasanya berdiri dengan gagahnya sebagai tamengnya, sekarang tertidur lemah di
ranjang putih itu. Arka langsung duduk di sebelah ranjang Jevin. Meskipun
dokter tadi berkata Jevin tak apa-apa, namun ia belum sepenuhnya lega sebelum
ia melihat Jevin membuka matanya dan tersenyum padanya. Arka melihat sebentar
orang tuanya yang berdiri tak jauh darinya.
“Kak bangun..”
Ucap Arka pelan. Tapi yang dipanggil, tak juga menyahut. Jevin seperti masih
ingin lebih lama memejamkan mata.
“Kak Jevin
bohong. Ternyata Kak Jevin nggak sekuat yang Arka kira. Mana Kak Jevin yang
berdiri gagah di depan Arka? Mana Kak Jevin kakak Arka?” Ucap Arka frustasi.
Arka menelungkupkan kepalanya di atas tangan Jevin yang dari tadi digenggamnya.
“Gue nggak
bohong dan nggak akan pernah bohong sama lo.” Suara lirih yang dipaksakan
tertangkap telinga Arka. Arka segera menegakkan kepalanya lagi. Dan senyum khas
Jevin sudah menyambutnya.
“Kak Jevin?”
Arka memastikan bahwa yang sedang menatapnya sekarang bukan hanya ilusinya.
“Iya, ini gue
Jevin kakak lo.” Jawab Jevin pelan sambil tersenyum. Jevin mencoba untuk duduk.
Spontan Arka
langsung memeluk tubuh kakaknya. Mungkin baru beberapa jam yang lalu ia
terakhir melihat Jevin. Tapi rasanya Arka sudah lama tak melihat kakaknya. Arka
terlalu bahagia melihat superheronya bangun dari tidurnya.
“Ka, gue nggak
bisa nafas.” Rintihan Jevin membuat Arka melepaskan pelukannya.
“Maaf, Kak.”
Ucap Arka menhapus airmatanya.
“Lo nangis? Adek
gue nangis? Jelek lo.” Cibir Jevin.
“Habisnya Kak
Jevin tidurnya lama kan Arka takut.” Alasan Arka membuat Jevin mengacak pelan
rambut adiknya.
“Gue capek. Gue
pengen istirahat sebentar. Tapi ternyata itu ngebuat adek gue khawatir. Maafin
gue ya?” Ucap Jevin penuh kasih sayang.
“Mulai sekarang
nggak usah terlalu dipaksain. Kalau capek ya istirahat sebentar. Nggak boleh
berjuang sendiri lagi. Kita berjuang bersama ya, Kak.” Jevin mengangguk setuju
mendengar perkataan Arka.
Tiba-tiba
tatapan Jevin bertemu dengan tatapan kedua orang tuanya. Tatapan yang pertama
kali ia lihat selama hidupnya. Tatapan teduh orang tua yang sangat ia inginkan
sejak dulu. Jevin beralih menatap Arka. Dan sang adik hanya tersenyum.
“Ma, Pa?” Ucap
Jevin pelan.
“Jevin..” Nyonya
Pradika langsung memeluk Jevin. Jevin merasakan kehangatan dalam dekapan sang
Mama entah kapan terakhir kalinya ia merasakan dekapan yang sama. Nyonya
Pradika melepaskan peluakannya dan berganti mengusap pelan wajah anaknya.
“Jagoan Papa
akhirnya bangun.” Suara berat Papanya membuat Jevin menoleh. Dan yang ia
temukan bukan lagi tatapan marah Papanya melainkan senyum bangga yang sudah lama
tak ia dapatkan.
Bukannya
merespon, Jevin hanya menatap satu persatu keluarganya. Arka yang masih
tersenyum padanya, Mama yang masih mendekapnya dan Papa yang masih tersenyum
bangga. Ia berharap ini semua bukan hanya bayangan. Apakah ia belum sepenuhnya
sadar? Apakah ia masih bermimpi? Kalau toh ia bermimpi, ia rela tak bangun
selamanya.
“Kak?” Suara
Arka menyadarkannya. Dan ia masih melihat pemandangan yang sama. Itu artinya
ini semua nyata. Perlahan senyum Jevin terukir diwajahnya.
“Apa?” Tanya
Jevin.
“Kakak kenapa?”
“Enggak. Gue
nggak kenapa-napa.” Jawab Jevin tak lupa dengan senyum khasnya.
“Vin, kita mulai
semuanya dari awal ya?” Ucap Nyonya Pradika lembut. Meski ia mengidap
disleksia, tapi Jevin mampu mengerti maksud Mamanya.
“Iya, Ma. Kita
mulai semuanya dengan nama keluarga.” Jawab Jevin pelan.
Meski dengan
perjalanan yang tak mudah. Meski sempat berjuang sendiri. Meski harus menjadi
orang terkuat walau jiwanya rapuh. Meski harus terus memasang senyum ‘baik-baik
saja’nya. Itulah seorang Jevin. Dia pernah terluka. Tapi sekarang, meski harus
dengan luka, ia bahagia. Ia benar-benar bahagia. Bukan bahagia seperti saat ia
mampu menyelesaikan buku bacaannya. Tapi sekarang ia bahagia karena Papa, Mama
dan Arka-nya sudah berada disampingnya. Yang tak akan membiarkan dirinya
berjalan sendiri lagi nantinya.
##FEBRIAZ10##
Terimakasih sudah membaca. Maaf kalau masih banyak typo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar