Rabu, 29 Oktober 2014

Tentang Garuda Mudaku



TENTANG GARUDA MUDAKU

22 September 2014. Ya, satu tahun yang lalu. Mereka hadir mengejutkan Indonesia bahkan dunia. 22 putra bangsa dari seluruh pelosok Nusantara hadir di tengah lapangan. Berjuang atas nama Indonesia. Mereka adalah Garuda Muda.


Malam itu juga Stadion Delta Sidoarjo bahkan seluruh Indonesia bersorak. Indonesia kembali juara setelah 22 tahun lamanya. Itu semua karena perjuangan mereka. 2 x 45 menit ditambah 2 x 15 menit mereka terus berlari. Dan akhirnya tendangan pinalti dilakukan. Sampai puncaknya tendangan Ilham Udin Armayn dan tepisan Ravi Murdianto yang berhasil menghantarkan Indonesia juara malam itu. Semua bersorak suka cita. Trofi kemenanganpun diarak keliling lapangan. Inilah awal kebangkitan Timnas Indonesia yang sudah lama terpuruk.

Selanjutnya, 12 Oktober 2013. Malam itu Timnas U – 19 meladeni Timnas Korea Selatan pada lanjutan kualifikasi Piala Asia. Salutnya mereka tak gentar sedikitpun dengan status Korsel yang juara bertahan 12 kali. Mereka tetap berdiri tegap memasuki lapangan. Tatapan tajam mengisyaratkan keyakinan untuk menang. Do’a seluruh pecinta sepak bola di seluruh tanah air menyertai mereka.

Peluit wasit sudah berbunyi. Pertanda permainan dimulai. Dengan pasti punggawa Garuda langsung melesat menyerang tanpa memperdulikan siapa lawannya. Buktinya, skor 3 – 2 untuk kemenangan Indonesia. Sujud syukur menjadi pemandangan yang apik malam itu di tengah guyuran hujan.  Selanjutnya, mereka akan berlaga di Piala Asia di Myanmar 2014 dan akan merebutkan 4 posisi yang berhak mengikuti Piala Dunia 2015 di New Zeland.

Jarak 1 tahun itulah digelar TC jangka panjang di Batu Malang dan di Yogyakarata. Uji cobapun dilakukan. Dari Tour Nusantara jilid 1 dan 2, Tour Timur Tengah, Turnament HBT di Brunei Darusalam dan teranyar Tour Spanyol melawan 4 klub ternama Spanyol. Mereka lakukan itu untuk Indonesia. Untuk harapan rakyat Indonesia. Untuk para pecinta sepakbola yang ingin melihat Indonesia berlaga di Piala Dunia.

1 tahun berlalu. 9 – 24 Oktober 2014 perhelatan Piala Asia itu digelar di Myanmar. Garuda Jaya akan melawan Uzbekistan di pertandingan perdananya tanggal 10 Oktober 2014. Seluruh rakyat Indonesia sudah tak sabar melihat aksi Evan Dimas CS. Tepat pukul 15.30 harapan mereka untuk melihat Timnas bertanding harus pupus. Karena stasiun TV yang menyiarkan pertandingan itu melacak siarannya. Tapi, meskipun tak bisa menonton, do’a mereka tetap setia menyertai Timnas.

Mungkin hari ini bukan milik Garuda Jaya. Sang Garuda harus mengakui keunggulan Uzbekistan dengan skor 3 – 1. Meskipun ada kesedihan, Sang Garuda tetap membesarkan hati dan berjanji akan bermain semaksimal mungkin di laga kedua melawan Australia.

12 Oktober 2014, hari ini laga yang paling menentukan untuk perjalanan Timnas U -19 berikutnya. Apakah Timnas akan menang melawanAustralia dan melaju kebabak selanjutnya. Atau harus takluk dengan Australia?. Seluruh rakyat Indonesia berharap Timnas bisa mewujudkan mimpi bermain di Piala Dunia.

Tapi, setelah pertandingan, bukan seulas senyuman yang terlihat di wajah para punggawa Garuda Jaya. Tapi, linangan air mata yang menghiasi wajah mereka. Ya, Indonesia harus takluk pada Australia dengan skor 1 – 0.

Terlihat jelas, kesedihan tak bisa disembunyikan dari wajah punggawa Garuda. Ilham Udin terduduk sambil berlinangan air mata, Muchlis Hadi tergeletak tak jauh dari Ilham, Evan Dimas menangis di pelukan Coach Indra Sjafri, dan punggawa lainnya yang tak jauh beda. Sampai di ruang gantipun mereka masih berlinangan air mata dan tertunduk lemas.

Kesedihan tak hanya dirasakan Timnas U – 19. Seluruh supporter Garuda juga ikut menangis. Meski tak bisa melihat langsung, meski mereka hanya membaca dari sosmed. Tapi, air mata mereka juga jatuh. Seperti merasakan apa yang sedang dirasakan Sang Garuda. Harapan berlaga di Piala Dunia harus pupus. Meski masih ada 1 pertandingan melawan UEA, tapi itu tak berpengaruh lagi. Walaupun begitu semoga saja saat melawan UEA Timnas U – 19 bisa tampil dengan maksimal.

Melalui sosmed para punggawa mengucapkan beribu maaf untuk para supporter di Nusantara. Tapi, kekalahan ini tak sepenuhnya salah mereka. Mereka sudah berusaha berjuang dengan semaksimal mungkin. Mungkin Tuhan belum mengijinkan Indonesia merasakan euphoria Piala Dunia.

Dalam suatu pertandingan wajar saja ada yang menang dan kalah. Yang menang harus tetap rendah hati. Dan yang kalah harus belajar berbesar hati. Saat ini, Garuda dilatih bagaimana berbesar hati menerima kekalahan. Untuk masa depan yang lebih indah. Ini hanya kemenangan yang terunda. Percayalah Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih indah.


Garuda…
Bangkit dan taklukkan dunia
Dengan senyum kepastian tanpa air mata
Meski kau tak langsung bisa berlari
Berjalanlah perlahan dengan pasti
Sampai akhirnya Sang Garuda mampu terbang tinggi lagi
Untuk menggapai semua mimpi yang sempat terhenti
Demi Sang Ibu Pertiwi
Demi Garuda di dada kiri
Forza Garuda
Forza Indonesia


(131014_FEBRIAZ10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar