TENTANG GARUDA MUDAKU
22 September 2014. Ya, satu tahun yang lalu. Mereka hadir mengejutkan Indonesia bahkan dunia. 22 putra bangsa dari seluruh pelosok Nusantara hadir di tengah lapangan. Berjuang atas nama Indonesia. Mereka adalah Garuda Muda.
Malam itu juga Stadion Delta
Sidoarjo bahkan seluruh Indonesia bersorak. Indonesia kembali juara setelah 22
tahun lamanya. Itu semua karena perjuangan mereka. 2 x 45 menit ditambah 2 x 15
menit mereka terus berlari. Dan akhirnya tendangan pinalti dilakukan. Sampai puncaknya
tendangan Ilham Udin Armayn dan tepisan Ravi Murdianto yang berhasil
menghantarkan Indonesia juara malam itu. Semua bersorak suka cita. Trofi
kemenanganpun diarak keliling lapangan. Inilah awal kebangkitan Timnas
Indonesia yang sudah lama terpuruk.
Selanjutnya, 12 Oktober 2013.
Malam itu Timnas U – 19 meladeni Timnas Korea Selatan pada lanjutan kualifikasi
Piala Asia. Salutnya mereka tak gentar sedikitpun dengan status Korsel yang
juara bertahan 12 kali. Mereka tetap berdiri tegap memasuki lapangan. Tatapan
tajam mengisyaratkan keyakinan untuk menang. Do’a seluruh pecinta sepak bola di
seluruh tanah air menyertai mereka.
Peluit wasit sudah berbunyi.
Pertanda permainan dimulai. Dengan pasti punggawa Garuda langsung melesat
menyerang tanpa memperdulikan siapa lawannya. Buktinya, skor 3 – 2 untuk
kemenangan Indonesia. Sujud syukur menjadi pemandangan yang apik malam itu di
tengah guyuran hujan. Selanjutnya, mereka
akan berlaga di Piala Asia di Myanmar 2014 dan akan merebutkan 4 posisi yang
berhak mengikuti Piala Dunia 2015 di New Zeland.
Jarak 1 tahun itulah digelar
TC jangka panjang di Batu Malang dan di Yogyakarata. Uji cobapun dilakukan.
Dari Tour Nusantara jilid 1 dan 2, Tour Timur Tengah, Turnament HBT di Brunei
Darusalam dan teranyar Tour Spanyol melawan 4 klub ternama Spanyol. Mereka
lakukan itu untuk Indonesia. Untuk harapan rakyat Indonesia. Untuk para pecinta
sepakbola yang ingin melihat Indonesia berlaga di Piala Dunia.
1 tahun berlalu. 9 – 24
Oktober 2014 perhelatan Piala Asia itu digelar di Myanmar. Garuda Jaya akan
melawan Uzbekistan di pertandingan perdananya tanggal 10 Oktober 2014. Seluruh
rakyat Indonesia sudah tak sabar melihat aksi Evan Dimas CS. Tepat pukul 15.30
harapan mereka untuk melihat Timnas bertanding harus pupus. Karena stasiun TV
yang menyiarkan pertandingan itu melacak siarannya. Tapi, meskipun tak bisa
menonton, do’a mereka tetap setia menyertai Timnas.
Mungkin hari ini bukan milik
Garuda Jaya. Sang Garuda harus mengakui keunggulan Uzbekistan dengan skor 3 –
1. Meskipun ada kesedihan, Sang Garuda tetap membesarkan hati dan berjanji akan
bermain semaksimal mungkin di laga kedua melawan Australia.
12 Oktober 2014, hari ini laga
yang paling menentukan untuk perjalanan Timnas U -19 berikutnya. Apakah Timnas
akan menang melawanAustralia dan melaju kebabak selanjutnya. Atau harus takluk
dengan Australia?. Seluruh rakyat Indonesia berharap Timnas bisa mewujudkan
mimpi bermain di Piala Dunia.
Tapi, setelah pertandingan,
bukan seulas senyuman yang terlihat di wajah para punggawa Garuda Jaya. Tapi,
linangan air mata yang menghiasi wajah mereka. Ya, Indonesia harus takluk pada
Australia dengan skor 1 – 0.
Terlihat jelas, kesedihan tak
bisa disembunyikan dari wajah punggawa Garuda. Ilham Udin terduduk sambil
berlinangan air mata, Muchlis Hadi tergeletak tak jauh dari Ilham, Evan Dimas
menangis di pelukan Coach Indra Sjafri, dan punggawa lainnya yang tak jauh
beda. Sampai di ruang gantipun mereka masih berlinangan air mata dan tertunduk
lemas.
Kesedihan tak hanya dirasakan
Timnas U – 19. Seluruh supporter Garuda juga ikut menangis. Meski tak bisa
melihat langsung, meski mereka hanya membaca dari sosmed. Tapi, air mata mereka
juga jatuh. Seperti merasakan apa yang sedang dirasakan Sang Garuda. Harapan
berlaga di Piala Dunia harus pupus. Meski masih ada 1 pertandingan melawan UEA,
tapi itu tak berpengaruh lagi. Walaupun begitu semoga saja saat melawan UEA
Timnas U – 19 bisa tampil dengan maksimal.
Melalui sosmed para punggawa
mengucapkan beribu maaf untuk para supporter di Nusantara. Tapi, kekalahan ini
tak sepenuhnya salah mereka. Mereka sudah berusaha berjuang dengan semaksimal
mungkin. Mungkin Tuhan belum mengijinkan Indonesia merasakan euphoria Piala
Dunia.
Dalam suatu pertandingan wajar
saja ada yang menang dan kalah. Yang menang harus tetap rendah hati. Dan yang
kalah harus belajar berbesar hati. Saat ini, Garuda dilatih bagaimana berbesar
hati menerima kekalahan. Untuk masa depan yang lebih indah. Ini hanya
kemenangan yang terunda. Percayalah Tuhan sudah menyiapkan rencana yang lebih
indah.
Garuda…
Bangkit dan taklukkan dunia
Dengan senyum kepastian tanpa
air mata
Meski kau tak langsung bisa
berlari
Berjalanlah perlahan dengan
pasti
Sampai akhirnya Sang Garuda
mampu terbang tinggi lagi
Untuk menggapai semua mimpi
yang sempat terhenti
Demi Sang Ibu Pertiwi
Demi Garuda di dada kiri
Forza Garuda
Forza Indonesia
(131014_FEBRIAZ10)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar